
Yora pergi bersama Rendy mengendarai mobilnya. Rendy yang sangat paham perasaan Yora sekarang ini, hanya mengendarai mobil tidak tentu arah mengelilingi kota. Menurut Rendy Yora hanya melamun, buktinya ia hanya diam saat dirinya mengendarai mobil yang tidak kunjung sampal tempat tujuan. Yora pun menepuk bahu Rendy dengan keras, Rendy sedikit terkejut akan pergerakan tiba-tiba dari Yora, Rendy balas menatap Yora.
" Kita temui Papa, sekarang juga " perintah Yora tanpa menatap Rendy.
Rendy yang mendengar perintah dari kekasihnya langsung memutar arah menuju ke lokasi dimana Om Alan berada. Rendy mengerutkan keningnya bingung saat Yora memegang tangannya dan menatap dirinya.
" Ke perusahaan Rendy, kau lupa arah jalan ke perusahaan? " tanya Yora dengan wajah yang bingung melihat Rendy yang tidak mendengar perintahnya.
" Kenapa Kamu ingin ke perusahaan? " tanya balik Rendy sambil terus mengendari mobil yang Yora tidak tau tujuannya.
" Bertemu Papa " jawab Yora yang masih bingung dengan apa yang dilakukan Rendy.
" Kita akan menemui nya " ucap Rendy dengan singkat.
Yora yang sudah sangat lelah memikirkan semua masalah yang terjadi di keluarganya, hanya diam mengikuti Rendy yang tidak tau membawanya kemana, tapi yang pasti Rendy akan membawa dirinya ke Papanya.
Yora mengerutkan keningnya, ia merasa jalan ini sangat tidak asing untuknya, semakin melaju jalannya mobil, semakin yakin kalo Yora pernah datang ke arah jalan ini. Pantas Yora sangat yakin kalo ia mengenal jalan tersebut, jalan ini menuju ke cafe wanita rendahan itu. Ia menatap Rendy dengan tajam, ia sangat bingung kenapa Rendy membawanya ke tempat perempuan rendahan tersebut. Setelah Rendy memarkirkan mobil, dengan sangat terpaksa ia keluar dari mobil, mendekat kepada Rendy untuk meminta penjelasan kenapa dirinya dibawa ke cafe milik wanita murahan itu.
" Kamu ingin bertemu siapa? " tanya Rendy sambil memegang telapak tangan Yora untuk menuju ke Cafe.
" Papa! " teriak pelan Yora yang merasa kesal.
" Kita akan bertemu dengan Papamu itu " ucap Rendy menarik paksa tangan Yora untuk memasuki cafe tersebut.
" Dia ada diperusahaan Rendy! " teriak Yora yang bingung dengan tingkah Rendy hari ini.
" Yora "
Di lain tempat, Nanda yang kesal karena pria yang tidak ia kenal sama sekali, menganggu waktunya untuk menenangkan pikiran dan emosinya. la dengan seenaknya memerintahkan dirinya untuk melakukan yang pria itu inginkan. Nanda yang ingin meredakan sedikit kekesalannya memasuki cafe dekat taman, ia duduk dekat jendela besar dengan pemandangan jalan raya yang sangat ramai. Nanda memesan secangkir chocalate hangat, menurut Nanda chocalate mampu meningkatkan kadar kebahagian dalam dirinya.
" Hey " ucap seseorang.
Nanda hanya memandang luar jendela ditemani secangkit chocalate hangat, tanpa memperdulikan panggilan yang menurutnya bukan ditujukan kepada dirinya.
" Hey " ucap orang itu lagi.
Nanda pun melihat kearah suara yang sepertinya memanggil dirinya, Nanda sedikit terkejut tapi ia mampu mengendalikan dirinya. Pria yang ada dihadapanya adalah pria yang membuat dirinya kesal akan tingkahnya tadi di taman.
" Kau memanggil diriku " ucap Nanda sambil menunjuk dirinya sendiri.
" Iya " sahut pria tersebut yang tanpa malu duduk di hadapan Nanda.
" Oh " balas Nanda dengan singkat mengacuhkan pria tersebut.
" Hey, terima kasih ya atas bantuanmu "
Nanda hanya menganggukan kepalanya saja, tanpa melepas pandangan matanya dari pemandangan di luar jendala.
" Kau sudah tidak jadi mau bunuh dirikan? " tanya pria tersebut dengan suara yang sedikit kencang yang menarik perhatikan orang banyak.
Nanda hampir saja tersedak, mendengar apa yang pria itu katakan yang ada dihadapannya. Pikiran dari mana pria yang sangat baru ditemuinya itu, dengan seenaknya bilang dirinya bunuh diri. Nanda menatap dengan tajam pria tersebut.