Yora's Revenge

Yora's Revenge
Bab ≋24≋



Yora melepaskan rangkulan di lengan Rendy, melangkah lebih dekat kepada Retha, mereka saling berhadapan. Yora dengan sorot mata yang tajam, dan senyum seringai yang terpasang diwajah mulusnya. Yora mencengkram dagu Retha dengan erat, mendekatkan mulutnya ke arah telinga Retha.


" Aku sudah memperingatkan dirimu, Papaku itu mudah bosan. Lihat dirimu dihempaskan begitu saja. Dasar Wanita murahan! " bisik Yora terkekeh.


Retha dengan rahang yang kaku, dan jemarinya yang mengepal kuat-kuat, Retha dengan berani membalas tatapan penuh tajam kearah Yora, la hanya diam tanpa membalas ucapan Yora, tapi hatinya penuh dengan amarah yang sangat membara.


" Owh kasihannya, wanita malam ini. " ledek Yora dengan wajah yang penuh dengan kesenangan menghina Retha.


Yora mengaitkan kembali tangannya ke lengan Rendy, menariknya untuk keluar dari perusahaan, menuju mobil yang didalamnya sudah ada Alan. Baru beberapa langkah Yora berjalan tiba-tiba Yora berhenti, yang membuat Rendy mengerutkan keningnya bingung. Yora berbalik badan ke arah Retha, yang masih berdiri kaku ditempat.


" Hey kau wanita murahan!... Jangan pernah berani datang ke perusahaan Florence lagi. Jika masih berani kau menginjakkan kaki ke perusahaan Florence. Aku akan memberitahu seluruh karyawan Florence yang ada dimuka bumi ini, siapa dirimu yang sebenarnya. Ingat peringatanku ini diotak dangkal mu itu!... cih murahan, " teriak Yora dengan nyaring membuat para karyawan berbisik-bisik yang bingung akan maksud ucapkan anak pemilik perusahaan ini.


Kali ini Yora dan Rendy benar-benar pergi ke mobil yang Alan sudah tempati. Karyawan yang mendengar akan teriak Yora tadi, mulai memperhatikan wanita yang masih berdiri kaku ditempatnya. Para karyawan melihat Retha dari atas hingga ke bawah tubuhnya. Meraka hanya merasa penasaran siapa wanita yang mencari masalah kepada Yora, hingga di teriaki begitu keras dan nyaring. Retha yang ditatap begitu lama oleh para karyawan, segera berjalan pergi. la melihat sekilas Alan, Yora dan Rendy pergi mengunakan mobil.


Yora tersenyum bahagia disepanjang perjalanan menuju restaurant, senyum penuh kebahagian tercetak jelas diwajah ceria Yora. Ia melihat sekilas Papanya yang merenung dengan sorot mata yang menatap lurus jalanan. Yora sebenarnya mengetahui kalau Papanya masih belum bisa lepas dari wanita murahan itu, tapi Papanya harus belajar menjauhi wanita murahan itu.


" Sepertinya, kau menyesal mengabulkan keinginan diriku ini. " ujar Yora dengan sinis.


" Tidak sama sekali sayang, " ucap Alan terseyum lembut kearah Yora yang duduk dibelakang kursi penumpang


Retha memasuki cafe miliknya dengan raut wajah yang kesal dengan rahang yang mengetat kuat. Mira yang melihat Putrinya berjalan pergi begitu saja keruangannya. Segera mengikuti Retha dengan langkah yang terburu-buru mengejar Putri satu-satunya.


" Aa... Aa... Aa...Aa, " teriak Retha mengeluarkan isi hatinya yang begitu marah akan ucapan Yora.


Retha membanting Vas yang ada dimejanya. Ia menangis tersedu-tersedu, dirinya merasa kesal, kecewa, dan sangat marah atas tindakan yang dilakukan oleh kedua anggota keluarga Florence itu.


" Tenanglah Retha, sebenarnya ada apa Retha?" tanya Mira sambil menatap pecahan beling dari vas.


" Apa yang kamu bilang kepadaku benar, Ibu. Gadis manja itu mengacaukan hubungan ku dengan Alan. Saat aku datang ingin menyelesaikan masalah yang terjadi di hubungan kami. Alan menghindari diriku ini, Ibu, " ujar Retha dengan mata yang sembab.


" Aku harus apa, Ibu? " tanya Retha dengan serius.


" Kamu harus merayu Alan, sayang. " saran Mira.


" Merayu seperti apa yang Ibu maksud. " tanya Retha yang bingung.


" Putriku benar-benar terlalu polos, nanti Ibu jelasin lagi jika kita sudah sampai dirumah. " ucap Mira.


" Ibu, bantu aku membuat Yora si gadis murahan itu menangis, dan balas semua rasa sakit hatiku ini saat Yora menghina diriku, Bu. " ucap Retha dengan sorot mata yang penuh tekad.


" Tentu saja, bukan hanya menangis tapi gadis murahan itu akan pergi dari hidup Alan dan keluarga Florence " ujar Mira yang penuh dengan ambisi.


Retha mengepal jemarinya kuat-kuat. Ia sudah berulang-kali dihina oleh gadis murahan itu dan dirinya tidak akan membiarkan Yora berani menghina atau merendahkannya lagi. Retha berjanji akan membalas gadis murahan yang tidak tau diri itu, dengan masuk ke villa besar milik Alan dan menjadi bagian keluarga Florence.


" Aku, akan mengandalkan dirimu, terimakasih, Ibu. kamu selalu mendukung apa yang kulakukan, " kata Retha sambil tersenyum tipis.


" Tentu saja sayang, Ibu akan selalu disisi mu. "ucap Mira dengan telapak tangan mengusap lembut rambut hitam Retha.


Mira tidak tau pasti yang sebenarnya terjadi antara Retha dan Yora, tapi ia benar-benar merasa senang. Melihat sorot mata Retha yang penuh tekad dan ambisi, membalaskan rasa sakit hati yang di alami Retha, karena gadis dari keluarga Florence tersebut. Ia hanya bisa bersyukur dengan kejadian hari ini, Retha bukan lagi gadis yang dungu akan cinta, yang rela tidak kunjung di nikahi oleh kekasihnya. Jika Retha sudah bertekat seperti ini, sudah dipastikan ia akan menjadi orang kaya baru.


" Kamu istirahatlah dirumah, Ibu mu ini akan menjaga dan mengurus cafe ini dengan sangat baik. " ucap Mira dengan tangan yang menghapus air mata yang jatuh dari mata indah Putrinya.


" Nanti Ibu sangat kerepotan, karyawan kita kan cuma 2 orang aja, Bu. " kata Retha.


" Tenang saja, semua akan baik-baik saja. Percayalah kepada Ibu mu ini, " ujar Mira meyakinkan Retha.


" Baiklah, aku akan istirahat dirumah. Terima kasih ya Bu, dan jika ada masalah dicafe, segera hubungi aku. Ingat ya Bu." ucap Retha memperingati Mira.