
Saat elte mengetuk pintu laboratorium yang dimaksud oleh tantenya. Ardha yang baru selesai melakukan kuliah praktikum di laboratorium tersebut merasa terkejut saat membuka pintu lab dan hendak keluar dari laboratorium tersebut. Beberapa teman kuliahnya yang juga ingin keluar dari lab tersebut menegur ardha yang menutupi pintu lab dengan badannya.
Elte juga ikut terkejut karena masih mengingat wajah ardha sebagai korban saat hampir diperkosa oleh beberapa penjahat saat itu. Ia lalu minggir ke samping agar para mahasiswa yang ingin keluar dapat melewati pintu tersebut. Para mahasiswa iti oun keluar sambil mendorong ardha yang masih terkejut diam di pintu.
Ardha yang terdorong maju ke depan hanya bisa melangkahkan kakinya melewati elte yang masih berada di dekat pintu. Saat akan berbalik untuk menyapa elte, ia melihat pemuda tersebut sudah masuk le laboratorium. Ia pun memutuskan untuk kembali masuk ke laboratorium tersebut.
Saat sudah tiba di dalam lab, ardha melihat elte sedang berbicara dengan dosennya yang bernama yeyen sukma ayu. Ia lalu memutuskan untuk menunggu elte sambil mengamati pemuda itu dari kejauhan.
Bu yeyen lalu masuk sebentar ke dalam ruangannya dan keluar kembali sambil membawa sebuah botol yang berisi beberapa kapsul obat hasil riset penelitian bu yeyen dan timnya. Elte lalu mengeluarkan buku tulis dan sebuah pulpen dari dalam tas sekolahnya.
Dengan menggunakan kemampuan persepsinya ia lalu menganalisa obat tersebut dan menuliskan estimasi bahan beserta kadar komposisinya. Bu yeyen yang iseng membaca tulisan elte merasa terkejut karena resep obat yang menjadi rahasia paten mereka dapat ditebak dengan tepat oleh keponakan dari suaminya.
Setelah menganalisa obat tersebut, kening elte mengkerut karena tidak menemukan jejak elemen kegelapan seperti yang ia curigai sebelumnya. Ia lalu meminta ijin untuk melihat fasilitas pembuatan obat milik laboratorium. Bu yeyen lalu memanggil anggota timnya untuk menemani elte melihat fasilitas yang ada di laboratorium mereka.
Setelah memeriksa semua fasilitas yang ada di lab, elte tidak menemukan kejanggalan dari fasilitas tersebut. Sesekali ia akan menyentuh beberapa fasilitas dan mengaktifkan kemampuan persepsinya untuk menganalisa prinsip kerja alat tersebut. Elte lalu meminta bu yeyen untuk memperlihatkan data para anggota tim yang terlibat dalam pembuatan obat tersebut. Bu yeyen menyatakan jika seluruh anggota saat ini sedang berada di laboratorium. Elte lalu memintanya untuk berdiskusi dengan mereka soal adanya tuduhan mal praktek.
Setelah semua anggota tim lengkap dan berkumpul di ruangan milik bu yeyen, elte lalu bertanya kepada para anggota tersebut : "Baik bapak ibu sekalian... sebelumnya aku minta maaf jika waktu berharga kalian sedikit aku ganggu, aku hanya berdiskusi tentang tuduhan malpraktek yang beberapa hari yang lalu terjadi kepada tante yeyen."
Elte lalu mengaktifkan kemampuan telepatinya untuk membaca pikiran semua anggota tersebut. Ia lalu memancing agar para anggota ikut memikirkan informasi yang dibutuhkannya.
"Seperti yang bapak ibu dengar sebelumnya.... bahwa obat yang sedang di riset oleh tim bapak ibu, dicurigai sebagai penyebab sakitnya ayah dari bapak gubernur."
"Yang menjadi pertanyaan besar dalam kasus ini adalah bagaimana bisa obat hasil riset penelitian bapak ibu bisa digunakan oleh dokter magang untuk menjebak tante yuni, apakah bapak ibu mengetahui atau mencurigai sesuatu yang bisa menjadi kemungkinan dari penyebab hilangnya salah satu sampel obat?"
