
Tidak terasa malam sudah tiba dan Yora masih berada didalam ruangan dengan berkas yang hampir selesai, karena besok ia harus memberikan laporan hasil kerjanya saat rapat pagi nanti. Tiba-tiba tangan Yora terhenti, ia merenung sebentar dan memikirkan sesuatu. Yora segera membereskan semua dokumen dan filenya, lalu bangkit untuk keluar dari Perusahaan Florence.
Yora mengendarai mobilnya tapi tidak menuju ke Villa Florence, melainkan menuju ke club malam. Yora melihat-lihat kerumunan yang sedang asik bergoyang dan bahkan ada yang bercumbu. Yora masih terus mencari dan itu dia. Yora mengenggam tangan sahabatnya Oliv yang ingin meminum vodka kembali.
" Wow Yora, akhirnya kita bisa bertemu lagi. " ujar Oliv saat orang yang mengengam itu adalah sahabatnya Yora.
Yora menarik tangan Oliv untuk keluar dari tempat yang bising itu dan memasuki Mobil milik Yora. Ia ingin berbicara kepada sahabatnya yang sangat jarang ia temui itu.
" Oliv lu sudah berjanji sama gue akan membantu tentang masalah yang gue hadapi ini. " kata Yora langsung tanpa basa-basi.
" Lu datang bukan tanya kabar, malah nodong gue. " kata Oliv dengan raut wajah yang tampak kesal.
" Bukan waktunya sekarang. " kata Yora dengan raut wajah yang tampak sangat lelah.
Oliv yang melihat sahabatnya seperti seorang menyimpan dan menahan beban hidup saja, hingga kelihatan seperti seorang zombie mukanya Yora.
" Katakan saja apa yang bisa gue bantu. " kata Oliv menatap Yora dengan sorot mata khawatir akan sahabatnya itu.
" Buat para kumpulan pria tua itu menyetujui pergantian presdir. " ucap Yora yang malah membuat Oliv mengerutkan keningnya karena bingung.
" Maksud lu apa si, sumpah gue gak ngerti. " timpal Oliv.
" Gue akan menjadi penerus Papa gue " sahut Yora.
" Kan emang lu anaknya, ya pasti bakal jadi penerusnya bodoh. " kata Oliv yang masih bingung akan Yora.
" Lu lupa ya kalau Papa gue itu mempunyai wanita simpanan dan mereka akan segera menikah. " curhat Yora agar sahabatnya sedikit mengerti.
" Mereka menikah?! " terik Oliv yang sangat terkejut dengan perkataan Sahabatnya.
" Memangnya kenapa? " tanya Oliv.
" Wanita murahan itu ingin menguasai harta milik keluarga Florence. " ucap Yora.
" Lalu apa selanjutnya jika lu berhasil membuat Papa lu pensiun lebih awal? " tanya Oliv.
" Para wanita murahan itu bermimpi menjadi Nyonya besar dan karena gue itu baik, jadi gue akan mengabulkannya. " kata Yora.
" Lalu selanjutnya apa nanti? " tanya Oliv.
" Membuat mereka menjadi pembantu keluarga Florence. " ujar Yora.
" Sumpah gue masih gak ngerti, jadi Nyonya Florence tapi kenapa bisa jadi pembantu keluarga Florence. " ucap Oliv yang masih sangat tak mengerti.
" Karena Papa gue sudah pensiun dan bisa di bilang juga dilengserkan, tidak ada uang yang mengalir kembali saat Papa gue tidak menjabat lagi dan itu akan membuat para ular merasa kelaparan. " kata Yora
" Dulu saat gue masih bisa belum mengerti apapun hingga ada seorang pria yang menabrak gue dan mengingatkan tentang semua ini dan pesan tersebut. " curhta Yora dengan pelan.
" Sudahlah, lu tinggal bantu gue aja. " ujar Yora.
" Okay, gue sangat ahli dalam membujuk dan merayu seorang pria. " ucap Oliv.
" Mulai besok lu harus jadi seketaris gue. " perintah Yora yang membuat Oliv melotot tidak percaya.
Oliv ingin sekali membantah tapi tidak bisa. Masalahnya ia sudah berjanji dengan Yora, waktu di Cafe akan membantu Yora dan sekarang Yora menagihnya. Oliv hanya bisa mengangguk dengan pasrah akan paksaan dari Nona Florence itu.