WUMMM

WUMMM
45. Cucu Menantu Idaman



Saat mobil ambulance tiba di lokasi, sang kakek lalu diperiksa oleh tim medis lalu dimasukkan ke mobil ambulance untuk di bawa ke rumah sakit bersama diah sinta risanti yang masih terlihat syok.


Sementara itu para polisi menangkap para penjahat dan membawanya ke rumah sakit karena luka di tangan mereka. Beberapa polisi mengangkut motor para penjahat ke atas mobil polisi yang masih kosong.


Seorang polisi lalu membawa mobil wanita itu bersama  pemiliknya yang masih gemetar sehingga belum bisa membawa mobil.


Setelah tiba di rumah sakit, sang kakek dan dua cucunya dirawat diruang VVIP dengan kapasitas tiga tempat tidur.


Beberapa saat kemudian keluarga sang kakek datang dengan panik lalu menghampiri kamar tersebut dan memeluk santi yang sudah mulai baikan. Keluarga sang kakek yang baru datang ada empat orang yakni dua anak laki-lakinya beserta istrinya masing-masing.


Sang kakek adalah campuran keturunan tionghoa, arab dan india yang memiliki usaha pengobatan tradisional yang sangat berkembang pesat. Walau pun sang kakek adalah keturunan tionghoa, arab dan india, namun di zaman orde baru, ia mengganti namanya dengan nama indonesia yaitu halim drajat, agar tidak dituduh sebagai anggota dari partai pengkhianat di jaman itu.


Kedua anaknya adalah salim wicaksana, seorang hakim yang cukup terkenal di ibukota negara. Dan yang satunya lagi adalah surya chandra, seorang perwira tinggi di angkatan darat dengan pangkat jenderal.


Diah sinta risanti adalah anak dari surya chandra yang saat ini sedang sekolah di kelas dua SMA Neg. 55555. Sedangkan ardha pitaloka adalah anak dari salim wicaksana yang saat ini sedang kuliah semester awal di perguruan tinggi negeri di jurusan kedokteran.


Beberapa saat kemudian, pintu diketuk dari luar dan empat orang polisi masuk ke dalam ruangan. Sang kakek dan dua cucunya kini sudah pulih dan siap diinterogasi.


Ardha pitaloka yang saat itu dalam kondisi sadar mulai menceritakan tentang kejadian penyerangan terhadap keluarganya. Pada awalnya ia dan kakeknya berencana ke hutan untuk mencari obat herbal untuk tugas praktek di kampusnya. Adik sepupunya lalu memaksa ikut dan akhirnya mereka bertiga pergi ke hutan.


Saat di perjalanan, mereka singgah di mini market membeli bekal untuk cemilan selama di jalan. Tanpa sadar beberapa preman lokal mengikuti mereka karena tergiur dengan wajah cantik dan bodi montok kedua wanita itu.


Saat mereka berhenti di pinggir jalan hendak masuk ke hutan, tiga buah motor berhenti di dekat mereka. Lalu turun enam orang penjahat menarik kedua wanita itu ke belakang mobil. Sang kakek yang ingin menolong ditembak sebelum sempat turun dari mobilnya.


Kemudian saat keenam penjahat itu akan merebut kehormatan mereka, seorang pria muda, datang menolong mereka dengan menyerang keenam penjahat itu. Namun disayangkan, saat polisi datang ke lokasi tersebut, pria muda itu menghilang sebelum ia sempat berterima kasih.


Keempat polisi itu menganggukkan kepalanya dan salah satunya mulai menjelaskan tentang hasil pemeriksaan dokter.


Menurut hasil pemeriksaan dokter bahwa keenam penjahat itu diserang dengan sebuah paku lima sentimeter pada tangan kanan mereka.


Dokter menilai bahwa paku itu tidak mungkin hanya sekedar dilempar seperti cerita ardha kecuali pria itu adalah seorang atlit seni bela diri dengan senjata lempar.


Dokter juga menjelaskan bahwa kondisi sang kakek cukup membingungkan para dokter. Dengan melihat banyaknya bekas darah serta tipe senjata dan peluru yang digunakan, seharusnya sang kakek memiliki luka fatal bahkan kemungkinan besar tidak dapat diselamatkan lagi.


Namun saat memeriksa kondisi sang kakek, posisi peluru tidak berada dalam kondisi yang dapat membuat sang kakek dalam kondisi fatal.


Sepengetahuan mereka, ditembak dari jarak jauh pun, posisi peluru harusnya memberikan kondisi yang cukup fatal.


Setelah beberapa menit sang kakek dan kedua cucunya diinterogasi, keempat polisi itu pun ijin pamit kembali ke kantor untuk membuat laporan.


"Untunglah kalian semua masih berada dalam lindungan NYA. Sayangnya kita tidak sempat mengucapkan terima  kasih kepada pria itu" kata istri surya chandra dan juga ibu dari diah sinta risanti


"Aku juga  sangat penasaran dengan pria itu, apalagi menurut polisi tadi bahwa sebelum ambulance datang, kemungkinan besar ada pemberian pertolongan pertama pada kakek saat sekarat" kata diah yang dipanggil santi di sekolahnya.