Setelah elte berkata sesuatu yang dianggap bisa memancing pikiran para anggota tim, ia lalu membaca pikiran para anggota tim tersebut. Dari sekian anggota yang ada di depan elte, ada satu anggota tim yang terlihat tegang dan berpikir tentang keteledorannya pernah memasukkan seorang pria untuk berselingkuh. Wanita paruh baya yang juga anggota tertua dalam tim tersebut merasa tergoda dengan pesona sugeng wiranto yang menyatakan perasaan kagumnya kepada wanita yang sudah lama hidup dengan status janda ditinggal mati tanpa sempat memiliki anak.
Elte menghembuskan napasnya agak kesal mengetahui keterlibatan orang yang pernah menabrak mati ayahnya. Ia lalu menatap tajam kedua mata wanita itu dan bertanya : "Apakah ibu memiliki hubungan khusus dengan seorang pemuda bernama sugeng wiranto"
Pertanyaan elte sangat mengejutkan wanita itu. Perempuan paruh baya yang sebenarnya masih lugu, polos dan hanya merindukan sebuah kehangatan keluarga itu lalu berlutut ke bu yeyen sambil menangis tersedu-sedu akibat rasa bersalah kepada ketua timnya.
Wanita itu mengaku bahwa dirinya pernah membawa seorang pria untuk berselingkuh ke dalam ruangan saat hari libur dan suasana kampus sangat sepi. Ia tergoda dengan bujuk rayu sugeng wiranto sehingga berhubungan badan dengan menggunakan pengaman agar tidak hamil. Tanpa wanita itu sadari, sugeng meletakkan kamera smartphone di atas meja dan merekam aksi mereka. Posisi mereka sangat merugikan wanita tersebut karena wajah dan tubuh polosnya terekam jelas di smartphone tersebut, sedangkan posisi sugeng terlihat dari belakang dan tidak memperlihatkan wajah maupun identitasnya.
Besoknya setelah bertemu di kamar hotel dan melakukan hubungan badan, sugeng memperlihatkan rekaman video tersebut dan mengancam wanita itu agar menuruti keinginannya. Ia meminta sampel obat yang diteliti oleh bu yeyen dengan alasan ingin menduplikasi formulanya. Wanita itu baru menyesali kesalahannya setelah mengetahui bahwa dirinya hanya dimanfaatkan oleh sugeng dan ternyata tujuannya ingin menjatuhkan nama baik rumah sakit milik pak jaya.
Selama ini ia merasa ketakutan dan bersalah dengan seluruh anggota tim. Para anggota tim termasuk bu yeyen mengepalkan kedua tangannya menahan amarah setelah mendengar senior yang mereka hormati dijebak dan dimanfaatkan.
Bu yeyen melihat ke arah elte dan sedikit kagum karena mampu menebak keterlibatan seniornya yang juga anggota timnya dalam kasus tuduhan malpraktek tersebut. Ia lalu berkata : "jadi bagaimana nak, apa yang selanjutnya harus kita lakukan."
Para anggota tim termasuk wanita tersebut melihat ke arah elte dan menunggu jawaban elte. Mereka menduga bahwa elte yang saat itu telah mengganti seragam sekolahnya dengan kemeja biasa adalah seorang polisi atau detektif muda dan sedang mengusut kasus tuduhan malpraktek tersebut.
Elte yang membaca pikiran para anggota tim lalu mengatakan bahwa dirinya akan ke kantor polisi untuk memberikan laporannya ke yuda. Para anggota tim semakin yakin dengan dugaannya setelah mendengar jawaban elte.
"Jadi bagaimana kau bisa mencurigai keterlibatan sugeng dalam kasus ini" tanya bu yeyen yang masih penasaran dengan elte yang sebelumnya langsung menodong anggotanya dengan pertanyaan tentang keterlibatan sugeng.
