
Di malam hari, Alan mendengar suara shower menyala yang tandanya Retha sedang mandi. la duduk di sofa kamarnya, sorot matanya melihat kado yang Putrinya berikan kepada Retha. Alan melangkah mendekat, ia sangat penasaran isi dari kado itu. Alan mengambil kado itu dimeja rias, saat membukanya ia mengerutkan keningnya bingung karena hanya ada sebuah salinan dokumen.
Alan pun membuka isi dokumen itu dan membacanya dengan sangat seksama. Alan yang terkejutnya duduk di kasur sambil membaca salinan dokumen itu berulang-ulang kali. Didalam dokumen itu tertulis hak kepemilikan Villa, ia membaca dokumen itu karena ia masih percaya salinan dokumen yang ia pegang adalah palsu, tapi nyatanya adalah asli.
" Ada apa Alan? " tanya Retha yang melihat keterdiaman suaminya.
Retha semakin melangkah mendekat, ia bingung kenapa suaminya memegang kado yang diberikan Yora kepada dirinya. Retha mengambil sebuah kertas yang sedang digenggam suaminya. Retha mengerutkan keningnya bingung akan maksud isi dari kertas itu.
" Maksudnya apa ini Alan? " tanya Retha sambil menatap Alan.
Alan menatap balik istrinya dengan raut wajah yang lesuh.
" Surat kepemilikan tanah dan bangunan. " jawab Alan.
" Aku tidak mengerti? " tanya Retha yang masih bingung.
" Hak kepemilikan Villa. " kata Alan.
" Oh, " balas Retha sambil melangkah ke meja rias untuk melakukan perawatan malam.
" Oh saja? " kata Alan.
" Villa ini milikmu kan, " kata Retha menatap suaminya dari cermin.
" Villa ini bukan milikku, " ucap Alan.
" Tidak lucu becandanya sayang, kamu kan pewaris sah dari Perusahaan dan aset Florence. " ujar Retha.
" Villa ini atas nama Yora Florence, " kata Alan yang membuat Retha menatap dirinya.
Retha mengambil salinan dokumen tadi, walupun ia tidak terlalu memahami isinya. Tapi ia sangat terkejut saat ada nama gadis licik itu di salinan dokumen yang ia pegang.
" Apa kamu yang memberikan Villa ini Alan?! " ucap Retha sambil berusaha menahan kemarahan.
" Tentu saja tidak, " tegas Alan.
" Lalu bagaimana Putrimu bisa memilikinya! "
" Aku juga tidak tau! " kata Alan.
" Putrimu sangat keterlaluan Alan, kemarin dia mendeklarasikan akan melengserkan kamu dari jabatanmu sekarang ini dan sekarang dia mengambil Villa, lalu besok apa yang akan dilakukan Putrimu itu, " ujar Retha dengan nada yang sangat marah karena isi hadiah yang diberikan oleh anak tirinya.
" Kamu terlalu memanjakanya Alan, Yora pasti mengira kalau kamu bakal tidak marah sekali atas perbuatan yang ia lakukan, " kata Retha lagi.
" Aku harus apa Retha? " tanya Alan yang juga merasa frustasi akan perbuatan anaknya.
" Karena kita berdua Orang Tuanya, jadi kita harus mendidiknya Alan. " tegas Retha lagi.
Alan yang menuruti ucapan istrinya, melangkah menuju kamar Putrinya tapi tidak menemukan keberadaan anaknya. la bertanya kepada salah satu pelayan, kata pelayan Yora sudah pulang dan sedang berada didapur. Dengan langkah cepat Alan dan Retha berjalan menuju dapur. Mereka melihat Yora yang sedang meminum secangkir gelas air putih.
" Apa maksud salinan dokumen ini!, " teriak Alan sambil menatap tajam Putrinya.
" Kejutan buat kalian, " ucap Yora dengan santai.
" Bagaimana kamu bisa mendapatkan ini. " kata Retha dengan tegas.
" Karena hanya Yora Florence yang pantas mendapatkannya. " tegas Yora dengan raut wajah santai.
Prang...
Alan membanting gelas bekas minum Putrinya. Menurut Alan, perkataan istrinya benar, karena dirinya terlalu memanjakan Putrinya hingga Yora bertindak tidak tau diri macam seperti ini.
" Apa ini didikan ibu kandungmu itu, hingga membuat Putrinya haus akan kekuasaan dan kekayaan. " kata Retha.
" Bukannya perkataan itu pantas untuk dirimu bukannya aku, " tegas Yora dengan sorot mata menatap Retha tajam.
" Lihat Alan, Putrimu semakin pemberontak, " kata Retha sambil menatap Alan.
" Bagaimana kamu bisa mendapatkan dokumen kepemilikan Villa ini, " tegas Alan sambil melangkah mendekat kepada Putrinya.
" Tentu saja dari kakekku, Daaron Florence. " balas Yora.
Alan terdiam setelah mendengar Ayahnya disebutkan oleh Putrinya.
" Karena Daaron Florence tahu siapa yang pantas mendapatkan aset Florence. " ucap Yora.
" Maksud mu Papamu ini tidak pantas mendapatkannya iya? " teriak Alan.
" Tentu saja kau sangat tidak pantas, karena pria seperti mu hanyalah sampah masyarakat yang harus dibuang, karena dengan kurang ajarnya meninggalkan istrinya demi wanita murahan seperti d.., " Plak...sebelum menyelesaikan kalimatnya Yora sudah ditampar keras oleh Papanya.
" Jaga ucapanmu itu Yora! "
Yora memengam pipinya yang baru saja ditampar oleh Papanya. Yora terkekeh akan tindakan yang dilakukan oleh Papanya yang sudah menampar dirinya sebanyak 2 kali. Yora menatap tajam Papanya dengan sorot mata yang tajam dan penuh dengan kebencian.
" Kau hebat Retha, baru saja sehari kalian menikah dan aku sudah ditampar oleh dirinya itu. " ucap Yora dengan nada yang sinis.
" Aku membencimu dengan seluruh jiwaku. " kata Yora tepat di depan wajah Papanya.