Yora's Revenge

Yora's Revenge
Bab ≋19≋



Yora memukul dada Rendy dengan keras, ia merasa kesal karena Rendy selalu mencari kesempatan dalam kesempitan. Dan parahnya dirinya terlena akan ciuman yang dilakukan olen Rendy, bukan hanya sekali tapi berkali-kali ia terlena.


" Kamu lapar? " tanya Rendy dengan dengan tangan kanan yang membelai pipi lembut Yora.


Yora hanya menganggukan kepalanya sebagai jawaban dari pertanyaan Rendy. Yora merasa kadar asupannya menurun akibat ciuman berkali-kali tadi. Yora melihat Rendy duduk dihamparan padang rumput, lalu ia menarik tangan Yora untuk mengikutinya duduk.


" Ayo kita pergi makan, kenapa malah duduk disini, " kata Yora mengerutkan keningnya bingung.


" Restauran lumayan jauh dari sini. Tapi tenang saja aku sudah menyuruh asistenku, untuk membeli makanan dan mengantarnya kesini, " ujar Rendy dengan tangan mengusap kepala Yora dengan lembut.


Setelah apa yang dikatakan oleh Rendy, Yora duduk disamping Rendy tanpa bersuara, dengan mata yang melihat pemandangan indah didepannya. Rendy melirik Yora lalu ia mundur sedikit kebelakang Yora, lalu tangan yang tiba-tiba memeluk Yora dari belakang. Yora merasa terkejut atas tindakan tiba-tiba Rendy, tapi Yora diam saja kerena ia nyaman atas perlakukan Rendy kepada dirinya.


" Yora aku mencintamu, " bisik Rendy ditelinga Yora yang membuat Yora kegelian.


Yora tidak menanggapi ucapan Rendy, Yora hanya diam dengan mata yang tidak lepas melihat keindahan alam yang tercipta.


" Permisi Tuan, maaf menganggu ini pesananmu. " ucap asisten Rendy.


Rendy mengambil makanannya dari tangan asistennya dan menyuruhnya pergi meninggalkan dirinya dan yang. Memberikan kepada Yora 5 sandwich dan 5 hambuger. Yora memakannya dengan lahap, dengan tangan Rendy yang masih memeluk dirinya dari belakang.


" Sampai kapan kita masih disini? " tanya Yora dengan mulut yang penuh dengan makanan.


" Sampai malam hari. " sahut Rendy.


" Kamu ingin melakukan sesuatu yang aneh ya. " tuduh Yora dengan muka sinis.


" Malam hari ada bintang jauh lebih indah dari pada sekarang, " kata Rendy lembut ditelinga Yora.


" Aku enggak mau sampai malam, setelah makan aku ingin pulang. " tegas Yora.


Bugh... Yora memukul perut Rendy dengan dengkulnya, Yora merasa kesal akan perkataan Rendy yang ambigu dan konyol. Rendy meringis kesakitan tapi tidak bertahan lama. Rendy merasa senang mengoda Yora, bagi Rendy Yora sangat mengemaskan disaat kesal, saking gemasnya Rendy mencium sekilas pipi Yora yang mengembung, akibat terlalu banyak makanan yang masuk dari mulut kecilnya. " Hm. " gumam Rendy dengan tangan yang mengelus pipi Yora.


" Rendy " pangil Yora.


" Mama kapan pulang? " tanya Yora dengan kepala yang sedikit melihat ke atas.


" Mungkin besok atau beberapa hari lagi, kamu ingin aku mencari tau kabar kapan Aunty Nanda akan pulang? "


" Tidak usah. Tidak penting mencari tau kapan Mamaku pulang " ucap Yora dengan kepala yang bersandar didada kekar Rendy.


Rendy mengtahui betul bawa kedua Orang Tua Yora sangat sibuk. Walupun disuruh pulang cepat mereka tidak akan bisa, karena selalu sibuk dengan urusan pekerjaan. Dan Yora selalu ditinggal dengan asisten keluarga Florence. Rendy hanya bisa mengelus kepala Yora dengan lembut, dan dihujani ciuman dikening agar Yora merasa tenang dan nyaman bersama dirinya.


" Rendy, pasti kamu berfikir kalo aku egoiskan. Tidak menerima kenyataan yang terjadi antara Orang Tuaku. "


" Tidak, yang kamu lakukan hanya demi kebaikan keluarga Florence, " ujar Rendy menatap mata Yora dengan tangan yang mengelus pipinya.


" Aku hanya takut Rendy, mereka saja selalu meninggalkan ku sendiri dirumah karena mereka sibuk bekerja. Gimana kalau mereka benar-benar akan bercerai dan pasti aku jauh lebih kesepian karena mereka akan menemukan pasangan masing-masing. Dan perlahan mereka pasti akan melupakanku, " curhat Yora dengan mata yang mulai mengeluarkan air mata.


" Jadi itu alasan kamu menolak keras hubungan Om Alan dan Kekasihnya "


" Tidak tau, hanya saja aku benci kenyataan bahwa Papaku berselingkuh dan membohongiku dengan kepalsuan yang dia lakukan selama 5 tahun, dengan membuat keluarga Florence seakan hidup penuh dengan kebahagian, " kata Yora dengan mata penuh kebencian.


Rendy merasa senang Yora mulai percaya akan dirinya, dengan mulai membuka perasaan yang dia alami saat mengetahui Orang Tuanya akan bercerai dan tentang perselingkuhan Om Alan.


" Sudahlah, ayo kita pulang, " ucap Rendy sambil mengelus kepala Yora untuk membuatnya lebih tenang.


Selama perjalanan pulang, Yora hanya menatap jendela dengan pemandangan jalanan yang sedikit ramai. Yora merasa tenang dan nyaman saat Rendy membawanya tadi, tapi kenyataan harus kembali ia hadapi saat menginggat perceraian Orang Tuanya dan tamparan yang sangat melukai hatinya yang dilakukan oleh Papanya sendiri. Rendy melirik sekilas Yora, Rendy sangat tau bahwa Yora kembali bersedih saat mengingat Om dan Aunty.