
Alan mengendari mobil miliknya, Retha duduk tepat disamping Alan dan sang ibu duduk dibangku penumpang. Sepanjang perjalan ibunya Retha hanya mengomel dan membuat kepala Alan ingin pecah rasanya. Walupun sudah dibilangin oleh Retha, tetap saja ibunya selalu berbicara.
" Kenapa kita kesini? " tanya Retha dengan suara lembutnya.
" Bukannya kita akan tingal adi apartement mewah mu? " tanya Mira dengan raut wajah bingung.
" Turunlah sudah sampai, aku akan tingal hanya bersama Retha. Tidak dengan mu. " kata Alan dengan tegas yang membuat Mira sangat terkejut.
" Retha, buat ibumu mengerti. " perintah Alan sambil menatap istrinya
" Apa! " marah Mira yang tidak terima.
Retha memaksa ibunya untuk keluar dari mobil, ia berbicara kepada ibunya empat mata dan Alan yang masih berada didalam mobil tanpa niat untuk keluar. Retha masuk ke dalam mobil kembali setelah berbincang kepada ibunya. Retha menatap Alan yang sedang melajukan kembali mobilnya.
Alan sudah sampai diapartement mewah miliknya, yang tersisa dari dirinya hanya 30% properti itu pun setengahnya sudah ia jual, karena untuk membeli suara di Pemilihan presdir itu, tapi sangat sayang dirinya gagal. Alan harus pintar-pintar mengelola sisa propertinya. Ia akan membuat Retha tidak memakai kartu kredit lagi, karena keuangan Alan sedang sangat dalam masalah.
" Alan. " panggil Retha sambil memegang bahu suaminya.
" Kamu pasti bisa merebut kembali hak kamu sebagai keluarga Florence. " tutur Retha dengan tangan yang mengelus pipi Alan dengan lembut.
" Aku akan memikirkan caranya. " ujar Alan.
" Bagus sayang, aku akan mendukungmu dan membantumu supaya kita bisa kembali ke Villa Florence. " kata Retha sambil memeluk suaminya dengan erat.
" Membantuku?, menarik. " batin Alan dengan wajah yang tersenyum.
Ruangan presdir sudah dibersihkan dan diganti semua hiasannya dan berserta papan nama yang tergeletak dimeja kerjanya. Sekretarisnya Oliv sedang berbenah juga, karena Oliv juga akan pindah ke lantai tempat presdir. Yora menatap kaca besar yang berada diruang presdir, tempat Papanya kerja dulu.
Yora menghela nafasnya, ia sudah mendapatkannya tapi hatinya masih merasa belum puas. Ia merasa masih ada yang sesuatu yang kurang untuk mengisi hatinya, yang terluka akibat pengkhianatan yang dilakukan Papanya. Yora juga memikirkan Rendy yang sangat susah untuk dihubungi. Seharusnya Rendy yang melihat dirinya sudah berhasil mendapatkan ini semua, tapi orangnya malah hilang karena ulah Papanya.
Tok... Tok...Tok
" Masuk. " teriak Yora tanpa melihat siapa yang mengetuk pintu.
" Bisa kita bicara. " ucapnya yang membuat Yora menoleh dan melihat Om Devon sedang menatap dirinya dengan raut wajah tersenyum.
" Iya. " kata Yora yang mengikuti Om Devon dari belakang.
" Tadi aku melihatmu murung, apa ada masalah? " sambil menatap wajah putrinya Nanda.
" Tidak. " jawab Yora dengan singkat.
" Rendy masih belum kembali? " tanya Devon.
" Belum. " balas Yora.
" Kamu tudak berniat untuk datang ke perusahaan Rendy yang berada diluar negeri? " tanya Devon.
" Aku ingin, tapi tidak bisa. " sahut Yora dengan lesuh.
" Kenapa? " tanya Devon.
" Aku harus bertanggung jawab diperusahaan Florence, apalagi aku sebagai presdir baru. Jadi aku tidak bisa pergi kecuali urusan bisnis. " tutur Yora yang membuat Devon menganggukan kepalanya.
" Rendy tidak ada kabar sama sekali, berati jika seperti itu artinya Rendy ingin kamu tidak usah khawatir. Pasti Rendy akan kembali lagi kesini. " tegas Devon sambil menatap Yora.
" Hm. " gumam Yora.
Alan pergi dari apartemen dan ia bilang ke istrinya kalau ia akan pergi untuk mengurusi aset yang masih tersisa. Tapi nyatanya Alan sedang berada di butik mewah milik mantan istrinya. Alan tidak berniat untuk masuk, hanya ingin memandang butik yang dulu ia remehkan, tapi malah membuat mantan istrinya jadi hebat seperti sekarang ini.
Alan masih berada didalam mobil sambil terus memandang butik mewah itu. la bersandar dijok mobilnya, Alan harus memikirkan sesuatu agar Nanda bisa memaafkan dirinya dan ibu dari putrinya itu kembali ke dalam pelukannya.
Alan duduk tegap saat melihat mantan istrinya keluar dari butik dan memasuki mobil yang pasti milik Nanda, Alan mengikuti karena ingin tahu kegiatan apa yang akan dilakukan oleh mantan istrinya itu. Alan terus saja mengikuti dengan diam-diam dan sangat hati-hati, karena takut ketahuan oleh mantan istrinya.
Alan mengepalkan jari-jarinya dengan sangat kuat, karena lagi-lagi pria penganggu itu sedang bersama mantan istrinya dan Putrinya untuk makan siang di sebuah restaurant.
Mereka bertiga sedang berada di restauran. Tadi ia ke perusahan Florence hanya untuk menjemput Yora untuk makan siang bersama Nanda, ia sangat bersyukur kalau Yora mau diajak olehnya jadi ia juga bisa membawa ibunya untuk ikut makan bersama.
Saat ia sedang memesan makanan, tanpa sengaja mata elanganya menatap mobil yang sangat familiar dan saat ia mengeluarkan kamera mahal dan diarahkan ke orang itu. Devon tersenyum karena orang yang berada didalam mobil itu adalah Papanya Yora yang sepertinya sangat tidak suka dirinya makan bersama mantan istrinya.
Devon dengan tersenyum setelah mendapatkan ide untuk membuat laki-laki murahan itu untuk semakin marah. Devon mengelus rambut Yora dengan lembut, yang membuat Yora menatapnya dengan tatapan datar. Untung saja Yora hanya diam saja dan tidak marah-marah seperti biasanya. Devon ingin Alan melihat kalau ia, Nanda dan Yora seperti keluarga yang bahagia.
Alan tidak beranjak pergi, tapi masih saja terus menatap mereka dengan sangat tajam, ia sungguh sangat kesal dengan pria itu yang tidak tau datang dari mana, yang selalu menganggu seluruh rencananya. Alan sudah membuat Rendy pergi, agar Yora susah mengurus perusahan sebesar Florence dan sekarang pria itu yang harus ia singkirkan, karena telah menganggu dirinya untuk bersama mantan istrinya.