
Devon menarik tangan Nanda dan Yora lalu beranjak keluar dari restaurant. Sebelum Devon keluar, ia menatap Alan dengan tajam dan ia tersenyum puas karena ia membawa Nanda dan Yora.
Alan mengepalkan jemarinya dengan sangat kuat. la melihat Yora dan Nanda sudah dibawa keluar oleh pria yang tidak bermoral itu. Alan memegang tangan Rendy dan menatapnya.
" Kalian mempermainkanku, Rendy. " kata Alan sambil menahan amarahnya.
" Kau juga mempermainkan kami Om, ingat kau dulu selalu bersama dengan wanita yang kau cintai itu, sekarang Yora dan Nanda bersama dengan orang yang mencintainya dengan setia. " balas Rendy lalu menepis dengan kasar genggaman tangan Omnya.
Alan duduk dengan pandangan kosong, ia tak tahu harus melakukan apa sekarang. Hanya dirinya yang tersisa dimeja penuh makanan ini dan orang-orang menatapnya dengan tatapan kasihan. Alan tidak menyangka, ia kira keluarganya yang dulu sudah bisa menerimanya lagi. Tapi dirinya dipermainkan oleh mereka dan yang membuat dirinya marah adalah pria itu. Alan sangat yakin kalau ini semua adalah karena pria itu yang sudah menghasut Yora, Nanda dan Rendy.
Alan keluar dari restaurant dengan tubuhnya yang lemas. la memasuki mobil dan merenung di dalam mobil. Alan rela meninggalkan Retha karena Yora dan Nanda, tapi mereka malah mempermainkan dirinya. Alan harus memikirkan cara agar Retha tidak marah dan curiga kepadanya, jika Retha tahu tentang kejadian ini Alan akan semakin pusing dengan amukan dari istrinya.
...----------------...
Dilain tempat. Devon membawa mereka ke restaurant mewah yang mana didalam ruangan itu sudah terdapat Liam dan Oliv.
Nanda dan Devon sudah memasuki ruangan yang di pesan khusus oleh Devon. Yora tidak segera masuk, la menarik Rendy untuk ikut bersamanya. Rendy hanya mengikuti kemana Yora membawanya. Yora menarik Rendy menuju jendela besar restaurant mewah itu. Yora membuka ponsel miliknya dan tersenyum puas karena vidio yang dikirim Aunty Lina sangat bagus.
Yora benar-benar merasa sangat bahagia, ia memutarnya secara ulang-ulang saking puasnya. Rendy yang melihatnya hanya bosan dan meminta Yora untuk segera menyelesaikannya. Yora pun mengikuti perintah dari Rendy, ia mengirimi vidio yang direkam oleh Aunty Lina waktu mereka merayakan ulang tahun Papanya ke wanita murahan itu. Yora sangat yakin kalau wanita hina itu, pasti akan mendidih dan meledak-ledak amarahnya. Membayangkan saja sudah membuat hati Yora sangat bahagia.
Rendy yang melihat Yora yang masih saja senyum-senyum, menarik tangan Yora dengan paksa karena ia sangat yakin kalau orang yang berada diruangan sudah menunggunya dengan Yora. Benar saja tebakan Rendy, mereka semua sudah menunggu. Yora duduk disamping Mamanya, sedangkan Rendy duduk disamping Yora. Devon, Liam dan Oliv berada didepan mereka.
" Ma, sudah aku kirim, " bisik Yora ke Mamanya.
Nanda hanya tersenyum mendengar perkataan Putrinya. la yang merencanakan semua ini, sekali-kali ia harus memberikan mantan suaminya dan wanita itu pelajaran. Nanda tidak habis pikir dengan otak dari mantan suaminya, ia tidak bodoh hingga tidak mengetahui kalau mantan suaminya ingin kembali bersama.
Nanda menerima tawaran Devon tepat tadi pagi, la sebenarnya sangat malas dengan ajakan Devon, tapi kata Yora dan Rendy dirinya harus menerima karena Devon sudah banyak membantu Yora dan Rendy. Jadilah sekarang Nanda sedang duduk tepat dihadapan Devon, yang ia ketahui paman dari Liam, lebih jelasnya adik dari ibunya Liam. Nanda juga baru tahu kalau Devon bukan seorang fotografer, ia melakukan itu hanya untuk bersenang-senang saja. Selebihnya Devon harus kembali mengurus perusahan yang mana dulu diurus oleh ibunya Liam.
" Terima kasih untuk kalian semua, karena sudah ingin datang ke acaraku ini, " ungkap Devon dengan senyum terpasang jelas di wajahnya.
" Halah paman biasanya juga kaya gini, pasti ada maksudnya juga kan. " celetuk Liam sambil memakan makannya.
Devon rasanya ingin memukul kepala konslet keponakannya. Tapi ia harus menjaga image di depan Nanda dan Yora.
" Yora, Rendy kalian silahkan pesan. " tutur Devon kepada Yora dan Rendy yang mana datangnya sedikit telat ke dalam ruangan.
Canda tawa hanya mengisi ruangan itu. Yora menatap semua orang dengan bahagia, ia tidak pernah merasakan lagi perasan seperti ini. Yora menatap Rendy dengan senyumnya yang cerah, hingga membuat Rendy mengerutkan keningnya karena bingung.
" Apa? " bingung Rendy.
" Apa Mama dan Om Devon cocok? " ungkap Yora.
" Tidak tahu. " balas Rendy dengan acuh.
" Ish cocok atau engga? " kesal Yora.
Rendy mengeser kursi hingga sangat dekat dengan Yora, ia mengarahan wajahnya ke Yora, yang membuat tubuh Yora malah seketika mundur karena ulah Rendy. Mata Yora membulat saat dagunya di tarik oleh Rendy, ia ingin menampar Rendy karena berbuat aneh didepan orang banyak. Yora tidak tau kenapa memejamkan matanya, sepertinya ia mengira kalau Rendy akan menciumnya tapi Rendy malah mengarahkan mulutnya ke telinga miliknya.
" Sebelum kamu mencocokkan orang lain, lebih baik urus hubungan kita. " bisik Rendy.
" Urusan apa? " tanya Yora yang berbisik juga.
" Ingat perjanjian pernikahan yang telah kita buat, setelah kau mendapatkan status mu itu. " bisik Rendy dengan senyum puas melihat keterkejutan Yora.
" Ekhem, ingat waktu kalau mau bermesraan. " celetuk Liam dengan raut wajah yang santai.
Rendy kembali ke posisi duduknya semula, sambil menatap tajam sahabat Yora yang berada dihadapannya ini. Rendy menatap sekilas wajah Yora yang sepertinya sedang bingung karena ucapan tiba-tiba dirinya.