
Devon hanya tersenyum saat melihat Putri dari Nanda yang tidak sabaran dan selalu saja memasang wajah jutek seperti itu.
" Aku akan membuat keluarga Lawrence mendukung mu sepenuhnya Yora, " kata Devon yang dibalas tatapan meremehkan dari Yora.
" Terima kasih atas perhatianmu, tapi aku tidak butuh bantuan mu. " tegas Yora.
" Kamu sangat percaya diri, seperti Ibumu Yora, " ujar Rendy dengan raut wajah tersenyum.
" Pewaris Lawrence adalah sahabatku, jadi aku tidak butuh bantuan. " ucap Yora.
" Anak nakal itu sahabatmu, Liam sedang melarikan diri dari Villa Lawrence karena sahabatmu itu ingin berkompetisi game. " ujar Devon.
" Kau mengenal Pewaris Lawrence? " tanya Rendy.
" Tentu saja, sangat kecil kemungkinan Liam bisa membantumu. " ucap Devon.
" Sudahlah, masih banyak berkas yang harus aku urus, aku permisi dulu, " sahut Yora yang sudah merasa sedikit kesal dengan semua perkataan omong kosong yang keluar dari mulut kekasih Mamanya.
Devon hanya tersenyum saat melihat kegigihan Yora yang sangat luar biasa.
Yora yang sudah berada diruangan miliknya, ia merasa kesal karena sahabatnya yang tidak kunjung datang padahal kata Oliv, ia akan tiba pagi hari ini.
Brak... Oliv masuk tanpa mengetuk pintu dulu, dengan nafas yang tersengal-sengal ia duduk dikursi yang tepat berhadapan dengan Yora. Dengan sangat berani Oliv meminum segelas air putih milik Yora.
" Lama sekali! " kesal Yora.
" Wah ngelunjak lu ya. Gue udah belain dari bandara langsung kesini buru-buru, liat sampai gue kaya orang habis berhubungan badan tau ngak banyak keringatnya, " ujar Oliv.
" Ya ya baiklah, lu udah ketemu si Liam? " ucap Yora tanpa basa basi.
" Udah. " sahut Oliv.
" Terus gimana kelanjutannya? " tanya Yora yang penasaran.
" Liam akan kembali ke Villa Lawrence, tapi dia bilang akan sangat ragu memilihmu karena lawanmu adalah Alan Papamu sendiri, " ujar Oliv.
" Dan dia juga menekankan kalau hanya kemungkinan kecil keluarga Lawrence bisa memilihmu, " ucap Oliv lagi.
" Liam kan pewaris sah Perusahaan Lawrence, jadi dia pasti bisa mendukungku dipemilihan presdir nanti. " sahut Eva.
" Kau tidak ingat Yora sahabat kita itu selalu membuat ulah, Mungkin Papanya Liam akan menghajarnya saat Liam kembali dan baru Liam bisa membantu kita sepenuhnya. " ujar Oliv.
" Waktu kita sedikit lagi Yora, jalan satu-satunya adalah Orang Tua Liam, " ucap Oliv sambil. menatap Yora yang sedang bersandar dikursinya.
Yora memejamkan matanya sambil bersandar dikursi kerjanya. la kira akan mudah karena Liam adalah sahabatnya, tapi itu semua tidak seindah yang ia bayangkan. Yora mengehela nafasnya, ia terlalu percaya diri kalau Liam bisa membantunya, hingga tidak memikirkan rencana cadangan.
" Apa gue jadi sugar baby Papanya Liam aja ya, biar dia mau bantu lu, " celetuk Oliv dengan santainya.
" Enggak usah gila deh. " ketus Yora.
" Lalu kita harus apa Yora? " tanya Oliv yang kesal karena ide briliantnya ditolak oleh Yora.
Oliv menatap dengan raut wajah yang bingung, akan pergerakan tiba-tiba Yora yang keluar begitu saja, dengan berlari seperti orang di kejar hantu saja.
Yora yang melihat Rendy sedang berada diluar kantornya, segera berlari kearahnya. Tubuhnya semakin dekat dengan Rendy.
" Hati-hati Yora, kamu bisa terjatuh nanti Yora. " ucap Rendy yang memengangi tangan Yora.
" Dimana Om Devon? " tanya Yora.
" Dia baru saja pergi tadi. " ucap Rendy.
" Terima kasih Rendy, " kata Yora lalu berlari pelan karena ia ingin mengejar kekasih Mamanya.
Yora dengan nafas yang tidak beraturan berusah dengan keras mengejar Om Devon yang baru saja turun dari lift. la berlari dengan lumayan cepat.
" Om Devon, " panggil Yora dengan sangat keras.
Untung saja kekasih Mamanya, tidak berjalan dengan sangat cepat. Hingga ia mampu mengejar pria dewasa itu. Devon yang merasa namanya terpanggil menengok ke arah suara yang memanggil dirinya. Ia melihat Yora yang sedang berlari pelan mengarah kepada dirinya.
" Jangan berlari dengan mengunakan sepatu tinggi itu, nanti kau terluka. " teriak Devon,
" Diam disitu, aku yang akan menghampiri dirimu, " teriak Devon lagi sambil berjalan menuju Yora.
Karena kaki Yora yang cukup merasa sakit, jadi ia menuruti perintah yang Devon bilang. Yora menengok saat bahunya disentuh dan ia melihat Rendy yang melakukannya.
" Kenapa kau berlari seperti itu? " tanya Rendy dengan nada yang khawatir.
" Mengejar pria itu, " tunjuk Yora ke Devon yang membuat Rendy menghela nafasnya.
" Kamu butuh sesuatu Yora, hingga mangerjarku sepeti itu? " tanya Devon.
" Iya. " sahut Yora.
" Apa? " tanya Devon.
" Aku butuh bantuanmu tentang keluarga Lawrence, " ucap Yora yang membuat Devon mengerti arah pembicaraan.
" Maaf atas sikapku tadi, " kata Yora yang membuat Rendy dan Devon menatap Yora dengan tajam.
" Aku akan membantu princessnya Nanda dan Devon, " kata Devon dengan girang yang membuat Yora terdiam, karena mendengar kata princess yang dilontarkan oleh Kekasih Mamanya.
la rindu dengan sebutan itu, dulu semua orang selalu memanggil dirinya seperti itu dan sekarang semua orang itu hanya berteriak dan marah. Yora hanya tersenyum masam dengan hidupnya.
" Putriku kakinya terluka, " kata Devon yang heboh saat menatap kaki Putrinya Nanda.
" Duduklah dulu. " ucap Rendy yang membantu Yora ke ruang tunggu di lobi.
Yora tersenyum saat kekasih Mamanya cukup perhatian akan dirinya. la menatap sorot mata Om Devon, seperti seorang Ayah yang khawatir Putrinya terluka. Mata itu malah membuat Yora ingin menangis karena sorot mata itu bukan dari Ayah kandungnya sendiri.