
Malam semakin gelap tanpa dihiasi cahaya rembulan dan jutaan bintang. Awan hitam yang gelap berkamuflase dikegelapan malam menutupi rembulan dan bintang-bintang. Rintik-rintik hujan satu persatu melompat turun ke bawah dari awan hitam tersebut. "Tik tik tik..." seperti itulah kira-kira bunyi rintik hujan di atas genteng. Airnya turun tidak terkira. Malam itu para warga lebih memilih bersembunyi dibalik selimutnya yang tebal daripada menengok dahan dan ranting, pohon di kebun basah semua.
Seorang anak gadis bertubuh imut secara perlahan membuka kedua matanya. Ia berharap bahwa apa yang sudah menimpanya hanyalah sebuah mimpi buruk belaka. Namun sayang harapannya tidak sesuai kenyataan. Ia mendapatkan dirinya masih dalam keadaan terikat dengan tubuh lebam dan tanpa sehelai benang. Ia melirik baju dan celananya yang ada di lantai dan sudah tidak berbentuk karena sudah dirobek dengan paksa. Ia juga bisa melihat dalaman atas dan dalaman bawahnya sudah tergeletak di disekitar pakaian tersebut.
Air matanya kembali menetes dengan suara tangisan yang terdengar memilukan dan menyayat hati. Semua anggota tubuhnya terasa sakit dan perih terutama dibagian kem*luannya. Kepalanya berdenyut-denyut dan persendiannya senat-senut. Matanya menatap kosong kondisi kamar yang sudah sepi.
Jika ini memang bukanlah mimpi buruk setidaknya Ia berharap jika semua ini sudah berakhir. Ia berharap jika penjahat itu sudah kabur dan sebentar lagi polisi akan datang menyelamatkan mereka. Namun sayang harapannya sekali lagi tidak sesuai kenyataan. Dari balik pintu kamar seorang pria tua yang paling ia benci saat ini terlihat memasuki kamar dalam kondisi tanpa sehelai benang. Di kedua tangannya ia melihat kepala kakaknya dan kedua orang tuanya. Gadis malang itu kembali berteriak histeris dengan mulut tersumpal dan kembali pingsan.
"Eh... gadis manis itu kembali pingsan" kata anto wiranto berbicara dengan dirinya sendiri.
"Hehehe... Pasti ia syok melihat seluruh keluarganya sudah kita bantai dengan memenggal kepalanya." Kata anto wiranto kembali berbicara dengan dirinya sendiri.
"Soalnya mereka ribut sekali. Mereka kan harusnya sadar kalau mulut yang disumpal itu artinya tidak boleh ribut. Nggak sadar banget sih" kata anto wiranto menjawab dirinya sendiri.
"Jadi bagaimana selanjutnya ?" Tanya anto wiranto kepada dirinya sendiri.
"Kita beristirahat saja dulu malam ini, kita periksa kondisi rumah ini apakah ada uang atau perhiasan yang bisa kita amankan. Di dapur juga sudah ada makananĀ yang bisa kita nikmati malam ini. Dan yang paling asyik di atas ranjang itu ada gadis kecil yang bisa menghangatkan tidur kita nanti." Kata anto wiranto kepada dirinya sendiri. Ia lalu memgangguk setuju dan tersenyum puas. Ia sudah bertekad besok dini hari pukul 03:30 WITA ia kembali akan menghapus jejak kejahatannya dengan membakar rumah tersebut dan terus mendatangi semua rekan dan tim sukses yang telah mengkhianatinya. Jika tidak ada yang mau membantunya untuk mematai-matai rutinitas walikota maka ia tidak akan segan-segan menghabisnya.
Sementara itu di ibu kota negara, mantan istri buronan itu sedang tertidur dalam kondisi duduk sambil memegang tangan putra sulungnya yang masih koma. Ia bermimpi buruk melihat kembali masa lalunya yang kelam saat dieksploitasi oleh mantan suaminya sendiri.
Seorang gadis polos yang ceria yang kini sudah berubah menjadi sosok wanita yang pendiam dan lebih dewasa akibat masa lalu kelam dari mantan suaminya. Beberapa menit kemudian ia terbangun dengan keringat di keningnya. Tangan kirinya terasa kram atau kebas atau mati rasa atau kesemutan akibat dipakai sebagai pengganti bantal.
Anti wiranti terdiam sejenak lalu berdiri dan meregangkan tubuhnya yang terasa kaku.
"Krek krek krek" seperti itulah kira-kira bunyi peregangan persendian tulang dari tubuh wanita paruh baya tersebut. Ia lalu mengambil segelas air minun dan membasahi kerongkongannya yang sudah kering akibat berkeringat saat mimpi buruk.
Wanita itu merasa bingung kenapa hatinya tidak tenang malam itu, ia melihat putra sulungnya yang kini terbaring koma tidak berdaya di atas pembaringannya.