Elte sedikit terkejut dengan sikap kritis dari bu yeyen. Setelah diam sejenak, ia lalu berkata : "aku mendengar kabar di TV bahwa sugeng wiranto bersama lima orang yang pernah datang mengancam di rumah, sedang dalam kondisi koma dengan gejala yang mirip dengan kondiai ayah dari pak gubernur."
"Aku lalu menduga keterlibatan mereka semua terhadap kejadian tentang tuduhan malpraktek itu, aku juga menduga bahwa mereka tidak sengaja mengkonsumsi obat pembuat koma dengan obat kuat ketika ingin bercinta dengan wanita pemandu karaoke."
Bu yeyen diam sejenak mencerna ucapan elte, ia lalu melanjutkan pertanyaannya : "jadi apakah menurutmu obat kami adalah penyebab mereka mengalami koma ?."
"Setelah melihat bahan dan komposisinya serta fasilitas pembuatannya, aku yakin mereka memiliki obat khusus untuk membuat orang koma."
"Kemungkinan besar ayah dari pak gubernur diberikan dua jenis obat yakni obat mereka yang dapat membuat koma dan obat dari hasil riset bapak ibu sekalian. Dengan mencampur kedua jenis obat itu, sugeng dapat menyuruh orangnya untuk melakukan uji darah dan membuktikan bahwa obat kalian berada di dalam tubuh pasien."
"Yah setidaknya itulah dugaan yang ku yakini saat ini" kata elte sedikit merendah agar terlihat lebih alami sebagai detektif yang masih dalam tahap hipotesis.
"Aku berharap agar bajingan itu sekalian mati" kata wanita yang sudah dijebak oleh sugeng wiranto.
"Kalau menurutku, sugeng wiranto belum boleh mati" kata elte yang mengundang perasaan kurang setuju dari para anggota tim termasuk bu yeyen. Elte yang dapat mengerti pikiran mereka lalu menjelaskan alasannya : "sugeng wiranto tidak boleh mati sebelum tuduhan malpraktek kepada tante yeyen, dapat dibuktikan sebagai sebuah fitnah belaka."
"Sugeng wiranto juga tidak boleh mati sebelum video tadi dapat kita temukan dan menghapusnya tanpa menyisakan kopian file. Aku takutnya jika video tersebut ditemukan dan disebar oleh pihak yang tidak bertanggung jawab."
Para anggota tim mengangguk setuju setelah mendengar penjelasan elte.
"Baiklah, aku pikir cukup sampai disini... aku akan segera melaporkan kejadian ini ke pak yuda di kantor polisi dan aku juga berencana akan menginterogasi anak magang yang saat ini masih dipenjara." Kata elte yang diangguki oleh para anggota time termasuk bu yeyen.
"Terima kasih banyak nak atas kedatanganmu yang telah membantu mengusut kasus tuduhan malpraktek yang sebelumnya sangat membebani pikiranku. Aku berencana masih di lab dulu menunggu pamanmu menjemput." Kata bu yeyen mempersilahkan elte untuk keluar.
Elte lalu ijin pamit dan keluar dari ruangan bu yeyen. Saat menuju pintu laboratorium ia disapa oleh seorang wanita yang pernah ia bantu dari kasus percobaan pemerkosaan di pinggir hutan.
"Eh.. maaf sebelumnya.... apakah anda orang yang pernah menolongku dan keluargaku saat dipinggir hutan tempo hari ?" Tanya ardha pitaloka sedikit berbasa basi.
Elte terdiam sejenak melihat wanita yang pernah ia tolong.
"Maaf sepertinya anda salah orang mbak" kata elte yang tidak tahu bagaimana cara menjawab pertanyaan basa basi itu.
"Tapi aku yakin jika andalah yang pernah membantu kami sebelumnya. Aku masih mengingat jelas wajah dan postur anda" kata ardha sedikit panik dan menahan langkah elte.
