
Esok paginya setelah yuna, yuni dan elte berangkat ke sekolah di antar supir. Pak karya menghampiri kakaknya dan kakak iparnya.
"Kak jaya.... aku akhirnya mengerti alasan kakak, kakak ipar dan yuni memiliki kekaguman pada elte"
"Semalam, elte memberikan sebuah solusi sederhana yang tidak dapat kami selesaikan bersama tim dalam waktu yang cukup lama."
"Anak itu mampu membuka keegoisan kami sebagai peneliti senior, yang ingin terlihat hebat, membuat sesuatu yang canggih"
"Aku menyarankan agar nanti kalo elte kuliah agar mengambil jurusan teknik, aku yakin dengan kejeniusannya, anak itu bisa menjadi insinyur yang jenius. Akan banyak kampus besar, tempat riset, atau para konsultan yang tertarik mengajak elte untuk bekerja sama"
Kata pak karya yang membuat kedua pasangan itu merasa terancam kalau investasi masa depan mereka akan di rebut.
"Tidak bisa.... elte akan aku masukkan di jurusan ekonomi dan bisnis... dan mengajari anak itu membuka usaha di bidang kesehatan dan obat-obatan"
"Aku yakin anak itu kelak bisa menjadi pengusaha yang menuju puncak kejayaannya"
Kata pak jaya memotong penjelasan adiknya
"Papa ini gimana sih.... elte itu harus masuk jurusan kedokteran... supaya nanti anak itu bisa jadi dokter yang hebat dan membantu banyak orang-orang yang membutuhkan"
Bu yuyun ikut memotong penjelasan suaminya.
"Lho bukannya kakak ipar hanya ibu rumah tangga... elte tidak akan bisa berkembang jika tidak dibimbing langsung" kata pak karya agak bingung dengan sikap proteksi dari pasangan itu
"Untuk masalah bimbingan khusus...aku akan meminta adikku, yeyen, untuk membimbingnya menjadi dokter yang hebat" sindir bu yuyun dengan membanggakan adik kandungnya sebagai dokter spesialis yang terkenal di kota itu. Dokter yang juga adik kandung bu yuyun itu, bahkan diminta secara khusus untuk menjadi Dosen Luar Biasa (DLB) di kampus ternama di kota yang sama.
Mendengar nama gadis pujaannya disebut oleh kakak iparnya, pak karya hanya bisa terdiam tidak berani melawan.
Pak jaya yang tidak berani melawan keinginan istrinya, namun, belum rela melepas anak yang akan menjadi asetnya menuju puncak kejayaan, memberikan sebuah masukan
"Begini saja....bagaimana kalo kita bertaruh secara adil..... kita akan bergantian membimbing elte sesuai bidang ilmu yang ingin kita arahkan..."
"kelak kita harus menerima pilihan elte untuk masuk jurusan teknik, kedokteran atau ekonomi dan bisnis".
Pak karya dan bu yuyun terdiam sejenak memikirkan ide tersebut. Mereka bertiga lalu berdiskusi cukup lama hingga mencapai sebuah mufakat.
Hari senin dan selasa, pak jaya akan membawa elte ke perusahaannya untuk menarik minat elte agar kuliah di fakultas ekonomi dan bisnis.
Hari rabu dan kamis, giliran bu yuyun akan membawa elte ke rumah sakit untuk dibimbing oleh adiknya, dokter yeyen.
Hari jumat, sabtu dan minggu, pak karya akan membawa elte ke laboratorium yang ada di kampusnya di ibu kota dengan menggunakan pesawat.
Mereka semua sepakat agar menerima pilihan elte dalam menentukan jurusannya saat kuliah nanti. Mereka sepertinya lupa bahwa elte baru kelas dua SD dan perlu juga menikmati masa kanak-kanaknya.
Pada malam harinya, setelah makan, pak jaya menyampaikan hasil mufakat mereka ke elte. Elte yang bisa membaca pikiran mereka semua mengangguk setuju karena tidak merasakan niat buruk dari pikiran mereka semuanya.
