
Elte berlari kencang sambil mengambil tiga paku dari portal kecil yang ia buat tersembunyi di balik jaketnya, kemudian ia melompat dan melempar ke tiga paku itu ke targetnya masing-masing.
"Booomm..... Booomm..... Boommm....." begitulah kira-kira bunyi ledakan tiga buah batu besar karena lemparan tiga paku secara bersamaan.
Elte lalu berlari ke sungai di tengah hutan lalu mengambil kembali sebuah paku dari portal dimensi yang tersembunyi di balik jaketnya, ia lalu melempar paku tersebut ke seekor ikan sehingga ikan tersebut menggelepar sesaat lalu mati.
Elte lalu mengangkat ikan itu melalui telekinesis yang terhubung ke paku yang sudah ia aliri energi elemen eather.
Elte menemukan satu teknik baru dimana paku yang sudah dialiri energi elemen aether, dapat ia kendalikan dari jarak jauh. Elte menyebut teknik ini dengan nama "Paku Peluru Kendali".
Dengan teknik baru ini, elte bisa mengatur arah lemparan paku ledakan yang meleset agar kembali menyerang target.
Elte lalu mengumpulkan semua pakunya dengan telekinesis dan menyimpannya kembali ke portal dimensi yang terhubung ke markasnya.
Elte lalu mengumpulkan kayu kering dan membuat bola api di tanganya untuk membakar kayu agar dapat dipakai membuat ikan bakar rica-rica.
"Tuutt ... tuuttt.....Tuutt ... tuuttt...." begitulah kira-kira bunyi dari smartphonenya.
Elte tersenyum melihat ada videp call dari tunangannya. Ia lalu menerima dan terkejut melihat isinya. Kedua matanya melotot dan kedua tangannya mengepal menahan marah...
[FLASHBACK 45 MENIT YANG LALU...]
"Tok tok tok tok..." seperti itulah kira-kira bunyi ketukan pintu di kamar elte.
"Tok tok tok tok... Tok tok tok tok..." yuni mengetuk pintu elte lebih keras
"Mbak yuni.... kayaknya tadi nak elte keluar.... katanya mau pergi latihan" suara bu ani mirani terdengar dari belakang yuni.
Yuni yang mendengar penjelasan bu ani lalu pergi keluar rumah
"Mbak yuni.... mau kemana.... saya antar ya mbak.... " kata supir mereka, menawarkan jasanya
"Nggak usah pak.... kan nanti mau jemput ayah pulang kantor.... saya naik taksi online saja pak" kata yuni sambil pergi terburu-buru.
Saat taksi online telah tiba.... yuni melihat lagi alamat yang diberikan oleh nomor tersebut... nomor yang mengaku sebagai pacar dari tunangannya dan di situ terkirim sebuah foto dimana tunangannya sedang tidur bersama dengan selingkuhannya.
Jika saja yuni mau berpikir tenang, ia akan menyadari bahwa foto itu adalah hasil editan, dan lagi, harusnya yuni curiga saat orang yang mengirim foto tersebut, tidak mau menerima panggilan telepon dari yuni kecuali lewat pesan teks.
Warjono menemukan ide untuk mendapatkan nomor yuni dengan cara membully teman kelas yuni saat masih SMP dan merampas handphone beserta passwordnya. Ia lalu mencari nama dari tunangan elte yang sudah dikenal sebagai anak pengusaha entertainment.
Teman SMP yuni yang di bully itu hanya bingung saat handphonenya dikembalikan dan ia tidak tau apa yang dicari oleh para preman itu.
Saat yuni tiba di sebuah lorong sepi di belakang sekolahnya, tiba-tiba beberapa pria datang membekapnya dengan sebuah sapu tangan yang sudah diberi obat tidur.
Dengan menggunakan mobil carteran, yuni di bawa kabur ke luar kota.
Saat tiba di sebuah gedung yang tidak terpakai dan jauh dari keramaian, yuni diletakkan di atas pembaringan.
"Wah mantap nih bos.....ABG... anak baru gede ....." kata salah satu anggota warjono sambil membuka bajunya sendiri
"Sabar coy... nggak asik kalo digarap saat lagi tidur.... bangunin tuh trus ambil hapenya dan minta passwordnya... trus lo siapin obat perangsang campur obat kuat... biar dia kuat main sama kita semua...." kata warjono memerintah semua anak buahnya
Yuni terbangun beberapa menit kemudian saat sebuah tangan menampar pelan pipinya.
