WUMMM

WUMMM
87. Panggil Aku dengan Akrab



"apa-apaan ini ?.... kenapa bisa ini terjadi ? ... " kata lompo sambil melihat Identitas barunya yang tercetak di KTP yang saat ini berada di tangan kanannya. kedua matanya melotot dan terlihat tidak ikhlas dengan apa yang tercantum di atas KTP tersebut


"maaf kan aku kak lompo, aku sudah memasukkan datamu dengan benar sesuai permintaanmu tapi siapa sangka pegawai kecamatan melakukan kesalahan fatal seperti itu" elte berkata dengan ekspresi bersalah.


"apakah bisa kau membantuku mencetak kembali KTP dengan data identitas yang sesuai dengan permintaanku ? " ratap lompo dengan penuh harap.


"tentu bisa kak tapi untuk proses cetaknya mungkin agak lama.... aku juga kurang paham kenapa pembuatan KTP di kecamatan lama sekali, alasannya selalu kekurangan material dari pusat" elte hanya bisa berkata jujur dan berharap lompo mau menerima kenyataan


"tapi.... tapi... akukan sudah bilang kalau bisa identitas baruku sebagai akbar chandra bukan akrab mandra" kata lompo sambil  mengingat sebuah drama komedi masa kecil mereka saat masih di panti. dia bukannya tidak suka dengan nama akhirnya cuman mengingatkannya dengan sebuah komedian yang cukup lucu dan menjadi julukan lompo saat kecil.


"hehhh... apakah ini sudah suratan takdir ya.... atau kah.... kau mungkin yang sengaja menyabotase KTPku untuk mengingatkan masa kecil kita di panti" kata lompo menatap elte.


"tentu tidaklah... sekali lagi maaf kak... aku juga tidak pernah menduga ada kesalahan cetak padahal jika data yang sudah ku input melalui proses hack di server mereka langsung di print harusnya kejadian ini tidak akan terjadi"


"saat aku memonitoring lewat CCTV kantor, aku menyaksikan bahwa operator yang akan mencetak KTP kak lompo lagi asyik nonton drama komedi tempo dulu. aku sendiri tidak tahu tujuan operator itu, apakah karena tidak fokus ataukah iseng"


elte mencoba menjelaskan kenyataan yang membuat lompo hanya bisa pasrah menerima identitas barunya. jika ditunda-tunda lagi, takutnya proses pendaftaran masuk sma akan tertunda lagi bulan depan. proses pendaftaran bisa tertunda karena elte akan segera ke jepang menemani ayah angkatnya.


"jadi untuk ujian paket A dan paket B yang kau usulkan sebelumnya, bagaimana hasilnya ? terus bagaimana dengan perbedaan nama identitasku" lompo akhirnya mulai belajar ikhlas menerima identitas barunya sebagai akrab mandra.


"untuk ujian paket A dan paket B, kakak dinyatakan telah lolos dan saya sudah update datanya langsung ke server panitia."


"bisa diupdate langsung ya.... trus kalau datanya ternyata bisa dihack langsung ke server ngapain juga repot-repot ikut ujian ?" kata lompo sambil menghembuskan nafasnya.


"eh... iya ya.... nggak kepikiran" batin elte dalam hati.


"oh iya sebaiknya kak lompo bersiap-siap.... sejam lagi orang tua yang telah aku sewa sebagai wali kakak akan datang untuk menemani kak lompo mendaftar."


"jangan lupa ya berkas-berkas pendaftaran yang diperlukan telah aku simpan di dalam map plastik di atas meja belajar. dan mulai sekarang kak lompo akan aku panggil sebagai kak akrab"


elte mengalihkan pembicaraan mereka dan berusaha menyemangati lompo yang masih belajar menerima nama barunya.


"yah... kau benar... cukup panggil aku dengan akrab.... tidak usah secara lengkap"


.........


di dalam hutan aokigahara tepatnya di desa shinobi yang tersembunyi, ayumi farayaka sedang berdiskusi dengan ayahnya selaku kage.


"Anakku... mengapa kau ingin menguji murid dan sushi tetsu teriyaki, bukannya ia sudah menyelamatkan desa kita" kata sang kage masih belum memahami pikiran anaknya.


