
Sebelum Yora kembali bekerja tidak tau kenapa dirinya ingin sekali menemui Papanya la tidak peduli dengan wanita hina itu, Yora hanya datang ingin melihat wajah Papanya yang tidak pernah la lihat lagi. Yora memang ada rasa benci kepada Papanya, tapi ia harus ingat kalau Papanya adalah Ayah kandungnya sendiri.
Tapi saat dirinya menekan bell apartemen Papanya, malah arang asing yang keluar la menatap aneh perempuan itu. Yora menggarukkan kepalanya yang tidak gatal. Apa Papanya selingkuh lagi dan wanita hina itu ditinggalin lagi.
" Iya ada apa? " Tanyanya dengan ramah.
" Apa ada Papaku? " Tanya balik Yora.
" Papa? " Ucap wanita itu dengan raut wajah yang bingung.
" Iya Papaku Alan. " Sahut Yora.
" Tidak ada yang bernama Alan disini. " Jawab wanita itu.
" Tapi Papaku tinggal disini. " Sahut Yora yang benar-benar sangat bingung.
" Aku membeli apartemen ini. " Jawabnya.
" Membeli? " Tanya Yora ingin memastikan.
" Iya. " Sahut wanita itu.
Yora minta maaf karena telah menganggu waktunya. Yora beranjak pergi dengan pikiran yang sangat terganggu akibat Papanya tidak ada disini. Papanya pergi dengan wanita hina itu. Yora merasa kesal seharusnya dirinya tidak usah datang kemari.
Ia khwatir karena Papanya tidak pernah dilihatnya lagi, tapi Papa malah pergi dengan wanita itu. Sudahlah ia tidak peduli, pergi saja sana pria tua itu, Yora hanya butuh Mamanya dan ada Rendy juga. Jadi biarkanlah Papanya pergi, semoga Papanya bahagia meninggalkan dirinya ini.
...----------------...
Yora berjalan memasuki perusahaan Florence. Semua para karyawan menunduk hormat kepadanya. Suasana hatinya sangat buruk karena Papanya benar-benar pergi dari hidupnya dan lebih memilih wania perusak itu. Yora dengan raut wajah kesal dan marah.
" Woy Yora. " Teriak Oliv sahabatnya sekaligus seketarisnya.
" Rendy bawa seorang wanita ke ruangannya. " Ucap Oliv.
" Dia sudah datang, cepat sekali. " Gumam Yora.
Yora masih ingat kalau Rendy tadi berada di rumahnya. Tapi sudah sampai diperusahaanya ini. Pagi-pagi si Oliv sudah bergosip saja, ia tidak peduli jika Rendy sama wanita atau waria. Lagian juga pasti hanya sebatas teman saja. Rendy itu cinta mati sama dirinya.
" Enggak peduli. " Sahut Yora.
Oliv menepuk bahu Yora agar sahabatnya ini mengikut arah tunjukanya. Oliv melirik Yora yang tadi katanya tidak peduli malah menatapnya begitu tajam saja.
" Rendy dekat dengan seorang model. " Ucap Oliv.
" Katanya nih model itu menggoda Rendy. " Kata Oliv lagi.
Oliv tersenyum puas melihat wajah sahabatnya ini yang terlihat sangat kesal.
" Ya ampun Yora! Liat ada tanda kemerahan dileher Rendy dan wanita itu. Mereka habis ngapain didalam ruangan itu. " Kata Oliv sambil menyenggol lengan Yora.
" Diamlah Oliv! " Bentak Yora kesal.
" Astaga mereka rangkulan. " Teriak Oliv histeris.
" Yora model itu memaksa mencium Rendy. " Ucap Oliv dengan histeris.
Yora yang mendengar kata ciuman berhenti melangkah, ia melirik Rendy dan wanita yang katanya model itu. la menatap tajam mereka yang mau ciuman. Yora melangkah bukan ke ruangannya dirinya, melainkan ke arah mereka.
" Woi! " Teriak Yora dengan kencang hingga membuat para karyawan yang terkejut.
