Yora's Revenge

Yora's Revenge
Bab ≋48≋



Para karyawan yang sudah berdatangan diruang rapat, bertanya-tanya kenapa anak dari pemilik perusahaan besar ini yang sangat dikenal sebagai anak manja datang keruang rapat ini, mereka hanya berprasangka kalau anak manja itu datang hanya ingin menemani Rendy kekasihnya bekerja.


" Hallo semua, perkenalkan karyawan baru kita namanya Yora dan ia yang akan menjadi pemimpin proyek baru kali ini. " ujar Rendy yang membuat para karyawan yang ada diruangan rapat menjadi riuh tidak terima dengan ucapan dari wakil presdir mereka tersebut.


Bagi karyawan perusahaan Florence, Yora tidak akan mampu melakukan proyek besar kali ini. Yora hanyalah anak manja dan pasti tidak tau apapun tentang bisnis. Menurut seluruh karyawan Yora hanya diberkati oleh kecantikan dan keluarga yang kaya raya, selebihnya Yora hanya mengandalkan kedua Orang Tuanya.


Yora memandang seluruh karyawan yang ada diruang rapat, dengan raut wajah yang senyum tipis, saat melihat para karyawan seperti tidak terima dengan keputusan sepihak dari wakil presdir mereka.


" Jika kalian tidak terima dengan keputusan ini, kalian bisa angkat kaki dari perusahaan ini. " bukan Rendy yang mengucapkan melainkan Yora dengan sorot mata yang mengintimidasi, hingga membuat seluruh karyawan yang tadi riuh mendadak jadi hening setelah mendengar ucapan dari anak pemilik perusahaan ini.


Rendy hanya menatap sekilas Yora, ia mendengar ucapan Yora tadi. Tapi ia hanya diam karena Rendy ingin melihat seberapa seriusnya Yora tentang keinginan dirinya itu.


" Dengarkan aku baik-baik, aku bukan Yora yang kalian kenal dulu, didepan kalian hanya Yora yang baru, yang akan belajar memulai bisnis dari Perusahaan Florence yang akan menjadi milikku nanti. " kata Yora dengan nada yang tegas.


Para karyawan hanya diam mereka bingung dengan situasi ini dan yang paling membuat mereka merasa terkejut, karena perubahan sifat dari Yora. Mereka bertanya-tanya dalam pikirannya, apa Yora mempunyai kembaran hingga sifatnya sangat berbeda dari sebelumnya.


" Apa kalian lupa, kalau aku Yora Florence adalah pewaris sah dari perusahaan tempat kalian kerja. " ucap Yora yang akhirnya membuat para karyawan menyetujui keberadaan Yora diruang rapat.


" Baiklah kita mulai rapatnya. " perintah Rendy.


Yora duduk tepat disamping Rendy, sambil memandang layar besar yang ada dihapadannya, dengan sorot mata yang sangat fokus dan serius saat rapat berlangsung.


Nanda memasuki halaman Villa Florence. la sungguh sangat penasaran dan khawatir tentang keadaan Putri satu-satunya, yang tidak pernah la temui selama berhari-hari dan bahkan Yora tidak pernah berkunjung lagi setelah hari itu.


Saat Nanda memasuki ruang tamu, ia melihat Alan dengan kekasihnya sedang melihat-lihat majalah berisikan gaun pengantin rancangan desainer terkenal. Nanda tidak terlalu memperdulikan, ia hanya ingin melihat Putrinya. Nanda pun melangkah menuju anak tangga, yang mana dilantai dua terdapat kamar anaknya.


" Retha, Ibu ingin kamar yang besar dan nyaman di Vil... " ucap Mira yang terhenti saat ia melihat mantan Nyonya dari Villa ini yang ingin menaiki anak tangga, tapi terhalang oleh dirinya yang juga sehabis dari lantai dua dan ingin turun ke lantai bawah.


" Wah ada orang asing yang datang kemari tidak permisi. " sindir Mira yang membuat Alan dan Retha menengok ke arah Mira.


" Memang sangat tidak sopan memasuki rumah besar ini tanpa meminta izin dari pemilik Villa, tapi tidak masalah mungkin dia ingin bertemu dengan Yora. " kata Retha dengan lembut sambil mendekatkan diri ke Alan.


Nanda sangat tidak memperdulikan ucapan yang keluar dari mulut Ibu dan anak itu.


" Dimana Yora sekarang? " tanya Nanda langsung tanpa basa-basi sambil menatap Alan.


" Yora pergi dari pagi, katanya ada urusan. " Jawab Alan.


" Baiklah dan terima kasih " kata Nanda sambil berjalan keluar menuju pintu besar Villa Florence.


" Sangat tidak sopan mirip dengan Putrinya. " celetuk Mira pelan dengan nada sinis yang ia keluarkan.


Walupun Mira mengucapkan dengan pelan, Nanda masih bisa mendengarkan perkataan wanita tua itu yang secara terang-terangan menjelek-jelekan Putri satu-satunya.


" Murahan, kampungan dan tidak berkelas cocok untuk kalian Ibu dan anak. " sahut Nanda membalas ucapan Mira, tanpa menatap mereka.


Nanda pun melangkah pergi menuju dimana mobilnya berada.


" Bukannya kau itu juga murahan. " teriak Alan saat melihat Nanda yang berjalan ingin keluar dari Villa.


Nanda memutar balikan tubuhnya saat dirinya dihina oleh Alan.


" Sangat tidak terhormat untuk wanita yang sangat berkelas seperti dirimu, berselingkuh ditaman. " sindir Alan.


Nanda yang mendengar perkataan Alan merasa bingung dengan tuduhan dari Papanya Yora.


" Lalu, apa ada masalahnya denganmu Tuan Alan yang sangat terhormat. " balas Manda dengan sorot mata yang tajam.