Saat kesadarannya sudah pulih ia kaget melihat kondisinya sedang terikat dan didepannya sudah ada sekitar sepuluh pria bertato dan mulut berbau alkohol sedang menatapnya
"Halo gadis manis.... sudah bangun ya.... sekarang kasih tau abang dong password hapenya..."bujuk warjono sambil tersenyum jahat
"Siapa kalian.... TOLONG... TOLONG... TOLONG..." yuni berteriak panik minta tolong, badannya gemetar ketakutan dan air matanya menetes dikedua pipinya
"PLAK..." seperti itulah kira-kira suara tamparan yang diberikan warjono ke pipi kiri yuni
"Woi .... mau dikasarin ya, cepat berikan pasaword hape" bentak warjono mulai tidak sabar
Yuni menangis terisak sambil menyebut password hapenya
"Hahahaha....Ok coy sekarang suntik dia dengan obat perangsang dan obat kuat supaya pestanya bisa dimulai" kata warjono yang membuat yuni kaget lalu berteriak minta tolong ketakutan.
Ia berusaha meronta-ronta melepaskan diri, baginya lebih baik ia mati dibunuh dari pada kehormatannya di rusak. Yuni berteriak terus hingga suaranya berubah parau.
Kekuatannya sebagai gadis kecil tidak mampu melawan sepuluh pria dewasa. Obat perangsang dan obat kuat yang sudah dicampur, berhasil disuntikkan ke lengan yuni.
Yuni hanya bisa menangis histeris menahan kesadarannya saat tubuhnya mulai panas menggelinjang, dan melihat salah satu pria itu mulai merekamnya.
[FLASHBACK OFF...]
Elte mengaktifkan persepsi eksternalnya mendeteksi cincin giok di jari yuni yang sudah diberikan segel penanda. Ia lalu membuat portal dimensi dan berteleportasi ke lokasi yuni berada.
Saat tiba di sana, ia melihat sembilan pria sedang menggerayangi tunangannya dan satu orang masih asyik merekam aktifitas teman-temannya.
"Ehem...." teriak elte memberi tanda sambil mengambil tiga paku di ruang dimensinya
Kesepuluh preman itu menoleh dan terkejut melihat elte dibelakang mereka.
"Boomm.... boomm.... boommm..." tiga kepala dari preman itu meledak terkena paku ledakan yang dilemparkan oleh elte.
Tujuh preman yang masih hidup terkejut melihat ketiga tubuh temannya terjatuh tanpa kepala. Mereka serentak berdiri hendak melarikan diri tanpa baju.
Namun tiba-tiba tubuh mereka terjatuh bersimpuh ke lantai karena merasakan tekanan gravitasi yang meningkat berlipat-lipat.
"Boomm.... boomm.... boom..." lagi-lagi tiga kepala dari preman itu meledak terkena paku ledakan yang dilemparkan oleh elte.
Walaupun mereka preman yang jahat dan suka membully korbannya. Tapi seumur hidup mereka belum pernah melihat orang terbunuh di depannya.
Yang ada dipikiran mereka hanya rasa takut dan penyesalan karena telah mencari lawan yang salah.
"Boomm.... boomm.... boommm..." lagi-lagi tiga kepala dari preman itu meledak terkena paku ledakan yang dilemparkan oleh elte.
Warjono yang masih hidup berusaha minta maaf dan minta tolong diampuni tapi suaranya tidak bisa keluar karena ketakutan. Hanya air mata yang menetes di kedua pipinya.
Elte lalu membaca pikiran warjono tentang apa yang terjadi, mengapa tunangannya bisa berada di tempat ini.
Setelah mengetahui apa yang terjadi. Elte lalu mengambil satu paku dari ruang dimensinya... sempat ada pikiran ingin menyiksa penjahat ini terlebih dahulu.. namun segera ia tepis pikiran itu karena bagaimana pun kematian yang cepat itu lebih baik daripada mati tersiksa.
"Boommm.... " kepala warjono juki sang kepala preman lorong depan sekolah meledak terkena paku ledakan yang dilemparkan oleh elte.