Ia lalu menghembuskan nafasnya sambil memijit keningnya sendiri. Kasus tentang putranya beserta lima orang rekannya yang koma saat hendak wik wik kikuk kikuk dengan wanita purel, kini sedang viral di media sosial. Sudah ada jutaan tanggapan negatif dari para netizen yang mencela kejadian tersebut.
"Berhubungan intim dengan seorang wanita sudah seharusnya membawa kenikmatan bagi seorang pria. namun naas, tragedi buruk malah menimpa"
"Hahaha.... nafsu bagai kuda tetapi tenaga bak ayam.... menggebu-gebu tapi nempel doang... mau pakai obat kuat malah salah minum obat... siapa sangka keenam orang kaya di kota kita berakhir tragis ketika hendak bersetubuh dengan wanita panggilan"
"Tidak ada manusia di dunia ini yang luput dari kesalahan dan kekhilafan. betapa orang-orang memandangnya sangat baik. Ia sangat dihormati dan seringkali dimintai tolong. Padahal iapun tidak luput dari kesalahan. Kesalahan-kesalahan ini merupakan aib baginya. Sesungguhnya, jika mereka tahu semua aib-aib tersebut, niscaya mereka akan membencinya dan merendahkannya. Selama ini Tuhan telah menutupi aibnya dan kini Tuhan memperlihatkan aib-aib tersebut."
"Merayunya satu jam... pemanasanya satu menit.... mainnya tidak sampai satu detik... kasihan amat nasib kalian.... hahahaha"
"Belum juga puas udah klimaks.... klimaksnya nggak enak pula nanggung ... hahahaha... udah lama nggak gitu, eh pas gitu nggak lama... hahahaha"
"Minta linknya bang ?"
Seperti itulah beberapa tanggapan negatif dari netizen di media sosial. Bahkan karena viralnya, tidak sedikit pihak yangvmelakukan promosi melalui komentar yang dianggap viral tersebut.
Anti wiranti lalu membaca kembali pesan dari Lam Xiao Mei tentang kedatangannya besok sore bersama seorang dokter senior. Ia berharap agar putra sulungnya dapat segera siuman dan kembali memimpin usahanya yang sedang merosot akibat nilai sahamnya yang melakukan gerak jatuh bebas. Siapa yang akan menyangka jika saat ini nilai sahamnya akan melalui gerak jatuh bebas tanpa kecepatan awal dengan nilai percepatan yang konstan. Untung saja semua bisnisnya ia tidak berikan ke anaknya. Setengah bisnisnya di kota lain masih menggunakan namanya. Adapun semua usaha yang dipegang oleh anaknya kini sudah tinggal menunggu waktu gulung tikar.
Anti wiranti kembali menghembuskan nafasnya dengan kesal. Ia teringat dengan anak keduanya yang kini ia sekolahkan keluar negeri di korea selatan. Ibu kandung dari pasien koma itupun berkata lirih, "semoga kalian semuanya bisa menjadi orang-orang yang sukses nak.".
......... ......... .........
Sementara itu di atas sebuah batu besar di atas sungai yang ada di sebuah hutan di kegelapan malam, sang prontagonis sedang duduk bersemedi melakukan kultivasi pelahap kilat. Energi alam perlahan diserap oleh dantian eksternal yang kini berada di dalam perut elte. Sudah hampir lima jam ia berkultivasi namun ia merasa perkembangan tingkat kultivasinya sangat lambat. Padahal dengan berkultivasi di alam bebas dengan metode kultivasi pelahap kilat maka satu jam berkultivasi, hasilnya sama saja dengan satu hari berkultivasi secara normal. Jika saja para kultivator di organisasi SFO mengetahui keluhan sang prontagonis dengan kecepatan kultivasinya, mungkin saja mereka semua akan muntah darah dan tidak ingin menerima kenyataan tersebut.
Elte mengeluh dengan perkembangan tingkat kultivasinya karena dirinya memang belum mengetahui kondisi perkembangan kultivasi yang normal. Apalagi dengan pengalaman elte yang telah berhasil menyerap kultivasi seorang kultivator dengan elemen kegelapan dan elemen gravitasi. Hanya dalam waktu satu menit lebih, ia berhasil merebut tingkat kultivasi senilai enam puluh tahun dari kultivator tersebut.
"Sudah mau subuh.... kembalilah ke kamarmu untuk mengatur rencana yang lebih baik.... ingat dengan diskusi kita sebelumnya" terdengar suara sang phoenix di telinga elte.
"Baik guru... aku akan kembali untuk mengatur rencana" kata elte kepada sang phoenix.
Ia lalu membuat portal teleportasi menuju ruang dimensinya. Setelah menyimpan kembali dantian eksternalnya di peti batu, ia pun lalu kembali ke kamarnya.