"aduh  ayah.... makanya jangan terlalu sering nonton sinetron telenovela di tv.... jadinya sikap ayah terlalu naif.... bukankah terlalu kebetulan jika orang asin itu datang menolong beberapa saat setelah terjadi penyerangan ?"


"coba ayah renungkan... darimana para penjahat itu bisa tahu posisi desa? dan kenapa juga orang asin itu ingin mempertaruhkan nyawanya menolong kita ? pasti ada niat tersembunyi"


"tapi bukankah orang asin itu adalah murid dari sushi tetsu teriyaki, salah satu orang yang cukup dihormati di desa ini" sang kage mencoba membela orang asin itu.


"oleh karena itu ayah... aku ingin mengujinya, jika ia bisa menaklukan seranganku maka ia pantas mengajar seni bela diri kungfu ninja di desa ini. tapi kalau ternyata ia kalah melawanku maka dapat dipastikan bahwa kemenangannya melawan para penjahat hanyalah sandiwara." kata ayumi dengan tatapan tegas.


"terus bagaimana dengan sushi tetsu teriyaki ? ia pasti akan membela muridnya" tanya sang kage yang masih berharap bahwa pemuda itu dapat meluluhkan hati putrinya, walaupun ia juga sedikit termakan akan pendapat putrinya.


"ayahku sayang.... coba pikirkan, jika aku saja ia tak bisa kalahkan, bagaimana mungkin ia bisa menang melawan beberapa penjahat dengan kemampuan diluar nalar. jika paman sushi tetsu teriyaki ikut campur maka dapat dipastikan jika beliau adalah pengkhianat desa. apalagi paman tetsu memiliki catatan sejarah sebagai keturunan dari seorang kultivator dari cina. bisa jadi ia ingin menumbalkan desa agar dapat kembali bergabung ke keluarga dari pihak ayahnya."


cukup lama sang kage termenung mencerna penjelasan putrinya hingga beberapa menit ia kemudian, ia hanya bisa mengangguk pasrah. "semoga apa yang kita takutkan tidak terjadi".


.........


Hiruk pikuk terdengar samar di dalam sebuah kelas. terlihat yuni dan ruri masruri sedang asyik bergosip tentang hal yang tidak penting dijelaskan. beberapa senyum manis dan tawa canda juga menghiasi kedua sudut bibir mereka. Di sudut lain di kelas yang sama, masih terlihat kursi kosong milik dudung yang masih dalam masa perawatan akibat kecelakaan mobil yang terjadi diakhir episode 76 sebelumnya. Ketidakhadirannya tidak mempengaruhi rutinitas kelas disaat kelas lagi kosong. Beberapa murid wanita malah merasa bersyukur karena beberapa hari itu terasa tenang tanpa ada rasa was-was sedang ditatap mesum secara sembunyi-sembunyi.


"tap...tap...tap..tap" terdengar suara langkah mendekati pintu dan secara ajaib suasana kelas langsung berubah senyap menunggu pintu kelas yang sengaja di tutup rapat dibuka oleh pemilik langkah tersebut.


"ceklek" seperti itulah kira-kira suara gagang pintu yang dibuka oleh guru wali kelas mereka. tidak lama masuklah seorang guru wanita yang diikuti seorang pemuda berkulit putih namun dengan wajah khas indonesia bagian tengah.


"Selamat pagi anak-anak" terdengar suara lembut sang guru menyapa murid-muridnya


"pagi bu" teriak semua murid secara serentak.


"hari ini kita kedatangan murid baru dan selanjutnya akan menjadi teman kalian. ayo mandra silahkan perkenal dirimu"


serentak suasana kelas sedikit heboh mendengar nama murid tersebut.


"namanya kok sama dengan komedian ya, mungkin emaknya lagi ngidam sama itu komedian saat lagi hamilin dia kali" terdengar suara candaan di telinga lompo yang kini harus pasrah menggunakan identitas barunya.


"teman-teman... perkenalkan nama saya ......"


"akrab mandra tapi kalian semua bisa panggilan saya dengan akrab" kata lompo mengeraskan suaranya.