Elte lalu mengambil hp yuni dan melihat isi video hasil rekaman tersebut. Elte sedikit bersyukur karena tidak datang terlambat. Ia sedikit ingin berterima kasih ke preman itu karena menyempatkan diri untuk mengirim video yuni yang sedang digerayangi dengan baju yang sudah sobek.
Apa jadinya jika preman itu tidak mengirimkan video ini tepat waktu. Elte bergidik ngeri membayangkan hal itu, ia lalu menghapus semua foto dan video yang mendokumentasikan aksi hari itu. Ia juga mengambil semua handphone milik para preman itu dan memeriksa galerynya. Walaupun handphone mereka memiliki password, tapi elte bisa menembusnya dengan kemampuan persepsi. Ia lalu memeriksa di gedung itu apakah ada cctv merekam atau tidak. Ia sedikit trauma dengan keteledorannya tiga tahun yang lalu.
Elte lalu mengangkat semua mayat preman itu dengan telekinesis dan menyimpannya di ruang dimensi pribadi.
Setelah yakin sudah tidak ada bukti. Ia menghampiri tunangannya yang sedang terikat dengan gaya dan tatapan menggoda.
Elte yang sudah mengetahui kondisi yuni lewat pikiran warjono tentang obat perangsang dan obat kuat, segera melepaskan semua ikatan tali di tubuh yuni.
Setelah semua ikatan terlepas, yuni yang sudah teransang berat segera berlari memeluk dan meraba-raba tubuh elte.
Walaupun yuni sudah tidak bisa mengendalikan tubuhnya karena rasa panas dan gatal di sekitar ke****annya, ia masih bisa melihat apa yang terjadi.
Air mata ketakutan kini berubah menjadi air mata kebahagiaan. Yang ada di pikiran yuni saat ini adalah memberikan kehomatannya segera ke tunangannya. Ia sangat takut kehormatan itu direbut oleh pria lain.
Elte yang membaca pikiran yuni, segera memeluk tubuh tunangannya. Ia segera mengaktifkan kemampuan persepsi internal untuk memeriksa keanehan pada tubuh yuni.
Dari hasil persepsinya ia melihat bahwa obat itu sedang menyerang syaraf yang dapat memicu keinginan untuk berhubungan badan.
Ia lalu menggunakan elemen cahaya dan persepsi internal untuk menyembuhkan kondisi tunangannya.
Setelah mengeluarkan semua obat itu dari tubuh yuni, elte lalu membuat portal dimensi dan membawa yuni pergi ke gubuk rahasia di dalam goa di tengah hutan. Tidak mungkin mereka kembali ke rumah dengan kondisi tersebut.
Setelah tiba di gubuk yang sudah direnovasi oleh elte. Ia membaringkan tubuh yuni di atas tempat tidur. Ia merasakan pelukan yuni semakin erat.
Yuni merasa siap untuk memberikan kehormatannya dan mulai menggoda tunangannya.
Elte yakin kalo harusnya yuni sudah sembuh dan tidak terpengaruh oleh efek obat, tetapi yuni masih tetap memeluknya dengan erat dan nafasnya masih tidak stabil menahan hasratnya.
Hasrat yang muncul dari dalam hati yuni bukan lagi karena pengaruh obat tetapi karena murni perasaan cinta, perasan sayang, perasaan takut kehilangan, perasaan rindu, dan sedikit nafsu ingin berhubungan badan dengan elte.
Elte pun sangat menikmati pelukan dan ciuman dari tunangannya, namun saat itu elte tidak memiliki niat untuk mengambil kehormatan tunangannya karena rasa takut kehilangan dan besarnya rasa cinta, rasa sayang, rasa kagum dan rasa hormat kepada tunangannya yang mau menerima dirinya yang dulu apa adanya bukan ada apanya.
"Yuni.... maaf sebelumnya atas semua kekurangan yang saya miliki.... namun di dalam lubuk hati ini, telah lahir rasa kagum atas kesempurnaanmu, rasa nyaman atas perhatianmu, rasa rindu atas cemburu butamu, .... selama ini kita tunangan karena keinginan orang tuamu .... dan hari ini ijinkan saya memohon kepadamu.... jadilah pacarku.... jadilah tunanganku.... jadilah istriku kelak.... jadilah menantu dari orang tuaku.... jadilah ibu dari anak-anak kita nantinya.. " elte kembali mencoba menyampaikan isi hatinya kepada yuni.
