Yora's Revenge

Yora's Revenge
Bab ≋46≋



Rendy memberikan banyak buku-buku tentang bisnis kapada Yora untuk dibaca dan dipelajari dirumah. Yora menerimanya, ia sudah bertekad tidak akan pernah mengeluh lagi atau bermanja. Hidupnya sekarang bertumpu kepada kedua kakinya, ia tidak boleh bersandar kepada siapapun tentang hidupnya.


" Dengar Yora, kau harus mempelajari ini semua dan jika kau sudah mempelajari buku itu semua, datang kembali kepadaku. " kata Rendy.


" Untuk apa? " tanya Yora.


" Kau akan ikut rapat bersamaku untuk mempelajari perusahaan Florence. " kata Rendy.


Yora yang sudah mengerti pun memutar tubuhnya untuk keluar, tanpa mengucapkan terima kasih kepada Rendy yang akan membantunya. Menurut Yora, dirinya juga membayar Rendy dengan tubuhnya ini, jadi tidak perlu mengucapkan terima kasih.


" Yora, jadilah seperti kakekmu yang sangat tangguh dan kuat, hingga mampu membuat perusahaan Florence berjaya seperti sekarang ini. " kata Rendy yang melihat Yora sudah ingin pergi.


" Aku akan menjadi diriku sendiri dan kau jangan pernah menasehatiku atau apapun itu, tugas mu hanyalah membantuku mengambil kursi yang paling tertinggi di perusahaan Florence. " ucap Yora penuh dengan ketegasan tanpa menatap lawan bicaranya lalu beranjak pergi.


Yora memasuki kamar miliknya di Villa, ia mulai belajar semua yang diberikan oleh Rendy, berhari-hari Yora tak pernah keluar dari kamar, jika makan hanya pelayan yang mengantarkannya, itu pun jika pelayan masuk ke kamarnya, ia hanya berpura-pura menonton film.


Ia tidak ingin siapapun mengetahui maksudnya. Waktu Yora sudah sangat terbatas, pasangan murahan itu sudah akan mengelar acara lamaran. Jika ia tidak menyelesaikan semuanya sebelum pernikahan pasangan murahan itu, rencana yang ia sudah susun diotaknya akan gagal.


Alan mengerutkan keningnya bingung, Yora benar-benar tidak menganggu ia dengan kekasihnya lagi, bahkan sudah berhari-hari Yora tidak pernah keluar dari kamar, saat ia bertanya kepada salah satu pelayan yang mengantarkan makanan, ia bilang Yora hanya menonton Film, Alan tidak terlalu mengambil pusing dengan sikap Yora. Ia hanya bersyukur Yora sudah dapat menerima ini semua.


Nanda dari tadi menelpon Putrinya, tapi tidak terhubung sama sekali. Ia merasa bingung karena Putrinya tidak pernah menonaktifkan handphonenya. Besok Nanda akan datang ke Villa Florence, ia tidak peduli dengan pemilik Villa itu dengan kekasihnya. Yang ia khawatirkan hanyalah Putrinya yang tidak pernah ia temui lagi selama berhari-hari.


Yora mengaktifkan kembali ponselnya, ia melihat ada puluhan panggilan masuk dari Mamanya, Yora hanya mengabaikannya. Ia lebih memilih untuk menelepon Rendy.


" Aku sudah selesai. " ucap Yora tanpa basa basi.


" Baik. " balas Yora sambil mematikan sambungan teleponya.


Yora akhirnya keluar dari kamar, ia ingin sedikit menghirup udara segar, ia berjalan menuju kolam renang. Yora menatap langit dengan raut wajah yang datar. Pikirannya berkecambuk tentang masalah dan tantangan yang akan ia hadapai.


" Tuhan tolong bantu aku. " batin Yora sambil perlahan memejamkan kedua matanya.


" Sepertinya aku yang menang. " sahut Retha yang datang tiba-tiba menganggu ketenangan Yora.


Yora hanya merasa kesal mendengar ucapan dari wanita yang ada disampingnya. Yora tidak berniat menjawab pertanyaan dari wanita murahan tersebut.


" Lihat, aku sudah memasuki Villa besar ini dan sebentar lagi aku akan menjadi Nyonya besar di Villa ini. " kata Retha Lagi.


" Kau akan menjadi anak tiriku dan kau harus menghormati aku anak manja. " kata Retha dengan nada yang mulai kesal karena Yora hanya diam tanpa menanggapi dirinya yang berbicara.


" Selamat atas kemenangan dirimu Ibu tiri. " sahut Yora sambil menatap dengan sorot mata merendahkan Retha.


Yora tidak ada waktu untuk menanggapi wanita murahan itu. la lebih memilih untuk masuk ke dalam kamarnya lagi.


Retha sebenarnya sangat terkejut, tidak biasanya Yora selalu bersikap tenang. Dulu jika ia bertemu dengan diriku, ia pasti akan marah dan ngamuk tidak jelas. Sekarang Yora tidak melakukan apapun kepada dirinya. Benar apa yang diucapan calon suaminya, kalo Yora sudah menerima dirinya menjadi bagian dari keluarga Florence.


Dikamar, Yora kembali membaca buku bisnis dengan serius. Besok ia harus melakukan semua dengan sempurna, ia akan menunjukan kepada seluruh karyawan, kalau dirinya sudah bukan Yora seperti yang dalu. Sekarang hanyalah Yora yang terlahir kembali.


Yora bangkit dari meja belajarnya, ia mengambil gunting lalu berjalan melangkah menuju kamar mandinya. Ia menatap dirinya dipantulkan cermin, raut wajah Yora yang tanpa ekspresi. la mengarahkan gunting itu ke rambutnya yang panjang, ia sudah memutuskan berubah, jadi dirinya pun harus berubah dan dimulai dari rambutnya.