Yora's Revenge

Yora's Revenge
Bab ≋49≋



" Sepertinya kau sakit hati dan cemburu melihat ku bersama dengan pria lain. " ujar Nanda sambil mendekatkan dirinya ke arah Alan.


" Tentu saja tidak. " sahut Retha yang tidak terima akan perkataan Nanda. Nanda tidak memperdulikan perkataan Retha, ia hanya menatap Alan yang tepat berada dihadapannya


" Jika kau cemburu dan marah karena aku bersama pria lain, kau harus ingat rasa marah dan frustasi itu. Seperti itulah yang ku alami dulu. " kata Nanda lagi tepat dihadapan Alan.


Setelah mengatakan itu, Nanda pun lebih memilih melangkah keluar dari Villa Florence, ia terlalu malas untuk meladeni lebih lanjut orang yang sangat tidak bermoral. Sebelum memasuki mobilnya Nanda menelepon Lina seketarisnya, ia memberikan perintah seketarisnya untuk membawa Yora ke apartementnya, dalam kurun waktu 24 jam terhitung dari detik ini ,Yora sudah harus berada di apartement miliknya.


Nanda menatap sekilas Villa besar milik keluarga Florence. Ia hanya merasa kesal mengingat perkataan wanita itu yang seperti mangatakan kalau Villa Florence milik mereka.


" Nikmatilah saja, sebelum pemilik sahnya mengambilnya dari kalian. " batin Nanda dambil melajukan mobilnya menjauh dari halaman Villa Florence.


Yora sudah mulai bekerja. Yora dengan raut wajah yang serius melihat berkas-berkas proyek yang akan dikerjakan. Ia hanya mempunyai waktu 3 hari, untuk mempresentasikan laporan hasil kerjanya. Para karyawan yang melihat keseriusan Yora dalam mengerjakan proyek baru, merasa mulai percaya kalau Yora akan mampu. Terlihat dari keseriusan dan kegigihan Yora, yang bahkan sampai meninggalkan jam makan dan istirahatnya, agar berkasnya cepat selesai, karena wakil presdir hanya memberikan jangka waktu dalam 3 hari.


Para karyawan berlalu-lalang untuk pergi meninggalkan Perusahaan. Tapi Yora masih duduk diam dikursi kerjanya, dengan tangan yang masih mengetik melalui komputer. Saat ditanya oleh karyawan yang lain kapan pulang, Yora hanya bilang akan segera pulang. Tapi sampai malam yang mulai larut Yora tidak kunjung pulang. la masih berkutik di komputer dengan sangat fokus.


Hingga dirinya dibuyarkan oleh deringan suara handphone miliknya yang baru ia nyalakan setelah seharian ia matikan. Ia menatap layar gadgetnya sebentar, lalu kembali memfokuskan dirinya ke layar komputer.


Yora yang mendengar suara deringan panggilan masuk dari handphonenya setelah dirinya mengaktifkan gadgetnya. Ia menatap heran kenapa seketaris Mamanya menelepon dirinya. Yora pun mengangkatnya dan menempelkannya di bahu, karena tangannya masih mengetik.


Setelah diberitahu oleh Aunty Lina, ia pun membereskan hasil kerja tadi, lalu bergegas keluar dari perushaan Florence. Ia sangat terkejut mendengar perkataan sekretaris Mamanya, kalau Mamanya tadi sedang berada di Villa Florence dan kata Aunty Lina kalau Mamanya sempat berargumen dengan para ular itu.


Yora dengan mobilnya memasuki kawasan apartement mahal. Setelah memarkirkan mobilnya, ia pun bergegas melangkah memasuki unit apartement milik Mamanya. Yora menekan tombol kata sandi dari kunci apartement milik Mamanya. Yora pun memanggil Mamanya dan ia menemukan Mamanya sedang berada diruang kerja miliknya. Yora pun melangkah mendekati Mamanya.


" Itu tidak penting sekarang, Mama ingin memberikan sesuatu kepada dirimu. " ujar Nanda sambil melangkah mendekati sebuah lemari.


Yora mengerutkan keningnya bingung, saat melihta Mamanya mengeluarkan sebuah brankas kecil dari dalam lemari dan memberikannya kepada Yora.


" Bukalah itu dikamarmu yang berada di apartement milik Mama ini. " kata Nanda.


" Apa isinya uang? " tanya Yora.


" Bisa jadi, tapi ini lebih luar biasa. " sahut Nanda.


" Pergilah kekamarmu dan lihatlah semuanya. " ucap Nanda lagi dengan sorot mata tidak ingin dibantah.


" Oh iya, kata sandinya adalah ulang tahun mu. " kata Nanda.


Yora pun mengerti dan berjalan keluar dari ruang kerja Mamanya dan melangkah menuju ke kamar miliknya yang berada di apatement mewah milik Mamanya. Nanda melihat Putrinya sudah keluar dari ruangannya.


" Cukup aku saja yang kehilangan posisiku, tapi tidak dengan Putriku. " pikir Nanda sambil duduk termenung diruang kerjanya.


Di dalam kamnar Yora mengerutkan keningnya bingung, melihat brankas kecil yang Mamanya berikan tadi. Ia membuka brankas dengan menekan angka yang mana kata sandinya adalah hari kelahiran miliknya. Mata Yora hampir saja keluar karena terkejutnya saat dirinya menemukan sebuah berkas.