WUMMM

WUMMM
16. Fitnah dan Jebakan



Di saat rumah sakit sedang heboh dengan kejadian sembuhnya para pasien, elte masih tidur di atas ranjangnya karena kelelahan menguras kekuatan mentalnya menyembuhkan ratusan pasien dalam semalam.


Sang phoenix yang mengawasi dari alam bawah sadarnya sangat bangga dengan perkembangan elte dalam memahami konsep telepati dan telekinesis.


Untuk saat ini, kemampuan elte sebanding dengan alien dari kasta bawah yakni alien prajurit atau pekerja.


Pada siang hari, setelah waktu makan siang, para wartawan infotainment datang ke rumah sakit tersebut untuk mencoba mencari berita tentang kejadian tadi pagi.


Sementara itu pimpinan yang mereka sangat kagumi itu berjalan tenang menuju sebuah kamar VIP ingin menyaksikan kondisi elte yang secara ajaib juga ikut sembuh pagi ini.


Tidak ada yang akan percaya dengan kesembuhan elte karena sebelumnya kondisinya cukup kritis, dalam keadaan koma dengan beberapa tubuh lebam dan tulang retak.


Prediksi dari dokter harusnya elte bisa sembuh paling cepat setahun, itu pun masih harus melalui beberapa terapi secara rutin.


Tanpa mengetuk terlebih dahulu, Pintu ruangan VIP terbuka dan masuklah sosok pria separuh baya dan langsung duduk di samping ranjang.


Setelah mendapatkan telpon dari rumah sakit tentang kondisi elte, ayah dari yuna dan yuni itu diminta untuk ke rumah sakit karena saat ini, dialah yang menanggung biaya perawatan pasien atas nama elte yawarakai.


Pak jaya wijaya meminta rumah sakit untuk memindahkan elte yang sebelumnya di ruang ICU ke ruang VIP


Mendengar suara pintu terbuka dan suara hempasan tubuh seseorang ke atas sebuah kursi yang ada  di samping ranjangnya, elte perlahan membuka matanya.


Terlihat seorang pria paru baya yang pernah ditemuinya di acara syukuran beberapa minggu yang lalu.


Elte tidak terlalu mengenal pria ini serta alasannya datang berkunjung. Ia lalu menggunakan persepsi untuk melakukan telepati membaca pikiran dan ingatan pria itu.


Dari hasil telepati yang ia lakukan terhadap pria itu, elte terkejut dan sedikit terharu karena ia melihat bahwa pria yang ada di depannya adalah sosok yang telah membantu pembayaran biaya perawatannya selama di rumah sakit. Elte juga terharu senang karena ia melihat keinginan pria itu untuk mengasuhnya


Jaya wijaya datang dengan sengaja terlihat angkuh karena ingin melihat reaksi anak yang dianggap teman oleh putri bungsunya itu.


"Terima kasih banyak pak atas uluran tangannya telah sudi membantu membayarkan biaya perawatan selama saya di rumah sakit" kata elte dengan sangat sopan dan membuat sang ayah dari yuna dan yuni terkejut.


Seingatnya, kalau dia belum memberitahukan ke elte, tentang bantuannya itu. Bahkan ia juga sengaja, meminta agar ibu panti dan pihak rumah sakit, agar  menyembunyikan hal ini, agar tidak diketahui oleh media apalagi oleh orang yang saat ini ia kurang sukai yakni sang walikota.


"Kenapa kamu mengatakan kalau aku lah yang membayar biaya perawatanmu?" Tanya sang pria separuh baya


Setelah membaca kembali pikiran jaya wijaya yang ingin merahasiakan identitas orang yang membantu elte, muncul keraguan dan kebingungan untuk berkata jujur.


"Maaf tuan, saya baru sadar dari kondisi koma saya dan sewaktu baru sadar, saya mendengar para dokter yang sedang membicarakan hubungan saya dan tuan" jawab elte sambil mencari-cari alasan yang lebih jelas.


Elte memutuskan untuk menonaktifkan kemampuan telepatinya karena takut ketahuan.


"Oh begitu ya ....jadi apa yang bisa kamu lakukan untuk membalas kebaikanku membantu biaya perawatanmu" tanya pria itu sambil mencoba menyelidik raut wajah elte.


Elte yang sudah mengetahui niat pak jaya sebelumnya lalu menjawab pertanyaan pria itu.


"Saya bersedia bekerja di rumah pak jaya sebagai pembantu pak, dan saya juga menawarkan diri untuk menjadi guru privat putri bungsu bapak" jawab elte yang membuat pak jaya kembali tercengang.