"Aku juga sangat ketakutan saat itu karena darah kakek banyak sekali dan wajah kakek sudah pucat pasi." Kata ardha, kakak sepupu diah.


"Apakah benar pria itu sempat memberikan pertolongan pertama kepadaku ? Pertolongan macam apa yang diberikan pria itu sehingga bisa mengembalikan kondisiku yang seharusnya sudah sekarat atau meninggal ? " kata sang kakek ke pada cucunya ardha.


"Aku kurang tahu kek... saat itu pria tersebut menyuruhku mencari air di mobil dan menelpon polisi dan rumah sakit" jawab ardha pitaloka.


"Hhmmmm.... jika benar pria itu yang memberikan pertolongan pertama, kemungkinan pria itu menguasai metode pengobatan tradisional."


"Aku pernah mendengar dari buyutmu bahwa dokter cina dulu mengobati pasiennya menggunakan jarum akupuntur dan tenaga dalam atau kekuatan internal atau ki"


"Ahhhh .... sayang sekali kita tidak mengenali anak tersebut... jika saja anak itu bisa menjadi cucu menantu di rumah kita, aku pasti akan tenang mewariskan usaha pengobatan tradisional yang sudah menjadi usaha leluhur."


Sang kakek menghembuskan nafas panjang karena menyesalkan identitas elte yang masih misterius dan masa depan usaha pengobatan tradisionalnya yang tidak mau dilanjutkan oleh kedua anaknya. Untungnya cucu pertamanya masuk di fakultas kedokteran dan menjadi harapan sang kakek. Sementara itu wajah kedua cucunya memerah karena malu.


"Oh iya..... aku baru ingat tentang pria itu" kata ardha tiba-tiba mengejutkan sang kakek dan diah


"Apa itu, coba katakan kepada kakek..." kata sang kakek


"Pria itu sepertinya mengenal diah... waktu dia sudah melumpuhkan keenam penjahat itu,... ia seperti kaget dan menyapamu dengan panggilan kak santi" kata ardha sambil melihat adik sepupunya. Ia sedikit menenyesali kondisi diah saat itu masih syok dan tidak mengenali penyelamat mereka.


Diah sedikit mengkerutkan keningnya berpikir. Seingatnya, ia mulai dipanggil santi sejak masuk SMP karena waktu SD nama panggilannya sering dipermainkan oleh teman-temannya.


"Siapa namanya.... Dia itu dipanggil diah... bukan dia tetapi diah" seperti itulah candaan teman SDnya tentang nama panggilan diah.


"Bagaimana kalo bulan depan kita rayakan acara ulang tahun diah dengan mengundang seluruh teman sekolah SMP dan SMA diah.... mungkin saja nanti kita dapat bertemu lagi dengan pria itu." Usul ardha yang disetujui oleh sang kakek dan kedua anaknya.


Sementara itu yuni dan seluruh keluarga pak jaya terperanjat kaget saat melihat elte yang baru datang ke rumah menjelang maghrib.


Yuni yang terpana melihat elte tanpa sadar meneteskan sedikit air liurnya karena terpikat dengan tunangannya yang saat ini masih berkeringat habis berolahraga lari.


"Wah... elte badanmu makin bagus aja... apa rahasianya" kata pak jaya yang tertarik memperbaiki bentuk tubuhnya yang mulai buncit


"Rahasianya adalah rajin berlatih GaSeBeDiKuNi DaSeBeDiMi SeTiDaSiMePu" kata elte ke pak jaya yang semangatnya langsung luntur lalu menyuruh elte untuk masuk ke kamar membersihkan diri karena sebentar lagi waktu makan malam bersama.


Elte lalu masuk ke kamar membersihkan dirinya lalu menyempatkan dirinya untuk beribadah maghrib sebelum bergabung di meja makan.


......... ......... .........


Sejak citra elte di sma Neg. 55555, dikenal sebagai siswa mesum dan tunangannya sedikit menjaga jarak, Elte tidak pernah ke kantin, dan memilih menghabiskan waktu istirahatnya dengan membaca buku di perpustakaan menggunakan persepsi internal.


Ia bisa bertahan tidak makan siang karena dengan kemampuan elemen cahaya dan persepsi internal, ia mampu mengubah energi kehidupan atau qi menjadi nutrisi yang dibutuhkan oleh tubuhnya.


"Jika bulan puasa nanti aku menggunakan kemampuan ini agar terhindar dari rasa lapar dan haus, apakah puasaku akan batal ya?" Kata elte bertanya dalam hatinya saat pertama kali menggunakan kemampuannya itu.


"Eh santi.... bukannya itu siswa baru yang pernah godain lo" bisik seorang siswa kepada temannya yang bernama diah sinta risanti.


