WUMMM

WUMMM
75. Terlalu banyak Rencana



Mobil pak jaya yang disupiri oleh pak jarwo kini sudah tiba di rumah milik almarhum bapak yusuf abdi negara. Hera, elte dan yuni turun dan masuk ke dalam rumah tersebut. Pak jarwo menunggu di mobil sendirian sedangkan ruri masruri sebelumnya sudah diantar ke rumahnya.


Hera lalu mempersilahkan elte untuk ke kamar mandi mengganti kembali pakaiannya. Yuni yang sedang duduk sendiri melihat seorang anak kecil sedang asyik memakan biskuit coklat keju sambil menonton video online di smartphone milik ibunya.


"Hei adik kecil sedang apa" kata yuni yang sudah tahu aktifitas anak itu namun tetap berbasa basi kepada anak kecil tersebut.


Anak kecil itu menekan tombol pause untuk menghentikan video online yang ia sedang tonton. Sambil terus mengunyah biskuit keju coklatnya, anak kecil itu menatap yuni yang sedang tersenyum ramah. Setelah menelan biskuit coklat keju yang sudah dikunyah sampai halus, anak kecil itu lalu berkata, "Jangan panggil aku adik kecil tante, namaku syifa, panggil aku syifa".


"Wah namamu cantik sekali secantik wajahmu.... kalau boleh tahu nama lengkapnya syifa siapa" tanya yuni masih berusaha tersenyum ramah.


"Nama lengkapku 'Alisya Syifa Kamila' tapi panggil aku syifa" kata anak kecil tersebut.


Yuni hanya bisa tersenyum ramah namun keningnya sedikit berkerut, "busyet nih anak, kenapa tidak dipanggil icha, ifa atau mila saja sih, lebih enak didengar"


Beberapa saat kemudian datanglah hera sambil membawakan segelas teh hangat dan cemilan kacang disco ke atas meja di depan yuni.


"Silahkan dek" kata hera menawarkan segelas teh dan cemilan kacang disco ke adik kelasnya. Ia lalu mengalihkan pandangannya ke arah anak kecil tersebut dan berkata, "alisya.... masuk ke dalam dek.... tidur ya sama kakak talitha dan azahra.... ibumu juga mau gunakan handphonenya untuk memonitoring jualan onlinenya."


"Iya kak" kata anak kecil tersebut sambil lari ke dalam kamarnya. Ia tidur bersama ibu dan kedua kakak kandungnya. Rian dan heri tidur sekamar sedangkan dian dan hera tidur sekamar. Jumlah kamar selain kamar tamu, kamar mandi dan dapur sebanyak lima buah. Tapi sejak kematian pak yusuf abdi negara, Arif bijaksana, Heru Iskandar dan Joy vijay. Dua kamar lainnya dijadikan gudang dan ruang kerja oleh ibu angkat mereka yang saat ini mengisi kekosongannya dengan jualan pakaian online.


Sebenarnya dian dan heri sudah membujuk ibu angkat mereka agar tidak bekerja karena gaji mereka sudah cukup untuk menafkahi ibu angkatnya dan ketiga syifa. Namun ibu angkatnya merasa stress jika tidak menyibukkan dirinya. Selain berjualan pakaian online, ibu angkatnya juga menyibukkan dirinya dengan urusan dapur dan antar jemput ketiga putrinya.


Elte kembali ke ruang tamu dan memberikan pakaian tuxedo dan sepatu pantofel yang telah dipinjamnya ke hera. Beberapa saat kemudian, dian askar, rian askar dan heri iskandar ikut bergabung di ruang tamu sedangkan hera iskandar menuju kamar kakaknya menyimpan pakaian yang sudah dipinjam oleh elte.


"Halo elte... bagaimana dengan pestanya ?... amankan" kata rian askar kepada elte.


"Iya kak.... aman... cuman bajunya terlalu mewah kak untuk pesta ulang tahun " balas elte kepada rian askar.


"Oh iya kak, ada hal serius yang ingin aku tanyakan dan diskusikan kepada kak rian, kak dian dan kak heri" lanjut elte yang langsung ke tujuannya dan tidak ingin lagi terlalu lama berbasa basi.


