Yora's Revenge

Yora's Revenge
Bab ≋58≋



Yora pulang ke Villa saat tengah malam, ia berjalan memasuki Villa yang sudah sangat sepi. la melangkah untuk memasuki kamar miliknya, tapi langkahnya terhenti saat wanita murahan itu memanggilnya.


" Apa yang kau rencanakan Yora? " tanya Retha yang berada tepat dibelakang Yora.


Yora memutarkan tubuhnya menatap wanita itu dengan wajah datar. la sungguh terlalu lelah sepanjang hari ini.


" Apa? " tanya balik Yora.


" Kau ingin merebut posisi milik Papamu sendiri. " kata Retha.


" Lalu apa masalahnya denganmu? " Yora dengan sorot mata yang tajam menatap calon ibu tirinya itu.


" Cih, kau itu tidak pantas. " sahut Retha dengan nada merendahkan.


" Lalu siapa yang pantas? " ucap Yora dengan tegas.


" Tentu saja anakku yang akan pantas menempati posisi itu. " ujar Retha dengan senyum seringai.


Yora terkekeh akan ucapan Retha, ia melangkah mendekati wanita murahan itu, dan berhenti tepat diwajah sok cantik milik Retha.


" Dimana anak mu itu? " ledek Yora.


" Aku ragu kalau kau bisa hamil. " sinis Yora dengan nada yang mengejek calon ibu tirinya itu.


" Kau! " Retha yang tidak terima akan perkataan Yora.


" Kau akan ku tendang dari Villa ini Yora lihat saja nanti! " ujar Retha degan raut wajah yang menahan amarah.


" Kita liat saja nanti, siapa yang akan keluar dari Villa ini. " sinis Yora lalu melangkah ingin memasuki kamarnya tapi menatap kembali wanita murahan itu.


" Oh iya, jika kau ingin tahu Villa ini atas namaku, jika kau percaya. " ucap Yora dengan raut wajah tersenyum, lalu Yora memasuki kamarnya untuk beristirahat.


Retha mengepalkan jemarinya dengan begitu kuat, akan hinaan yang wanita licik itu lontarakan kepada dirinya. la sunggu kesal dengan Alan yang tidak ingin menyentuh dirinya karena alasan belum menikah. Jika saja Alan sudah menyentuhnya dari dulu, ia sudah sangat nyakin anaknya akan cepat melengserkan wanita licik dan penganggu itu. Retha memasuki kamarnya dengan raut wajah yang kesal dan marah.


Pagi hari yang cerah, Alan sudah terbangun dan sedang berdiri tepat didepan pintu luar kamar Putrinya. Semalaman Alan tidak bisa tertidur karena ucapan pria yang bersama Nanda itu selalu tergiang-giang dikepalanya. Alan tidak terlalu memikirkan tentang Yora yang ingin merebut posisinya, tapi ia memikirkan dan membayangkan semalaman kalau Yora akan mempunyai ayah baru dan ia sangat takut kalau Putri kecilnya itu akan menjauh dari dirinya.


Tanpa mengetuk pintu kamar, Alan memasuki kamar Yora dengan kunci cadangan yang ia miliki agar bisa masuk ke kamar putrinya itu. Ia melihat Yora yang masih tertidur, Alan melangkah semakin mendekat kepada putrinya. la duduk disamping putrinya dan menatap Yora dengan tajam.


" Yora. " panggil Alan untuk membangunkan putrinya karena la ingin bicara kepada anaknya.


" Sayang, Papa ingin bicara sama kamu. " ujar Alan dengan suara lembutnya.


" Apa? " sambil mengusap matanya yang masih setengah mengantuk.


" Kau mengenal pria yang bernama Devon itu? " tanya Alan langsung tanpa basa basi.


Yora menatap Papanya yang tiba-tiba bertanya tentang pria yang ia duga kekasih Mamanya tersebut. Yora hanya menganggukan kepalanya saja, padahal ia sama sekali tidak mengenal kekasih Mamanya itu.


" Apa pria itu kekasih Mamamu, Yora? " tanya Alan.


" Iya. " balas Yora dengan singkat.


" Apa mereka akan menikah? " tanya Alan lagi.


" Mungkin saja. " sahut Yora yang masih bingung dengan maksud pertanyaan yang Papanya lontarkan kepada dirinya.


" Kenapa Pa kau bertanya seperti itu? " tanya balik Yora.


" Apa kau setuju Mamamu menikah dengan pria itu? " tanya Alan tanpa menjawab pertanyaan yang Putrinya ajukan.


Yora menatap Papanya dengan sangat tajam, ia sangat tidak tau dengan sikap Papanya yang malah menanyakan tentang pria itu daripada posisinya yang akan ia rebut.


" Kau cemburu? " tanya Yora sambil menatap Papanya, yang sedikit kaget saat ia bertanya seperti itu


" Tidak. " balas Alan.


" Kau sudah bercerai dengan Mamaku, kalian hanyalah orang asing, jadi berhentilah bertanya hal pribadi tentangnya. " ujar Yora dengan tegas.


" Papa hanya tidak suka kau akan mempunyai ayah tiri. ” gumam Alan yang masih terdengar oleh Yora.


" Aku juga tudak ingin mempunyai ibu tiri. " balas Yora yang membuat Alan menatapnya.


" Aku tidur larut malam, jadi sekarang masih ngantuk. Jadi bisakah keluar dari kamarku dan jangan membuka kamarku sembarangan seperti ini. " ucap Yora sambil berbaring kembali dan memejamkan matanya.


Alan menghelas nafasnya sambil melangkah keluar dari kamar Yora.