Yora's Revenge

Yora's Revenge
Bab ≋96≋



Yora sudah kembali beraktivitas seperti biasanya. Ia kembali bekerja ke perusahan. Satu hal yang membuat Yora bingung. la tidak pernah melihat papa kandung lagi. Walupun Yora bersikap tidak peduli dengan Papanya, tapi ia harus ingat kalau Papa Alan adalah Papanya. Saat nanti dirinya menikah pasti Papa kandungnyalah yang akan bersama dirinya, bukan Ayah tirinya.


Yora juga semakin heran dengan Rendy yang sangat jarang la temui lagi. Yora selalu bertanya kepada Mamanya tapi Mamanya selalu menjawab sedang sibuk. la heran kepada para lelaki yang selalu saja sibuk. Hati Yora tidak tau kenapa ingin menemui Papanya, ada rasa rindu sebagai anak untuk melihat Papanya sendiri.


Yora yang sudah rapih mengunakan pakaian kerjanya, la melangkah menuruni anak tangga untuk menuju ke ruang makan yang mana sudah terdapat Mamanya yang sedang menyiapkan sarapan pagi


" Ma, hari dimana aku diculik apa Rendy yang menolongku? " Tanya Yora sambil memakan makanan yang telah dibuat Nanda.


" Iya." Balas Nanda sambil ikut bergabung dengan Yora untuk memakan sarapan pagi.


" Ma, kau tau siapa yang menculikku? " Tanya Yora lagi.


" Tidak, sudah cepat habiskan bukannya kamu mau bekerja." Tutur Nanda.


" Iya. " balas Yora yang malas dengan Mamanya yang tidak bisa diajak bicara.


Nanda sambil memakan sarapan paginya. Pikirannya melayang setelah Putri satu-satunya bertanya tentang hal itu. la masih memikirkan apa ia harus memberitahu Putrinya atau tidak. Nanda tidak ingin terjadi lagi peperangan kedua, bagi Nanda sudah cukup Yora untuk terlibat di masalah dirinya, Alan, dan wanita hina itu. Nanda hanya menginginkan Putrinya untuk cepat menikah, karena umurnya sudah akan beranjak kepala 3.


" Yora, menikahlah dengan Rendy. " Ungkap Nanda.


" Ha? " Bingung Yora.


" Menikahlah dengan Rendy. " Jawab Nanda dengan tegas.


" Aku akan melajang bersama Mama. " Jawab Yora yang mendapatkan pukulan kepala oleh Nanda Mamanya.


" Mama sedang serius, menikah dengan Rendy. " Tegas Nanda.


" Aku tidak ingin menikah. " Sahut Yora.


" Mama tau kamu trauma untuk menikah karena melihat orang tuamu bercerai. Mama minta maaf sayang. " Ungkap Nanda sambil mengenggam telapak tangan Yora.


" Aku hanya tidak ingin untuk menikah. " Sahut Yora.


" Menikahlah agar Mama tenang untuk meninggalkan mu. " Ucap Nanda.


" Mama mau mati?! " Teriak Yora dengan histeris setelah mendengar ucapan dari Mamanya.


Nanda memukul kepala anaknya lagi dengan keras agar otak konslet anaknya itu kembali normal. Dengan seenak jidatnya bisa bilang kalau Mamanya sendiri akan mati.


" Enak aja kalau ngomong. " Gerutu Nanda.


" Tenang ninggalin apa maksudnya? " Tanya Yora dengan raut wajah yang bingung.


" Mama akan mengelilingi berbagai negara yang ada didunia ini. " Sahut Nanda.


" Aku ikut. " Jawab Yora dengan senang.


" Tidak, Mama hanya ingin traveling sendiri selama 6 bulan. " Kata Nanda.


" Makanya kamu nikah! " Bentak Nanda karena kesal dengan tingkah laku Putrinya.


" Aku akan memikirkannya. " Sungut Yora dengan kesal.


...----------------...


Yora berjalan keluar dari Villa dengan raut wajah kesal dan bibir memberengut. Mamanya itu pagi-pagi sudah membuat perasaanya semakin jelek saja. Jika Mamanya ingin pergi jalan-jalan pergi saja sana, ia juga tidak masalah untuk sendiri. Selama masa remajanya juga ia selalu sendiri, di tinggal Papanya karena Papanya sibuk dengan tuh cabe-cabean. Mamanya juga sibuk dengan butik mewahnya itu.


Yora tersenyum melihat mobil Rendy memasuki halaman Villa Florence. Tidak tau kenapa hatinya merasa bahagia karena dari kemarin ia sangat jarang bertemu dengan Rendy. la tidak akan melambaikan tangannya untuk menyapa Rendy, pasti Rendy akan menyapanya juga.


" Pagi Yora. " Sapa Rendy langsung memasuki Villa Florence tanpa basi-basi dengan Yora.


" Pag.... " Sebelum Yora menjawab Rendy sudah masuk saja ke dalam Villa.


Yora cukup terkejut dengan tingkah Rendy yang sangat tidak biasa seperti ini. Yora merasa kesal, dirinya diacuhkan oleh si Rendy itu. Ego dalam dirinya meraung kesal, awas saja ia tidak akan mau bertemu lagi dengan Rendy.


Yora dengan kaki yang menghentak-hentak lantai karena sungguh kesal. Yora pun memasuki mobil miliknya untuk menuju perusahaan Florence karena ada rapat pagi membahas pengembang produk baru yang akan dikeluarkan diakhir tahun.


Rendy memanggil salah satu pelayan dan bertanya tentang keberadaan Aunty Nanda. Setelah mendengar jawaban salah satu pelayan yang ada di Villa Florence. Ia melangkah menuju anak tangga, Rendy menaiki anak tangga dengan cepat. Berjalan menuju kamar sang Aunty berada.


Tok...Tok...Tok...


" Aunty, ini Rendy. " Ucap Rendy.


" Masuklah nak. " Balas Nanda.


Rendy membuka pintu dan melihat Aunty Nanda sedang bermakeup karena akan bekerja.


" Kenapa kamu buru-buru seperti itu? " Tanya Nanda tanpa menoleh ke Rendy.


" Ada masalah apa? " Tanya Nanda lagi dengan raut wajah menatap Rendy.


" Ada apa sih? " Tanya Nanda karena Rendy hanya diam saja.


" Apartementnya dijual, Aunty. " Ungkap Rendy yang membuat Nanda mengerutkan keningnya bingung.


" Apartemen siapa? " Tanya Nanda sambil mengoleskan bedak ke wajah awet mudanya.


" Om Alan. " Jawab Rendy.


Nanda terdiam, ia menatap Rendy dengan tajam.


" Kenapa bisa dijual? " Tanya Nanda lagi.


" Om Alan ditipu sama sahabatnya. " Sahut Rendy.


" Lalu dimana Papanya Yora tinggal? " Tanya Nanda berusaha tenang.