Yora mendorong bibir model jelek itu hingga membuat wajah mereka tidak saling berdekatan. Ia menatap tajam wanita yang dandannya seperti seorang wanita murahan saja.
" Siapa kau? " Teriak model itu.
" Aku bossnya. " Jawab Yora dengan lantang.
" Boss nggak usah campurin urusan dengan pegawainya. " Sinis model itu.
" Cih, urusan pribadi kalian tidak usah dibawa kesini. " Ketus Yora.
" Bilang aja iri. " Kata model itu tidak kalah sinisnya.
Yora mengigit bibirnya kesal karena model itu malah merangkul pergelangan tangan Rendy.
" Kita akan berkencan, iyakan Rendy. " Ucap model itu dengan manja.
" Iya. " Balas Rendy sambil tersenyum.
" Cih munafik, bilang suka tapi main mata sama wanita lain. " Gumam Yora sambil menatap sinis Rendy.
" Eh itu salah lo, Rendy udah cerita kalau lo aja nolak nikah sama pria sekaren Rendy. Jadi lebih baik Rendy sama gue aja. " Ungkap model itu.
Yora terdiam setelah mendengar penuturan model itu. la sangat kesal tidak tau kenapa. Perasaan dirinya sangat kesal karena dulu la tau kalau Rafto menyukai dirinya, tapi sekarang malah pria itu berpaling dari dirinya. Hatinya merasa sangat kosong tidak tau kenapa.
" Minggir lo, gue mau jalan sama calon suami gue. " Kata Model itu sambil menarik Rendy untuk beranjak pergi dari lantai atas ini.
Yora hanya terdiam sambil menatap kepergian mereka. la tidak tau harus melakukan apa. Bagi dirinya pria sama saja, Rendy juga malah berselingkuh dengan model itu. Bukannya katanya ia sama Rendy pacaran, tapi malah dengan berani Rendy membawa seorang wanita ke perusahaan Florence yang semua karyawan sudah mengetahui kalau dirinya mempunyai hubungan dengan dirinya ini.
" Lebih baik lu kejar Rendy sana, sebelum lu benar-benar kehilangan Rendy. " Kata Oliv.
" Nggak peduli. " Ucap Yora yang masih saja berdiam diri di tempat.
" Semua orang yang berada disini juga tau kalau lu terluka, sangat jelas dari wajah lu Yora. Gue hanya menyarankan sebagai sahabat kejar Rendy dan buat hubungan kalian jelas." Nasehat Oliv.
Oliv merasa kesal dengan sahabatnya ini yang malah hanya diam saja. Oliv tau Yora sangat terluka didalam hatinya karena perbuatan Papanya itu. Tapi Yora tidak boleh bersikap seperti itu. Bisa-bisa sahabatnya ini malah menjadi perawan tua lagi. Buat kepala stres saja.
" Umur Rendy sudah tua, dia juga mau punya keluarga. Jika menunggu mu yang nggak jelas lebih baik Rendy menikah dengan wanita lain. Aku mendukung Tuan Rendy. " Kata Oliv sambil melirik sahabatnya itu
" Rendy pria baik, kau sangat menyia-nyiakannya. Hiduplah dengan trauma mu itu. " Kesal Oliv yang berjalan menuju meja kerjanya lagi.
Yora hanya terdiam mendengar sahabatnya itu mengatakan semua hal yang memang benar. Yora melangkah berjalan memasuki ruanganya dengan otak nya yang sedang berfikir keras. Tapi langkah dirinya terhenti. Yora memutarkan tubuhnya dan berlari kerluar.
Oliv yang melihat Yora berlari keluar merasa senang. Ia mengirim pesan sama Aunty Nanda karena sepertinya rencana akan berhasil. Oliv sangat mendukung hubungan Yora dengan Rendy, ia sangat yakin Rendy tidak seperti Om Alan. Yora juga harus melawan rasa trauma akibat Papanya yang menyakiti Mamanya itu. Yora harus bahagia dan benar kata Aunty Nanda hanya satu caranya membuat Yora dan Rendy menikah.