Krik...krik...krik...krik..... suasana gubuk hanya ditemani suara jangkrik. Elte melirik ke wajah tunangannya yang masih ada dalam pelukannya
"Yah.... sudah tidur.... gagal lagi menembak yuni" kata elte dalam hati
......... ....... ........
Dua jam kemudian dan waktu telah menunjukkan pukul 19:00 WIB. Di sebuah gubuk di dalam goa yang ada di tengah hutan, terdengar dengkuran halus dari seorang gadis yang sedang beranjak dewasa.
Kedua matanya pelan-pelan terbuka dan berkejap-kejap sesaat untuk menyesuaikan pandangan di lingkungan yang baru. Ia melihat bajunya sobek dan ada sebuah tangan melingkar di perutnya dari belakang.
"Aaaaaaaa......." yuni berteriak kaget dan melompat dari tempat tidur. Ia kembali terkejut melihat elte yang masih tertidur pulas di atas pembaringan itu. Yuni lalu berusaha kembali mengingat kejadian yang telah menimpanya beberapa jam yang lalu. Tangan kecilnya seketika menutup mulutnya saat ingatannya telah pulih.
Elte yang sayup-sayup mendengar suara tunangannya dari alam bawahnya sadarnya, mengkerutkan keningnya karena khawatir, ia segera berkonsentrasi untuk kembali ke alam sadarnya.
Saat elte kembali tersadar, ia melihat yuni yang masih terlihat syok menutup mulutnya.
"Sayang kamu sudah bangun..." tanpa sadar elte memanggil tunangannya dengan panggilan sayang.
"Apa.... apa yang terjadi, kenapa kita bisa ada disini.... " yuni masih ingat ketika elte datang menyelamatkannya dari kasus percobaan pemerkosaan yang hampir menimpanya.
Namun ia ragu atas ingatannya dimana elte membuat sebuah portal aneh dan membawanya ke gubuk yang sekarang ia tempati.
Elte yang mengerti dengan apa yang dipikirkan yuni, merasa bingung dan tidak tahu harus bagaimana menjelaskannya.
Saat di alam bawah sadarnya, ia sempat berdiskusi dengan sang phoenix tentang rahasia mereka yang terancam bocor. Ia tidak ingin menghapus ingatan yuni dengan bantuan sang phoenix karena tidak ingin menyebabkan gurunya itu tertidur lagi selama lima tahun.
"Ini smartphone yuni.... mungkin ada baiknya yuni mengabari ayah dan ibu yuni agar tidak khawatir di rumah." Elte memberikan smartphone yuni dan berusaha menenangkan yuni dengan suara lembut.
Yuni kemudian berlari memeluk dada elte dengan erat lalu mencium bibir tunangannya.
"Maafkan aku....hiks hiks hiks ... maafkan aku, tubuhku kini sudah kotor" yuni menangis terisak-isak mengingat tubuhnya yang sudah digerayangi boleh banyak pria lain.
Elte hanya bisa terdiam ikut memeluk yuni dengan erat. Walaupun kehormatan tunangannya berhasil diselamatkan, namun gadis mana yang rela tubuhnya digerayangi oleh pria yang bukan suaminya.
"Yuni.... maaf sebelumnya atas semua kekurangan yang saya miliki.... namun di dalam lubuk hati ini, telah lahir rasa kagum atas kesempurnaanmu, rasa nyaman atas perhatianmu, rasa rindu atas cemburu butamu, .... selama ini kita tunangan karena keinginan orang tuamu .... dan hari ini ijinkan saya memohon kepadamu.... jadilah pacarku.... jadilah tunanganku.... jadilah istriku kelak.... jadilah menantu dari orang tuaku.... jadilah ibu dari anak-anak kita nantinya.. " elte kembali mencoba menyampaikan isi hatinya kepada yuni.
"Aku mau... aku mau... aku mau menjadi pacarmu, tunanganmu, istrimu, menantu dari orang tuamu dan ibu dari anak-anak kita kelak" yuni menjawab permohonan elte sambil meneteskan air matanya.
"Yes... akhirnya saya berhasil menembak yuni secara langsung..." ucap elte dalam hatinya sambil tersenyum bahagia.