
Nanda sedang didalam ruang pemotretan untuk keluaran baju musim panas milik butiknya. Ia mengamati para model yang bergaya dengan mengunakan baju produk milik butiknya. Saat Nanda ingin keluar, tangan ia digenggam oleh sang fotografer yang sangat sok kenal dengan dirinya itu.
" Ada apa lagi Tuan Devon? " tanya Nanda dengan tegas.
" Lama tidak jumpa. " ucap Devon dengan raut wajah yang tersenyum.
" Iya. " sahut Nanda.
" Kau ini sangat tidak sopan. " ucap Devon.
" Ini sifatku. " jawab Nanda.
" Temanin pria malang ini makan ya Nyonya Nanda yang terhormat. " kata Devon.
Sebelum Manda ingin membalas perkataan fotografer itu, handphonenya berbunyi menandakan panggilan masuk dari seketarisnya Lina. Nanda pun mengangkatnya dengan mata melirik sekilas kepada Devon.
" Iya ada apa? " tanya Nanda sambil melihat Devon yang masih berada disampingnya.
" Nyonya ini tentang Nona Yora. " sahut Lina.
" Kenapa dengan Putriku itu? " timpal Nanda.
" Dia akan dicalonkan menjadi presdir Florence selanjutnya. " ucap Lina disambungan telepon yang membuat Nanda terdiam sementara.
" Bagaimana bisa? " tanya Nanda yang masih tidak percaya.
" Datanglah dahulu ke Perusahaan Florence. " kata Lina.
" Baiklah. " ucap Nanda lalu mematikan sambungan telepon.
" Aku terima tawaran mu Tuan Devon, tapi sebelum itu antar aku ke suatu tempat dulu. " kata Nanda lalu disanggupi oleh Devon.
Yora dengan langkah sangat percaya diri keluar dari Villa menuju ke parkiran, karena rapat akan dimulai siang nanti. Yora melihat calon Ibu tirinya itu sedang bersama Papanya, bagaikan sudah suami istri sah saja. Yora hanya tersenyum sinis melihat kemesraan yang terjadi antara pasangan murahan itu.
" Maaf ya Retha aku ingkar janji sama kamu, aku lupa beritahu kalo ada rapat hari ini. " kata Alan sambil mengusap lembut kepala kekasihnya.
" Tidak masalah kok. " balas Retha dengan suara lembutnya.
" Kamu pergi juga? " tanya Alan saat melihat Putrinya berjalan menuju ke mobilnya.
" Mau Papa anterin ke tempat tujuan mu? " tawar Alan yang ingin hubunganya dekat kembali kepada Putri satu-satunya.
" Tentu. " jawab Yora sambil menatap sinis Retha saat memasuki mobil.
" Lihat saja jika aku mempunyai anak laki-laki, aku akan menyingkirkan mu Yora dari kehidupan Florence. " batin Retha lalu beranjak memasuki Villa Florence.
Alan mengerutkan keningnya bingung saat tempat yang dituju Putrinya adalah Perusahan Florence. Ia menatap Putrinya seakan memberi isyarat kalau tempat yang dituju Putrinya memang benar.
" Terimakasih Papa. " kata Yora dengan santai melangkah memasuki Perusahan Florence.
" Mungkin ingin ketemu kekasihnya Rendy. " pikir Alan lalu ia melangkah menuju ruang miliknya itu.
Yora dengan raut wajah tegas melangkah menuju ke ruang wakil presdir, tapi tiba-tiba dirinya ditarik paksa menuju ruangan sepi agar menjauh dari para karyawan. Ia melihat Mamanya yang menarik dirinya dan Yora melihat sekilas kalau Mamanya datang bersama pria lain.
" Yora apa yang kamu lakukan? " tanya Nanda dengan tegas.
" Apa? " balas Yora.
" Jelasin sama Mama kenapa kamu bisa menjadi kandidat calon presdir Florence. " ucap Nanda sambil menyentuh ke dua bahu Putrinya.
" Aku penerus sah keluarga Florence, memangnya salah? " kata Yora.
" Kamu akan mendapatkan itu disaat waktunya tiba Yora, tapi bukan sekarang. " ucap Nanda dengan sorot mata yang tajam.
" Jika bukan sekarang lalu kapan? " tanya Yora dengan nada yang dingin.
" Akan ada waktunya sayang. " ucap Nanda berusaha menjelaskan semuanya kepada Putrinya itu.
" Dan sekarang waktunya tepat sebelum direbut sama ular yang kelaparan, jangan mengangguku Ma hiduplah bahagia bersama pria itu. " kata Yora lalu melangkah pergi dari hadapan Mamanya.
Nanda menatap Putrinya seperti bukan Yora yang dahulu, entah kenapa hati Nanda sangat sakit melihat Putrinya ingin melawaan Papa kandungnya sendiri. Nanda menengok saat bahunya ditepuk oleh Devon dengan lembut.
" Menurut sudut pandang fotografer, mata Putri mu itu penuh dengan rasa kecewa, Nanda. " ucap Devon sambil melihat Putrinya Nanda dari kejauhan.
" Aku merasa kalau Yora sudah bukan seperti Putriku yang manja seperti dulu lagi. " kata Nanda sambil menatap sekilas Devon.
" Karena hatinya itu terluka Nanda. " timpal Devon.