
Alan melihat menatap pesan masuk dari Putrinya sekali lagi. Ia takut kalau ini adalah salah, tapi ia baca berkali kali kalau pesan ini dari putrinya, yang menyuruh dirinya untuk datang ke tempat yang pernah dia bicarakan dengan Nanda.
Alan menatap raut wajah istrinya yang sangat bahagia. Tapi Alan sudah tidak peduli, sekarang yang paling utama adalah Putrinya dan Nanda yang menyetujui untuk makan bersama dengan dirinya. Alan bangkit dari kursi dan melihat Retha yang bingung.
" Aku harus pergi. " kata Alan yang membuat Retha tertegun atas ucapan yang suaminya lontarkan.
Retha menggenggam tangan suaminya agar Alan tidak keluar dari apartement, ia menarik Alan agar berhadapan dengan dirinya. la sangat tidak tahu kenapa suaminya bersikap seperti ini sekarang.
" Kenapa kamu pergi? " tanya Retha.
" Aku harus bertemu dengan seseorang. " jawab Alan yang menepis genggaman tangan Retha.
" Siapa? " tanya Retha sambil terus mencegah suaminya untuk pergi keluar.
" Kamu tidak perlu tahu. " jawab Alan yang membuat Retha terkejut karena jawaban dingin dari suaminya.
" Siapa orang itu, hingga kamu rela pergi dan ninggalin aku disini. " ujar Retha dengan sorot mata menatap suaminya.
" Sangat penting bagiku. " jawab Alan yang sudah ingin pergi tapi masih saja terus ditahan oleh Retha.
" Lebih pentingan mana dia sama aku? " tanya Retha yang tidak terima dengan perkataan Alan.
" Tentu saja mereka. " balas Alan yang membuat Retha tersentak kaget.
" Alan! " teriak Retha sambil membuka handuk kimono yang ia kenakan, hingga menampilkan baju transparan warna merah miliknya.
Retha sungguh sangat tidak terima suaminya pergi begitu saja, disaat dirinya sudah menyiapkan segelanya hanya untuk Alan. la sangat tidak tahu siapa orang istimewa selain dirinya. Retha tidak akan membiarkan suaminya pergi, karena seperti menghina ego dirinya.
Alan yang mendengar teriakan yaring Retha menatap wajah istrinya. Mata Alan membulat sempurna saat istrinya sedang mengenakan baju transparan warna merah, ia mendekati Retha dengan perlahan dan tersenyum. Ia mengelus pipi putih milik Retha dengan sangat lembut.
Retha tersenyum senang, karena suaminya sudah sangat pasti tergoda oleh dirinya. Ia tadi marah karena Alan ingin pergi, tapi untung ia mengunakan kado seperti ini hingga membuat suaminya, tidak akan mengalihkan perhatiannya kepada siapapun orang yang sudah mampu membuat suaminya ingin meninggalkan dirinya.
" Maaf Retha, aku harus pergi. " tutur Alan yang sudah pergi meninggalkan apartement.
Perkataan yang tadi dilontarkan oleh Alan bagaikan sambaran petir di dalam diri Retha, ia menatap kepergian suaminya dengan tatapan tajam. Ia sudah menyiapakan segalanya tapi Alan malah pergi karena ada seorang yang lebih penting dari dirinya. Retha segera menelepon sesorang untuk mengikuti kemana suaminya akan pergi itu.
Retha yang sangat sakit hati mendorong meja makan, hingga makan yang sudah ia siapkan berserta kue ulang tahun hancur. Ia menatap tubuhnya dicermin, Retha sungguh sangat marah hingga menarik baju transparannya, yang masih melekat ditubuh dirinya hingga robek. Percuma dirinya menyiapkan segalanya, kalo Alan malah pergi dengan seseorang yang lebih penting dari dirinya.
la akan menunggu orang untuk menyelidikinya, Retha sangat ingin tahu siapa orang yang mampu membuat Alan pergi.
...----------------...
Yora dan Nanda duduk dengan anggun dengan tangan yang memegang minuman masing-masing. Yora dan Nanda menunggu kedatangan orang yang sangat mereka nanti itu. Rendy yang melihat ibu dan anak itu sangat kompak, ia tersenyum hangat melihat mereka berdua semakin akrab, karena sering menghabiskan waktu secara bersama.
