
Retha melihat kalau mereka saling mengaitkan telapak tangannya. Ia menatap sinis ke arah Nanda, Retha melangkah mendekati Alan dan memeluknya dari belakang sambil melihat Nanda yang menatapnya dan Alan.
" Sayang, aku ingin bicara sama kamu berdua, " kata Retha penuh penekanan diakhir kalimat.
Nanda berjalan pergi karena terlalu malas melihat wanita yang penuh dengan drama itu. Retha yang sudah melihat kepergian Nanda segera duduk simping Alan sambil memegang lengan Alan agar menatap dirinya.
" Kamu semalam dari mana saja? " tanya Retha dengan suara yang lembut.
" Diluar. " balas Alan singkat.
" Sayang, Yora mengusir kita dari Villa ini. " jawab Retha,
Alan menatap Retha setelah mendengar perkataan yang Retha lontarkan. Ia benar-benar tidak mengira kalau Putrinya serius untuk melakukan hal itu. Alan hanya menghela nafas. Alan menopangkan dagunya ke telapak tangannya sambil memikirkan sesuatu.
" Alan apa yang kamu lakukan kemarin, lihat Yora sudah sangat keterlaluan mengusir kita dari Villa ini! " marah Mira yang tiba-tiba datang.
" Kamu ini bagimana Alan, bisa kalah sama anak kecil! " kesal Mira.
" Ibu. " ucap Retha sambil memberikan kode untuk diam.
Karena Retha tahu suaminya pasti sedang pusing.
" Kalian ini terlalu berisik, pergilah. " timpal Yora yang datang ke ruang makan untuk mengambil minumam dingin.
" Yora, bagaimana bisa kamu mengusir kita yang sudah menjadi keluarga. " kata Retha dengan lembut sambil mendekatkan dirinya kepada Yora.
" Sejak kapan? " tanya balik Yora.
" Sejak aku sudah menikah dengan Papa kandungmu. " balas Retha dengan suara lembutnya.
" Aku tidak peduli. Kalian cepatlah pergi dari Villa ku sekarang juga! " tegas Yora tepat diwajah Retha.
" Dasar kau! " teriak Mira yang ingin memukul wajah Yora.
Pergerakan tiba-tiba dari ibunya Retha membuat dirinya terkejut. Yora tanpa sadar memejamkan matanya. Yora membuka matanya saat tidak ada pukulan, ia menatap Papanya yang menghentikan tangan ibunya Retha yang akan memukul dirinya.
Alan menepis tangan ibunya Retha sambil menatap tajam wanita itu.
" Tolong jaga sikapmu! " peringat Alan yang penuh dengan ketegasan.
Yora menatap Papanya yang sudah berjalan pergi ke lantai atas. Hingga ia tidak menyadari kalau Mamanya sudah berada dibawah lagi tepatnya disamping Yora, karena suara yang sangat berisik, hingga Nanda turun kembali memeriksa keadaan.
" Yora. " panggil Nanda yang membuyarkan lamunan Yora.
" Segeralah kalian angkat kaki dari Villa Florence. " tegas Yora, lalu melangkah pergi ke kamarnya yang diikuti oleh Nanda.
Didalam kamar mewah milik Yora. Nanda sedang memandang ke arah luar balkon, yang mana terdapat Putrinya yang sedang berdiri dibalkon itu.
" Kau ingin Papamu keluar dari Villa ini? " tanya Nanda dengan hati-hati.
" lya. " balas Yora dengan singkat.
" Tapi dia adalah bagian dari Florence dan yang paling penting Alan adalah Papa kandungmu. " tutur Nanda.
" Dia yang duluan memilih untuk meninggalkan kita hanya demi menciptakan keluarga baru, orang seperti itu harus pergi. " balas Yora dengan perasaan yang aneh didalam hatinya.
Nanda yang ingin membalas ucapan Putrinya, tapi terganggu karena ketukan pintu kamar Yora berkali-kali.
Tok...Tok...Tok.
" Masuk. " sahut Nanda.
Nanda sedikit terkejut saat Alan datang ke kamar Yora. Tapi ia mengerti, Alan ingin bicara dengan Putrinya.
" Kalian bicaralah, aku akan keluar, " kata Nanda yang sudah berjalan menuju pintu tapi tangannya digenggam oleh Alan, hingga Nanda menatap Alan dengan raut wajah yang bertanya-tanya.
" Aku ingin kau tetap disini Nanda. " ucap Alan sambil melepaskan tangannya dari Nanda.
Alan melihat Putrinya yang masih berdiri di balkon, tanpa ada niat untuk menatapnya.
" Yora. " panggil Alan yang masih saja Yora tidak ingin melihatnya.
" Papa akan keluar dari sini, agar hatimu merasa lega. Tapi aku akan kembali dan berusaha keras untuk bisa dimaafkan dengan tulus oleh Putriku. " kata Alan dengan tersenyum melihat punggung Putrinya.
" Nanda maafkan aku dan jaga Putri kita baik-baik ya. " kata Alan.
Nanda menatap Alan dan Yora secara bergantian. Ia sangat bingung dengan sikap Alan.
" Yora, Papa sangat sayang sama kamu. " ujar Alan lagi.
" Nanda terima kasih untuk semuanya dan tolong maafkan aku Nanda. " ucap Alan tepat diwajah Nanda.
" Jika ada masalah hubungi aku, kau harus ingat Nanda kita ini masih keluarga. " kata Alan sambil tersenyum dan berjalan keluar dari kamar Yora.
Yora melihat dari balkon saat mobil milik Papanya, sedang memasukan barang-barang yang dilakukan oleh para pelayan. Yora menatap Mamanya yang juga menatap dirinya.
" Yora, jika itu membuatmu bahagia dan tenang dengan tidak melihat orang-orang yang sudah menyakiti kita, Mama pasti akan mendukungmu. " kata Nanda.
" Aku tadi tidak ingin mengusir pria tua itu, tapi pria tua itu telah melakukan sesuatu kepada Rendy, jadi aku ingin mengusirnya juga. " jujur Yora.