Jaya wijaya kaget karena semua jawaban elte seratus persen sesuai harapannya.


Dia masih ragu untuk mengangkat anak yatim piatu yang miskin itu menjadi anak asuhnya tanpa mengetahui latar belakang bibit bebet dan bobotnya secara langsung di depan matanya sendiri tanpa bisikan dari orang lain walaupun itu anak dan istrinya sendiri


Selama menjadi pimpinan di bisnis entertainment, tidak sedikit film-film sinetron yang dibuat oleh produser dibawah manajemen perusahaannya, dimana film itu menceritakan tentang kisah perebutan harta oleh anak asuh yang disangkanya baik hati namun ternyata anak asuhnya itu hanya bosan hidup miskin dan bermimpi menjadi orang kaya.


"Baiklah ... kalau begitu istirahatlah siang ini, nanti sore jam pulang kantor aku akan datang menjemputmu, malam ini kita singgah di panti asuhan untuk mengurus administrasi kepindahanmu untuk tinggal di rumahku." Kata pak jaya mengakhiri pembicaraannya dengan elte.


Elte kembali membaringkan tubuhnya lalu berkonsentrasi untuk memasuki alam bawah sadarnya. Dia ingin melanjutkan pelatihannya memperkuat kemampuan telepati dan telekinesisnya bersama sang phoenix.


Saat sore sekitar jam pulang kantor, pak jaya wijaya datang bersama supirnya di rumah sakit.


Ia lalu mengurus administrasi pembayaran selama hampir tiga minggu sekitar tiga ratus juta lebih. Dengan perkiraan biaya perawatan dan tindakan medis selama koma sekitar lima belas juta sehari.


Suatu hal yang sangat lumrah jika pak jaya awalnya merasa keberatan untuk menanggung biaya perawatan orang lain yang sedang koma.


Setelah proses administrasi telah selesai, elte dan pak jaya diantar supir ke arah panti asuhan.


Setibanya di panti asuhan, terlihat rumah kecil yang menampung elte selama ini sedang ditutup dan terdapat tanda police line yang menyatakan kalau rumah itu dilarang masuk.


Melihat sebuah mobil mewah masuk ke kampung mereka, beberapa warga datang menghampiri dan melihat elte yang sedang terkejut dan bingung menatap panti asuhan.


"Wah.... nak elte, kamu sudah sehat ya" kata salah satu warga yang dipilih secara mufakat sebagai ketua RT.


"Eh pak RT, kenalkan, ini pak jaya wijaya, beliau adalah orang yang sering membantu panti asuhan sebagai donatur tetap pak".


"Ngomong-ngomong apa bapak tahu ada apa dengan panti asuhan pak, selama saya masih koma di rumah sakit" tanya elte yang sudah tidak tahan dengan rasa khawatir dan penasarannya.


"Ayo.... pak jaya...elte..... kita ke rumahku dulu membicarakan kejadian tiga minggu ini" ajak pak RT sambil menuju ke rumahnya.


Dengan menghempaskan masing-masing tubuh ke atas kursi sofa, pak RT selaku tuan rumah mulai menceritakan kejadian tiga minggu yang lalu.


Pak RT menceritakan kronologis kejadian kepada elte dan pak jaya. Menurut yang mereka dengar bahwa setelah ibu panti mengetahui kejadian tentang kondisi elte yang sedang koma, dia bersama anak-anak yatim mencoba mencari bantuan sumbangan ke jalan-jalan, dinas sosial dan para donatur tetap.


Ibu panti juga mencoba mencari pinjaman untuk biaya perawatan anak asuhnya.


Setelah satu minggu sibuk mencari bantuan, ibu panti bercerita bahwa elte mendapatkan bantuan biaya dari salah satu donatur tetap yang tidak ingin diketahui identitasnya.


Besok pagi ibu panti pergi ke rumah sakit menjenguk elte yang masih koma. Namun sepulang dari rumah sakit, kami melihat ibu panti tiba dirumahnya dalam kondisi berantakan, jalannya sedikit pincang dengan wajah penuh lebam, rambutnya acak-acakan dan yang paling menggenaskan pakaiannya robek di beberapa tempat. Para warga menduga kalo ibu panti saat itu adalah korban pemerkosaan.


"Kami semua sangat terpukul melihat kondisi beliau, di umurnya yang sudah hampir kepala lima ternyata masih ada juga orang brengsek yang tidak bisa mengendalikan nafsunya" kata ibu RT tiba-tiba memotong cerita pak RT karena terlihat emosi mengingat kejadian tersebut.


Elte yang mendengar kejadian itu sangat marah hingga tanpa sadar matanya memerah dan meneteskan air mata.