Yuna dan yuni sedikit protes karena mereka selaku anak kandung yang sah, tidak pernah diajak ke kantor apalagi ke kampus pamannya.
Pak jaya lalu meneriman yuna untuk ikut belajar di kantor, karena bagaimanapun, yuna adalah ahli warisnya kelak.
Sedangkan yuni masih sangat kecil jadi dia malas mengajak yuni. Padahal elte juga kan anak kecil.
Bu yuyun akan mengajak yuni menemani elte sedangkan yuna tidak berminat mengikuti ibunya ke rumah sakit. Bu yuyun juga berencana sesekali akan mengajak mereka ke restaurant temannya agat elte mau belajar masak.
Bu yuyun ingin calon menantunya dapat menjadi sosok suami yang sempurna buat anak bungsunya kelak
Sedangkan pak karya tidak mau mengajak yuna dan yuni karena nanti cuman jadi beban. Kedua ponakannya itu pasti tidak betah di laboratorium dan merengek diajak jalan-jalan.
Yuna mulai membenci kehadiran elte di keluarganya.
Ia tidak habis pikir kenapa hampir seluruh keluarganya mengagumi anak yatim, mantan pemulung sampah itu.
Ia merasa yakin bahwa anak itu kemungkinan besar menggunakan pelet atau guna-guna untuk menguasai hati dan pikiran keluarganya.
Ia takut kalo anak itu berencana merebut harta warisan orang tuanya seperti film-film sinetron yang pernah ia tonton bersama keluarganya.
Namun rasa tidak senang itu mulai hilang berganti rasa kekaguman akibat suatu kejadian di kantor ayahnya.
Saat itu yuna bersama elte pergi ke kantor ayahnya diantar supir sepulang sekolah. Setelah memasuki ruangan kantor ayahnya. Kakak kandung yuni itu merasa bingung tidak tahu mau kerja apa.
Berbeda dengan elte yang asyik menyibukkan dirinya dengan membaca buku di rak buku yang ada di ruangan tersebut.
Selain membaca buku tentang ekonomi, manajemen, bisnis, politik, dan buku-buku otobiografi orang-orang terkenal, elte juga sering mendatangi para pekerja yang sedang beristirahat untuk berkonsultasi.
Saat yuna asyik bermain game di smartphonenya, pintu ruangan ayahnya terbuka dan beberapa artis terkenal asal korea yang menjadi idolanya terlihat memasuki pintu tersebut.
Pak jaya dan para artis asal korea itu berencana akan melakukan rapat tentang kontrak kerja sama dengan bantuan seorang penerjemah bahasa korea asal indonesia.
Saat ayahnya dan artis-artis itu akan memulai rapatnya, tiba-tiba sang penerjemah bahasa indonesia korea merasa perutnya melilit sakit sehingga ijin ke toilet.
Ruangan itu seketika hening karena artis-artis dari korea itu tidak mengerti bahasa indonesia sedangkan pak jaya dan yuna tidak tahu bahasa korea.
Karena sang penerjemah cukup lama menderita diare di toilet kantor, para artis itu pun bergosip tentang pelayanan pak jaya yang dianggap kurang profesional.
Elte yang sudah menguasai bahasa korea dan masih asyik membaca buku, kurang senang calon mertuanya dijadikan bahan gosip mereka.
Elte lalu meminta untuk tidak bergosip di depan orang yang digosipinya menggunakan bahasa yang tidak dipahami oleh korban gosip tersebut.
Elte menyindir mereka kalo di negara indonesia itu dianggap hal yang sangat tidak sopan.
Mendengar anak kecil dengan perkiraan umur sekitar enam tahun dan bisa bahasa korea, para artis tersebut kaget dan kagum kemudian mengajak elte berbicara. Mereka minta maaf atas ketidaksopanan mereka menceritakan pak jaya.
Sehubungan dengan kehadiran elte yang bisa menggantikan sang penerjemah, rapat diskusi antara pak jaya dan para artis kembali dilanjutkan dan berjalan lancar.
