Yora's Revenge

Yora's Revenge
Bab ≋33≋



Yora yang mendengar ucapan Rendy hanya terdiam beberapa saat. Ia menatap Rafto lama dan akhirnya meminta Rafto untuk mengantarkannya ketempat sang Mama berada. Sepanjang perjalanan Yora hanya terdiam, Rendy menatap sekilas Yora, Rendy tidak tau apa yang ada dipikirkan oleh Yora yang dari tadi hanya terdiam dengan pandangan menapak lurus. Mereka berdua telah sampai ketempat tinggal baru Nanda yaitu Apartement. Rendy membunyikan bel, Nanda membukakan pintu untuk mereka.


Nanda tersenyum melihat kedatangan mereka berdua. la sudah sangat yakin kalau Yora pasti sudah mengetahui semuanya. Dengan sangat tiba-tiba Yora memeluk dirinya dengan sangat erat. Rendy dan Nanda memasang wajah bingung, Yora sangat jarang seperti ini. Nanda merasakan pundaknya yang basah, ia melihat sang Putri menangis tersedu-sedu sambil mengucapkan maaf berulang kali


" Hiks..hiks..maaf, maaf, maaf, seharusnya aku memeluk dirimu dulu Ma, aku anak mu satu-satunya tapi tidak bisa merasakan hati mu yang sangat terluka..maaf, maaf, hiks..hiks. " ujar Yora dengan mata yang penuh dengan air mata.


Nanda hanya mengelus kepala Yora dengan lembut, ia hanya terseyum dengan mata yang sendu melihat Putri kecilnya yang menangis. Rendy meninggalkan kedua wanita yang ia cintai, ia berlalu pergi untuk pulang ke apartement miliknya. Nanda menuntun Putrinya masuk kedalam ruang keluarga dan menyuruhnya duduk, dengan puncak kepala yang masih di usap oleh Nanda.


" Aku semalam melihat mu dengan Papa menangis, tapi aku tidak mengerti hingga Rendy memberitahu semuanya tadi. Aku bodoh Ma, aku hanya terlalu fokus dengan dendam ku kepada wanita murahan itu... hiks, hiks, hiks..hingga lupa bahwa kamu membutuhkan ku disamping mu, untuk mengobati luka hatimu dan menguatkanmu...hiks..hiks " ujar Yora sesenggukan dengan mata yang makin banyak mengeluarkan air mata.


Nanda tidak tau harus mengatakan apa, ia hanya bisa mengusap air mata yang keluar dari Putrinya. Nanda tersenyum lembut, hanya ini yang bisa ia lakukan untuk menenangkan Putri kecilnya. Nanda hanya bisa menahan air matanya, jika ia menangis Putrinya akan semakin menangis. la menatap Yora hatinya sangat sakit melihat Putrinya menangis karena dirinya.


" Kau tau semuanya hiks..hiks, bagaimana kau mampu menahan semuanya seorang diri, Ma. " ucap Yora yang masih menangis dengan tersedu-sedu.


Nanda memeluk Putrinya selama beberapa menit, hingga Putrinya lebih tenang, Nanda kembali menghapus air mata yang keluar dari mata indah Putrinya.


" Maaf, membuat kamu khawatir " ucap Nanda yang dijawab gelengan kepalan oleh Yora.


" Sudahlah sayang jangan menangis, Mama sudah sangat bahagia sekarang " ucap Nanda lagi sambil mengambil segelas air putih untuk Yora.


Yora yang sudah mulai tenang duduk di balkon dengan Nanda berada disampingnya. Yora tersenyum melihat Mamanya, Nanda pun ikut tersenyum melihat Putrinya tersenyum indah pada dirinya. Mereka berdua ditemain secangkir susu coklat panas dengan pernandangan matahari terbenam yang indah.


" Besok aku ingin ikut bersama Mama " kata Yora tanpa memalingkan wajahnya dari pemandangan indah yang ada didepan matanya.


" Ini adalah urusan Orang Tua. " larang Nanda.


" Aku ingin ikut, enggak ada penolakan dan larangan " ucap Yora dengan tegas.


" Kamu ini selalu saja memaksa " Ucap Nanda.


Mereka berdua bercanda, tertawa, berbincang mengeluarkan segala isi hati mereka. Di malam indah itu hanya ada tawa dan canda seorang Ibu dan anak, mereka berdua melupakan sejenak masalah yang terjadi. Nanda sangat bahagia Yora berada disampingnya, sebelum keputusan resmi besok. Ibu dan anak itu pun tidur dikasur yang sama. Nanda mengusap lembut pipi putih bersih milik Yora, Yora hanya tersenyum melihat Mamanya yang tertawa bahagia.


" Sepertinya aku terlalu sibuk, hingga tidak menyadari kalau Putri kecilku ini sudah sangat dewasa. " ujar Nanda sambil terus mengusap pipi Yora.


" Maaf dulu mama sangat sibuk "


" Aku tau Mama hanya ingin melupakan sejenak masalah yang terjadi " kata Yora sambil mendekatkan diri dipelukan hangat Mamanya.


" Bagaimana hubunganmu dengan Rendy? " tanya Nanda sambil mengusap kepala Putrinya yang berada di dekapannya.


" Tidak usah berbicara tentang dirinya dulu. " jawab Yora yang masih nyaman didekapan Mamanya.


" Kamu jangan menyakiti hati Rendy, ingat ya gadis nakal " kata Nanda sambil mencubit hidung Putrinya.


" Mama pilih aku atau Rafto? " tanya Yora mendongakkan kepalanya menatap Mamanya.


" Rendy " ucap Martha sambil melihat Putrinya yang merasa kesal.


Setelah percakapan kecil mereka, Ibu dan Anak itu tertidur pulas, sambil terus memeluk satu sama lain.


Alan yang memasuki Villa merasa aneh, ia merasa Villa sangat sepi. Ia bertanya kepada salah satu pembantunya dimana keberadaan Yora dan Rendy. la menghubungi segera Rendy yang sudah sangat malam tidak membawa Putri cantiknya pulang ke Villa.


" Hallo Om, ada apa? " tanya Rendy tanpa basa-basi disambungan telepon


" Dimana Putriku? " tanya balik Alan.


" Bersama dengan Aunty Nanda " jawab singkat Rendy.


" Di apartement? " tanya Alan yang masih bingung.


" Iya " ucap Rendy dengan singkat.


" Sudah Om aku sedang sibuk " kata Rendy memutuskan sambungan telepon begitu saja.


Alan merasa kesal, Rendy memutuskan sambungan telepon begitu saja. Lagi-lagi ia harus sendiri divilla besar ini. Alan melangkah ke kamar mengistirahatkan tubuhnya yang lelah. Dan besok ia harus bersiap untuk keputusan resmi dirinya dengan Nanda.