Yora's Revenge

Yora's Revenge
Bab ≋84≋



Retha sedang menyiapkan sarapan pagi karena ini adalah hari yang paling istimewa, jadi dirinya menyiapkan segalanya pagi-pagi sekali hanya untuk suami tercintanya. Dengan raut wajah tersenyum, Retha menatap semua hidangan yang sudah tertata rapi di atas meja makan. Retha sungguh sangat senang, karena setiap hari istimewa ia dan Alan pasti akan selalu merayakannya.


Retha duduk dikursi sambil melihat ke arah kamar tidur karena suaminya belum juga muncul. Sambil menunggu suaminya, ia jadi membayangkan nanti malam pasti suaminya akan sangat menyukai hadiah yang akan diberikan olehnya. Retha jadi tersipu malu, saat membayangkan kembali malam-malam panas diawal pernikahan mereka. Ia akan kembali membangkitkan gairah Alan yang tidak tau kenapa tidak sama seperti diawal pernikahan mereka.


Retha tersenyum cerah saat suaminya yang umurnya sudah tidak muda lagi, tapi masih berparas seperti anak muda saja, la bangun dan mempersilahkan suaminya untuk duduk. Alan menatap segala hidangan yang sudah disiapkan semuanya dengan datar, ia sudah sangat tahu hari ini adalah hari apa. Moodnya sangat jelek, karena Nanda dan Yora tidak menghubungi dirinya.


Alan mengingat masa lalu dimana putrinya akan selalu mengucapkannya tengah malam dan Nanda juga sama. Tapi dulu dirinya tidak menyadari kalau mereka berdua sangat penting, hingga ia rela pergi di hari paling istimewa dalam dirinya hanya untuk bersama Retha. Alan dari tadi hanya menatap sekilas handphonenya saja, ia sangat menunggu notifikasi pesan masuk dari Nanda tentang ajakannya diterima atau tidak.


Alan hanya tersenyum saat istrinya menghidangkan segala jenis makanan kesukaan dirinya dengan sangat banyak. Sebenarnya ia sangat malas tidak tau kenapa, tapi Alan tidak ingin istrinya curiga terlalu banyak dengan dirinya. Alan memakan hidangan itu hanya sedikit, hingga membuat Retha sedikit merasa aneh karena suaminya seperti tidak lahap untuk makan.


" Alan ingat, kamu harus pulang tepat waktu nanti malam. " peringat Retha kepada suaminya.


" Iya. " balas Alan sambil mengusap lembut pipi Retha yang membuat istrinya tersenyum.


" Makanlah yang banyak. " ucap Retha dengan senyum yang terus terpasang di wajah cantik Retha.


" Iya. " sahut Alan.


" Kamu jadi pergi? " tanya Retha.


" Iya, aku akan menginvestasikan propertiku yang tersisa. " balas Alan.


" Baiklah, tapi ingat ya kamu harus pulang. " kata Retha sambil meletakkan makanan ke piring suaminya.


" Aku lagi buru-buru, aku pergi dulu ya. " ucap Alan sambil mengecup kening Retha.


Retha menatap kepergian suaminya, ia tersenyum senang. Retha membersihkan peralatan makanan dan meletakkan makanan yang tersisa. la segera pergi ke gudang dan melihat peralatan yang sudah ia beli jauh-jauh hari. Retha mengikat rambutnya dan menyiapkan segalanya sendiri karena tiap tahun sewaktu dirinya masih pacaran dengan Alan, ia selalu menyiapkan segalanya sendiri untuk Alan. Retha mulai menghiasi ruang tamu diapartement dengan sederhana tidak terlalu ramai.


...----------------...


Diruang tamu Villa Florence, Rendy sedang menatap ibu dan anak itu yang sedang tersenyum geli. Tapi ia tidak tahu alasannya kenapa, mereka berdua hanya diam tanpa bicara tapi tersenyum. Rendy sangat bingung dan sedikit takut melihat keanehan dari ibu dan anak itu.


" Aunty, Yora kalian kenapa? " tanya Rendy sambil melihat mereka bergantian.


