
Nanda selalu kepikiran akan ucapan Devon. Ia merasa kalau ucapan Devon ada benar tentang Yora yang sepertinya membutuhkan dirinya. Nanda yang tidak bisa fokus pekerjaan pun, akhirnya melangkah keluar dari butiknya. la ingin menemui Putri satu-satunya.
Nanda yang sudah memasuki mobilnya, cukup terkejut karena Devon yang tiba-tiba ikut masuk kedalam mobil miliknya.
" Keluarlah! " tegas Nanda.
" Aku ingin bertemu dengan Putriku juga. " sahut Devon dengan sangat santai.
" Berhentilah bicara seakan Yora itu adalah Putrimu. " ucap Nanda dengan tegas.
" Dia kan memang Putriku. " timpal Devon sambil menatap Nanda.
" Ayahnya Yora adalah Alan. " kata Nanda yang berusaha menahan amarahnya.
" Ibunya Yora adalah Nanda, bukan wanita lain. " tegas Devon sambil menatap tajam Nanda.
" Kau sudah terlalu jauh mengetahui kehidupan pribadiku Tuan Devon yang terhormat. " ujar Nanda.
" Aku hanya tidak suka dengan ketidakadilan. " balas Devon yang membuat Nanda mengerutkan keningnya bingung akan maksud ucapan Devon tadi.
Nanda sungguh terlalu pusing dengan sikap kurang ajar dari fotografernya itu. la sudah sangat tidak ada waktu, karena ini adalah jam istirahat pegawai Perusahan Florence. Ia melajukan mobilnya dengan kecepatan normal, sambil melirik Devon yang sangat santai duduk tepat disebelahnya.
Nanda memasuki Perusahaan Florence yang juga diikuti oleh Devon. Ia hanya tersenyum membalas sapaan hormat kepada dirinya yang dulunya mantan istri dari presdir Perusahaan Ini. Ia dan Devon menaiki lift, Nanda melangkah berjalan memasuki ruangan yang mana Putrinya ada disitu.
" Ma. " panggil Yora yang cukup terkejut karena kedatangan Mamanya yang tiba-tiba.
Nanda melihat Putrinya yang sedang bersama Rendy beserta seketarisnya dan yang membuat ia bingung kedatangan sahabatnya Yora yaitu Oliv.
" Mama ingin bicara sama kamu sayang. " kata Nanda dengan nada lembut.
Yora menatap Rendy seakan meminta izin untuk bersama Mamanya sebentar saja.
" Pergilah Yora, waktu istirahat sebentar lagi akan tiba. " tegas Rendy.
Yora mengikuti Mamanya menuju tempat pribadi yang hanya keluarga Florence lah yang boleh memasukinya. Yora duduk di depan Mamanya dan ia menatap pria yang ia duga kekasih Mamanya tersebut.
" Hai Yora, aku belum perkenalkan diri secara resmi. Panggil saja aku Om Devon, boleh juga Ayah Devon. " ujar Devon yang mendapatkan pukulan keras dipaha milik Devon.
" Hai, panggil Yora saja. " balas Yora yang ikut tersenyum saat Devon melakukan gerakan konyol dihadapannya.
" Sayang. " panggil Nanda dengan raut wajah yang bingung harus memulai percakapan dari mana.
" Hm. " gumam Yora yang masih melihat tingkah konyol Om Devon yang menampilkan raut wajah jelek miliknya.
" Hentikan Devon. " tegas Nanda sambil mencubit pingang Devon lumayan keras.
" Baiklah. " balas Devon sambil tersenyum kepada Putrinya Nanda.
" Kenapa Mama kemari? " tanya Yora.
" Dengarkan baik-baik Ma, aku ingin membuat kedua wanita murahan itu tidak merasakan kekayaan yang di milik oleh Papaku yang sebagai pewaris Florence. " ujar Yora dengan raut wajah bersungguh-sungguh.
" Tapi kau sudah mempunyai property 60% dan saham 30%, jangan serakah Yora. " tegas Nanda.
" Pria tua itu masih mempunyai 40% property dan aku ingin mengambilnya, anggap saja sebagai konsekuensi dari pengkhianatan yang pria tua itu lakukan. " ujar Yora.
" Yora! "
" Lakukan saja apa yang menurut mu benar Yora. " dukung Devon sambil tersenyum.
Yora hanya balas tersenyum saat kekasih Mamanya mendukung dirinya.
" Kalian para orang tua hanya selalu bertanya tentang harta bukan anaknya. " ucap Yora.
" Bukan seperti itu sayang. " timpal Nanda.
" Aku juga sadar, bahwa aku hidup ditengah-tengah orang tua yang bercerai, jadi aku berusaha untuk tidak mengharapkan apapun dari kalian. " tegas Yora lalu beranjak pergi dari ruangan itu.
" Kau selalu saja merusak suasana Nanda. " kata Devon lalu beranjak pergi juga.
" Yora. " panggil Devon yang membuat Yora menengok ke arahnya.
" Ya? " jawab Yora yang bingung.
" Aku ingin mentraktimu makan ayam. " ajak Devon.
Yora melihat dari atas hingga bahwa tubuh Devon, ia harus selalu menaruh curiga akan orang asing. la sangat tidak ingin di manfaatin oleh siapapun itu.
" Baiklah. " jawab Yora yang penasaran kenapa kekasih Mamanya mengajak dirinya.
" Mama tidak ikut? " tanya Yora lagi.
" Tidak perlu, dia orang yang tidak asik selalu berbicara sangat serius. " ujar Devon yang membuat Yora tersenyum akan ucapan Devon tentang Mamanya yang memang benar.
Yora dan Devon berjalan keluar dari Perusahaan. Yora melihat Papanya yang berada pintu masuk Perusahaan Florence, tapi ia mengabaikannya. Devon menatap sekilas Yora, ia mengetahui kalau Papanya Yora berada di pintu masuk utama.
" Kau sepertinya ingin mengacuhkan Papamu? " tanya Devon yang membuat Yora menatap dirinya.
" Tidak tau. " balas Yora.
" Kau tau Yora, pria jika menyakiti wanita dengan cara kekerasan sedangkan wanita menyakiti pria dengan merusak perasaanya. " ujar Devon yang membuat Yora masih bingung dengan ucapannya.
Yora terlihat sangat tidak suka saat kekasih Mamanya seperti sok akrab dengan dirinya hingga dengan sangat berani merangkulnya seperti ini.
" Intinya kita sekarang bermain-main dulu dengan Papamu yang menyebalkan itu. " ajak Devon.