
Yora melirik Rendy yang sangat fokus menyetir dengan rahang yang mengeras karena merasa marah, di mobil Rendy hanya diam tanpa melirik Yora sedikitpun, sepanjang perjalanan pulang ke rumah mereka berdua hanya diam dengan pemikiran masing-masing.
" Kenapa pulang ke rumah besar itu, " ujar Yora saat sudah ada di parkiran Villa Florence.
" Kau sudah berjanji pada Papamu dan turuti saja, " jelas Rendy yang dilirik sinis oleh Yora.
" Baiklah, " ucap Yora lalu turun dari mobil.
" Kenapa tidak keluar dari mobil? " tanya Yora.
" Kau harus pulang ke Villa ini juga, ingat. " perintah Yora berjalan masuk menuju Villa.
Rendy hanya tersenyum membalas ucapan Yora yang memerintah dirinya untuk pulang ke Villa Florence.
Yora memasuki Villa. Salah satu pelayan yang melihat kepulangan Yora menyambut dengan penuh suka cita nona mereka sudah pulang.
" Nona akhirnya kamu pulang " ucap asisten senior keluarga Florence.
" Maaf ya buat kalian khawatir. " ujar Yora memeluk semua pelayan di Villa.
Yora memasuki kamar dan berbaring dikasur miliknya. Dengan hatinya yang gembira dia akan selalu menganggu hidup Retha, sampai di pergi menjauh dari keluarga Florence.
" Apa aku harus menyiksa Papa dan wanita murahan itu ya, biar mereka menyerah dan saling menjauh satu sama lain. Apa yang harus kulakukan netizen yang budiman, tolong wanita cantik ini," pikir Yora lalu lambat laun Yora tertidur pulas.
Setelah kepulangan Yora dan Rendy dari cafe miliknya. Keadaan fisik dan sikis Retha sangat lemah, Mira membawa Putrinya ke klinik terdekat. Kata dokter Retha sangat tertekan dan dianjurkan banyak istirahat atau melakukan hobi yang disukai oleh Retha. Sesudah makan dan minum obat, Mira menarik Putrinya untuk berbaring dikasur dan Retha pun tertidur dengan wajah yang bengkak.
Mira yang kesal karena ulah Yora yang membuat Putrinya dalam keadaan seperti ini. Ia segera menghubungi Alan meminta pertangungjawabannya atas yang putrinya lakukan.
Rendy dan Alan pulang bersama menuju Villa, mereka berdua bekerja hingga malam hari.
" Kenapa pulangnya sangat lama? " tanya Yora yang sedang makan.
" Kamu baru bangun? " tanya balik Rendy yang dibalas anggukan kepala oleh Yora.
" Tadi kita berdua sedang ada rapat yang sangat mendadak, jadi pulangnya agak sedikit malam. " sahut Alan menjawab pertanyaan Yora.
" Aku tanya sama Rendy, bukan sama Papa." terang Yora.
" Papa naik ke atas dulu ya, " ucap Alan sambil berjalan meninggalkan pasangan muda itu.
" Kamu saking rindunya, sampai menunggu ku ya, " ujar Rendy sambil mencium kening Yora.
" Kepedean tingkat dewa tau enggak sih. " ucap Yora dengan ketus.
Rendy hanya tertawa, ia lalu mencium kening Yora kembali dan mencium bibir Yora sebentar dan bergegas pergi takut Yora memukul dirinya. Ia memasuki kamar tidur yang berapa hari ini tidak ia tempati, akibat aksi ngambek dan marah Yora kepada pemilik Villa ini.
Alan mengerutu saja sepanjang berjalan menuju kamarnya, ia sangat kesal Yora selalu saja mengacuhkan dan memarahi dirinya terus, la harus meminta bantuan kepada Nanda agar Yora tidak bersikap seperti itu lagi. Alan segera mandi untuk menyegarkan pikiran dan hatinya yang galau saat Alan memakai baju, handphonenya terus saja berdering. Alan enggan untuk mengangkat panggilan tersebut, karena yang pasti urusan pekerjaan dan ia tidak mau diganggu waktu istirahatnya karena urusan pekerjaan.
Alan sangat kesal handphonenya terus saja berbunyi dari tadi, mengganggu dirinya menonton siaran ulang sepak bola yang mana klub kesukaannya sedang bermain. Dengan sangat malas Alan mengambil handphonenya yang dari tadi terus berbunyi itu. Alan melotot kaget rasanya bola matanya ingin keluar, saat nama Ibunya Retha tertera di dalam panggilan masuk dihandphonenya. la sangat bingung apa harus mengangkat atau tidak, Alan melangkah menuju kepintu kamar mengunci kamarnya dari dalam, Dengan langkah ragu jari Alan mengeser tombol hijau.
" Hallo Alan " ucap Mira disambungan telepon.
" Iya " sahut Alan dengan ragu.
" Retha sakit karena kalian para keluarga Florence yang selalu menindas Putriku sangat lugu itu, jika sesuatu terjadi kepada Putriku, aku akan bunuh diri " teriak Mira.
" Maksud mu apa Nyonya? " tanya Alan disambungan telepon.
" Putriku sakit, kata dokter dia tertekan. Ia mengalami tekanan mental gara-gara dirimu yang mengacuhkan dirinya. Jika kau tidak percaya datanglah kemari dah satu lagi, Retha sangat ingin bertemu dengan dirimu. " kata Mira.
" Maaf, aku tidak bisa datang. " balas Alan.
" Kamu harus bertangung jawab karena telah membuat Putriku jatuh cinta kepada dirimu Alan, dan kau menyingkirkannya dengan seenakmu saja. Kau sangat keterlaluan Alan! " Ucap Mira dengan nada marah yang dibuat-buat.
" Baiklah aku akan datang sekarang juga, " jawab Alan yang luluh akan perkataan dari Ibunya Retha.
" Aku dan Retha akan menunggu dirimu, cepatlah kemari, " ucap Mira lalu mematikan sambungan teleponnya.
" Biasanya Alan memanggil dirinya dengan sebutan ibu mertua, tapi tadi dia memanggil diriku Nyonya, pasti ini berbuatan semut pengganggu itu. " batin Mira.
Alan mengambil kunci mobilnya, dengan sangat pelan melangkah menuju tangga untuk turun kebawah. Dadanya berdegup kencang iya takut Yora mengetahui, jika sampai itu terjadi akan ada perang dunia lagi di Villa Florence.