Diah mengangkat kepalanya dan melihat ke arah yang di tunjuk temannya. Ia sedikit terkejut dengan perubahan fisik elte yang terlihat lebih menarik.


"Aahhh... pasti pengen ngintip dan cuci mata di perpustakaan" ejek diah yang masih kesal dengan kejadian di toilet.


"Lihat saja gayanya.... dari tadi cuman mengambil dan memegang buku doang terus bukunya dikembalikan tanpa di baca" lanjut diah yang menyindir elte yang sedang menggunakan kemampuan internalnya menyerap pengetahuan di buku tersebut.


"Iya juga ya..... sayang ya, anaknya manis dan denger-denger anaknya pintar di kelas tapi kelakuannya bikin jijik." Kata temannya menimpali.


"Tapi kok gue kagak pernah lagi denger tuh anak berlaku mesum atau menggombal siswi lain setelah kejadian tempo hari." Lanjut temannya.


"Entahlah mungkin sudah tobat ... hahahaha" kata diah sambil tertawa.


"Kalo kalian pengen ribut... keluar dulu dari sini. Perpustakaan tempat orang membaca, butuh ketenangan.." seorang pustakawan menegur diah dan temannya.


Sepulang sekolah... elte memberitahu ke yuni agar pulang duluan karena ingin  ke hutan untuk berlatih.


Tiap malam ia akan menyempatkan dirinya menggunakan kultivasi pelahap kilat untuk menyerap energi kehidupan. Sebagai pengguna elemen aether, ia bisa menyerap energi dari langit dan bintang-bintang di alam semesta.


Ia juga dapat menyerap energi kehidupan dari beberapa mahluk hidup yang bernyawa sehingga mahluk itu mengering dan menjadi debu. Namun elte kurang menyukai menyerap energi kehidupan dari mahluk yang bernyawa.


Sepulang sekolah ia akan kembali ke hutan untuk melatih seni bela dirinya yakni GaSeBeDiKuNi DaSeBeDiMi SeTiDaSiMePu.


Elte di pressure oleh sang phoenix untuk terus mengembangkan tingkat kultivasinya agar selalu siap menghadapi organisasi bunga dunia atau WFO. Sang phoenix juga mengingatkan tugasnya untuk mulai menjaga kedamaian umat manusia.


Saat di perjalanan hendak mencari tempat sepi, elte dihadang oleh delapan orang dengan topeng masker. Dengan membaca pikiran mereka, elte mengetahui bahwa kedelapan orang itu adalah para seniornya yang pernah menjadi pendamping saat MOS.


"Kak roni, kak rino dan kakak-kakak senior, ada apa keperluan apa kalian menghadang perjalanan pulangku." Tanya elte mengagetkan para seniornya.


"Serang..." teriak roni yang tidak ingin terlalu banyak basa-basi.


"Buukk.... buukk... plak... plak... buukk.... buukk... plak... plak..." seperti itulah kira-kira bunyi tendangan dan tamparan dari elte membuat para seniornya kembali jatuh pingsan.


Elte lalu meninggalkan para seniornya yang masih tergeletak pingsan di jalan. Ia lalu pergi ke balik semak dan membuat portal agar dapat pergi ke hutan untuk berlatih.


Setelah mengganti baju sekolahnya, dengan baju latihan berwarna biru dengan model khas pakaian ninja tanpa penutup kepala, elte mulai berlatih melempar senjatanya berupa paku ledakan .


"Hei... apakah kalian mendengar suara ledakan..." kata seorang pemburu kepada kawannya.


Halim drajat atau kakeknya diah dan ardha kembali ke hutan setelah pulih untuk mencari tanaman obat. Ia menyewa beberapa pemburu untuk menemaninya tanpa mengajak kedua cucunya.


Seorang pemburu lalu menggunakan teleskop atau teropong untuk menyelidiki sumber ledakan dari kejauhan. Setelah melihat penyebab ledakan, keningnya berkerut lalu ia menggosok kedua matanya dan kembali melihat teropongnya.


Melihat tingkah laku dari pemburu tersebut, halim penasaran dan mengambil teropongnya sendiri lalu melihat ke arah sumber ledakan.


Sang kakek sangat terkejut melihat seorang pemuda sedang berlatih melempar senjata peledak. Ia lalu mengajak para pemburunya menuju ke lokasi pemuda itu dengan harapan dapat bertemu dengan penyelamatnya.


Mendengar suara kaki mendekat, elte lalu mengaktifkan zona persepsi dan mendeteksi beberapa orang sedang menuju ke lokasinya.


Elte lalu melempar sebuah bom asap ke bawah kakinya sehingga tubuhnya tertutupi asap lalu elte kabur ke ruang dimensinya menggunakan portal teleportasi.


Sang kakek yang melihat dari kejauhan, terkejut dan kecewa karena belum sempat melihat wajah pemuda tersebut. Setelah beberapa saat mencari keberadaan pemuda tersebut. Ia lalu memutuskan untuk kembali mencari tanaman herbal.