
Yora menggenggam tangan Mamanya, mereka sudah siap menuju ke tempat pengadilan. Rendy menjemput Ibu dan anak itu, sepanjang perjalanan hanya ada kesunyian. Tanpa disadari mereka sudah sampai. Nanda dan Yora turun dari mobil, sementara Rendy memakirkan mobilnya ke tempat parkir. Nanda yang merasa pundaknya dipukul, menengok ke belakang dan melihat Lina seketarisnya datang, Lina datang ingin menemani dan mendukung bosnya. Mereka bertiga pun melangkah masuk menuju gedung, dan melihat Alan beserta seketarisnya. Para pengacara mereka sudah tiba dari tadi untuk mengurus berkas.
Alan melihat Putrinya yang mengacuhkan dirinya, Alan menghela nafas. la melangkah lebih dekat kepada Putri satu-satunya. Tapi saat dirinya sudah dekat dengan Putrinya, Yora melangkah pergi menghindari dirinya menuju Rendy yang baru datang. Saat Alan ingin melangkah lagi mendekat kepada Yora, pengacaranya memanggil dirinya. Nanda dan Alan beserta pengacara masing-masing masuk keruangan. Mereka berdua ditemani seketarisnya. Yora merasa enggan untuk masuk keruangan persidangan karena dia merasa takut, Yora dan Rendy menunggu di taman milik gedung pengadilan.
" Apa prosesnya sangat rumit? " tanya Yora menatap Rendy yang duduk samping dirinya.
" Iya, tapi Orang Tua mu sangat banyak uang, proses akan cepat dan tidak berbelit-belit " ujar Rendy.
" Oh " gumam Yora singkat.
" Kenapa kamu enggak masuk keruang persidangan juga? " tanya Rendy menatap Yora sekilas.
" Hanya tidak ingin saja " sahut Yora.
Rendy melihat Yora yang sedang melamun, pasti ia memikirkan Orang Tuanya. Rendy menarik Yora kedalam pelukannya, ia mengusap kepala Yora dengan lembut untuk menenangkannya. Yora merasa nyaman dipelukan Rendy, ia tidak menangis, ia hanya bingung. Yora dan Rendy hanya menunggu sambil meminum es coffe yang ada ditangannya.
Setelah beberapa jam menunggu, mereka pun keluar. Yora dan Rendy yang diberitahu oleh Lina bahwa Alan dan Nanda telah keluar dari persidangan, segera berlari kecil. Yora yang sudah sampai merasa bingung, karena tidak melihat Mamanya, ia hanya melihat Alan yang menatap dirinya, tapi ia acuhkan. Ia hanya mencari Mamanya.
" Dimana Mama, Aunty Lina? " tanya Yora yang melihat sekeliling mencari Mamanya.
" la keluar menuju taman dekat sini, sepertinya untuk mencari udara segar " jawab Lina lalu beranjak pergi karena ada urusan di butik.
Yora yang mendengar akan perkataan seketaris Mamanya, segera melangkah pergi. Tapi tertahan oleh tangan Rendy, la menatap Rendy dengan bingung, karena menahan dirinya yang ingin menemui Mamanya.
" Biarkan Mamamu sendiri dulu, dia butuh ruang untuk menenangkan dirinya " ucap Rendy menyakinkan Yora agar mengerti.
Yora yang mendengar perkataan Rendy, hanya bisa menuruti saja. Alan melangkah mendekat kepada Putri satu-satunya.
" Yora " panggil Alan.
" Kenapa sih kamu enggak mau bicara sama Papa? " tanya Alan sambil menahan tangan Yora agar tidak pergi.
" Sudahlah Pa, aku sangat lelah selalu berdebat dengan dirimu " sahut Yora.
" Pulanglah ke Villa Florence " perintah Alan.
" Aku akan pulang jika kau menepati janji, tapi kau bertemu dengan wanita murahan itu " kata Yora lalu menarik Rendy untuk pergi menuju mobilnya.
Alan membeku ditempat, putrinya mengetahui ia bertemu diam-diam dengan Retha.
" Bagaimana Yora bisa mengetahui ya? " tanya Alan entah kepada siapa.
" Kau lupa Tuan, Yora mempunyai Rendy dibelakangnya " jawab seketarisnya.
Alan menghela nafas, ia bingung harus bagaimana. la lebih memilih pergi meninggalkan gedung persidangan bersama seketaris menuju perusahaan, urusan tentang Putrinya akan ia bicarakan lagi nanti, sehabis pulang kerja.
Dilain tempat, Nanda pergi menuju ke sungai yang dekat dari gedung pengadilan, mengunakan taxi. Ia berjalan-jalan dengan santai menikmati udara yang segar. Nanda termenung ditepi sungai, tunggu sebentar lagi, ia akan benar-benar bercerai.
" Ini akhir dari cintaku yang bertepuk sebelah tangan " pikir Nanda dengan wajah tersenyum yang terpasang diwajah awet mudanya.
Nanda mengusap pipinya yang mengeluarkan sedikit air mata. Nanda membuka sepatunya, saat ia melangkah menuju ke air sungai, seseorang menepuk pundaknya, ia melihat seorang pria yang membawa kamera. Nanda tidak jadi melangkah ke sungai, ia menatap pria itu dengan bingung.
" Maaf, bisa minta tolong memfoto diriku? " tanya pria tersebut.
Nanda pun menganggukan kepalanya, dengan bertelanjang kaki, ia memfoto pria tersebut dengan pemandangan sungai dibelakangnya. Ia berkali-kali memfoto pria tersebut. Nanda merasa sangat kesal, ia masih bertelanjang kaki, tapi pria yang ia tidak tau namanya siapa, menyuruhnya mengambil foto diseluruh taman ini.