
Rendy melihat dari kejauhan Yora dan Liam sedang bersama. Rendy menatap terus, hingga tepukan dibahunya membuatnya menoleh dan menatap orang yang menepuk bahunya yaitu Aunty Nanda.
" Ayo kita berangkat. " Kata Nanda.
" Lebih baik aku saja yang mengurusnya. " Ucap Rendy.
" Tidak, amarahku harus dilampiaskan kepada kedua orang hina itu. " Kata Nanda dengan dingin.
" Baiklah. " Ucap Rendy.
Nanda memasuki kamar Putrinya dan mendekati kedua sahabat itu yang sedang berbincang.
" Yora, Oliv enggak datang? " Tanya Nanda dengan lembut sambil duduk diranjang Putrinya.
" Oliv sedang menangani seluruh pekerjaanku Ma, jadi enggak bisa datang sahabatku yang merangkap jadi seketarisku itu. " Jawab Yora sambil menatap Mamanya.
" Mama pergi dulu sama Rendy. " Ucap Nanda sambil mengelus lembut pipi putrinya.
" Kemana Ma? " Tanya Yora sambil menatap Mamanya dan Rendy bergantian.
" Urusan pekerjaan sayang. " Jawab Nanda.
Yora merasa kesal kepada kedua orang itu. Seharusnya disaat dirinya seperti ini mereka harusnya menemani dirinya. Walaupun dirinya tidak tau lengkap kejadian yang ia alami kemarin, tapi ia merasa mereka seharusnya jangan pergi. Yora menghela nafasnya, dengan raut wajah kesal ia menatap Mamanya dan Rendy.
" Pergilah. " Kesal Yora.
" Kita akan kembali cepat. " Ucap Rendy dengan tegas.
" Lama juga enggak masalah! " Sahut Yora dengan bibir yang memberengut kesal.
" Sayang mengertilah. " Tutur Nanda.
" Aku selalu ngerti kok, jadi pergilah. " Ucap Yora.
" Ayo, Aunty kita pergi. " Kata Rendy.
" Ish, nyebelin. " Gerutu Yora.
Rendy dan Nanda mendengar perkataan yang Yora lontarkan. Sebenarnya baik Rendy atau Nanda tidak ingin meninggalkan Yora tapi mau tidak mau harus pergi, karena harus ada yang diselesaikan dengan kedua orang yang telah membuat Yora dalam situasi bahaya.
Yora benar-benar merasa kesal dengan mereka berdua yang benar meninggalkan dirinya dirumah.
" Lihat Liam, gue seperti ini aja mereka masih pada pergi. " Kesal Yora.
" Mereka pergi demi lu juga kok. " Kata Liam.
Sebenarnya mulut Liam sudah sangat gatal ingin mengungkapkan semuanya, tapi ia takut dihabisi oleh Rendy jika sampai Yora tau. Jadi sebisa mungkin Liam tidak akan cerewet untuk hari ini, karena takut kebablasan. Lebih baik ia main game dari pada meladeni tuh gadis berisik yang hobinya marah-marah tidak jelas
...----------------...
Setelah mendengar apa yang seketarisnya katakan. Rendy segera melajukan mobilnya dengan cepat, sambil melirik Aunty Nanda yang hanya diam saja. Rendy juga tidak ingin bicara, jika Aunty Nanda tidak bicara karena dirinya tidak ingin menganggu segala pikiran yang akan ada di otak Aunty Nanda.
" Aunty kita sudah sampai. " Ucap Rendy.
Nanda masih terdiam dengan sorot matanya yang menatap sekitar rumah wanita hina itu. Nanda sebenarnya sudah sangat malas lagi berurusan dengan wanita hina itu. Tapi karena mereka menyentuh Putrinya, ia akan membuat Para wanita itu benar-benar akan hancur.
Nanda membuka pintu mobil. Melangkah dengan raut wajah marah memasuki rumah wanita hina itu. Nanda mengetuk pintu dengan keras agar orang rumah cepat membukakan pintu. Rendy yang berada disamping Nanda terus, ia menyuruh bawahnnya yang ia bawa tadi untuk membobol pintu rumah wanita hina itu.
Rendy mencoba membuka pintu yang tadi terkunci dan sekarang sudah bisa terbuka. Keputusan Rendy untuk membawa para bawahannya sangatlah tepat. Rendy dengan santai duduk diruang tamu, sambil matanya menatap Aunty Nanda yang sedang berteriak-teriak memangil kedua wanita hina itu.
" Lihat di kamarnya. " Kata Rendy dengan santai.
Rendy yang duduk dikursi sambil sorot matanya menatap Aunty Nanda yang sepertinya sudah selesai mengecek.
" Tidak ada, Rendy. Pasti mereka pergi. " Ucap Nanda sambil menatap Rendy.
Rendy memerintahkan para bawahannya yang ia bawa untuk mencari dan melacak keberadaan wanita tua itu.
" Kalau istrinya Om Alan, sebentar lagi akan datang. " Tutur Rendy.
" Kok kamu bisa tau? " Tanya Nanda.
" Aku mencari tau Aunty. " Balas Rendy.
Rendy menyeringai, Aunty tidak tau apa yang dirinya lakukan. Tentu ia tau tentang wanita murahan itu, orang dirinya yang sudah mengatur segalanya untuk membuat wanita murahan itu jera dan tidak akan lagi melakukan hal berbahaya kepada Yora.
" Untuk apa kau berada dirumah ku! " Teriak Retha dengan kedua lengannya yang dipegang oleh para pengawal Rendy.
" Cih, wanita rendahan ini. " Ucap Nanda semakin marah setelah melihat wajah orang yang sudah membuat Putrinya celaka.
Nanda mendekat ke arah Retha dengan tatapan amarah yang berapi-api. Baru kali ini ia mengeluarkan rasa amarahnya kepada wanita rendahan itu, dulu ia sudah ikhlas suaminya diambil karena Alan mencintai wanita rendahan itu. Tapi ia marah sangat marah karena Putrinya dalam bahaya karena ulah kedua wanita rendahan itu.
Nanda mencengram kuat rahang Retha dengan kuat. Retha ingin berontak tapi kedua lengannya ditahan oleh pria besar yang mana pasti orang suruhan Rendy.
" Apa yang akan kalian lakukan ini, akan ku balas kalian dengan membunuh Yora. " Teriak Retha yang sudah frustasi.
Plak...
" Dasar gila! " Teriak Nanda.
Rendy melirik wanita hina itu setelah mendengar ucapan yang dilontarkan wanita tidak tau malu itu. Rendy melangkah mendekati Retha.
" Sepertinya kau belum menyerah juga. Jadi bagaimana kalau kau, aku jual ke rumah pelacur. " Kata Rendy yang membuat mata Retha membulat sempurna.
" Jual saja Rendy. " Timpal Nanda.