Saat elte telah tiba di kamarnya, ia teringat dengan diskusinya bersama sang phoenix enam jam yang lalu saat memasuki alam bawah sadarnya.
[FLASHBACK ENAM JAM YANG LALU]
"Guru... aku ingin mendiskusikan beberapa hal" kata elte kepada sang phoenix.
"Apa itu...." kata phoenix dalam kegelapan alam bawah sadar sang prontagonis.
Sang phoenix mengkerutkan keningnya ia lalu berkata, "apakah kau ingin menyelesaikan masalah-masalah yang sebenarnya bukanlah sebuah masalah ? ......... Janganlah mempermasalahkan masalah-masalah yang bukan masalah sehingga masalah-masalah yang bukan masalah itu menjadi masalah yang bermasalah".
Giliran elte yang mengkerutkan keningnya mendengar ucapan gurunya. Ia lalu berkata, "maaf guru aku kurang mengerti apa maksud guru tentang masalah !!! ".
"Sama.... aku juga kurang paham dengan maksudmu tentang rencana" kata sang phoenix dengan datar.
Elte menggaruk kepalanya yang tidak gatal, ia menyadari pertanyaannya yang berbelit-belit. "Maaf guru" ucap elte.
"Lanjutkan pertanyaanmu langsung pada intinya" kata phoenix masih dengan nada datar.
Elte meneguk ludahnya, ia merasa tegang karena sikap gurunya terasa datar tidak seperti biasanya. Ia lalu menceritakan tentang kelima janji yang baru diingatkan kembali lewat pesan chat yakni Pesan pertama dari pak jaya yang mengingatkannya kalau minggu depan ia akan mengajak dirinya ke jepang untuk mengunjungi rekan bisnisnya. Pesan kedua dari bu yeyen yang menanyakan hal-hal yang sebelumnya sempat mereka diskusikan di depan kamar tentang fitnah malpraktek dan video dewasa dari salah satu anggota tim risetnya. Pesan ketiga dari pak halim drajat yang mengingatkannya agar dapat memberikan jawabannya secepatnya untuk bergabung di rumah sakit tradisional miliknya. Pesan keempat Wira winata mengingatkan tentang kepastiannya ingin belajar karate black panther dengan honor sepuluh juta setiap bulan selama setahun. Dan yang terakhir pesan kelima dari yuda yang menanyakan kepastian latihan di hutan.
"Terus bagaimana dengan janjimu untuk meningkatkan kultivasimu dan janjimu untuk menjaga perdamaian dunia. Dari semua janji yang kau ingin diskusikan tadi, aku melihat semua untuk keuntungan pribadimu atau keluargamu.... apakah kau masih ingat kalau kau adalah pewarisku ?" Kata phoenix masih dengan suara datar.
"Glek..." seperti itulah kira-kira bunyi tegukan ludah dari sang prontagonis. Ia hanya bisa tertunduk diam tidak berani menjawab bahkan bersuara. Bernafaspun ia atur pelan-pelan agar tidak terdengar oleh gurunya.
Kondisi hening tanpa ada yang suara selama enam puluh tiga detik.
"Hhmmmmm..... malam ini kau harus ke hutan untuk berkultivasi... aku ingin mulai hari ini kau rutin berkultivasi setiap malam di hutan. Untuk janji-janji yang ingin kau diskusikan, silahkan kau pikirkan sendiri. Namun untuk janji belajar pengobatan tradisional dan belajar seni bela diri karate black phanter, aku sarankan untuk kau lakukan demi perkembanganmu dan bekalmu nanti jika merantau di dimensi kaum manusia naga dan dimensi kaum manusia alien." Kata phoenix setelah terdiam selama enam puluh tiga detik.
"Baik guru" kata elte lalu bergegas bangun dari alam bawah sadarnya dan menuju ke ruang dimensi untuk mengambil dantian eksternal lalu ke hutan untuk berkultivasi.
[FLASHBACK OFF... ]
Saat fajar mulai mengintip, elte telah membalas semua pesan chat yang sebelumnya. Ia membalas pesan pak jaya dengan jawaban "siap", ia lalu membalas pesan bu yeyen dengan jawaban "siap, akan didiskusikan dulu dengan kak yuda", ia juga membalas pesan pak halim dengan jawaban "siap pak, dua minggu depan dapat kita mulai", kemudian ia membalas pesan pak wira winata dengan jawaban "siap pak, besok sore kita ketemu untuk membicarakan teknis dan pembayarannya", selanjutnya ia membalas pesan yuda dengan jawaban "jadi kak".
Setelah membalas semua pesan tersebut, ia lalu bersiap-siap untuk ke sekolah dengan mandi dan berseragam. Setelah siap ternyata waktu ke sekolah masih lama sehingga sang prontagonus memutuskan untuk melakukan kultivasi nasi pepes untuk melatih kembali tubuhnya.
