
Yora tiba disebuah cafe mewah, ia melangkah memasuki cafe itu dan melihat Papanya sedang menatap pemandangan dari dalam cafe. Yora berjalan mendekat ke arah Papanya dan duduk didepan Papanya.
" Ada apa? " tanya Yora.
" Tidak ada apa-apa, Papa hanya rindu dengan kebersamaan kita. " tutur Alan sambil melihat Putrinya.
" Oh, " balas Yora sambil memesan minuman untuknya.
" Selamat ya sayang kamu berhasil. " ucap Alan dengan raut wajah tersenyum.
" Kau tidak marah? " tanya Yora.
" Tentu saja tidak, Papa malah merasa bangga sama kamu. " balas Alan.
" Cih. " gumam Yora dengan raut wajah sinis.
" Sayang kamu ingat tentang mimpimu, yang selalu ingin melihat kebersamaan kita bertiga, " ujar Alan sambil menatap Putrinya.
" Papa ingin kita bersama lagi seperti dulu, " ucap Alan sambil memegang tangan Putrinya
" Katakan dengan jelas, apa maksudmu menyuruhku untuk datang kesini. " tegas Yora.
" Papa ingin kembali bersama Mamamu Nanda dan kita akan membangun keluarga yang harmonis seperti mimpi mu Yora. " ujar Alan.
" Maafkan Papa, sayang. " ucap Alan dengan raut wajah seakan menyesal.
" Karena kau adalah Papaku jadi aku memaafkanmu, tapi untuk kembali seperti dulu kau harus bicara pada Mamaku. " jawab Yora dengan tangan menepis ngengaman Papanya.
" Lalu istrimu itu akan kau tingalkan? " tanya Yora.
" Iya. " tegas Alan dengan penuh keyakinan agar Putrinya mau menerimanya kembali.
" Tidak tau diri. " ucap Yora lalu bangkit dari kursi karena sudah muak dengan sikap Papanya.
Alan mengenggam tangan Putrinya agar tidak pergi, karena ia masih ingin banyak bicara dengan Yora.
" Papa hanya mencintainya, apa salah? " tanya Alan menatap putrinya.
" Besok aku ingin mengusir kedua ular yang menganggu Villa Florence, tapi tanpamu karena kau adalah Papa kandungku. Tapi sekarang aku ingin kau pergi dari rumahku bersama wanita murahan yang sangat kau cintai itu. " tegas Yora dengan tatapan tajam menatap Papanya, Yora melangkah ingin keluar.
" Papamu ini, akan membuat Rendy tidak kembali ke negara ini. " ujar Alan yang membuat Yora berhenti melangkah.
" Kau mengancamku? " tanya Yora yang memutarbalik tubuhnya dan melangkah mendekat ke arah Alan.
" Tidak sayang. Perusahaan milik Rendy sedang dalam bahaya hanya Papa yang bisa membantunya. " ucap Alan.
" Sepertinya kau lupa Tuan, aku sekarang adalah Presdir Florence dan aku mampu menolong Rendy, jadi aku tidak butuh bantuanmu. " Sinis Yora lalu melangkah pergi meningalkan Papanya yang duduk lemas dikursi cafe.
Alan menatap kepergian Putrinya. Galih mendekat ke arah Tuannya yang sedang duduk melamun.
" Satu-satunya jalan adalah membuat Nanda kembali jatuh cinta kepadaku. " batin Alan.
Alan sudah mengetahui siapa sebenarnya pria yang selalu dekat dengan Nanda. Ia benar-benar bodoh karena telah menikah kembali dan meninggalakan istrinya yang sangat mandiri. Alan memang mencintai Retha tapi jika ia terus begini, ia bisa hancur karena sisa asetnya sangat sedikit sekarang. Alan menatap handphone miliknya yang terus berdering, karena panggilan masuk dari istrinya.
" Harta, tahta sudah kurebut semua dari mu pa. Pasti karena itu kau ingin kembali bersama kita, tapi aku tidak bisa menerimanya setelah kau menghancurkan kepercayaan kita! " teriak Yora.
Alan pulang disaat matahari telah terbit. Saat ia memasuki ruang makan, ia melihat Nanda sedang memasak makanan. Ia melihat dalam diam melihat mantan istrinya. Selama Alan menikah dengan Nanda ia sangat jarang dirumah. Baru kali ini ia benar-benar melihat mantan istrinya di Pagi hari.
Alan melangkah mendekati Nanda. la duduk dikursi makan sambil terus melihat mantan istrinya yang sedang memasak makanan.
" Aku lapar. " ucap Alan yang membuat Nanda menoleh ke arah Alan.
" Suruh saja istrimu atau pelayan untuk masak. " balas Nanda dengan acuh.
" Aku ingin makanan yang kau masak. " kata Alan dengan raut wajah lesuh.
" Baiklah, tunggulah sebentar. " ujar Nanda yang merasa kasihan dengan mantan suaminya.
Nands sekilas menatap mantan suaminya yang menatap dirinya dengan tajam. la bingung dengan sikap Papanya Yora hari ini. Nanda menaruhnya dipiring dan memberikannya kepada Alan. Tanpa basa-basi Alan langsung memakan masakan Nanda hingga habis tidak tersisa. Nanda menyiapkan segelas air untuk Alan yang makan sangat terburu-buru seperti orang kelaparan saja.
" Terima kasih. " kata Alan yang membuat Nanda merasa canggung akan ucapan Alan.
" Apa kau mencintai pria itu? " tanya Alan dengan tiba-tiba.
" Siapa? " bingung Nanda.
" Devon, " balas Alan.
" Bukan urusan mu. " sahut Nanda.
" Kau tidak bekerja? " tanya Alan lagi.
" Sebentar lagi aku akan pergi bekerja. " balas Nanda.
" Aku pengangguran sekarang. " kata Alan sambil terkekeh.
" Apa kau marah Yora mengambilnya dari mu? " tanya Nanda.
" Dia adalah Putriku, bagaimana aku bisa marah. " sahut Alan.
Alan mengulurkan telapak tangannya ke arah Nanda yang membuat Nanda sedikit terkejut. Alan yang melihat Nanda hanya diam saja, segera mengambil uluran tangan mantan istrinya dan mereka pun berjabat tangan.
" Maaf untuk semuanya Nanda. " ujar Alan sambil menatap wajah Nanda yang bingung.
" Kenapa kau bersikap aneh seperti ini dipagi hari? " tanya Nanda yang bingung.
" Aku ingin kita berhubungan baik kembali. " ucap Alan.
" Ingat Nanda kita masih keluarga walaupun sudah berpisah, karena ada Yora ditengah-tengah hubungan rumit kita. " tutur Alan.
Nanda hanya terdiam tanpa membalas ucapan mantan suaminya yang sedang berada dihadapannya sekarang.
" Alan kamu sudah pulang ya. " kata Retha yang membuat Alan dan Nanda terkejut dan segera melepaskan jabat tangan mereka.