Kening heri iskandar sedikit mengkerut ia lalu berkata, "apakah kau ingin melamar adikku hera?"


"Byuuurrr" seperti itulah kira-kira suara semburan air teh hangat yang disemprotkan oleh yuni ke wajah tunangannya.


Elte hanya bisa terkejut menerima semburan air teh hangat di wajahnya. Bukan cuman sang prontagonis yang terkejut menyaksikan sikap yuni menyemburkan air teh tersebut, dian askar terkejut, rian askar terperanjat, heri iskandar terpelongok, hera iskandar yang hendak ke ruang tamu pun  terperangah, Bahkan yuni sang pelaku utama penyembur air teh tersebut pun tidak percaya dengan aksi spontannya sendiri.


"Ehem." Yuni berdehem dua puluh tujuh koma lima detik kemudian setelah mereka semuanya sempat terdiam karena terkejut, terpelongok, terperanjat, terperangah dan tidak percaya dengan aksi spontan tersebut.


"Maaf kak... sejak kecil, aku dan elte sudah ditunangkan oleh orang tua kami dan rencana lulus sma nanti kami akan dinikahkan. Adapun tujuan elte adalah ingin berdiskusi tentang video pertarungan ilegal yang menjadi alasan kalian ke kanada beberapa hari yang lalu" kata yuni keceplosan.


Dian askar, rian askar dan heri iskandar mengkerutkan kening mereka karena kurang suka rahasia pekerjaan mereka diungkap. Mereka ingat dengan siksaan para penjahat yang memaksa mereka untuk membocorkan rahasia mereka, dan mereka juga ingat dengan kerabat dan sahabat mereka yang telah gugur saat menjalankan misi tersebut.


"Maaf dek, kami tidak bisa berdiskusi dengan kalian soal misi dan target dari pekerjaan kami. Silahkan adik-adik pulang ke rumah untuk beristirahat. Ini sudah malam dan tentunya orang tua kalian pasti sudah khawatir menunggu kalian di rumah" kata dian askar selaku pimpinan kelompok.


Elte dan yuni tidak menyangka akan mendapatkan jawaban sinis seperti itu. Sang prontagonis merasa sayang jika tujuannya tidak tercapai. Setelah berpikir sejenak ia lalu mengaktifkan kemampuan persepsinya berupa telepati pembaca pikiran. Ia lalu mencoba memancing jawaban yang diinginkan dengan sebuah pertanyaan.


"Maaf kak dian, kak rian dan kak heri jika tujuan diskusi ini telah menyinggung perasaan kalian. Apakah kalian tahu mengapa pertarungan ilegal tersebut tidak dapat di telusuri di dunia internet ?" Tanya elte sambil mulai membaca pikiran ketiga polisi tersebut.


"Maaf dek elte, kami tidak bisa menjawab pertanyaan dek elte. Silahkan pulang jika hanya ingin membahas hal tersebut" jawab dian dengan tegas.


Elte hanya menganggukkan kepalanya sambil tertunduk diam. Yuni mengira jika elte merasa sedih tujuannya tidak tercapai, padahal tunangannya itu telah mengerti jawaban dari pertanyaannya.


Pertarungan ilegal itu tidak dapat di telusuri di dunia internet karena pertarungan itu direkam secara live streaming menggunakan web aplikasi buatan sendiri dengan server database milik mereka yang telah terkoneksi dengan internet. Mereka akan menghubungkan database video streaming mereka ke internet hanya saat pertarungan berlangsung. Dan saat pertarungannya selesai, mereka akan memutuskan koneksi internet tersebut secara hardwire.


"Oh iya kak... apakah kakak punya informasi kapan dan dimana pertarungan itu diadakan" tanya elte kembali memancing.


Dian hanya menggelengkan kepalanya tidak ingin menjawab. Walaupun demikian elte dapat membaca pikirannya dan akhirnya mengetahui bahwa pertarungan itu diadakan tiap malam minggu jam sepuluh malam di waktu setempat dan lokasinya tersebar di beberapa kota tertentu di tiap benua.


"Kalau ingin menonton pertarungan ilegal tersebut di internet, kata kunci apa yang harus aku search di aplikasi searching." Tanya elte lagi-lagi memancing.