Sementara itu sang penerjemah yang kabur dengan pura-pura sakit diare, menelpon seseorang yang merupakan saingan pak jaya dan mengabari bahwa saat ini pak jaya pasti sedang bingung dan tidak mungkin mencari penerjemah baru diwaktu singkat.
Sang penerjemah itu yakin bahwa kontrak kerja sama para artis itu dengan pak jaya akan batal dan akan beralih ke saingan bisnis yang telah membayarnya cukup mahal.
Dengan suksesnya kontrak kerja sama ayahnya dengan para artis korea, melalui bantuan penerjemah oleh elte, membuat yuna akhirnya ikut kagum dan ingin belajar bahasa korea ke elte.
Mendengar permintaan yuna, elte hanya bisa mengangguk setuju untuk memberi privat bahasa korea ke yuna.
Dengan menggunakan metode belajar yang dikembangkan sendiri oleh elte, yuna dapat belajar dengan cepat apalagi yuna seorang pelakor atau PEnikmat LAgu KORea.
Esok harinya di hari rabu, bu yuyun bersama elte dan yuni diantar oleh supir ke rumah sakit tempat adiknya bekerja.
Bu yeyen sangat senang melihat keponakannya, yuni, datang bersama kakak kandung yang sangat ia hormati.
Setelah ia mengetahui niat kakaknya untuk membimbing elte yang ia tidak kenal sama sekali, bu yeyen menolak permohonan kakaknya.
Tante dari yuna dan yuni itu beralasan bahwa proses perawatan pasien tidak bisa dilakukan sambil menjaga anak kecil.
Bu yuyun kemudian memohon ke adik kandungnya untuk membawa elte ke kampus tempatnya mengajar jika jadwal mengajarnya tiba.
Bu yuyun bahkan berakting dengan mengancam adiknya bahwa ia akan memutuskan tali persaudaraannya jika bu yeyen masih menolak.
Bu yeyen akhirnya menyetujui permohonan kakaknya dengan terpaksa, dengan syarat kakak dan ponakannya ikut datang menjaga elte yang ia tidak kenal.
Setelah melihat kondisi adiknya yang tiba-tiba sibuk di rumah sakit, bu yuyun memutuskan untuk ke restarurant milik kedua sahabatnya yakni Saniah sri ranjani dan Sherli siliviana.
Saniah sri ranjani adalah ibu dari lani sermani, teman yuni, dan juga istri dari seorang pemilik museum bernama sermani sombagaligo, yang akan melakukan acara pelelangan beberapa minggu lagi.
Sherli siliviana adalah ibu dari lina serlina, teman yuni, dan juga istri dari seorang arkeolog bernama arca nico sina, yang telah memimpin timnya menemukan candi dengan kotak peti berisi sembilan mutiara.
Melihat kedatangan sahabat dan mantan ketua kelas mereka sejak SD, ibu saniah dan ibu sherli sangat senang dan menyambut bu yuyun bersama putri bungsunya.
Bu yuyun lalu memperkenalkan calon mantunya pada kedua sahabatnya yang sudah tidak kaget lagi karena telah tahu sebelumnya dari konferensi pers yang diadakan oleh pak jaya.
Bu yuyun memohon agar kedua sahabatnya sudi mengajari calon mantu mereka untuk belajar memasak di restaurant mereka sebagai koki bantu.
Kedua sahabatnya itu pun mengangguk setuju bahkan senang bisa mendapakan pekerja gratis.
Elte lalu dibawa ke dapur untuk belajar bersama para koki, sedangkan bu yuyun dan yuni diajak ke ruangan khusus VIP.
Elte mengamati para koki bekerja, elte mengaktifkan kemampuan persepsinya untuk membaca pikiran para koki yang ada di dapur. Dengan melihat langsung para koki bekerja dan membaca pikiran mereka, elte dapat menyerap pengetahuan memasak milik para koki tersebut.