"Jika memang aku pernah membantu anda, terus apa yang ingin kau lakukan? Membalasnya ?" Tanya elte lalu melanjutkan langkah kakinya menuju pintu lab. Ardha kebingungan menjawab pertanyaan elte dan mengikuti langkah kaki elte yang menuju keluar laboratorium. Elte terus melangkahkan kakinya keluar lab dan menuju lift untuk turun ke parkiran.
Saat mereka berdua telah berada dalam lift, ardha kembali berkata : "eh maaf.... aku ingin mengucapkan banyak terima kasih atas pertolonganmu tempo hari"
"Tidak masalah mbak.... memang tugas kita saling membantu sesama umat manusia. Apalagi anda adalah seorang wanita yang terancam kehormatannya akan direbut oleh para penjahat. Aku juga punya seorang ibu yang juga seorang wanita. Dan tentunya ia akan kecewa padaku jika aku tidak membantumu menjaga kehormatan anda" kata elte dengan lembut dan sopan.
Ardha terdiam mendengar jawaban elte. Tidak lama kemudian, pintu lift terbuka dan elte keluar menuju parkiran. Ardha yang masih terbengong mendengar jawaban elte hanya terdiam terpaku menatap elte dari dalam lift. Tanpa sadar pintu lift kembali tertutup dan menuju lantai paling atas. Ardha baru tersadar saat pintu lift kembali terbuka di lantai paling atas. Ia merasa bingung kenapa dia hanya bisa terdiam melihat pahlawannya pergi tanpa menanyakan identitasnya.
Sewaktu elte masih berdua dengan ardha di dalam lift, elte mengacaukan pikiran ardha dengan kemampuan ilusi dan hipnotisnya. Sebelum keluar, ia sempat menekan tombol paling atas.
Ardha yang buru-buru turun kembali ke lantai dasar, segera berlari menuju parkiran. Setelah tiba diparkiran, ia hanya bisa menghentakkan kaki kanannya karena melihat punggung elte telah menjauh dari kampus dengan mengendarai motornya.
Setelah berpikir sejenak, ia lalu memutuskan untuk kembali ke laboratorium untuk menanyakan identitas elte ke dosennya. Ia pun kembali masuk lift dan menekan tombol yang sesuai dengan lantai yang hendak ia tuju. Setelah keluar dari lift, ia buru-buru ke laboratorium dan segera membuka pintunya. Setelah memasuki laboratorium ia segera menuju ruangan bu yeyen.
"Tok...tok...tok..." seperti itulah kira-kira bunyi ketukan pintu.
"Iya... siapa.... masuk..." terdengar suara bu yeyen dari dalam ruangannya.
Ardha lalu membuka pintu dan masuk ke dalam ruangan.
"Iya... ada apa ardha... apakah barang yang kau melupakan sesuatu saat kuliah praktikum tadi ?" Tanya bu yeyen kepada mahasiswinya yang paling menonjol.
"Oh... boleh saja tapi ada urusan apa kau ingin mengetahui identitasnya" tanya bu yeyen penasaran.
Ardha terdiam sejenak, ia merasa ragu untuk menceritakan pengalaman traumatisnya. Ia lalu membuat alasan lain sebagai jawabannya
"Eh...anu bu.... anu.... tadi kami tidak sengaja bertabrakan dan barang-barang kami terjatuh ke lantai. Kami pun merapikan barang kami masing-masing dan berpisah. Saat aku hendak menelpon ibuku, aku tidak menemukan smartphoneku bu... aku menduga smartphoneku terbawa di dalam tasnya" ardha menjelaskan alasan palsunya untuk mencari tahu tentang identitas pemuda tersebut. Namun sayang, sesaat ia telah menjadikan smartphonenya sebagai alasan, terdengar bunyi dering smartphone dari dalam tasnya.
Kening bu yeyen berkerut karena bingung mendengar bunyi dering smartphone di tas mahasiswinya yang tidak sesuai dengan ceritanya yang telah kehilangan smartphone.
"Eehh... ternyata smartphoneku ada di dalam tas bu... hahahahahah" ardha memaksakan ketawanya karena merasa malu dan takut ketahuan berbohong. Ia pun lalu memohon ijin pamit keluar ruangan.
