
Yora melangkah menuruni anak tangga, ia melihat sekilas kalau para pelayan yang ia suruh sudah selesai melakukan pekerjaan dengan sangat baik. Saat ia memasuki dapur ia melihat Retha yang sedang menyiapkan sarapan pagi. Yora hanya menatap sinis saat wanita murahan itu melakukan yang la perintahkan.
Yora memanggil para pelayan yang ia suruh tadi, lalu menyuruh mereka untuk duduk dimeja makan dan memakan-makanan yang sudah disiapkan oleh Nyonya baru Florence. Yora memaksa mereka yang takut akan ajakannya, tapi akhirnya mereka menuruti dirinya juga.
Retha berusaha menahan kesabarannya saat ia diperlakukan seperti pembantu oleh Yora dan para pembantu yang asli malah menikmati makanan yang ia buat, lalu duduk dimeja makan majikannya.
" Apa lihat-lihat kau tidak suka? " tanya Yora dengan sorot mata menatap Mira yang sedang membantu Putrinya.
" Ah, tidak-tidak, " balas Mira dengan raut wajah tersenyum yang membuat Yora menatapnya dengan sinis.
Yora tidak makan masakan ibu tirinya, karena ia sangat jijik memakan-makanan dari tangan wanita murahan itu.
" Yora, " panggil Retha dengan lembut.
" Hm. " balas Yora yang sangat malas.
" Aku ingin mengurus ibuku yang sudah tua, jadi izinkan ibuku tinggal disini. " kata Retha dengan raut wajah yang lembut sambil menatap Yora.
Yora yang mendengar perkataan itu, hanya menatap malas ibu tirinya. la sangat yakin kalau muka yang ditampilkan wanita murahan itu adalah palsu. Yora diam semantara sambil menatap nenek tua itu dengan tajam, lalu menatap Retha.
" Kumohon, " ucap Retha sambil mengatupkan kedua telapak tangannya.
" Kamu sekarangkan adalah cucuku, masa kamu tega ninggalin nenek tua ini sendirian dirumah itu, " ujar Mira dengan raut wajah lesuh dan sedih.
Sungguh dalam hati Yora sangat tidak peduli, mau mati atau hidup itu bukan urusannya. Yora masih bimbang apa ia harus mengizinkannya tinggal disini atau tidak. Mungkin suatu hari nanti nenek tua itu bisa ia manfaatkan.
" Baiklah, Nenek tua boleh tinggal disini malam ini. Jika kau bertindak baik seharian ini, aku akan mengizinkan mu tinggal disini lebih lama, " ujar Yora yang membuat Retha dan Mira tersenyum senang.
" Tentu saja. " sahut Mira dengan raut wajah tersenyum.
" Besok aku memutuskan kau tinggal disini atau kau harus kelaur dari Villa milikku ini, jadi bertindaklah baik selama aku pergi bekerja. " tegas Yora sambil menunjuk Mira dengan sangat kasar.
" Iya. " timpal Mira.
" Kalian berdua bereskan piring ini! " perintah Yora ke Retha dan Mira.
Yora menatap mereka dengan sinis saat lagi-lagi mereka mengikuti perintah dirinya. Ia sungguh senang membuat orang yang dicintai oleh Papanya menderita. Yora yang entah kenapa sangat malas hari ini, meminta supir untuk mengantarkan dirinya ke Perusahaan Florence.
la memasuki Perusahaan Florence dengan sangat elegan, yang membuat para karyawan menatap kagum akan perubahan drastis anak dari pemilik Perusahaan ini. Yora memasuki kantornya sambil menunggu kedatangan sahabatnya yang menjadi seketaris dirinya.
Tok...Tok...
" Baiklah, aku akan kesana. " balas Yora.
Yora menekan tombol liftnya yang akan membawa dirinya keruang wakil presdir. Saat ia sudah sampai melihat, Yora melihat dari kejauhan kalau ada kekasih Mamanya yang datang ke ruangan Rendy. Yora melangkah semakin cepat karena penasaran akan kedatangan pria itu. Tanpa mengetuk pintu Yora memasuki ruangan milik Rendy, lalu segera duduk tepat dihadapan kekasih Mamanya yang tingkahnya sangat santai.
" Hai Yora, lama tidak jumpa. " sapa Devon yang hanya dibalas senyuman oleh Yora.
" Kenapa dia ada disini, " ucap Yora tanpa basa basi sambil menatap Rendy.
" Karena dia yang kita butuhkan, " kata Rendy yang malah membuat Yora mengerutkan keningnya karena bingung.
" Dia hanya seorang fotografer, jadi tidak berguna Rendy, " balas Yora sambil menatap malas kekasih Mamanya.
Devon hanya tertawa saat mendengar penuturan dari Putrinya Nanda.
" Dia itu bukan fotegrafer biasa Yora. " ucap Rendy lagi.
" Katakan dengan detail akau tidak paham! " kesal Yora.
" Baiklah, aku saja yang menjelaskan, " ucap Devon saat melihat Rendy seperti ingin menjelaskannya.
" Yora, kau lupa kalau aku pernah bilang akan memberikan Perusahaan Florence untuk mu, " ucap Devon dengan raut wajah yang mulai serius.
" Omong kosong. " balas Yora.
" Daaron Florence, " timpal Devon yang membuat Yora menegakan tubuh saat mendengar nama kakeknya disebutkan.
" Kau mengenalnya? " tanya Yora.
" Sangat mengenalnya. " balas Devon.
" Siapa kau sebenarnya? " tanya Yora.
" Aku dikirim kakekmu untuk memberikan kebahagian yang tidak kau dapatkan dari Papa mu itu. " kata Devon.
" Apa maksud mu? " tanya Yora lagi.
" Cinta dan kasih sayang, " kata Devon dengam raut wajah yang kembali tidak serius.
" Berhentilah bencanda, aku tidak punya waktu untuk itu! " kesal Yora.