
(Kisah Balik Rapat)
Yora dengan raut wajah datar menatap Liam sekilas, lalu memalingkan wajahnya berhadapan ke Papanya yang sedang tersenyum kemenangan.
" Saya Perwakilan Lawrence sudah sepakat akan memilih Yora Florence. " kata Liam yang membuat Yora dan Alan menatap Liam dengan sangat terkejut.
" Apa maksud mu Tuan muda Lawrence? " tanya Alan yang sudah bangkit dari kursi sambil menatap Liam dengan tegas.
" Keluarga Lawrence sudah sepakat memilih Nona Yora Florence, Tuan Alan. " sahut Liam dengan tegas.
" Keluarga Lawrence sangat tidak tau diri!, saya memberikan banyak keuntungan untuk anda karena telah menanam saham diPerusahaan Florence! " kesal Alan yang tidak terima dengan keputusan ini.
" Sama seperti dulu, Ayah saya sama memilih anda, bukan Tuan Daaron padahal mereka sahabat karib. Tapi ini adalah bisnis, yang menguntungkanlah yang akan menang, " ucap Liam dengan tenang.
" Saya memberikan keuntungan untuk para penanam saham sangat banyak, Tuan muda Lawrence. " jawab Alan.
" 5 tahun ini keuntungan Florence mengalami penurunan drastis Tuan, tapi saat Nona Yora masuk ke Perusahaan ini, penjualan dan pembaruan perangkat Florence sangat maju pesat. " tutur Liam yang membuat Yora terkejut karena Liam mengetahui semuanya.
" Apa! " teriak Alan.
" Saya seharusnya bertanya kepada anda Tuan, kenapa Florence selama 5 tahun kebelakang mengalami penurunan? " tanya Liam dengan sorot mata yang tegas.
" Apa kau bisa jawab Tuan? " tanya Liam lagi yang melihat keterdiaman Papanya Yora.
Liam melangkah semakin dekat ke arah Tuan Alan, hingga mereka saling berhadapan.
" Sepertinya saya tahu jawabannya Tuan, karena kau disibukan dengan cinta terlarang mu, " kata Liam tepat diwajah Alan.
Alan yang kesal dan marah, segera meningalkan ruang rapat. Diikuti oleh para pengikutnya. Orang-orang yang memilih Yora sangat senang karena otomatis Yora sudah menang, karena perbedaan jauh suara akibat keluarga Lawrence memilih Yora. Para pemegang saham menguacapan selamat atas keberhasilan Yora dan mereka pun satu persatu keluar meninggalkan ruang rapat. Diruang rapat hanya tersisa Yora, Oliv dan Liam saja. Mereka bertiga saling berpandangan.
" Lu membuat kami ketakutan Liam! " teriak Oliv.
" Gue juga takut. " balas Liam yang sudah tergeletak dilantai karena kakinya sangat lemas.
" Gue kira lu mendukung Papanya Yora. " sungut Oliv.
Liam menormalkan detak jantungnya yang sangat berdebar-debar, akibat perdebatan tadi. Ia sungguh tidak mengira akan melakukan hal semacam ini sebagai pewaris Lawrence.
" Terima kasih Liam. " ucap Yora yang membuat Liam menatap Yora.
" Terima kasih sama pria tua itu. " tegas Liam sambil menunjuk ke arah pintu.
Yora mengikuti arah Liam menunjuk dan menemukan Om Devon dengan kepalanya yang bersandar pintu sambil menatapnya dengan raut wajah tersenyum. Devon perlahan mendekat ke arah Yora dan mengusap rambut Yora dengan lembut.
" Kerja bagus, selamat kamu menang. " kata Devon dengan raut wajah tersenyum.
" Dia itu paman gue yang hilang, karena diterjang ombak diluar negeri. " sahut Liam yang mendapatkan tendangan dari Devon dibokong Liam dengan sangat keras.
" Sebagai perayaan kemenangan, aku akan mentraktir kalian. " ucap Devon lalu menarik tangan Yora.
" Paman! " teriak Liam dengan sangat keras.
" Mau ikut atau tidak, karena paman mu ini sudah tidak membutuhkan mu lagi! " tegas Devon yang membuat Liam melotot.
" Sekarang aku dibuang. " histeris Liam.
" Iya! " balas sinis Devon sambil menarik Yora keluar menuju ke restaurant.
Liam dengan wajah masam karena perkataan tajam pamannya sendiri, Oliv menarik sahabatnya itu untuk ikut bergabung di acara makan bersama.
" Tapi bagaimana bisa ini semua terjadi? " tanya Yora yang masih bingung dengan semuanya.
" Kita makan dulu, baru aku akan memberitahukan semuanya. " balas Devon.
" Hubungi Mamamu, katakan bahwa kau menang, " ucap Devon.
" Aku akan memberitahunya di Villa saja. " balas Yora yang membuat Devon terdiam.
" Villa? " tanya Devon sambil menatap Yora dengan raut wajah bingung.
" Hm, Mama kan tinggal di Villa Florence sekarang. " balas Yora yang membuat Devon terkejut.
" Nanda tinggal sama mantan suaminya, wah nggak beres nih. " batin Devon.
" Kita melakukan perayaannya di Villa Florence saja. " ajak Devon dengan menarik Yora.
Devon yang mengendarai mobilnya, yang mana Liam duduk disamping Devon. Yora dan Oliv duduk dibangku penumpang. Yora merasa bingung dengan Om Devon yang ingin ke Villa miliknya. la ingin menolak tapi karena hari ini Om Devon sudah membantu jadi ia akan mempersilahkan Om Devon untuk bertamu.
la dan Oliv keluar duluan, tanpa menunggu Devon yang sedang memakirkan mobil mewah miliknya. la melihat Mamanya yang sudah menyambut dirinya. Yora dengan ide jahil memasang raut wajah lesuh, rasanya ia ingin tertawa saat Mamanya mencoba untuk menenangkan dirinya.
" Kau berhasil atau tidak sayang? " tanya Mamanya yang sepertinya ingin memastikan dirinya berhasil atau tidak.
Yora hanya menganggukan kepalanya saja, sambil melihat Mamanya yang kebingungan.
" Berhasil atau tidak? " tanya Nanda.
" Berhasil. " teriak orang itu yang membuat Nanda menoleh dan melihat keberadaan Devon diVilla ini.