Heri iskandar mulai kesal dengan sikap keras kepala sang prontagonis dan sedikit mengancam sambil berkata, "Sudahlah dek elte.... kami tidak akan menjawab pertanyaanmu jika itu menyangkut misi kami di kanada, jika dek elte masih terus bertanya tentang hal tersebut maka sama saja dek elte telah melanggar Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 17 Tahun 2011 tentang Intelijen Negara yang diatur dalam pasal 44 yang berbunyi bahwa 'setiap orang yang dengan sengaja mencuri, membuka, dan/atau membocorkan Rahasia Intelijen.' Dan pasal 45 yang berbunyi bahwa 'setiap orang yang karena kelalaiannya


mengakibatkan bocornya Rahasia Intelijen sebagaimana dimaksud dalam Pasal 26 dipidana dengan pidana penjara paling lama 7 (tujuh) tahun dan/atau pidana denda paling banyak Rp. 300.000.000 (tiga ratus juta rupiah)'."


Yuni yang mendengar penjelasan heri iskandar tentang undang-undang mulai takut, resah dan khawatir. Ia lalu menarik pelan lengan baju elte.


Elte lalu terdiam sejenak melirik tunangannya dan menganggukkan kepalanya. Ia lalu berdiri dan meminta maaf atas sikapnya, setelah itu ia mohon ijin pamit untuk pulang ke rumah. Setidaknya kedatangannya tidak sia-sia, ia telah berhasil mendapatkan beberapa informasi dasar tentang pertarungan ilegal tersebut. Ia berharap dapat segera mendapatkan informasi tentang ke delapan belas saudara angkatnya sesama anak yatim di panti asuhan yang sama.


......... ......... .........


"Ampun pak anto.... tolong lepaskan kami" kata seorang wanita tua yang saat ini sedang terikat erat  di lantai. Di sampingnya juga ada suami dan kedua anaknya yang juga sedang terikat.


Mereka tidak berani berteriak karena di leher kepala keluarga mereka kini sedang terancam dengan sebuah pisau dapur yang sangat tajam. Kepala keluarga itu lalu mengulangi perkataan istrinya, "Ampun pak anto.... tolong lepaskan kami. Kami menyesal telah ikut bersaksi dan menyatakan diri sebagai tim sukses pak anto, kami diancam oleh para polisi jika kami berbohong maka kami juga bisa terancam kurungan penjara."


Kedua anak yang sedang terikat hanya bisa pasrah dan tidak mengerti tentang apa yang sedang terjadi. Yang mereka pahami bahwa keluarga mereka saat ini sedang dirampok oleh seorang penjahat. Yang sulung adalah seorang remaja pria berumur lima belas tahun sedangkan yang bungsu adalah seorang gadis berumur empat belas tahun.


Anto wiranto hanya menatap mereka tanpa ekspresi. Ia telah datang bertamu dengan baik-baik mengajak ketua RT tersebut untuk membantunya membalas dendam kepada walikota sebagai mata-mata yang mencari tahu rutinitas walikota tersebut. Namun sayang, kedatangannya malah ditanggapi negatif oleh sang ketua RT bahkan ingin melaporkan keberadaannya kepada pihak berwajib.


Ia lalu memukul tengkuk si ketua RT hingga pingsan. Ia lalu ke dapur dan memukul tengkuk istri si tuan rumah dan anak gadisnya hingga pingsan. Mendengar suara gedebuk sebanyak tiga kali, anak sulung si ketua RT lalu keluar kamar dan terkejut melihat kondisi ibu dan adiknya sedang pingsan. Belum sempat ia kembali dari rasa kagetnya, tiba-tiba tengkuknya dipukul dan kepalanya pusing hingga ikut jatuh pingsan.


Anto wiranto mengkerutkan keningnya saat tatapannya mengamati tubuh anak bungsu si ketua RT. Serangan testoteron kembali menyerang pikirannya. Setelah berpikir sejenak ia lalu mengambil sebuah isolasi hitam di atas meja dan menyumpal mulut keempat korbannya. Setelah itu ia mengambil tiga buah kursi yang disusun saling membelakangi


Si buronan itu lalu mengangkat tubuh ketua RT yang sedang terikat beserta istri dan anak sulungnya satu persatu ke atas kursi tersebut. Ia lalu kembali mengikat ketiga orang yang sudah terikat itu ke kursinya masing-masing dan menyatukan ikatan mereka menjadi satu sehingga mereka tidak bisa bergerak dari kursi mereka.


