
Yora menatap Rendy dengan sangat garang akan ucapannya tadi kepada dirinya. Ia tidak menerima Rendy memperlakukan dirinya seakan wanita murahan yang harus melayani para pria mesum.
" Kau telah merendahkan ku! " teriak Yora sambil bangkit dari pangkuan Rendy tapi dicegah olehnya hingga membuat dirinya masik berada dipangkuan Rendy.
" Arti dalam melayani dalam otak cantik mu itu apa Yora? " tanya Rendy sambil menatap raut wajah Yora yang memerah akibat menahan kemarahan.
" Melayani mu dalam masalah ranjang kan. " jawab Yora.
" Wah, ternyata kamu mesum juga ya. " ledek Rendy dengan raut wajah tersenyum.
" Apa! "
" Maksudku, setelah acara pernikahan Papa mu itu, aku ingin kau berada di apartement ini melayani ku seperti seorang istri. " ujar Rendy.
" Aku bukan istrimu dan pembantumu. " sahut Yora dengan raut wajah yang kesal.
" Kamu memang bukan pembantuku, tapi kamu akan menjadi istriku Yora. " kata Rendy.
" Kau harus ingat tentang perjanjian itu. " tegas Rendy yang membuat Yora cemberut tidak suka.
" Ya ya, sekarang lepaskan aku ingin pulang! " perintah Yora yang membuat Rendy tidak lagi mencegah Yora untuk bangkit dari pangkuannya.
Yora menatap Rendy dengan sinis lalu beranjak malangkah pergi, tapi langkahnya terhenti.
" Jangan lupa perintahku Tuan Rendy. " tegas Yora yang dibalas anggukkan kepala Rendy.
Yora pun benar-benar melangkah pergi kaluar dari kediaman milik Rendy. Yora bergegas pulang karena dirinya harus menyiapkan kado spesial untuk pasangan murahan itu.
Rendy memerintahkan seketarisnya untuk melakukan apa yang Yora perintahkan. Ia juga harus cepat tidur karena besok akan ada perdebatan yang akan terjadi.
Pagi hari yang cerah, di Villa Florence para pelayan sedang sangat sibuk membantu persiapan acara pernikahan yang sangat dadakan itu. Mira ibu Retha, mampu membuat Villa Florence menjadi semakin gemerlap dan mewah. Mira sebenarnya ingin melihat Putrinya menikah dengan Alan dihotel bintang lima, tapi karena ulah Putri murahannya Alan semua rencana yang telah disusun gagal.
Jadi ia dan Retha sudah merencanakan akan mempercepat pernikahan walupun sangat sederhana. Menurut Mira yang penting adalah menjadi Nyonya sah keluarga Florence dulu, baru ia dan Retha bisa melakukan apapun itu karena mereka sudah menjadi bagian dari keluarga Florence yang sangat kaya raya.
Yora melihat dari kaca besar yang berada di kamarnya. la mengunakan gaun putih bercampur pink yang sangat cantik saat ia kenakan. Yora menghela nafasnya, raut wajah Yora sangat suram. Menurut Yora, saat mereka sudah resmi menikah secara agama dan hukum disaat itu juga ia mungkin akan kehilangan Papanya, karena ia sangat yakin kalau Retha dan ibunya akan menguasi Papanya.
" Lihat saja wanita murahan, apa kamu masih menguasai Papaku saat kau akan mengetahui kalau suamimu itu akan jatuh miskin. " batin Yora sambil menatap wajahnya dari cermin.
Tok...tok
" Nona, acara akan segara di mulai, Nyonya Retha menyuruh saya untuk memanggil anda. " ucap salah satu pelayan.
Yora menuruni anak tangga, ia melihat Villa miliknya sudah sangat kotor karena dekorasi pernikahan yang menurutnya murahan. Ia menatap menengok kanan dan kiri, mencari keberadaan Rendy dan Mamanya yang tidak kunjung datang saat acara akan segara mulai. Yora di kejutkan dengan cengkeraman di lengan tangannya dan ia melihat ibu dari wanita murahan itu yang melakukannya.
" Ingat jangan membuat masalah Yora. " bisik Mira dengan sangat tegas.
Yora menepis cengkeraman itu dengan sangat kasar, ia tidak mempedulikan perkataan Mira. Yora lebih memilih berjalan ke arah teras karena ia ingin mencari keberadaan Rendy dan Mamanya.
" Yora. " panggil Alan.
Yora menatap Papanya yang memanggil dirinya tanpa membalas perkataan dari Papanya.
" Kamu sangat cantik mengenakan gaun seperti ini. " ucap Alan sambil tersenyum lembut.
" Hm. " balas Yora dengan raut wajah yang malas menanggapi ucapan pria tua yang ada dihadapannya.
Yora melihat Rendy yang sudah datang, segara berjalan menuju Rendy. Tidak memperdulikan Papanya yang masih ingin berbicara kepada Putrinya, Yora segera mendekatkan tubuhnya ke Rendy.
" Kamu sudah menyiapkannya? " tanya Yora yang dijawab anggukan oleh Rendy.
Yora sangat senang karena Rendy berhasil menuntaskan keinginan dirinya ini.
" Tetap berada disisiku. " ujar Rendy yang membuat Yora menatap Rendy dengan sangat kesal.
" Tidak mau. " tegas Yora.
" Kamu adalah kekasihku Yora, jadi sekarang bertingkahlah seperti kamu memang kekasihku. " kata Rendy dengan tegas sambil menatap Yora.
Rendy merangkul pinggang Yora dengan sangat erat. Yora yang tadi ingin protes tapi terhenti saat suara mic MC yang mengumumkan kalau pernikahan akan segera dilaksanakan. Yora jadi terdiam saat melihat Papanya memasuki aula sakral itu bersama dengan Retha sambil menautakan telapak tangan mereka.
Walupun Yora sudah berusah kuat dengan merelakan Papanya menikahi wanita murahan itu. Tapi hati kecilnya ingin menangis melihat pria pertama yang ia cintai menikahi wanita murahan seperti itu.
Yora menghela nafas, sambil menatap mereka yang sudah sah sebagai suami istri dan Retha secara otomatis sudah resmi menjadi Nyonya Florence.
" Kamu ingin mengeluarkannya sekarang? " tanya Rendy sambil menatap Yora yang tidak lepas memandang suami istri baru itu.
" Iya. " balas Yora.
" Lakukan. " perintah Rendy disambungan telepon.