
" Ayo kita makan bersama, " ajak Devon sambil menatap Yora dan Rendy bergantian.
" Pekerjaan itu urusan nanti saja. " kata Devon.
Rendy menatap Yora seakan menunggu keputusan dari kekasihnya. Yora yang mengerti tatapan itu hanya menganggukan kepalanya saja menyetujui ajakan dari Om Devon. Mereka bertiga pun berjalan bersama menuju tempat restaurant yang terdekat.
Alan yang semalaman hanya dikantor, duduk diruang kerjanya sambil bersandar dikursi, ia memikirkan apa yang telah ia lakukan kepada Putri satu-satunya. Alan sungguh merasa frustasi dengan semua yang terjadi, terutama saat ia mengetahui tadi pagi dari seketarisnya kalau Putrinya mempunyai 60% properti Florence, yang diberikan oleh kakeknya yang mana adalah Ayahnya sendiri.
Tok....Tok...
" Masuk. "
" Tuan, aku membawakan makanan untuk mu. " ucap sekretaris Alan.
" Aku tidak lapar, " balas Alan yang masih bersandar dikursinya sambil memejamkan kedua matanya.
" Makanlah, supaya Tuan tidak jatuh sakit. " kata sekretaris Alan.
" Baiklah. " sahut Alan.
Alan pun melangkah menuju ke sofa, membuka makanan yang sudah disiapkan oleh seketarisnya.
" Tuan, tadi saya melihat Tuan Rendy dan Nona Yora makan bersama di tempat saya memesan makan Tuan. " ucap Galih sekertaris Alan.
" Wajarlah, mereka kan sepasang kekasih, " balas Alan sambil memakan makanannya.
" Tapi mereka bersama pria yang pernah anda temui Tuan. " ucapnya lagi.
" Pria siapa? " tanya Alan.
" Yang pernah datang bersama Nyonya Nanda. " jawab sekretaris Alan.
Alan yang mendengar perkataan yang dilontarkan seketarisnya menjadi diam seketika. Tidak tahu kenapa hatinya merasa ternganggu dengan kebersamaan kekasih Nanda dengan Putrinya. la lumayan heran dengan sikap Yora yang malah tidak menerima keberadaan Retha, padahal Retha adalah wanita yang sangat baik dan lembut.
" Galih. " seru Alan.
" Iya Tuan. " sahut Galih.
" Buat Rendy keluar dari Perusahaan Florence. " perintah Alan.
" Tidak bisa Tuan, Tuan Rendy sangat menguntungkan untuk Perusahaan Florence, lagi pula Tuan sendiri yang memaksa Tuan Rendy untuk bekerja disini, " ucap Galih dengan sorot mata yang tidak percaya dengan perkataan bossnya.
" Lakukan apapun untuk membuat Rendy tidak lagi bekerja di
Perusahaan Florence. " perintah Alan.
" Kenapa Tuan ingin mengeluarkan Tuan Rendy dari Perusahaan? " tanya balik Galih yang masih tidak mengerti dengan atasannya.
" Karena Rendy yang membantu Putriku, jadi Yora tidak akan berkutik apapun diperusaahan ini karena Rendy surat keluar. Sudahlah lakukan saja perintahku, " kata Alan dengan tegas.
" Oh satu lagi, buat Perusahaan milik Rendy goyah agar dia pergi keluar negeri dan tidak akan menolong Yora sama sekali. " perintah Alan.
" Papamu ini akan membuatmu menyerah dengan semua pemikiran mu itu dan pada akhirnya akan sama seperti dulu, Yora akan berlari kecil kedalam pelukannya karena menangis tidak mendapatkan apa yang Yora inginkan, " batin Alan sambil tersenyum mengingat masa kecil Putri satu-satunya.
Setelah acara makan bersama. Yora dan Rendy kembali memasuki Perusahaan dengan raut wajah cukup senang karena Om Devon yang sangat humoris dan rendah hati.
" Ikuti aku, ada yang ingin aku bicarakan, " perintah Rendy dengan tegas.
" Iya. " balas Yora sambil manatap sekilas Rendy.
Yora mengikuti Rendy keruangannya, sebenarnya ia sangat malas tapi takut ada sesuatu yang ingin Rendy katakan kepadanya. Sesampainya di ruangan, Rendy berbalik badan menghadap Yora dengan sorot mata yang serius.
" Apa? " tanya Yora.
Rendy mendekat ke Yora, sambil terus menghujani tatapan dingin dan menusuk.
" Apa! " kesal Yora.
" Kamu menututupinya, " ucap Rendy yang membuat Yora bingung.
" Apa sih? " tanya Yora yang tidak mengerti.
" Pipimu. " jawab Rendy yang membuat Yora memegangi pipinya.
" Aduh, gara-gara gue cuci muka di restaurant tadi jadi lupa gue. " batin Yora.
" Jatuh dari kasur saat tidur, " balas Yora sebisa mungkin menyembunyikan kebenarannya.
" Bodoh. " sungut Rendy.
" Ya! " teriak Yora.
Rendy semakin mendekati tubuh Yora, memegang kedua bahu milik Yora dan menatapnya dengan pandangan sedih. Rendy mendekatkan bibirnya ke kening Yora dan menciumnya sebentar. Yora hanya diam saat diperlakukan lembut oleh Rendy secara tiba-tiba.
" Kamu ditampar lagikan oleh Papamu? " bisik Rendy yang membuat tubuh Yora menegang.
Cup... Rendy mencium sekilas bibir Yora, setelah mengatakan apa yang ingin ia katakan.
" Iya. " balas Yora.
" Kamu sudah memberitahu Mamamu? " tanya Rendy.
" Belum. " balas Yora.
" Beritaulah, agar Mamamu marah. " ujar Rendy sambil mengelus pipi yang masih memerah itu.
" Dia mana bisa marah, " sahut Yora dengan kesal.
" Sudahlah beritahu saja dan kita lihat aksi apa yang akan dilakukan oleh Mamamu itu, " ujar Rendy sambil membawa Yora kedalam pelukannya.