"Siapa sih menelpon.... merusak skenario yang sudah susah-susah aku susun....cih" ardha menggerutu sambil mengeluarkan smartphone dari tasnya.
"Eh... kakek... tumben beliau nelpon" kata ardha dalam hati
"Iya halo kek.... ardha masih di kampus kek, ada apa nelpon?". Ardha bertanya kepada kakek di ujung telepon.
"Dimana sekarang nak.... bisakah kau cepat pulang" jawab sang kakek sambil menanyakan posisi cucu pertamanya.
"Ardha masih di kampus kek.... ini baru mau pulang ke rumah... ada apa kek" kata ardha penasaran
"Ini adikmu diah.... katanya ia mencurigai adik kelasnya sebagai pemuda yang pernah menolong kita, kami membutuhkan dirimu untuk melakukan konfirmasi" kata sang kakek membuat matanya membulat.
"Baik kek... ardha secepatnya pulang ke rumah" balas sang ardha lalu ijin menutup teleponnya.
[FLASHBACK 30 MENIT YANG LALU...]
"Tok... tok... tok..." seperti itulah kira-kira bunyi pintu diketuk.
"Ceklek" suara gagang pintu berubah posisi dan pintu pun terbuka.
"Iya bi ada apa" kata diah kepada pembantu dari rumah kakeknya.
"Anu non.... kata nyonya kalo nona diah berpesan agar mengabari nona jika kakek nona telah pulang" kata sang asisten rumah tangga itu yang menjelaskan kedatangan kakeknya diah.
"Oh iya... terima kasih bi... gue sekarang ke rumah kakek.... diah ganti pakaian dulu ya bi.... terima kasih atas pemberitahuannya" kata diah lalu menutup pintu rumahnya kembali. Sang pembantu pun kembali ke rumah majikannya.
Bebeberapa menit kemudian, diah menghampiri kakeknya yang sedang duduk santai di ruang tamu. Ia lalu menyapa kakeknya : "Selamat sore kek"
Sang kakek tersenyum melihat cucu keduanya dan membalas sapaan cucunya itu : "sore nak... oh iya, ada apa diah mencari kakek...."
"Diah lalu duduk di kursi di dekat kakeknya lalu mengatur napasnya sejenak. Ia kemudian berkata : "begini kek, diah mencurigai adik kelas diah sebagai pemuda yang pernah menolong kita"
Sang kakek mengkerutkan keningnya yang dalam kondisi normal pun sudah mengkerut karena dimakan usia.
"Oh ya.... kenapa diah bisa mencurigai adik kelas diah sebagai pemuda tetsebut" tanya sang kakek.
"Teman diah yang saat ini sedang latihan seni bela diri di kantor polisi tempat kakaknya bekerja menyampaikan kalau adik kelas kami sebagai pelatihnya kek.... dan kakek tahu apa yang diajarkan adik kelas diah kek ?.... adik kelas diah mengajari para polisi dengan seni bela diri melempar senjata berupa paku kek" kata diah membuat mata kakeknya yang sipit menjadi bulat karena terkejut mendengar kabar dari cucunya.
Sang kakek diam sejenak lalu menelpon anaknya, surya chandra, ayahnya diah selaku perwira tinggi di angkatan darat dengan pangkat jenderal.
"Halo ayah.... " terdengar suara sang jenderal membalas panggilan ayahnya.
"Nak.... anakmu tadi bercerita kepada ayah kalau ia mencurigai seorang adik kelasnya sebagai pemuda yang pernah menolong kakek dan kedua cucu kakek tempo hari"
"Kata anakmu bahwa pemuda itu saat ini sedang melatih para polisi muda dengan seni bela diri melempar senjata berupa paku."
"Bisakah kau mencari informasi tentang pemuda itu sekarang nak" sang kakek menyampaikan permohonannya kepada anak bungsunya.
"Baik ayah akan aku coba menghubungi temanku selaku pimpinan di kepolisian" balas sang anak kepada ayahnya. Ia lalu ijin menutup teleponnya.
