Yora's Revenge

Yora's Revenge
Bab ≋44≋



la berusaha kembali menghubungi Orang Tuanya, tapi hasilnya sama saja Orang Tuanya tak menjawab panggilan telepon dari dirinya. Ia sebenarnya merasa sangat panik, tapi berusaha mengendalikan diri.


Yora berfikir sejenak di tengah-tengah kerumunan, Yora pun mendapatkan ide. la ingat kalo butik Mamanya ada dekat dari tempat dirinya berada sekarang. la pun berjalan dengan cepat, dengan jantung yang masih berdegup kencang ia melangkah dengan sangat terburu-buru. Yora rasanya ingin menangis, ia sangat bingung. la tidak pernah mengalami hal buruk seperti sekarang ini.


Yora sudah melihat butik milik Mamanya dari kejauhan, langsung berlari dengan sangat cepat. Bruk... tubuh Yora terjatuh dengan sangat keras ke aspal, Yora berdarah disiku saat sedang berlari untuk menghindari penguntit itu. Karena sudah waktu jam bekerja, orang-orang lumayan sedikit berlalu lalang. Tapi ia bersyukur masih ada orang yang ingin membantu dirinya. la menerima uluran tangan dari sesorang. la tersentak kaget orang itu menariknya dan mendekatkan tubuhnya kepada orang asing itu.


" Kau anak hasil dari perceraian yang Ayahnya lebih memilih wanita lain dari pada keluarganya sendiri. Kau hanya anak pembawa sial dan tidak berguna. Dan pasti kau tidak tau bocah, Orang Tuamu akan meninggalkan mu karena mereka akan menemukan pasangan hidup mereka masing-masing, dan jika waktunya tiba kau ada dilupakan dan dibuang oleh mereka. " Bisik pria asing tersebut lalu pergi meninggalkan Yora yang masih termenung ditempat sambil terus melihat pria asing itu perlahan menjauh.


Yora melangkah sambil memegangi sikutnya yang mengeluarkan darah, ia melangkah dengan sangat pelan menuju butik milik Mamanya. Pikiran Yora sangat tidak fokus, ia memikirkan ucapan pria asing tersebut. Otak Yora selalu mengingat semua perkataan pria asing itu, terutama perkataan tentang dirinya adalah anak hasil perceraian.


Yora tinggal beberapa langkah lagi menuju butik milik Mamanya, tapi langkahnya terhenti saat melihat Mamanya dengan pria yang sama sekali tidak ia kenali sedang bersama, yang akan memasuki mobil yang mana Yora tidak tau tujuannya. Yora terdiam di tempat, melihat kepergian Mamanya dengan pria itu, ia menatap dari kejauhan.


Perkataan pria asing tersebut muncul kembali, tentang dirinya yang akan dibuang dan dilupakan oleh kedua Orang Tuanya. Yora pun memutar arah kembali tidak jadi ke butik Mamanya. Yora menaiki taxi, ia hanya menatap jalanan dari luar jendela. Entah kenapa air matanya keluar begitu saja, ia membayangkan dirinya akan dilupakan. Yora tertawa dan menangis secara bersamaan, bukannya ia sudah dilupakan, mereka hanya sibuk dengan pekerjaan dan orang lain. Tapi mereka lupa kalo dirinya juga butuh mereka berdua, untuk menemani dirinya yang selalu saja kesepian.


Yora melangkah memasuki tempat hotel bintang lima, ia ke meja resepsionis dan membayar mengunakan kartu debit yang Rendy berikan dahulu. Yora hanya menenangkan diri dan pikiran akibat ucapan pria asing tadi. Dan dirinya yang melihat Mamanya yang bersama dengan sesorang pria. Ia tidak tau itu teman kerja atau apa pun itu. Tapi ia sangat takut, kalo kedua Orang Tuanya akan melupakannya dirinya Putri tunggal mereka.


" Apa dirinya yang bersalah karena Papanya berselingkuh? "


" Apa anak hasil perceraian akan selalu yang jadi korban? " tanya Yora pada dirinya sendiri.


" Apa harga diri tentang dirinya akan jatuh saat seluruh dunia mengetahui kalau ternyata dirinya hanya anak hasil perceraian? "


" Lalu apa salah ku Tuhan, kenapa mereka melakukan itu semua? "


" Apa mereka benar-benar akan melupakan diriku Tuhan? "


" Bahkan mereka tidak balik menelpon Putrinya lagi. " ucap Yora sambil tertawa tidak jelas dan mengeluarkan air mata.