Nanda, Yora dan Rendy masih saja menunggu Alan yang akan datang menuju restaurant, yang mana Nanda dan Alan bertemu malam lalu. Nanda sudah memesan dari tadi makanan yang sangat banyak, hingga membuat meja makan itu tidak mampu menampung makanan yang sudah dipesan oleh Nanda.
Dari kejauhan Rendy dan Yora sudah melihat kedatangan Alan yang mengunakan mobilnya itu, Yora memberitahu Mamanya dan mereka pun bersiap sambil menunjukam raut wajah tersenyum bahagia.
Alan sungguh sangat senang, saat keluarganya yang dulu mau menerima ajakan dirinya. la merasa sangat tidak menyesal memutuskan meninggalkan Retha diapartement, karena dirinya akan merayakan ulang tahunya dengan keluarganya. Alan tersenyum bahagia dan memegang tangan Putrinya, untuk mengucapkan rasa terima kasih karena telah menerima ajakan dirinya.
Nanda menyalakan kue ulang tahun, Yora dan Rendy bernyanyi dengan riang sambil bertepuk tangan. Nanda ikut tersenyum bahagia dan menatap wajah mantan suaminya. Alan sangat senang karena saat dirinya datang, la sudah disambut dengan kejutan seperti ini.
Alan tersenyum sangat bahagia, karena ia sangat yakin kalau keluarganya dulu akan kembali bersama dengan dirinya. Dengan begitu Alan dengan sangat senang hati, bisa meyingkirkan Retha. Dan dirinya akan kembali bersama keluarganya yang dulu pernah la sia-siakan. Dirinya akan berjanji untuk setia kepada keluarganya.
Yora menatap sekilas seketaris Mamanya yang duduk sedikit jauh dari mereka, la melihat Aunty Lina yang masih memegang handphonenya, Yora tersenyum puas dan menatap kembali Papanya yang sangat bahagia. Yora tersenyum sinis saat mengingat dulu Papanya selalu saja merayakan dengan wanita simpanannya itu, sekarang saat Papanya sudah hampir jatuh, baru ingat kalau la dan Mamanya sangat berharga dari pada wanita murahan itu.
" Ma, sepertinya videonya sudah cukup. " tutur Yora menatap Mamanya.
" Baiklah. " sahut Nanda.
" Ayo pergi, karena Ayah sedang menunggu kita. " ujar Yora yang membuat Alan mengerutkan keningnya bingung.
" Ayah? " bingung Alan sambil menatap Yora.
" Tentu saja, Ayah Devon. " balas Yora penuh penekanan diakhir kalimat.
" Kenapa kalian harus pergi dengan sangat cepat? " tanya Alan menatap mantan istrinya.
" Karena urusan keluarga. " balas Nanda dengan sangat puas melihat suaminya yang sangat bingung itu.
" Kalian mempermainkan ku! " marah Alan sambil berdiri dan menatap mereka dengan tatapan yang tidak terima
" Pa, kami itu datang kemari karena menghormatimu makannya kami datang kesini. " kata Yora.
" Tapi kenapa pergi dengan secepat ini? " Alan sungguh merasa sangat kesal.
" Kita sudah merayakan ulang tahunmu secara bersama, jadi kamu ingin apa lagi? " Nanda menatap tajam mantan suaminya itu.
" Bukannya ini yang Papa inginkan, kita sudah mengabulkannya. " tutur Yora.
" Yora, Nanda! " teriak Alan yang membuat para pelanggan restaurant menatap Alan.
" Sepertinya acara ulang tahunnya sudah selesai, jadi kapan kita bisa pergi? " ucapnya Devon yang datang tiba-tiba, dengan sorot mata melihat Alan dengan tatapan meremehkan.
" Ayo Ma, Ayah sedang menunggu kita. " kata Yora sambil menatap raut wajah Papanya yang sedang menahan amarah.
Alan menggenggam tangan Nanda dengan sangat kasar, tapi Nanda tidak merasakan sakit apapun karena hatinya dulu lebih sakit dari pada cengkraman ini.
" Dari sorot matamu sepertinya kau tidak puas, dengan pesta yang sudah kami siapkan. " ucap Nanda tepat diwajah mantan suaminya.
" Kamu! " kesal Alan.