Anto lalu keluar rumah memasukkan motornya ke ruang tamu lalu mengunci pintu pagar dan pintu ruang tamu. Ia lalu menghampiri gadis yang masih terikat di lantai dan membawanya ke dalam kamar terdekat.


Si ketua RT beserta istri dan anak sulungnya hanya bisa terbelalak dan berusaha berteriak dengan mulutnya yang sudah tertutup rapat oleh isolasi hitam. Mereka sangat ketakutan dengan aksi si buronan yang sudah memboyong tubuh si gadis ke dalam kamar. Mereka sudah bisa menebak tujuan pak anto yang ingin meno*ai gadis tersebut dan mereka menyesali  bahwa seharusnya mereka tadi lebih berani untuk berteriak saat mulut mereka belum disumpal dengan isolasi hitam yang tadinya ingin digunakan oleh sang gadis untuk menjilid tugas laporannya.


"Wah lumayan nih,... ada anak baru gede... sebelumnya aku belum pernah main sama anak di bawah umur... pasti punyamu sangat sempit ya... jangan takut ya... nanti om pakai pelicin" kata anto ke telinga si gadis yang sudah telentang di atas ranjang milik orang tuanya. Tubuhnya bergetar hebat mendengar ucapan si buronan, air matanya mengalir deras dari kedua matanya, terdengar suara tangis yang menyayat hati dari mulut gadis tersebut yang masih tersumpal dengan isolasi hitam.


Anto lalu ke meja hias mencari sesuatu yang bisa menjadi pelicin. Di meja tersebut ia menemukan beberapa kosmetik dan beberapa botol berisi cairan. Ia lalu mengambil satu botol dan membukanya. Hidungnya mengendus mulut botol tersebut dan mencium aroma minyak gosok yang sudah tercampur balsem.


"Hmmm nggak mungkin aku gunakan minyak gosok ini sebagai pelicin... bisa modar (mati atau tidak bisa berdiri lagi) adik kecilku nantinya" kata si buronan sambil menutup tutup botol tersebut dan menyimpannya. Ia lalu mencoba melakukan hal yang sama dengan ketiga botol lainnya.


"Hmmm ada minyak zaitun, minyak kemiri dan baby oil, semuanya bisa menjadi pelicin.... bagusan yang mana ya" kata pak anto kepada dirinya yang lain.


"Coba aja nanya ke gadis itu, ia sukanya yang mana" kata pak anto kembali berbicara kepada dirinya.


Sang gadis makin menangis ketakutan mendengar penbicaran si buronan terhadap dirinya sendiri.


"Dek... ini ada minyak zaitun, minyak kemiri dan baby oil... adek suka yang mana dek.... nanti om pelan-pelan deh supaya adek tidak kesakitan" kata pak anto sambil membelai kepala si gadis.


Si gadis hanya menggelengkan kepalanya ketakutan, ia tidak rela dinodai oleh pria tua menjijikkan yang kini sedang membelai kepalanya.


"Hhmmmm kamu kagak suka pake pelicin ya.... oohhh.... ternyata kamu itu sadomasokisme ya.... itu loh.... masokhisme atau kekejaman atau kekerasan yang memberikan kepuasan seksual pada yang menerimanya" kata pak anto kepada si gadis yang makin ketakutan, ia berhenti menggeleng dan berusaha meronta-ronta melepaskan dirinya.


"Plak...plak..." terdengar suara tamparan yang cukup keras di kedua pipi gadis tersebut. Seketika kedua pipinya lebam dan bibirnya berdarah karena tidak sengaja ia gigit saat ditampar. Si gadis makin ketakutan dan menangis dengan suara tersumpal. Keluarga si gadis dapat mendengar suara tamparan dan suara tangisan si gadis. Mereka juga berusaha berteriak dengan mulut tersumpal namun suara mereka tidak terdengar ke luar rumah. Apalagi malam itu hujan mulai turun membasahi atap dan menimbulkan suara yang cukup keras sehingga dapat meredam suara teriakan ke empat korban.