" Rendy, nanti malam kamu harus mengosongkan jadwal. Tidak ada bantahan. " kata Yora sambil menatap tajam Rendy.


" Iya, " sahut Rendy yang semakin bingung tapi terlalu malas untuk bertanya lagi karena perempuan selalu susah dimengerti.


...----------------...


Selepas dari pertemuan tadi dengan sahabatnya karena masalah properti dirinya. Ia akan bekerja sama dengan sahabatnya, dirinya tidak boleh semakin jatuh lagi. Untung saja dirinya masih bagian dari keluarga Florence, hingga tidak susah untuk sedikit bangkit lagi. Ia menatap langit-langit yang sudah beranjak sore hari. Alan tidak langsung pulang, ia sedang duduk dimobil miliknya sambil terus melihat butik milik mantan istrinya.


Alan hanya menatap butik mantan istrinya itu dari kejauhan, tapi dari tadi Nanda tidak pernah muncul. la melihat kembali jam, ia bertanya-tanya apa Nanda lembur hingga jam sekarang masih saja belum keluar dari butik. Alan saking penasarannya bertanya kepada satpam, yang berada di pintu butik mewah dan besar itu. Alan menghela nafasnya saat ia mendengar, kalau mantan istrinya itu sedang tidak berada di butik utamanya itu.


Alan masuk kembali ke mobilnya dan mengambil handphonenya. la sudah membuka layar di ponsel miliknya berkali-kali, karena ingin memeriksa pesan masuk atau chat dari Nanda dan Yora. Tapi tidak ada satupun, hingga membuat Alan membanting Handphonenya ke jok mobilnya yang berada tepat disampingnya.


Alan melajukan mobilnya untuk pulang dan mandi. la membuka pintu apartementnya dan melihat lampu apartemennya mati, Alan menekan saklar untuk menyalakan lampu. Alan melihat terdapat Retha yang sedang berdiri sambil memegang kue ulang tahun. Alan melihat di dinding terdapat foto kebersamaan dirinya dengan Retha yang sudah terjalin selama bertahun-tahun.


" Tiup lilin dan ucapkan harapanmu dalam hati. " kata Retha yang terus tersenyum.


" Kuharap semua kembali ke tempatnya, seperti dulu, " batin Alan lalu meniup lilin dan mencium kening Retha.


" Aku mandi dulu, baru kita makan malam bersama, " tutur Alan lalu beranjak menuju kamar tidurnya.


Retha tersenyum senang sambil melihat suaminya yang menepati janji, untuk pulang dengan cepat malam ini. Ia sedang mengunakan handuk kimono yang mana didalamnya, Retha sudah mengenakan baju transparan warna merah, la menuju ruang makan sambil menunggu suaminya, Retha sungguh senang.


Tiap tahun ia selalu bersama untuk merayakan ulang tahun Alan. Jika wanita keriput itu berserta anaknya tahu, pasti mereka akan semakin iri dan yang pasti akan merusak kembali kebahagian dirinya dengan Alan lagi. Retha membayangkan hal itu terjadi, semakin membuat dirinya sangat ingin menyingkirkan kedua hama itu.


Retha yang tadi tersenyum sinis, segera tersenyum cerah saat suaminya sudah memakai pakaian yang sudah ia siapkan. Retha terus saja tersenyum, karena suaminya sangat keren dan gagah memakai jaket hitam, kaos putih dengan celana jeans pendek, hingga terkesan muda sekali.


Alan tersenyum tipis, saat istrinya menuangkan segelas wine kepadanya. Ia sangat kesal sekali, hingga ia mengambil gelas yang berisi wine itu dan mengarahkannya kepada mulutnya. Tapi perhatian Alan terahlikan, saat suaranya yang sangat ia tunggu dari tadi berbunyi. Alan berharap kalau pesan itu dari Nanda atau Yora.


Alan mengambil handphonenya dan membuka layar ponsel miliknya dibawa meja makan karena tidak ingin istrinya mengetahuinya. Mata Alan membulat, hingga gelas yang berisi wine itu ia letakan kembali ke meja makan. Alan menatap Retha sekilas.