"apalah arti sebuah nama, kehidupan pasca penculikan lebih menyeramkan.... hehehe... dibully di kelas karena hanya sebuah nama... lihat saja siapa yang berani membullyku seperti waktu kecil... aku akan memberinya pelajaran etika" tegas lompo menguatkan hatinya.


"kamu bisa memanggilku dengan akrab" kata lompo kepada ruri masruri yang juga ketua kelas.


"iya... bagaimana kami memanggilmu dengan akrab" tanya ruri lebih lanjut.


"ruri... nama lengkapnya akrab mandra, sepertinya dia lebih suka dipanggil dengan nama akrab daripada mandra" terdengar suara murid pria dibelakang menjawab pertanyaan ruri dan disambut dengan tawa murid-murid sekelas.


"sudah-sudah.... sekarang akrab kamu silahkan duduk dikursi kosong dibelakang sana, sebenarnya kursi itu ada yang punya tapi saat ini masih istirahata di rumah sakit. nanti petugas sekolah akan membawa kursi baru di samping kursi itu." terdengar suara lembut sang guru menenangkan kelasnya.


lompo berjalan menuju bangku yang telah ditunjuk sebelumnya, ia menatap sinis murid pria yang tadi menertawakannya. bertahun-tahun hidup sebagai prajurit khusus dibawah asuhan para mafia rusia, membuat gengsinya tidak mengizinkan siapapun membullynya.


"eh songong banget tuh anak baru" bisik teman yang berada disamping murid yang ditatap sinis oleh lompo.


"nanti aja kite kasih pelajaran... kalo sekarang kan selain ada bu tari mentari, ada juga elte jagoan kelas kita... dia kan paling tidak suka dengan penindasan" jawab murid tersebut dan ditanggapi dengan anggukan.


elte lebih memilih diam karena masih merasa bersalah atas kekeliruan identitas kakak angkatnya. ia tahu betul bahwa lompo pasti merasa kesal karena teringat julukan bullyan saat masih di panti asuhan. lompo dberikan julukan mandra, karena lompo sebelumnya anak supir pemilik transportasi umum angkutan kota (angkot) dimana mobilnya sangat mirip dengan mobil yang dibawah sang komedian. jika saja orang tua lompo tidak kecelakaan karena mengendarai angkot sambil mabuk, para anak-anak tetangga pasti tidak akan berani membully lompo.


Selesai perkenalan kelas, sang wali kelas ijin pamit keluar karena guru yang akan mengajar telah menunggu di depan kelas. Setelah beberapa jam belajar di kelas, waktu istirahat pun tiba. Setelah guru kelas keluar, lompo atau akrab berdiri mendekati murid yang tadi meneriakinya.


"buk..." suara gebukan yang muncul dari kepalan tangan yang bertemu dengan wajah, memancing perhatian seluruh kelas. nampak sang murid yang dipukul telah terduduk diatas lantai dengan darah yang berceceran di sekitar lubang hidungnya.


"kak lompo.. eh... akrab apa yang kau lakukan" elte segera menarik tangan lompo yang masih ingin memukuli wajah murid tersebut.


"Мне не нравятся шутки. (mne nay nravyatsya shutki : aku tidak suka dengan leluconnya)" jawab lompo dengan datar sambil menggunakan bahasa rusia.


"Помните, что теперь вы новый человек. (pomnite, chto teper vy novy celovek : ingat, kau sekarang orang yang baru)"elte berusaha menenangkan lompo dengan bahasa yang sama.


murid-murid yang masih ada di kelas hanya terpelongok mendengar komunikasi yang terdengar asing.


"eh... kok ngomongnya kayak kartun marsha and the bear" bisik yuni ke telinga ruri.


Lompo menatap elte sejenak, lalu keluar kelas. Sedangkan elte hanya menghembuskan nafasnya mencoba memaklumi suasana hati lompo yang mungkin masih belum terbiasa bersikap seperti anak seumurannya. Ia lalu membantu murid yang masih mengaduh kesakitan menuju ke ruang UKS.


"apa gue bilang... jangan macam-macam dengan orang baru loh" murid yang sebelumnya membisik dan mengompori temannya yang barusan dipukul akhirnya menasehati teman-teman kelasnya yang lain.