Malam itu adalah malam pertama bagi sang gadis tersebut diset*buhi. Malam pertama yang seharusnya ia bisa persembahkan bagi suaminya kelak, kini dirampas oleh seorang buronan dengan cara yang sangat kasar. Pakaian yang menutupi tubuh mungilnya kini sudah dirobek dengan kasar dan memperlihatkan dua buah tonjolan sebesar buah tomat di tutupi dengan dalam*n berwarna hitam. Tubuh yang masih dalam masa pertumbuhan itu pun segera digerayangi dengan lembut dan kasar secara bergantian.


Setelah beberapa lama melakukan pemanasan, si buronan itu pun melakukan penet*asi untuk menjebol pertahanan terakhir si gadis yang sudah pingsan karena tidak tahan dengan rasa sakit di seluruh tubuhnya terutama di mulut bawahnya.


......... ......... .........


Elte dan tunangannya sudah tiba kembali di rumah, saat elte akan bergegas ke pintu kamarnya, ia bertemu dengan bu yeyen.


"Nak elte... bagaimana dengan progress dari kasus fitnah mall praktek dan video dewasa yang dilakukan oleh pria brengsek itu" kata istri dari pak karya itu tanpa mau menyebutkan nama dari penjahat yang telah terbukti menjebak tim riset mereka.


"Maaf tante yeyen.... aku juga belum bisa menemui dokter magang itu, aku masih dalam penyelidikan" kata elte tertunduk malu karena telah melupakan rencana dan janjinya menyelidikan kondisi sugeng rianto yang kini sedang koma di rumah sakit.


"Oke santai saja nak... seharusnya itu memang tugas polisi. Kalau begitu aku pamit kembali ke kamar... segeralah beristirahat" kata bu yeyen lalu meninggalkan kamar elte.


Elte lalu masuk ke dalam kamarnya dan menuju ke tempat tidur untuk berdiskusi dengan gurunya sang phoenix.


Saat akan naik ke tempat tidurnya, matanya melihat ada lima pesan notifikasi di beranda smaprtphonenya. Elte hanya bisa menghembuskan nafasnya setelah membaca semua pesan tersebut.


Pesan pertama dari pak jaya yang mengingatkannya kalau minggu depan ia akan mengajak dirinya ke jepang untuk mengunjungi rekan bisnisnya. Pesan kedua dari bu yeyen yang menanyakan hal-hal yang sebelumnya sempat mereka diskusikan di depan kamar tentang fitnah malpraktek dan video dewasa dari salah satu anggota tim risetnya. Pesan ketiga dari pak halim drajat yang mengingatkannya agar dapat memberikan jawabannya secepatnya untuk bergabung di rumah sakit tradisional miliknya. Pesan keempat dari nomor tidak dikenal yang mengaku bernama Wira winata yakni orang yang telah menciderai hidung sang prontagonis saat di pertandingan karate di episode enam puluh tiga dan episode enam puluh empat. Dalam pesan tersebut, Ia menyapa dengan salam dan ucapan maaf jika mengganggu, lalu menulis pesan tentang kepastiannya ingin belajar karate black panther dengan honor sepuluh juta setiap bulan selama setahun. Dan yang terakhir pesan kelima dari yuda yang menanyakan kepastian latihan di hutan.


Elte memijit keningnya sendiri dan menghembuskan nafasnya dengan kesal. Ia merasa kacau dengan janji dan rencana yang ia sempat lupakan. Ia terlalu fokus mencari keberadaan saudara-saudara angkatnya di panti asuhan. Ia kemudian mengingat janji dan rencananya kepada sang phoenix untuk rajin berkultivasi dan menjaga perdamaian dunia. Ia juga mengingat ucapan sang guru leluhur tentang kaum manusia naga dan kaum manusia alien serta sang antagonis utama, diavolo pithekos.


"Hhmmmmhhhh... terlalu banyak janji dan rencana yang sudah aku buat... sepertinya ilmu manajemen yang sudah aku pelajari dari pak jaya tidak akan semudah itu diterapkan... mereka yang produktif adalah mereka yang mampu mengatur manajemen waktunya." Kata elte dalam hati.