Yora's Revenge

Yora's Revenge
Bab ≋73≋



Alan mencengkeram kuat pergelangan tangan Nanda dengan kuat, hingga membuat Nanda harus menahan rasa sakit didepan mantan suaminya. la balas menatap tajam pria yang sangat menyakiti hatinya dulu.


" Sepertinya memang benar, kau yang menghasut Putriku untuk melawan Papanya dan merebut harta Florence. " tegas Alan didepan wajah Nanda.


" Kakeknya sendiri yang memberikan segalanya hanya untuk Yora. " sahut Nanda.


" Kau juga menghasut Ayahku dan Putriku? " tanys Alan dengan suara yang mulai meninggi.


" Jika iya kenapa Tuan? " balas Nanda dengan raut wajah sinisnya, lalu menepis cengkeraman itu dan mulai mendekat ke arah Alan hingga membuat para pelayan yang lewat mulai berbisik-bisik.


" Kau! " timpal Alan yang tiba jadi diam mematung karena Nanda semakin dekat dengan tubuhnya.


Nanda mengelus dada Alan dengan santai dan menunjukan senyum yang indah kepada Alan. Ia menatap Alan, lalu perlahan ia mulai mendekatkan bibirnya ke telinga Alan. Apa yang dilakukan Nanda kepada Alan, membuatnya membisu karena bingung dengan maksud mantan istrinya yang begitu dekat dengan tubuhnya.


" Dasimu, berantakan. " bisik Nanda dengan suara yang lembut sambil merapihkan dasi milik mantan suaminya itu.


Nanda menyeringai melihat keterdiaman mantan suaminya, Nanda terus saja merapikan dasinya hingga ke leher milik mantan suaminya. Nanda sangat menyakini jika posisi sekarang ini, seperti orang yang sedang bersiap untuk saling berciuman dengan sangat bergairah, pasti orang yang melihat akan menimbulkan sebuah kesalahpahaman.


Retha yang sedang marah ditambah semakin marah, saat para pelayan bergosip dibelakang dapur dan ia mendengarnya. Retha yang ingin melihatnya sendiri pun, melangkah menuju tempat yang dibicarakan oleh para pelayan dan benar saja ia melihat wanita tua itu, yang baru datang ke Villa ini sedang merayu suaminya. Dengan kesal Retha mendekat ke arah suaminya dan menepis kasar dan sedikit mendorong Nanda, agar wanita tua itu tidak menyentuh tubuh suaminya.


" Hei! " teriak Retha.


" Wanita itu pasti salah paham. " batin Nanda dengan raut wajah tersenyum melihat Retha yang sedang menahan rasa amarahnya.


" Pergilah sayang, nanti kau telat kerjanya, " ucap lembut Retha sambil tersenyum kepada suaminya dan menatap sinis wanita yang masih berada dihadapannya dirinya dengan suaminya.


Alan menurut perkataan istrinya, sebelum pergi Alan menatap mata Nanda dengan raut wajah yang aneh, karena sikapnya tadi yang tidak tau kenapa membuat dirinya merasakan sesuatu didalam tubuhnya.


" Aku akan menyentuh suamimu itu, seperti dulu kau menyentuh suamiku, jadi adil kan. " ujar Nanda dengan raut wajah meledek, dengan santai Nanda menuju kamar yang akan ia tempati di Villa Florence.


Retha mengepalkan jari-jarinya dengan sangat kuat, ia benar-benar sangat marah karena perkataan wanita tua itu. Ia akan menjauhkan Alan dari wanita tua dan jelek itu. Retha dengan kesal berjalan menemui ibunya, untuk meminta saran tentang cara menangani mantan istrinya Alan.


Nanda menatap kamar yang dulu pernah ia tempati, lalu berjalan menuju kamar yang ia huni dan melihat para pelayan sedang merapikan barang-barang ibunya Retha, ia menyuruh para pelayan untuk cepat, karena perlengkapan baru akan datang dan yang dulu akan ia buang karena Nanda tidak sudi. Nanda yang sudah lelah segera memasuki kamar Yora untuk tidur, ia hari ini meliburkan diri dari butik miliknya, karena Nanda harus datang ke Villa Florence lagi untuk tinggal disini.


Yora memasuki Perusahaan Florence dengan sangat elegan, dengan raut wajah yang angkuh dan sorot mata tajam Yora berjalan memasuki ruangannya. Para karyawan yang melihat menunduk hormat kepada putri dari pemilik Florence yang sudah sangat berubah dan terkenal hebat dalam menjalankan proyek seperti Kakeknya Daaron Florence.


Yora yang berada diruangannya dengan membaca seluruh berkas yang Rendy berikan dengan cepat. Yora menyandarkan tubuhnya ke kursi kerja sambil menatap langit-langit, dari jendela besar yang ada diruangannya. la tidak boleh menunjukan rasa takut dalam dirinya, Yora menatap handphone miliknya. Ia menunggu pesan atau suara panggilan masuk dari Rendy, tapi tidak ada sama sekali. Rendy seperti langsung menghilang dalam sekejap dan hanya meninggalkan berkas ini.


" Yora. " panggil Oliv yang membuat Yora tersadar dari lamunannya dan menatap seketarisnya itu.


" Rapat akan segera dimulai. " ucap Oliv lagi.


" Apa Liam akan datang? " tanya Yora.


" Belum ada informasi, siapa yang akan datang sebagai perwakilan dari Lawrence. " ujar Oliv.


" Sudah waktunya Yora. " kata Oliv lagi.


Yora langsung menuju cermin yang berada diruangannya dan menatap tubuhnya. Ia menarik nafas dalam-dalam dan mengelurkannya lagi. Yora berjalan keluar dan melihat karyawannya yang mendukung dirinya, Yora hanya membalas senyum tipis kepada para karyawannya yang mendukung dirinya.


Yora berjalan menuju ruangan rapat utama Florence, dengan Oliv yang berada tepat disampingnya. Yora memasuki ruang rapat yang sudah terisi penuh dengan para petinggi Florence yang hadir. la duduk dikursi yang mana disampingnya para petinggi Florence yang mendukung dirinya dan didepannya adalah kursi kosong yang akan Papanya tempati dengan para pendukungnya juga.