
Tok...Tok... Tok... ketuk Rendy didepan kamar Nanda.
Nanda membuka pintu dan melihat Rendy yang mengetuk pintu kamarnya, mempersilahkan Rendy untuk masuk. Mereka duduk di balkon dengan udara malam yang dingin dan menyegarkan.
" Aunty, keadaanmu baik-baik saja kan? " tanya Rendy menatap sambil melihat mata Martha.
" Tentu saja, " jawab Nanda dengan senyum yang tercetak diwajahnya
" Syukurlah kalau begitu. " sahut Rendy.
" Kau dan Yora? " tanya Nanda sambil tertawa kecil.
" Seperti yang Aunty lihat, " jawab Rendy seadanya.
" Kalian pacaran? " tanya Nanda.
" Yora yang mengaku kalau aku pacarnya, Aunty. " sahut Rendy.
" Kamu mencintai Putriku? " tanya Nanda dengan penuh serius.
" Tentu saja, " jawab Rendy penuh dengan keyakinan.
" Yora? " tanya Nanda sambil melihat Rendy yang diam saja.
" Aku harap kamu dapat yang terbaik Rendy. " ujar Nanda menggenggam telapak tangan Rendy.
" Aunty tidak merestui hubungan kami? " Ucap Rendy sambil menatap Auntynya.
" Aku sangat bersyukur, jika Yora mendapatkan pria seperti mu. Tapi aku takut Yora hanya memainkan hati mu saja. "
" Aku baik-baik saja, jangan khawatir Aunty, " jawab Rendy dengan senyuman.
" Aunty harap begitu. " timpal Nanda.
" 2 hari lagi Aunty, " ucap Rendy.
" Tidak terasa hanya tinggal 2 hari lagi, aku menyandang status sebagai Nyonya Florence. "
" Tentu saja keluar dari rumah besar ini, " sahut Nanda dengan senyum tercetak diwajah awet mudanya.
" Jika takdir membuat kalian kembali, apa yang akan Aunty lakukan? " tanya Rendy dengan serius.
" Aku tidak tau masa depan seperti apa yang akan ku hadapi. Tapi, Aunty harap itu hanyalah kebahagian ," ucap Nanda dengan menatap pemandangan kebun dibelakang dari atas balkon.
" Apa Aunty merasa hidup ini tidak adil? "
" Hidup itu tidak ada yang sempurna dan abadi, Rendy. "
" Apa kau kecewa dengan Om Alan? "
" Sepertinya kau datang kemari ingin mendengar sesuatu dari ku, " ucap Nanda sambil terseyum.
Rendy ikut tersenyum selagi menunggu perkataan yang selanjutnya keluar dari mulut Aunty Nanda.
" Tentu saja, aku menangis terus menerus selama berminggu-minggu, mungkin berbulan-bulan. Pasangan mana yang berpisah tidak menangis, seiring waktu perasaan dan hati mu akan mulai membaik. Dan hati Aunty sudah mulai membaik Rendy. " curhat Nanda.
" Aku sudah puas mendengar hati mu yang sudah mulai membaik, selamat malam Aunty " ucap Rendy berjalan pergi.
" Dasar anak itu. " ucap Nanda tertawa melihat Rafto yang tidak ingin mendengar kisah menyedihkan hidupnya yang pasti akan buat dirinya mengingat masa lalu kembali.
Alan memasuki halaman rumah Retha sambil memakirkan mobilnya. Mira mendengar suara mobil, segera bergegas membuka pintu. Ia senang Alan menetapi janjinya untuk menemui Putrinya.
" Masuklah. " ucap Mira mempersilahkan Alan masuk.
" Aku ingin melihat keadaan Retha, " kata Alan tanpa basa-basi.
Alan melangkah menuju kamar yang Retha berada didalamnya. Alan melihat keadaan wanita yang ia cintai terbaring tidur diranjang miliknya, la sangat merasa bersalah melihat keadaan Retha yang pucat dan mata yang terus menerus menangis, yang kata Ibu Retha menangis karena merindukan dirinya. Alan melangkah lebih dekat menuju ranjang, duduk di samping tubuh Retha, ia menatap sekilas obat-obatan yang berada tepat disamping Retha.
Mira yang melihat Alan dari pintu kamar Retha, merasa senang karena Alan masih mengkhawatirkan Putrinya dan yang pasti masih mencintai Putrinya yang polos itu. Tinggal sebentar lagi perceraian Reno dan wanita itu, ia harus bilang kepada Alan tentang rencana pernikahan Alan dengan Putriku.
Sebelum gadis murahan itu akan berbuat ulah kembali. Retha harus diakui keluarga Florence dan seluruh karyawan Florence, siapa Putrinya tersebut di mata Alan. Mira meninggalkan pasangan yang beda umur itu dikamar. la pergi ke dapur untuk menyiapkan hidangan cemilan dan kopi untuk Alan.
Alan mengeluas pipi Retha dengan lembut dan pelan agar tidak membangunkan Retha, ia merasa bingung, siapa yang harus dipilih Putrinya atau Wanita yang ada dihadapannya. Alan hanya memandang wajah Retha tanpa bicara apapun, pikirannya berkelana entah kemana.