
Yora menatap kekasih Mamanya, ia sangat bingung dengan Om Devon yang mencampuri urusan keluarga dirinya. Tapi saat menatap Papanya la juga ingin membuat Papanya marah.
" Dengar Yora, aku mengetahui kamu ingin mengambil seluruh milik Papamu karena wanita itu dan Yora aku akan mengajarkan kepadamu cara menyakiti Papamu secara hati dan jiwanya. " ujar Devon yang membuat Yora hanya terdiam.
Devon melangkah bersama Yora dengan tangan yang masih merangkul Yora dengan sangat lembut. Ia akan menujukan kepada pria itu apa artinya sebuah keluarga.
" Hei, jangan menyentuh Putriku! " ucap Alan saat melihat Putrinya dirangkul oleh kekasihnya Nanda.
" Apa masalahmu Tuan. " kata Devon seakan menantang Alan.
" Dia itu Putriku! " tegas Alan sambil menarik tangan Yora tapi ditepis oleh Yora yang membuat Alan seketika membeku ditempat akan penolakan dari Putrinya.
" Lihat Yora lebih memilih bersamaku Tuan. " ledek Devon yang membuat Alan hanya terdiam dengan sorot mata menatap Putrinya.
" Yora. " panggil Alan dengan suara lembut.
" Kita pergi Ayah. " ujar Yora yang membuat kedua pria dewasa itu terkejut akan ucapan tiba-tiba Yora.
" Ah, iya iya. " kata Devon sambil beranjak pergi untuk keluar dari Perusahaan Florence.
Entah kenapa hati Alan merasa bagaikan tersayat pisau akan perkataan Putrinya tadi. la sungguh sakit hatinya saat Yora Putri kecilnya lebih memilih bersama kekasih Mamanya dari pada dengan dirinya. Alan dengan raut wajah yang sedih, melangkah memasuki kantornya karena ia ingin mengagalkan rencana Yora mengambil posisinya miliknya.
Yora menepis rangkulan pria tua kekasih Mamanya itu. Karena dramanya sudah berakhir dan ia tidak mood untuk makan ia lebih memilih melangkah pergi. Tapi saat ia ingin melangkah tanganya digenggam oleh Om Devon yang membuat Yora menatap tajam matanya.
" Omong kosong. " tegas Yora seraya menepis tangannya yang digenggam oleh Om Devon.
" Lihat saja nanti. " balas Devon.
" Cih, aku sudah mempunyai Rendy yang akan membantu ku Tuan dan aku akan mengambilnya dengan usaha ku sendiri. " ujar Yora lalu melangkah pergi meninggalkan Devon.
" Aku akan memberikan kebahagian untuk Nanda dan Yora, seperti perintahmu. " batin Devon sambil melihat kepergian Yora.
Alan yang berada diruangannya dengan mata yang fokus melihat berkas-berkas yang diberikan oleh seketarisnya. la sangat terkejut kalau Yora mempunyai 30% saham Florence, Alan sangat tidak menyangka kalau Ayahnya memberikan saham itu atas nama Yora. la benar-benar sangat bingung karena waktunya sudah sangat terbatas, Alan harus memutar otaknya karena sebentar lagi pemilihan Presdir selanjutnya.
" Karena sibuk mengurus pernikahan dengan Retha, disini sudah sangat kacau dan ditambah dengan kemunculan pria yang tidak tau diri itu. " frustasi Alan dengan semua yang terjadi.
" Kenapa kau memberikan semua sahammu kepada Yora, Ayah kau membuat kami saling melawan. " batin Alan.
Yora hanya duduk ditaman sambil melihat orang berlalu-lalang. Yora sangat ingin menangis dengan semua yang terjadi, ia tidak bisa seperti yang lain bermain bersama teman-teman dan berjalan-jalan dengan kekasihnya. Kenapa Tuhan memberikan keluarga seperti ini kepada dirinya, dulu ia kira keluarga Florence yang akan menjadi keluarga bahagia. Tapi semua itu hayalah mimpi seorang anak yang tidak akan pernah terjadi.
" Mungkin dengan cara mengambil semuanya, hati dan pikiranku akan merasa puas. " batin Yora.
" Mungkin juga Orang Tuanya akan melihat dirinya lagi dan mungkin dengan cara itu semua Orang Tuanya tidak perlu bekerja lagi. " ujar Yora sambil terkekeh akan nasib hidup yang ia jalani ini.