
Retha dan ibunya sudah merencanakan akan mempercepat pernikahan Retha dan Alan. Retha sudah menceritakan tentang ucapan yang dilontarkan oleh Yora semalam kepada ibunya. Kata ibunya ia harus mempercepat rencana pernikahan agar gadis yang licik itu tidak akan menganggu dirinya lagi.
Retha tidak berbicara tentang memajukan tanggal pernikahan kepada calon suaminya. Ia sudah sangat mengetahui kalau Alan pasti akan setuju, karena ia adalah wanita yang sangat dicintai oleh Alan. Retha melihat calon suaminya menuju ruang makan, ia sebagai calon istri yang baik menaruh makanan ke piring Alan. Retha ikut tersenyum saat Alan tersenyum juga kepada dirinya yang menaruh makanan diri piringnya.
Yora menuruni anak tangga, seperti biasanya ia sudah sangat terburu-buru untuk menuju kantor. Ia harus tetap fokus agar rencananya segera berhasil. Yora mengacuhkan keluarga baru Papanya, ia sudah mulai terbiasa dengan pemandangan seperti ini.
Alan hanya menghela nafasnya saja melihat Putrinya yang bahkan mengacuhkan Papa kandungnya sendiri. Retha melihat tingkah Alan saat menatap Yora.
" Anak itu ingin melawanmu Alan. " ucap Retha yang sudah duduk tepat disamping Alan.
" Ckck pasti hasutan ibunya. " fitnah Mira.
" Bukan. " sahut Alan.
" Lalu kenapa dia bisa bersikap kurang ajar seperti itu? " tanya Mira.
" Itu hasutan ibunya, Alan. Jika tidak Yora pasti tidak akan bersikap seperti itu. " ucap Retha.
" Dulu Yora sangat dekat sama kamu, sekarang Putrimu semakin menjauh dan ingin merebut posisi jabatan mu yang sebenarnya juga akan menjadi milik Yora. " hasut Mira.
" Apa kau tidak merasakan Yora sangat berbeda dari yang sebelumnya? " tanya Retha dengan nada lembut, sambil memegang telapak tangan calon suaminya.
" Aku merasakannya. " jawab Alan.
" Kau harus berbuat sesuatu kepada Yora, agar dia tidak semakin jauh dia bertindak untuk melawan dirimu. " kata Retha.
" Pikirkan baik-baik Alan. " timpal Mira.
" Iya. " jawab Alan.
Yora yang sudah tiba segera memasuki ruangan miliknya. la melihat sahabatnya yang juga menjabat sebagai seketarisnya itu datang ke ruangannya.
" Pagi boss. " ledek Oliv dengan raut wajah yang kesal.
Yora hanya tersenyum melihat sahabatnya yang merasa seperti sangat kesal. Karena ia sangat mengetahui kebiasaan Oliv yang sama seperi dirinya dulu yaitu susah bangun tidur, kalau bangun pun siang hari.
" Woy boss, cowok lu kenapa datang kesini deh dan siapa itu cowok yang berada disamping pacar lu itu. " ucap Oliv dengan antusias saat melihat cowok tampan.
" Seketarisnya. " sahut Yora yang malas dengan sifat Oliv yang kumat.
" Betah gue disini kalau liat kumpulan cowok ganteng. " kata Oliv yang semakin kegirangan saat melihat cowok itu semakin mendekat ke arah sini.
" Yora. " Rendy melangkah mendekat kepada Yora yang membuat para karyawan menatap kemunculan wakil presdir itu dengan tatapan menyelidik.
" Hm. " balas Yora.
" Kau mendapatkan saham dari kakekmu kan? " tanya Rendy tanpa basa-basi.
" lya. " balas Yora dengan tatapan tidak percaya kalau Rendy mengetahui hal itu yang padahal tidak pernah ia ceritakan kepadanya.
" Jadi kita mempunya 40% saham dan itu sebanding dengan milik Om Alan. " ujar Rendy.
" Sisanya kita harus membuat para pemegang saham berpihak kepada kita. " ucap Rendy.
" Boss Yora, gue enggak datang ke rapat lu itu kemarin karena gue ngebujuk salah satu anak dari pemegang saham. " ujar Oliv yang masih membuat Yora tidak mengerti akan ucapannya.
" Bagaimana bisa lu udah dapat 2 orang itu? " tanya Yora.
" Gue kan ngegoda anak dari pemegang saham Perusahan Florence dan mereka gampang terayu. " ujar Oliv
" Bagus, pemegang saham masing memilik 5% saham milik Florence, jadi kita mendapatkan 10% suara. " ucap Rendy.
" Kita bakal menang? " tanya Yora sambil menatap Rendy.
" Kau harus mendapatkan tanda tangan untuk hak suara, baru itu bisa dihitung sah dalam pemilihan suara presdir selanjutnya di rapat nanti. " kata Rendy.
" Berikan kepada Rina surat itu, agar ditandatangani oleh mereka. " kata Yora.
" Nanti Noah yang akan memberikannya. " ucap Rendy.
Yora melihat sahabatnya dengan tingkah genitnya saat Oliv tepat berada disamping seketarisnya Rendy.
" Oh ya Yora, kita harus mendapatkan 20% hak suara dari keluarga Lawrence. " ucap Rendy.
" Bukannya kata mu pemegang saham hanya bisa mendapatkan 5% saham Florence dan ini kenapa 20%. " kata Yora yang masih belum paham dengan kehidupan bisnis.
" Karena dia sahabat baik Papamu dan Om Alan mempersilahkan keluarga Lawrence membeli saham 20% perusahaan Florence. " ucap Rendy yang sedang berusaha menjelaskan kepada Yora.
" Kau bisa mendapatkanya Rendy. " sahut Yora.
" Itu lumayan susah, karena Tuan Alan mengenal baik Tuan Lawrence dan otomatis pasti Tuan Lawrence memilih Tuan Alan. " timpal Noah.
" Tunggu, kayanya gue kenal tuh keluarga Lawrence, tapi dimana ya. " ucap Oliv yang membuat mereka bertiga menatap dirinya.
" Coba ingat-ingat liv. " desak Yora kepada sahabatnya yang masih berusaha mengingat.
" Hmm.. Lawrence, Lawrence. " gumam Oliv sambil berjalan kesana kemari.
" Saya akan berusaha supaya Nona Yora mendapatkan dukungan dari keluarga Lawrence. " ucap Noah yang kesal karena seketaris Nona Yora yang sepertinya hanya bermain-main saja.
" Apa dia punya seorang Putra? " tanya Oliv menatap Rendy.
" Iya. " jawab Rendy.
" Namanya siapa? " tanya Oliv lagi.
" Kau mau merayu lagi anak dari para pemegang saham itu. " kata Yora.
" William Lawrence. " sahut Rendy yang membuat Yora dan Oliv menatap Rendy dengan begitu tajam.
" Apa Liam yang gila itu. " Yora yang masih tidak percaya nama sahabatnya yang disebutkan.
" Cepet cari Liam sekarang Yora. " ucap Oliv.
" Sepertinya kita bisa mendapatkan dukungan dari keluarga Lawrence. " ucap Oliv dengan penuh keyakinan.
" Jika kalian sangat yakin, kita bisa menang dalam presdir yang akan diadakan sebentar lagi. " kata Rendy.