Yora's Revenge

Yora's Revenge
Bab ≋42≋



Lina masih bingung dengan jalan pikir bossnya yang ingin pergi ke Villa Florence, ia sangat ingin memarahi Nyonya Nanda yang ingin ke Villa itu. Kalau dia rindu Putrinya Yora, tinggal telepon Yora untuk datang ke apartementnya, bukan malah datang ketempat pria yang tidak tau diri itu.


Nanda menatap sekilas seketarisnya, ia mengetahui kalau seketarisnya pasti sangat ingin bertanya kanapa dirinya datang ke Villa Florence ini. Tapi Nanda lebih memilih diam dan tidak ingin menjelaskan semuanya kepada seketarisnya Lina.


Nanda dan Lina pun melangkah memasuki Villa Florence. Para pelayan yang melihat Nyonya Nanda datang segera mengehampirinya, menyambutnya dengan suka cita, para pelayan sangat merindukan kehadiran dari Nyonya Nanda yang sangat terkenal baik. Nanda balas tersenyum dan memeluk para pelayan satu persatu.


Nanda yang sudah tidak punya banyak waktu, segera memasuki kamar yang dulunya menjadi kamar dirinya dengan suaminya Alan. Nanda melangkah memasuki kamar, mendekat ke arah lemari yang dulunya menjadi tempat penyimpan pakaian mahal miliknya.


Nanda membuka lemari dengan kunci yang ia bawa, didalam lemari tidak ada barang-barang milik Nanda yang tersisa lagi, yang ada hanyalah brankas kecil milik dirinya, la datang kemari karena ingin mengambil brankas yang sangat berharga ini, jika sesuatu terjadi pada dirinya dan putri manjanya karena masalah dibalik perceraiannya, ia akan gunakan isi dibalik brankas miliknya yang diberikan oleh orang yang sangat ia cintai dan selalu mendukungnya. Ia pun mengangkat brankas dengan telapak tangannya sendiri, melangkah keluar tanpa mengunci lemari kamar. Ia harus bergegas pergi sebelum pemilik rumah ini akan datang.


" Nanda, " panggil Alan yang melihat Nanda turun dari tangga.


Nanda terkejut dengan kedatangan Alan, ia kira Alan sedang bekerja. Tapi kenapa pemilik Villa ini malah pulang dengan cepat, mungkin Alan memilik sebuah masalah makanya ia pulang ke Villa. Itu hanya dugaannya sebagai orang yang sudah tinggal di sisinya sangat lama. Nanda berusaha tenang, ia memberikan brankas itu kepada Lina untuk diletakkan didalam mobil. Nanda yang sudah melihat Lina keluar dengan brankas itu, menatap Alan dengan senyum kecil yang tercetak diwajah awet mudanya.


" Untuk apa minta maaf, ini juga Villa milikmu, kau bebas keluar masuk dirumah besar ini. " ucap Alan sambil tersenyum menatap Nanda.


" Terima kasih, akuu akan pergi sekarang selamat istirahat dan jaga kesehatan mu Papanya Yora. " ucap Nanda lalu berjalan pergi meninggalkan Alan.


Alan memutar badannya saat Nanda pergi, ia melangkah mengikuti Nanda yang keluar dari Villa menuju ke parkiran tempat mobilnya berada. Alan hanya menatap Nanda dengan tatapan mata yang sulit diartikan. Alan hanya mengehela nafas melihat Nanda yang benar-benar pergi dari kediaman besar miliknya. Alan pun berjalan masuk ke ruang kerja dengan segala pikirannya yang terjadi hari ini


Yora dan Rendy sedang berada di apartement milik Nanda. Mereka berdua duduk dengan santai disofa sambil menonton film kesukaan Yora. la bersantai disofa karena ingin meredakan sedikit stress, akibat dari masalah tentang Orang Tuanya. Jika dia stress karena memikirkan masalah itu, itu akan membuat wanita murahan itu tertawa bahagia.


Dan Yora juga sedang sedikit senang karena sudah membuat wanita murahan itu jatuh ke lantai, seperti orang yang bertekuk lutut kepada dirinya. Ia memang juga didorong tapi itu yang membuat dirinya senang, bahwa Rendy membantunya dan siap menghancurkan cafe murahan itu.


Dulu Rendy memang bisa menghancurkan wanita dan cafe itu sekaligus, tapi ia lebih memilih untuk tidak melakukannya karena masih menghargai Om Alan dan yang pasti Aunty Nanda yang merlarang dengan sangat keras Rendy melakukan hal yang buruk. Tapi karena dirinya, Rendy mendorong Ibu dari wanita murahan itu dengan keras dan yang paling membuat dirinya kaget adalah Rendy ingin menghancurkan cafe milik wanita murahan itu. Ia benar-benar tidak salah memilih orang untuk berada tepat di sisinya, membantu ia menghancurkan keluarga wanita murahan itu beserta cafe jeleknya itu.