Yora's Revenge

Yora's Revenge
Bab ≋51≋



Yora dengan tubuh yang sangat lelah, berusaha terbangun dari tidurnya. la baru tertidur saat jam 01.00 dini hari, pesta yang dibuat oleh para wanita murahan itu sangat menguras pikiranya, karena ia harus mengerjakan berkas dengan sangat segera, tapi terganggu dengan suara musik yang sangat keras dari pesta itu.


Dengan wajah yang lelah, ia segera membersihkan dan menyegarkan tubuhnya. Yora yang sudah rapi, segera turun menapaki anak tangga. Ia melihat lantai 1 masih terdapat sisa-sisa kotoran pesta tadi malam.


" Yora. " panggil Alan.


Yora yang melangkah ingin keluar terhenti saat suara yang sangat ia kenali memanggil namanya. Yora memutar tubuhnya tanpa bicara hanya menatap Papanya dengan raut wajah datar.


" Kenapa kamu setiap pagi selalu pergi? " tanya Alan yang bingung dengan Putrinya yang tiba-tiba selalu terbangun pagi hari, lalu selepas itu pergi tidak tau kemana.


" Bukan urusanmu. " kata Yora dengan nada datar.


" Aku ini Papamu Yora! " sahut Alan.


" Lalu kenapa? " tanya Yora.


" Tentu saja aku berhak mengetahui kamu mau pergi kemana. " ucap Alan.


" Kalau begitu aku juga berhak mengetahui saat kau berselingkuh. " timpal Yora dengan raut wajah dingin.


" Kita sudah sepakat untuk tidak membahas masa lalu lagi. " ujar Alan dengan tegas.


" Ya ya ya terserah dirimu saja dan aku pergi dulu. " ucap Yora dengan nada dingin lalu berjalan menuju ke tempat parkiran.


Para karyawan masih banyak yang belum tiba, karena memang Yora yang datang sangat kepagian. Yora sengaja datang lebih awal karena ia sangat fokus saat mengerjakan berkasnya di kantor. Ruangan tempat dirinya bekerja saat ini, masih sangat sepi. Yora pun melangkah menuju ke meja kerjanya dan segera mengerjakan berkas tersebut.


Waktu dengan cepat berlalu hingga tanpa sadar, para karyawan sudah banyak yang berdatangan. Mereka melihat Yora yang sudah datang sangat pagi dan langsung mengerjakan berkas itu. Yora hanya makan roti bakar dan minum kopi hitam saja untuk mengisi perutnya di pagi hari, ia sungguh sangat tidak punya waktu karena waktunya sudah sangat terbatas dan ia memang tidak ingin bersantai-santai seperti dulu yang sangat tidak punya tujuan hidup.


" Nona, Tuan Rendy memanggil anda. " kata Noah seketaris Rendy, yang membuat Yora sedikit terkejut.


" Siapa anda? " tanya Yora karena merasa sangat asing dengan wajah itu.


" Saya seketaris Tuan Rendy " sahut Noah dengan datar.


" Sampaikan kepada Tuan mu itu, aku akan datang dalam 5 menit. " ujar Yora.


Noah pun langsung pergi yang membuat Yora merasa sedikit kesal. Karena Tuan dan seketarisnya sama saja bikin hati sangat kesal dengan tingkahnya.


Yora mengingatkan para karyawan yang tergabung dari proyek kali ini, untuk segera cepat menyelesaikan tugas mereka masing-masing yang sudah dibagikan. Yora pun melangkah menuju ruang wakil presdir dilantai paling atas. Yora hanya melihat pria yang tadi mengaku sebagai sekretaris Rendy, Yora melangkah masuk di ikuti Noah tepat dibelakang.


" Ada apa memanggil ku? " tanya Yora langsung tanpa basa-basi.


" Duduklah disofa dulu. " sahut Rendy.


" Tanda tangani ini. " ujar Rendy yang menyerahkan dokumen tersebut kepada Yora.


Yora membukanya dan membaca dokumen itu dengan seksama, la cukup terkejut dengan tindakan Rendy. Didalam dokumen itu tertulis tentang perjanjian dirinya akan menikah dengan Rafto dan melahirkan seorang anak dan jika melanggar kontrak itu seluruh aset dan Perusahan Florence akan jatuh ke Rendy. Yora sungguh sangat tidak percaya dengan Rendy yang melakukan ini semua. Tapi hanya ini cara yang bisa ia gunakan untuk mencapai keinginannya dan hanya Rendy yang mampu melakukan itu semua.


" Apa sangat perlu? " ucap Yora dengan tegas.


" Tentu saja. " balas Rendy dengan tegas.


" Baiklah. " kata Yora lalu menambahkan tanda tangan miliknya.


Yora yang ingin pergi tapi tangannya digenggam oleh Rendy. Yora menatap Rendy dengan sorot mata yang bingung.


" Dan ada satu lagi yang harus kuberitahu ke kamu. " ujar Rendy yang membuat Yora duduk kembali seperti semula.


" Sebentar lagi akan ada rapat pemegang saham. " ucap Rendy.


" Lalu? " kata Yora yang masih bingung.


" Kita harus membujuk atau menghasut mereka tentang membahas pergantian posisi presdir, sebelum menguatan kembali posisi presdir atas nama Papamu itu. " ujar Rendy.


" Caranya? " tanya Yora.


" Mengumpulkan suara saham terbesar dari apa yang Papa mu punya sekarang. " ujar Rendy.


" Aku mempunyai 30% saham. " jelas Yora.


" Jika saham kita digabungkan akan menjadi 40%, setara dengan saham yang Om Alan miliki. " ujar Rendy.


" Dan sisanya kita harus menghasut atau membujuk mereka, maksud mu begitu Tuan Rendy. " kata Yora yang dibalas anggukan oleh Rendy.


" Tenang saja aku sudah mengatur semuanya. " ucap Rendy.


" Kamu beritahu semua jika ada masalah dan kita akan menyelesaikan secara bersama. " kata Yora lalu berdiri dan berjalan keluar dari ruangan Rendy.


" Sekarang Om Alan sedang melakukan apa? " tanya Rendy.


" Menemani wanita itu mencoba gaun pengantin. " ujar Noah.


" Tetap pantau orang disekitarnya, agar tidak memberitahu Om Alan kalau Putrinya akan melakukan akusisi jabatan. " perintah Rendy dengan sorot mata yang dingin.


" Baik. " sahut Noah lalu pergi keluar dari ruangan Tuannya.