"iya benar, sepertinya ia kenalannya elte, kayaknya jago bahasa asing... kalo tidak salah tadi sepertinya bahasa thailand ya" jawab murid yang lain yang ikut menonton adegan tadi.


"bukan... itu bukan bahasa thailand... itu terdengar seperti bahasa prancis" jawab murid yang sebelumnya membisik dan mengompori temannya.


"itu bukan bahasa prancis... itu bahasa rusia... bahasa komunikasinya antara marsha and the bear" kata ruri selaku ketua kelas dan penggemar film kartun marsha and the bear.


murid-murid yang lain mengangguk semakin kagum tanpa mengingat kondisi temannya yang barusan dipukul oleh lompo.


"aduh... sepertinya jago berkelahi, jago bahasa asing, badannya juga bagus.... udah punya pacar nggak ya ? semoga belum deh" bisik seorang murid wanita yang diangguki murid wanita lain.


Sementara itu lompo berjalan tanpa tahu arah tujuan. ia belum terlalu mengenal suasana sekolah. saat matanya menatap kantin dari kejauhan, ia tidak sengaja menabrak seorang murid wanita yang sedang asyik bercerita dengan temannya.


"aduh..., apaan sih, kalo punya mata, dipake dong..." terdengar suara lembut tapi tegas dari murid wanita itu, tanpa sadar pikiran lompo teralihkan mendengar suara wanita itu.


"hera.. lo nggak apa-apa kan... " tanya diah sinta risanti yang ikut kaget karena temannya ditabrak oleh lelaki yang tidak ia kenal.


Melihat lelaki yang menabraknya diam saja, hera yang sepertinya sedang PMS pun tidak terima. Sebagai salah satu murid pelatihan di kepolisian khusus, ia yakin dapat memberikan pelajaran bagi murid yang dianggap sombong itu.


"plak... bukk..." terdengar suara tangkisan dari kaki hera dan tangan lompo. walalupun mendadak mendapatkan serangan, lompo yang sudah memiliki pengalaman bertarung secara reflek menangkis dua serangan beruntun dari gadis manis yang sempat mengalihkan dunianya.


Mengetahui serangan-serangannya ditangkis dengan mudah, hera semakin emosi dan menyerang lompo dengan lebih ganas.


"hentikan... apa-apaan ini" terdengar suara dari geo petri aritmawan selaku guru matematika yang paling disegani.


Emosi hera yang sudah mengebu-gebu tiba-tiba lenyap dan berubah menjadi rasa takut karena didapat berkelahi di sekolah.


"hera dan juga kau....? kalian berdua yang barusan berkelahi, ikut aku sekarang menujun ruang BK" kata pak geo tegas dan berjalan duluan menuju ruang BK.


Hera dan diah hanya terdiam lemas. "hiks-hiks... bagaimana ini diah, kalo gue kena skorsing, nanti ibu gue kecewa lagi sama gue"


lompo makin terhipnotis melihat gadis manis yang tadinya emosional dan galak bagaikan singa hutan tiba-tiba berubah menjadi kelinci yang imut dan manis.


"sudah-sudah.. ayo sekarang menuju ruang BK, nanti gue yang jadi saksi loe" kata diah menenangkan temannya dan berjalan duluan sambil memeluk temannya meninggalkan lompo yang masih terkesima.


"apa-apaan ini.... apakah ini yang namanya cinta pada pandangan pertama..." gumam lompo sambil memegang dadanya yang terasa berdetak kencang. tak ingin kehilangan jejak wanita itu, ia pun berjalan mengikuti gadis itu menuju ruang BK.


Sementara itu, elte yang melihat dari kejauhan, hanya bisa terpelongok tanpa daya. "apa-apan nih si lompo, baru hari pertama sudah bikin kehebohan. sudah mukulin orang tanpa alasan, berkelahi dengan wanita dan sekarang berurusan dengan BK lagi.... apa yang harus kulakukan".


Sementara itu di ruang BK... guru matematika, guru BK, diah sinta risanti dan hera iskandar hanya terpelongok melihat seorang pemuda berbicara menggunakan bahasa rusia dengan lancar. diakhir omongannya yang tidak dipahami, pemuda itu mengulurkan tangannya ke hera dan berkata dengan sok cool nya, "hai panggil aku dengan akrab".