
Setelah mengantar Alan sampai diparkiran cafe, ia segera bergegas masuk cafe untuk menemui Ibunya, Retha sangat marah besar akan ucapan Ibunya tentang hubungan ia dengan Alan. Menurutnya Ibunya tidak berhak mengatur masalah percintaan dirinya dengan Alan. la melihat Ibunya sedang berada di kasir, Retha menarik Ibunya menuju ke ruang pribadi. Mira hanya mengikuti putrinya, Mira sangat mengetahui kenapa Putrinya ingin bicara berdua dengan dirinya.
" Kenapa Ibu bicara seperti itu tadi! " teriak Retha yang merasa frustasi karena cinta tulusnya dengan Alan banyak penganggu yang ingin menghancurkan hubungannya dengan kekasih tercintanya Alan.
" Dengarkan Ibu mu ini sayang, Ibu bicara seperti itu hanya ingin membuat Alan sadar, bahwa kau juga sangat berarti didalam hidupnya dan hati Alan. " ujar Mira menjelaskan maksud semua yang ia katakan kepada Alan tadi.
" Aku masih tidak mengerti, kenapa Ibu melakukannya. " teriak Retha dengan pelan sambil menatap Ibunya dengan penuh rasa gelisah.
" Putriku sayang, jika kamu ingin membuat Alan sadar bahwa kamu juga cintanya, hidupnya dan belahan jiwanya. Kamu harus membuat Alan tidak menjadi pengecut. " ucap Mira.
" Ibu, jika seperti ini hubungan kami benar-benar akan putus. " kata Retha sambil menenangkan emosinya yang sedang sangat marah.
" Percayalah sayang bahwa Alan itu mencintai mu dan jika Alan sudah memutuskan untuk benar-benar serius padamu. Tinggal kita yang bertindak membuat Alan melawan Putri murahannya itu. " kata Mira dengan raut wajah yang perlahan marah mengingat ulah Putri murahan dari keluarga Florence.
" Tapi jika Alan tidak serius dengan ku dan hubungan kita putus karena Alan lebih memilih Putrinya itu, bagaiman itu Ibu. " ucap Retha.
Retha menatap Ibunya, ia hanya diam saat Ibunya berkata seperti itu. Ia akan menurut perkataan dan perintah dari Ibunya, jika itu mampu membuat dirinya berada selalu disisi Alan untuk selamanya tanpa diganggu oleh gadis tidak tau diri itu. Ia akan berusaha juga membuat Alan benar-benar berada di pihaknya, jika Alan sudah berada di pihaknya sepenuhnya sudah sangat pasti, Alan mampu melawan Putrinya dan Rendy yang selalu melindungi gadis murahan itu, tidak akan pernah berkutik untuk melawan Omnya.
Nanda mendorong keras pria dihadapannya, ia menatap sinis pria tersebut yang sangat lancang terhadap dirinya. la melangkah pergi tanpa melihat Devon yang menatapnya begitu tajam. Lina seketaris Nanda yang dari tadi menunggu Nyonyanya, yang tidak kunjung selesai berbicara kepada fotografer tersebut. Sebenarnya ia juga merasa penasaran kenapa Nyonya Nanda bisa mengenal pria selain Tuan Alan dan Tuan Rendy. Tapi saat ini bukan waktunya untuk menayakan hal seperti itu, karena masih dalam kondisi perceraian Nyonya Nanda.
Lina yang melihat Nyonyanya sudah selesai berbicara dengan pria itu, Segera menghampirinya. Ia melihat raut wajah bossnya yang seperti orang sangat marah dan kesal. Jika seperti itu, Lina tidak ingin terlalu banyak bicara kepada Nyonyanya karena takut kena marah-marah boss besar. Nyonya Nanda memang terkenal lemah lembut dan baik. hati, tapi jika dia sedang marah, itu sangat menakutkan. Tapi yang membuat Lina kesal, kenapa Nyonya Nanda tidak mengeluarkan rasa marahnya kepada wanita cafe murahan itu.
" Kita pulang. " perintah Nanda sambil berjalan pergi keluar.
Lina hanya mengikuti perintah boss besarnya tanpa banyak bicara. Nanda dan Lina pun memasuki mobil milik Manda.
" Pergi ke Villa Florence. " kata Nanda dengan tegas.
Lina menatap bossnya dengan muka bingung, kenapa Nyonya Nanda harus pergi ke Villa milik Tuan Alan yang tidak tau diri itu. Lina hanya mampu mengikuti perintah dari atasannya, ia melihat sekilah Nyonya Nanda dengan tatapan yang seperti tidak ingin dibantah ataupun diprotes.