
" Akan ku balas kalian! " Teriak Retha seperti orang tidak waras.
Rendy menatap wanita yang sudah gila itu. Baru saja sehari ia bersama dengan pria hidung belang sudah gila, apalagi wanita rendahan itu ia jual. Bisa-bisa istri dari Om Alan gantung diri. Ia juga tidak peduli mau dia istri Om Alan, karena kejahatan wanita hina itu sudah membuat api dalam dirinya bangkit.
Rendy rasanya ingin meremukan kedua wanita yang tidak bermoral itu hingga hancur berkeping-keping. Tapi dirinya harus tahan, karena pembalasan yang paling nikmat adalah menyakitinya perlahan tanpa harus membunuh.
Rendy duduk kembali disofa sambil melihat Aunty Nanda yang sedang menarik rambut wanita hina itu dengan kasar. Nanda juga menekan rahang Retha ke tembok hingga membuat Retha merasa kesakitan.
" Aku akan laporkan kalian ke polisi. " Kata Retha sambil berontak agar bisa memukul wanita tua itu lagi.
Sedangkan Rendy yang mendengar penuturan itu hanya bisa tertawa geli. Wanita hina itu sepertinya otaknya tidak tau apapun, mana mungkin polisi bisa menangkapnya karena dirinya dan keluarga Florence adalah orang berpengaruh. Mareka tidak berani berurusan dengan kalangan atas, jika mereka berani, atasannya lah yang akan memecat mereka, karena sudah berani menentang para milliader yang sangat berpengaruh dalam ekonomi negara ini.
" Lakukan sesukamu. " Tantang Rendy.
" Suamiku mengenal orang penting yang ada di negara ini, jadi kalian akan habis. " Ucap Retha.
" Dimana suamimu itu? " Kesal Nanda.
" Dia aja ngak peduli sama anda wanita hina. " Ketus Nanda.
Rendy mendengar dengan seksama apa yang dibisikan oleh bawahannya. Ia melirik tajam bawahannya. Rendy menghelas nafasnya, ia harus mengatur emosinya yang tidak tau kenapa sedang berapi-api.
" Ibu mu.... " Ucap Rendy yang terhenti.
" Apa yang kalian lakukan kepada ibuku! " Teriak Retha.
" Dia sudah gila teriak-teriak mulu, kita jual ke rumah pelacur setelah itu masukin ke rumah sakit jiwa. " Kata Nanda sambil menatap wajah itu.
" Ide yang luar biasa. " Sahut Rendy yang dengan santai yang masih duduk disofa.
Nanda melepaskan cengkraman kuatnya dari rahang wanita rendahan itu. Ia mengambil handphone yang dari tadi bergetar di kantong celananya. Ia mengambil handphonenya dan dahinya mengerutkan keningnya bingung karena Yora sudah menelepon dirinya.
Nanda sangat tau kalau Putrinya itu menyuruh dirinya untuk cepat pulang, padahal baru ditinggal beberapa jam saja. Nanda belum puas dengan menyiksa wanita hina itu apalagi, dirinya belum bertemu dengan Ibu dari Retha yang sangat tidak punya harga diri itu.
" Yora telepon, sepertinya menyuruh kita untuk cepat pulang. " Kata Nanda.
" Kamu benar. " Sahut Nanda.
" Tapi kau ingin apakan wanita itu, Aunty? " Tanya Rendy sambil menunjuk wanita itu yang masih kedua lengannya dipegang oleh pengawal miliknya.
" Kurung saja dirumah ini bersama ibunya itu. Aku akan menemui Alan nanti baru setelah itu Aunty akan beritahu harus menghukum mereka seperti apa. " Ucap Nanda dengan tangan yang terkepal kuat.
" Baiklah. " Jawab Rendy.
Nanda berjalan keluar dan Rendy juga berdiri tapi langkahnya tidak mengikuti ke arah Aunty Nanda yang berjalan keluar dari rumah ini. Melainkan berjalan ke arah wanita hina itu. Rendy semakin mendekati Retha dengan senyum yang menakutkan. Rendy sangat tidak ingin melakukan segala kekerasan pada wanita, tapi lain hal kalau wanita itu sudah berani menganggu keluarga dirinya.
Rendy menarik rambut Retha dengan kuat, hingga membuat Retha menatap dirinya. Rendy sangat kagum dengan Retha yang sangat tidak kenal takut dengan apapun itu. Ini adalah hasil Om Alan dulu yang selalu memanjakan wanita hina itu, dengan kekayaan dan kekuasaan hingga membuat wanita hina itu tidak kenal takut dengan apapun, karena pasti ada suaminya itu yang menolong dirinya dari berbagai macam masalah yang telah dibuatnya. Tapi ia harus membuat wanita itu sadar kalau suaminya itu sudah tidak punya apapun lagi.
" Gimana rasanya menghabiskan malam panjang dengan pria hidung belang itu? " Tanya Rendy.
" Dasar anak buangan yang menjijikan! " Marah Retha sambil menatap tajam pria itu.
" Cih, masih saja bisa menghina mulutmu itu. " Ungkap Rendy.
" Aku akan membuat Yora merasakan tubuhnya dijamah oleh pria hidung belakang itu. " Jawab Retha yang membuat rahang Rendy mengeras karena ucapan dari Retha.
" Hal itu tidak akan pernah terjadi, yang akan terjadi adalah kau akan ku jual. " Tutur Rendy.
" Oh ya satu lagi kau harus tau, kalau cafe kecil mu itu sudah habis terbakar. " Ucap Rendy dengan santai.
" Apa maksudmu? " Tanya Retha yang masih belum percaya kalau cafe miliknya sudah hancur.
" Cafe mu itu sudah ku bakar dan Ibu mu itu sedang meratapi cafe kecil yang sudah jadi abu. " Ungkap Rendy dengan santai.
" Apa! " Teriak Retha dengan lemah. Retha lemas karena cafe miliknya sudah dihancurkan oleh pria yang tidak ada belas kasihan itu.
" Tetaplah dirumah ini, sampai aku membawa suamimu untuk menemui istri tercintanya. " Timpal Rendy dengan tegas.
Retha sudah dilepaskan oleh kedua para pengawal milik Rendy. la terduduk lemas setelah mendengar apa yang diucapkan anak buangan itu. Retha tidak tau harus melakukan apa. Cafe miliknya sangat berharga bagi dirinya. Tapi kenapa mereka sangat tidak puas dengan apa yang sudah mereka lakukan kepada dirinya, hingga harus membawa cafe miliknya juga.