
Rendy membuka pintu mobil dan menggendong Yora. la menyuruh seketarisnya Noah untuk menelepon dokter. Rendy menaiki anak tangga dan membuka pintu kamar Yora dengan bahunya. Ia menaruh Yora diatas ranjangnya dengan hati-hati. Rendy menatap raut wajah Yora dan mengusap lembut pipi Yora. Rendy sungguh sangat marah mengingat kembali apa yang telah dilakukan pria itu kepada Yora. la akan menghancurkan bibir pria itu nanti.
" Yora, kamu kenapa sayang? " Ucap Nanda yang datang dengan raut wajah yang cemas.
Nanda mendekat ke arah putrinya. Air matanya keluar saat melihat putrinya tergeletak tidak berdaya. Nanda menatap Putrinya sambil mendengar semua penjelasan dari Rendy tentang apa yang telah terjadi kepada Yora. Hati Nanda yang sebagai ibu hancur, ia merasa bersalah karena tidak bisa menjaga Putrinya.
" Aku akan menghabisi kedua wanita murahan itu. " Ucap Nanda dengan sorot mata tajam.
Nanda melangkah keluar dari kamar Yora. Tapi tangannya digenggam, Nanda menatap orang sudah berani mengenggam dirinya untuk menghabisi kedua wanita itu. Nanda menatap Devon orang yang sudah berani mencegahnya.
" Minggir. " Ucap Nanda dingin dengan sorot mata menatap tajam Devon.
" Tenanglah Nanda. " ujar Devon dengan tangan yang masih mencengkram.
" Bagaimana aku bisa tenang, jika putriku... " Nanda tidak bisa melanjutkan perkataanya lagi.
" Urusan kedua wanita itu aku akan urus, Yora butuh kamu sebagai ibunya, Nanda. " tutur Devon.
" Lihat Putrimu butuh kamu, jadi tetaplah disamping Yora. " kata Devon lagi.
Nanda menoleh menatap putrinya yang masih memejamkan matanya. Benar apa yang dikatakan Devon, ia harus bersama putrinya. Nanda kembali mendekati Yora sambil memegang telapak tangan Putrinya. Nanda menangis dengan pelan, hatinya benar-benar hancur.
" Dimana dokternya, Noah? " Ucap Rendy yang sangat kesal karena dokter tidak kunjung datang.
" Sebentar lagi dokternya akan datang Tuan. " balas Noah.
" Rendy aku perlu bicara sama kamu. " Ucap Devon dengan pelan.
Rendy meminta izin kepada Aunty Nanda untuk keluar sebentar. la mengikuti Devon menuju dapur yang berada dilantai 1.
" Ada apa? " Ucap Rendy langsung tanpa basa-basi.
" Liam mencarimu diclub tapi tidak ada dan dia kesini tapi aku menyuruhnya untuk menjaga para pria kotor itu. " tutur Devon menjelaskan kepada Rendy yang masih menunjukan raut wajah yang penuh amarah.
" Iya. " Balas Rendy yang sangat tidak mood untuk berbicara.
" Apa yang akan kamu lakukan kepada pria menjijikan itu? " tanya Devon dengan mata yang fokus menatap Rendy.
" Menghancurkan seluruh tubuh pria gila itu dan juga aku akan menghancurkan mereka hingga kedua wanita murahan itu tersiksa. " tutur Rendy yang membuat Devon sedikit terkejut.
" Yora baik-baik saja, dia akan bangun jika obat biusnya sudah hilang. " perkataan dokter membuat seluruh orang yang berada dikamar Yora benafas lega.
Alan memarkirkan mobilnya dibasement apartement. la keluar dari mobil langsung menuju lift, saat di lift pikirannya mengingat kembali kejadian yang sangat membuat dirinya takut. Alan merasa sangat aneh dengan perkataan Rendy tadi. Kenapa ia harus bertanya kepada Retha dan Ibunya, apa mereka memiliki sangkut paut terhadap kejadian Yora hari ini.
Tanpa sadar lift sudah sampai dilantai yang mana unit apartementnya berada. Alan menghelas nafasnya dalam-dalam dan mengeluarkannya. Ia menekan password pintu dan Alan memasuki kamar untuk mencari keberadaan istrinya.
" Retha! " teriak Alan sambil terus mencari-cari keberadaan Retha.
" Iya. " sahut Retha yang datang dari kamar mandi dengan wajah yang senang.
Alan mengerutkan keningnya bingung, tentu saja dirinya bingung. Kemarin ia bertengkar dengan Retha dan istrinya itu pergi meninggalkan apartement. Tapi sekarang Retha kembali dan seperti tidak terjadi apapun antara dirinya dengan Retha.
" Kenapa kamu tersenyum? " Ucap Alan dengan tatapan selidiknya.
" Orang bahagia pasti tersenyum dong. " ucap Retha sambil menuju ke dapur.
" Terjadi sesuatu kepada Yora. " kata Alan sambil melirik Retha.
" Jika negatif aku ingin mendengarnya. " seringai Retha.
" Apa kau yang melakukannya? " tanya Alan.
" Kamu menuduhku? " Ucap Retha dengan wajah yang merah.
" Aku hanya ingin memastikan saja. " tutur Alan.
" Tapi kamu menuduhku Alan! " teriak Retha.
" Aku hanya bertanya kenapa kamu marah! " Alan balas teriak kepada Retha.
Alan mengatur emosinya, ia sudah tua jadi tidak ingin marah-marah terus. Karena tidak baik untuk kesehatannya. Alan menutup gendang telinganya karena Retha terus saja mengoceh, tentang dirinya yang tidak terima dituduh melakukan sesuatu kepada Yora. Handphone miliknya bergetar, ia mendapatkan pesan dari nomer tidak dikenal. Mata Alan membulat sempurna setelah melihat video yang ia ketahui dari Devon setelah melihat mukanya diakhir video.
Jari-jemari Alan terkepal, ia sungguh marah dan kecewa. Dirinya melangkah mendekati Retha dengan raut wajah yang marah.
Plak....