Sinar matahari pagi masuk menembus kaca jendela. Mata elte mulai bergerak sedikit karena silau. Ia lalu memutuskan untuk menghentikan kultivasinya dan menuju ke ruang makan. Setelah sarapan pagi bersama, ia lalu menuju ke sekolah menggunakan motornya yang beroda dua.
Sementara itu di sebuah rumah seorang ibu sedang memarahi anaknya yang tidak ingin pergi sekolah. Anak tersebut sangat syok saat terbangun dan iseng membuka media sosialnya setelah smartphonenya sudah ia charge hingga full.
Ia merasa sangat malu membaca komentar negatif para netizen yang membully sebuah video viral dimana dirinya sedang menyanyikan sebuah lagu dan memainkan piano saat di acara pesta ulang tahun semalam.
Ternyata perasaan senangnya mengira para tamu menyukai aksinya hanyalah sebuah fatamorgana. Ia tidak menyangka jika kini dirinya menjadi bahan bullyan dan bahan meme atau lelucon di media sosial. Ia yakin jika dirinya ke sekolah maka dirinya hanya akan menjadi bulan-bulanan teman sekolahnya.
Dudung raksadinata juga melihat video viral dari sang prontagonis saat menyanyi dan bermain piano, namun ia tidak menemukan komentar negatif dari netizen. Semuanya komentar berisi pujian dan hal-hal positif lainnya.
Sayangnya wajah elte saat itu tidak jelas karena direkam tanpa di sorot secara fokus. Beda halnya dengan videonya dimana wajahnya disorot secara jelas dan fokus. Bahkan salah satu netizen berkomentar kalau ia mengenal dirinya dan mengetik informasi pribadi tentang dirinya seperti nama, alamat, nomor handphone dan email.
Sang ibu menyerah memarahi anaknya untuk ke sekolah. Ia lalu keluar kamar dan memanggil suaminya. Dudung yang sedang gegana atau gelisah galau merana hanya berbaring lesu dengan tatapan kosong.
"Ehem" terdengar suara ayah si dudung dari balik pintu. Dudung lalu melompat dari ranjangnya dan bergegas mandi lalu mengenakan seragam sekolahnya. Dudung sangat takut dengan ayahnya yang selalu memukul dudung jika dudung membuat ibunya menyerah.
Jika ia memang tidak bisa lagi bersembunyi di dalam kamarnya, maka ia akan menghindari teman sekolahnya dengan bersembunyi di warnet dekat sekolah.
Dari balik pintu, terdengar suara ayahnya, "nak... aku tahu pikiranmu, jika nanti siang aku iseng ke sekolahmu dan aku mendapatkan kabar dari gurumu kalau kau tidak masuk sekolah, maka jangan salahkan ayah jika tidak mengizinkanmu lagi masuk ke rumah".
"Iya ayah" kata dudung yang terkejut dengan prediksi ayahnya yang sangat tepat. Dalam hatinya ia berkata, "ayah,... ibu,.... aku ini anak kandungmu kan !!!".
Sang ayah hanya tersenyum senang menjalankan perannya sebagai sosok yang ditakuti oleh anak kesayangannya. Ia lalu kembali ke dapur melanjutkan mencuci piring yang tadi sempat tertunda.
"Ayah... nanti siang aku mau keluar ikut membahas kondisi politik dan sosial (baca : gosip) dengan ibu-ibu arisan... kalau nanti hujan jangan lupa angkat jemuran yah" kata ibunya dudung sambil menonton TV.
"Siap honey sayang" kata sang suami sambil tetap mencuci piring di dapur.
Dudung lalu ke meja makan untuk sarapan dan setelah itu berangkat ke sekolah dengan menaiki motor ninjanya.
"ke sekolah... ke warnet... ke sekolah... ke warnet... ke sekolah... ke warnet... aaaahhhh pusing nih. Antara malu dan takut." dudung sangat bimbang dengan kondisinya, ia berharap agar ia dapat diberikan jalan keluar agar tidak perlu ke sekolah namun tidak dipukul oleh ayahnya. Dan keinginannya pun terwujud dalam waktu singkat.
"Bbrraakkkkk....." seperti itulah kira-kira bunyi suara mobil yang menabrak motor dudung yang sedang memotong jalannya.
Dudung yang sedang dalam kondisi slow motion terlempar ke udara hanya bisa mengumpat kesal, "Nggak kini juga kali maksud keinginanku agar tidak perlu ke sekolah tanpa dipukul ayah." selanjutnya dudung hanya bisa pasrah mempraktekkan beberapa materi pelajaran fisika seperti gaya gravitasi, gaya newton, gaya momentum, impuls dan gaya jatuh bebas.