Namun meski demikian, elte tetap harus mempraktekkan teknik memasak agar tubuhnya dapat terbiasa dengan wawasan kuliner yang baru ia pelajari.
Elte mencoba cara memotong dan mengupas bahan dengan cepat dan cantik.
Elte belajar membuat bumbu masakan dan saus. Elte juga mencoba memasak menggunakan api yang panasnya sesuai.
Setiap masakan koki, ada yang sudah siap, elte meminta agar ikut mencicipinya.
Dengan mengaktifkan kemampuan persepsinya, elte berusaha mendeteksi bahan-bahan dan bumbu yang telah digunakan serta membayangkan resep atau cara masak dari masakan tersebut.
Elte bisa lebih cepat memahami cara masak menggunakan kemampuan persepsi, karena elte juga banyak bertanya kepada para koki tersebut tentang nama dari bahan dan bumbu masak yang digunakan.
Elte diajarkan untuk mengenali jenis bumbu dengan mengenal bentuk dan bau dari bumbu tersebut.
Setelah selesai belajar masak, elte berinisiatif untuk mencuci piring kemudian menyapu dan mengepel lantai.
Keceriaan, kerajinan dan sikap sopan yang ditunjukkan oleh elte, menjadi oase bagi para koki yang jenuh dengan keseharian mereka.
Pada hari jumat setelah pulang sekolah. Pak karya dan elte akan ke bandara untuk berangkat ke ibu kota.
Setelah dua jam lebih mereka di pesawat. Mereka turun dari bandara menuju kampus tempat pak karya mengajar. Mereka langsung ke laboratorium "Robotika dan Kontrol Cerdas" untuk melakukan riset penelitian yang baru.
Saat ini mereka mendapatkan hibah proyek penelitian, dari kerja sama indonesia dengan jepang dan jerman, riset penelitian ini tentang pembuatan hologram 3D dengan menggabungkan teknologi virtual reality dan augmented reality sebagai dashboard atau Human Machine Interface (HMI).
Hasil riset ini akan digunakan untuk berbagai kebutuhan seperti untuk membantu presentasi dengan visualisasi hololgram, simulasi beberapa pelatihan maupun komunikasi dengan visualisasi yang lebih real.
Masalah terbesar anggota tim adalah karena beberapa dokumen Request For Proposal atau RFP dari owner dan end user, masih menggunakan bahasa negara mereka masing-masing.
Elte yang telah memahami bahasa jepang dan jerman serta tulisan kanji, hiragana dan katakana, memutuskan untuk membantu tim sebagai penerjemah tulisan
Pak karya dan para anggota tim sangat terkejut dan kagum dengan kemampuan elte.
Dengan memahami tujuan pengguna atau user goal, para tim lalu berdiskusi untuk menyelesaikan rancangan mereka.
Kegiatan elte selama seminggu bersama pak jaya, pak karya, bu yuyun, bu yeyen, para pemilik restaurat dan tim peneliti, dimanfaatkan oleh elte sebaik-baiknya untuk mengembangkan kecerdasan dan kekuatan mentalnya.
Di sela waktu ia juga menyempatkan dirinya untuk memberikan privat kepada yuna dan yuni agar melatih kemampuannya merangkum materi yang ia sudah pelajari menjadi materi sederhana yang dapat mudah dipahami oleh orang lain.
Sang phoenix belum mengizinkan elte untuk berkultivasi melatih kemampuan sihir pengendali elemennya, karena elte belum bisa menguasai teleportasi dan segel penanda.
Teleportasi dapat digunakan untuk kabur, jika elte bertemu dengan keluarga penjaga pusaka yang memiliki kekuatan yang lebih hebat dan tidak bisa dikendalikan oleh telepati
Segel penanda dapat digunakan untuk menandai orang atau tempat sehingga dapat menjadi tujuan teleportasi.
Segel penanda juga dapat digunakan untuk memanipulasi informasi dari tingkat kultivasi dan jenis elemen sehingga dapat menyembunyikan diri dari deteksi batu pengukur.