
Yora yang sudah rapih segera keluar dari kamarnya. Saat dirinya turun, ia mendengar ada suara canda tawa dari bawah. Yora melihat Papanya, Retha dan Ibunya Retha, sedang menikmati sarapan pagi bersama. Papanya benar-benar sangat keterlaluan, tidak cukup Retha yang sudah tinggal disini dan sekarang Ibunya berada di Villa ini. Yora hanya tersenyum sinis melihat kebahagian mereka. la melangkah ingin keluar, tapi langkahnya terhenti saat Papanya memanggil dirinya.
" Kau ingin kemana Yora, ini masih sangat pagi dan kamu memotong rambutmu? " tanya Alan yang melihat Putrinya sudah sangat rapi.
" Aku ada urusan dan masalah potong rambut hanya ingin membuang sial saja. " kata Yora sambil menatap dingin Retha dan Ibunya.
" Urusan yang sangat tidak berguna. " sindir Mira yang masih didengar oleh Yora.
" Kau tidak sarapan dahulu? " tanya Alan lagi.
" Tidak ada waktu untuk itu. " jawab Yora sambil menatap Papanya dengan wajah datar.
" Pengangguran tapi pura-pura sibuk. " sindir Mira lagi sambil tersenyum merendahkan ke arah Yora.
Yora tidak menanggapi ucapan mereka, dirinya hanya sedang berfokus untuk satu tujuan. Yora hanya membiarkan mereka untuk bersenang-senang dahulu, lalu ia akan membuat mereka bersakit-sakit kemudian.
" Aku pergi sekarang dan selamat bersenang-senang. " kata Yora dengan raut wajah dingin dan datar.
Alan menatap Putrinya yang melangkah pergi keluar, ia merasa kalau Putrinya sangat berbeda dari sebelumnya. Lamunan Alan dibuyarkan oleh Retha yang memegang lengan dirinya.
" Hari ini kamu tidak pergi bekerja kan? " tanya Retha sambil menatap calon suaminya.
" Tentu saja, selama persiapan pernikahan kita, aku akan selalu ada bersama untuk menyiapkan segala urusan pernikahan kita. " jawab Alan samnil tersenyum lembut menatap calon istrinya.
" Lalu bagimana dengan perusahaan, jika kau tidak ada Alan? " tanya Mira.
" Tenang saja, ada Rendy yang akan menangani semuanya. " jawab Alan.
Mira tersenyum senang, tinggal beberapa langkah lagi. Putrinya benar-benar akan menjadi Nyonya sah dari Villa yang besar ini dan Putrinya akan menyandang status Nyonya Florence. Mira merasa sungguh sangat bahagia, atas keberhasilan membuat Putrinya berada di puncak kehidupan.
Yora mengendarai mobilnya sendiri, ia memarkirkan mobilnya lalu turun. Ia menatap sebentar Perusahaan Florence dari lobi utama. Yora sudah berjanji akan mendapatkan semua haknya dan menjaganya dari para ular yang lapar. Yora melangkah dengan sangat percaya diri, Yora mendongkakan sedikit kepalanya, melangkah menuju ke ruang Rendy berada.
Yora mengetahui kalau para karyawan menatap dirinya, tapi ia tidak peduli. Ia terus berjalan dengan raut wajah tegas dan dingin yang ia tunjukan. Yora menatap sekilas karyawan Rendy yang menunduk hormat kepada dirinya. Yora hanya tersenyum tipis lalu melangkah pergi menuju ke ruang kantor Rendy, ia membuka pintu ruang kerja Rendy tanpa mengetuk pintu. la melihat Rendy yang sangat fokus mengerjakan berkas yang menumpuk dimeja miliknya.
" Apa yang harus kulakukan di rapat nanti? " tanya Yora tanpa basa-basi.
Rendy mendongkakkan kepalanya menatap Yora yang sudah berada diruangannya, ia menatap tajam Yora dari atas sampai bawah yang sangat berubah penampilannya dari penampilan Yora yang sebelumnya.
" Rendy. " panggil Yora yang membuyarkan lamunan Rendy menatap Yora dengan tajam.
" Kau akan belajar cara menangani proyek baru dari perusahaan Florence, Kau harus menunjukan kepada seluruh karyawan bahwa kau itu mampu. " ujar Rendy sambil menatap Yora dengan sorot mata yang serius.
" Kapan aku bisa menduduki kursi tertinggi diperusahaan Florence? " tanya Yora.
" Jika kau mampu membuat para karyawan bertepuk tangan atas keberhasilan mu, dalam mengerjakan dan menyelesaikan tugas dengan sangat baik. " ujar Rendy.
" Aku harus menduduki kursi tertinggi itu, sebelum pasangan murahan itu menikah. " kata Yora.
Rendy yang mendengar perkataan Yora, bangkit melangkah menuju Yora, Rendy mendekatkan tubuhnya kepada Yora dan mereka saling berhadapan.
" Aku bisa memberikan kursi tertinggi hari ini juga, tapi besok aku bisa menjamin kalau kau akan dihancurkan oleh para petinggi perusahaan Florence. " ujar Rendy dengan tegas.
Rendy melangkah menuju pintu setelah mengucapkan itu kepada Yora, tapi tiba-tiba Rendy berhenti menatap sekilas Yora yang masih berdiam diri di tempat.
" Ikuti semua yang kukatakan, aku menjamin kau akan bertahan lama untuk menduduki kursi itu seperti kakekmu dan kau akan mampu menyingkirkan semua orang yang tidak kau sukai. " ujar Rendy sambil melangkah keluar.
Yora termenung ditempat setelah mendengar ucapan dari Rendy, la sangat mengetahui jalan yang diambil saat ini tidak akan mudah. Tapi ia harus melakukan ini semua, karena dirinya sudah memulai dan akan ia selesaikan.
" Aku akan hancurkan semua yang kau punya Papa dan kau akan melihat siapa akan berada disisimu. " batin Yora sambil mengepalkan kedua telapak tanganya.
Yora pun melangkah keluar mengikuti Rendy menuju ke ruang rapat yang akan menjadi awal mula ia meraih segalanya.