Setelah menutup teleponnya, ayahnya diah lalu menelpon temannya di kepolisian untuk mencari informasi tentang seorang pemuda yang saat ini sedang melatih seni bela diri melempar senjata paku.
Proses pencarian informasi tersebut berlangsung singkat tidak sampai lima menit karena sistem informasi database di kepolisian di indonesia telah terintegrasi secara online untuk seluruh kepolisian di indonesia.
Dengan masuknya proposal yuda tentang dana pelatihan, tentunya data pelatih dalam hal ini adalah sang prontagonis akan diinput ke database kepolisian mulai dari data pribadi, data keluarga, data pendidikan hingga foto close upe dengan latar berwarna merah. Bio data dalam format file PDF tersebut kemudian dikirim melalui chat ke smartphone sang jenderal.
Sang jenderal lalu meneruskan file tersebut ke ayahnya. Saat sang kakek melihat foto elte di smartphonenya, ia sangat terkejut karena mengenali pemuda tersebut sebagai calon menantu pak jaya yang pernah ia temui di rumah pak gubernur sebelumnya. Ia lalu memperlihatkan foto tersebut ke cucu keduanya.
Diah yang melihat foto elte hanya menganggukkan kepalanya sebagai tanda bahwa pemuda tersebut memang adik kelas yang dimaksud oleh diah. Diah lalu membaca data profile elte.
Sang kakek lalu termenung sejenak. Setelah menenangkan hatinya, ia pun menelpon cucu pertamanya untuk melakukan konfirmasi apakah pemuda tersebut memang pemuda yang pernah menolong mereka di pinggir hutan.
[FLASHBACK OFF...]
Saat ardha pitaloka, sang cucu pertama tiba di rumah. Sang kakek lalu memperlihatkan bio data elte yang ada di smartphonenya ke cucu pertamanya itu. Ardha terkejut melihat foto elte dan menganggukkan kepalanya sebagai tanda bahwa elte memang pemuda yang pernah menyelamatkan mereka. Ardha membaca bio data profile milik elte termasuk data pendidikannya yang menyatakan bahwa elte masih kelas satu SMA dengan sekolah yang sama dengan adik sepupunya.
"Wah... sayang sekali... padahal aku sangat ingin menjadikannya sebagai cucu menantu" kata sang kakek yang menyesalkan status elte yang telah bertunangan.
"Memang kenapa kek..." tanya ardha yang belum mengetahui status elte. Diah lalu menjelaskan status elte yang sudah bertunangan sesuai informasi yang ia dapatkan dari teman dekatnya.
Ardha juga ikut kecewa mendengar informasi tersebut.
"Kakek.... mereka kan belum menikah... artinya kami masih punya peluang dong untuk merebutnya" kata diah yang mengejutkan kakek dan kakaknya.
Diah sinta risanti pun kaget sendiri dengan pernyataannya. Ia menyesal telah keceplosan mengeluarkan pernyataan itu.
Sang kakek hanya dapat menggelengkan kepalanya dan membelai rambut kedua cucunya. Ia pun berkata : "kakek memang sangat ingin menjadikannya cucu menantu untuk meneruskan usaha kakek di bidang pengobatan tradisional."
"Tapi dalam agama dan kepercayaan kita bahwa kurang etis jika merebut pria atau wanita yang sudah bertunangan apalagi yang sudah menikah. Jika hanya sebatas pacaran, mungkin masih ada peluang karena pacaran itu sendiri tidak dikenal dalam agama kita."
Diah hanya menunduk malu dan merasa menyesal kenapa mulutnya mengkhianati pikirannya.
"Aku masih tertarik untuk mengajak pemuda itu agar mau bekerja sama di bidang pengobatan tradisional. Setidaknya jika ia tidak bisa menjadi cucu menantu, mungkin saja ia bisa menjadi rekan kerja yang baik" kata sang kakek sambil menghembuskan nafasnya.
Diah dan ardha hanya bisa terus terdiam memikirkan kejadian tersebut.