Yora's Revenge

Yora's Revenge
Bab ≋74≋



Beberapa menit kemudian Alan datang, ia memasuki ruangan bersama Galih seketarisnya. Alan menatap Putrinya yang juga menatap dirinya. Alan sangat yakin kalau Yora sedang gugup karena tidak ada kehadiran Rendy bersamanya.


Galih sebagai pembawa acara kali ini. Yora dan Alan menjawab pertanyan dari para pemegang saham tentang tujuan dari Florence, Yora dan Alan juga menjanjikan akan membawa Florence semakin berjaya dimasa depan. Satu persatu para pemegang saham maju ke depan untuk sedikit pidato dan menyuarakan siapa pilihannya.


Yora menatap pintu ruang rapat dengan perasaan sedikit marah karena Liam ataupun Om Devon tidak muncul di rapat ini. Yora sangat bingung, ia tidak tau harus melakukan apa karena tidak ada Rendy yang selalu memberikan ia saran dan nasehat. la menatap Oliv yang berada dibelakang dirinya. Oliv yang mengerti segera mencari tahu, tapi sama sekali tidak ada hasil. Kedua pria itu sepertinya tidak datang.


Para memegang saham sudah sebagian menyuarakan pilihannya. Tinggal tersisa beberapa orang, yang salah satunya berasal dari keluarga Lawrence. Yora menghela nafasnya, Oliv juga berusaha menghubungi seketaris Rendy tapi tidak ada jawaban. Yora menatap Papanya dengan raut wajah dingin. la sudah siap menerima apa yang terjadi hari ini.


Tiba-tiba Liam sebagai pewaris sah Lawrence datang. Liam meminta maaf atas keterlambatan dirinya. Yora menatap Liam, tapi Liam memalingkan wajahnya yang membuat Yora hanya terdiam dan menatap Liam yang sudah duduk disamping Alan, yang mana sudah dipastikan akan memilih Papanya karena Liam duduk bersebarangan dengannya.


Tinggal pemegang saham terbesar ke 4 yaitu keluarga Lawrence maju kedepan, untuk sedikit berpidato dan akan menyuarakan siapa pilihannya. Alan tersenyum saat ia sudah pasti akan memenangkan pemilihan kali ini, sama seperti dulu ia memenangkannya dengan melawan Ayahnya sendiri.


" Saya Wiliam Lawrence, pewaris utama Lawrence. Keluarga Florence sudah menjadi sahabat keluarga Lawrence sejak lama, tapi lagi-lagi Lawrence harus memilih siapa yang menjadi Presdir selanjutnya dengan kandidat Ayah dan anak. Seperti dulu Tuan Alan melawan Tuan Daaron. Dulu Lawrence memilih Tuan Alan karena percaya, Tuan Alan akan menjadi pembisnis sukses hingga menghasilkan keuntungan yang banyak. Jadi sebagai pembisnis, Lawrence memilih yang akan menguntungkan. " ujar Liam sambil menatap Tuan Alan dan Yora bergantian.


...----------------...


Langit sudah senja, Nanda terbangun dari tidurnya sambil menatap jam. Ia keluar dari kamar Putrinya menuruni anak tangga. Nanda duduk diruang tamu sambil menunggu kedatangan Putrinya. Ia hanya berdoa semoga Yora mendapatkan hasil yang memuaskan hati Putrinya. Nanda memanggil pelayan untuk membuatkan dirinya secangkir teh hangat, sambil menunggu kepulangan Putrinya ia membaca majalah yang mana terdapat baju rancangan dirinya.


Walaupun Nanda bukan Nyonya Florence, tapi ia adalah ibu dari pemilik Villa ini. Dengan santai Nanda terus membalik-balikan lembaran majalah itu dengan ditemani secangkir teh buatan pelayan. Nanda menutup majalahnya saat ia mendengar suara mobil yang menyala. la masih duduk-duduk diruang tamu dengan mata yang menatap pintu masuk utama. Nanda dengan raut wajah yang bingung, melihat kehadiran Yora dengan seketarisnya.


Nanda langsung berjalan mendekat ke arah Putrinya dengan wajah yang masam. Nanda menghela nafasnya saat melihat raut wajah Putrinya. la memegang kedua telapak tangan Putrinya.


" Kau berhasil atau tidak sayang? " tanya Nanda yang ingin memastikan semuanya.