Jika saja saat itu elte bersikap tenang, dia harusnya menggunakan kekuatan telepatinya untuk membaca pikiran pak RT dan bu RT. Tanpa sadar elte dan pak jaya mendengarkan cerita kronologis yang telah dibumbui pak RT.


"Dari teriakan preman yang terdengar marah-marah, para warga mendengar bahwa ibu panti seminggu lalu meminjam uang kepada seorang rentenir dan belum bayar cicilan sesuai kesepakatan".


"Besoknya datang sebuah bis di depan panti membawa seluruh anak panti ke luar kota dan kami kurang tahu tujuannya"


"Dua hari kemudian datang mobil polisi dan menangkap ibu panti lalu memasang policeline. Dari polisi itu warga mendengar kalo ibu panti nekat menjual anak-anak yatim di panti asuhannya karena terdesak ingin membayar hutangnya kepada rentenir"


Kata pak RT menutup ceritanya.


"Kenapa kasus ini tidak diliput media pak, bukannya kasus ini akan cukup viral pak sehubungan dengan kasus human trafficking" tanya pak jaya wijaya dengan sedikit kurang paham dengan kondisi yang sedang terjadi


"Polisi menyarankan kami untuk tidak menyebar kejadian ini demi menjaga kepanikan masyarakat pak, kami juga merasa ini adalah aib bagi tempat kami jika memang apa yang dituduhkan polisi itu benar adanya" jawab pak RT seakan-akan simpatik kepada ibu panti.


Elte dan pak jaya wijaya termenung beberapa saat memikirkan cerita pak RT yang sebenarnya telah banyak dibumbui dengan sedikit kebohongan agar terdengar dramatis.


Elte terlihat masih terisak berusaha menahan air matanya karena rasa amarah, rasa sedih, rasa takut dan rasa khawatir bercampur menjadi satu ekspresi.


Pak jaya wijaya menatap sesaat elte dan merasa bingung dengan keadaan elte. Dia merasa sangat prihatin dan terkejut mendengar kisah drama hidup anak yatim itu seperti film-film sinetron yang dibuat oleh para produser yang berada dalam manajemennya.


"Mengingat pengalaman saya setahun yang lalu dan alasan saya berada dalam kondisi koma, saya merasa bisa menebak siapa dalang dibalik fitnah dan perlakuan jahat orang-orang itu" kata elte terlihat cukup dewasa di umurnya yang masih enam tahun dan beberapa hari lagi masuk ke umur tujuh tahun.


"Aku berharap elte tidak berpikir instan dan mencoba hal-hal yang konyol yang nantinya dapat merugikan orang-orang sekitarmu" sindir pak jaya wijaya yang mengerti siapa oknum yang dimaksud


"Bagaimana pun kau sudah berjanji akan bekerja di rumahku dan aku tidak ingin jika kelakuan konyolmu dapat mengundang masalah bagi keluargaku" lanjut pak jaya wijaya yang masih terus menyindir dengan alasan dapat meredam rencana konyol dari satu-satunya anak kecil yang ada di ruangan itu.


"Apakah bapak bisa mengantar saya besok menjenguk ibu panti pak" tanya elte memohon ke pak jaya wijaya dan langsung ditanggapi dengan penolakan dari pak jaya.


"Maaf elte, aku juga merasa prihatin dengan kondisi hidupmu, ibu panti dan anak-anak asuhannya saat ini adalah keluargamu dan aku paham kamu merasa sangat khawatir saat ini."


"Tapi aku tidak bisa sembarangan ikut campur dengan masalahmu yang saat ini ingin menyinggung pak walikota"


"Kamu dan keluargamu telah membuat anak-anaknya cacat, dan jika saja saat kamu koma, kamu tidak dirawat di kamar ICU rumah sakit dengan tingkat keamanan yang sangat bagus, mungkin kamu juga akan didekati oleh para anak buahnya untuk dihabisi." Kata pak jaya wijaya berkata tegas menolak elte untuk diantar.


"Lagi pula dengan umurmu yang masih sangat muda belum sampai tujuh tahun, kamu tidak akan diizinkan datang menjenguk tanpa ditemani oleh wali" lanjut pak jaya yang menebak pikiran elte untuk nekat datang sendiri.


Elte kembali terdiam menunduk sambil mengepalkan kedua tangannya. Dia tidak menyangka pak jaya akan menolak permintaannya untuk mengunjungi ibu panti.


Namun dia tidak bisa menyalahkan pak jaya karena mereka belum memiliki hubungan dekat sehingga wajar jika pak jaya tidak mau terlibat terlalu jauh menyinggung pak walikota.


Pak RT dan bu RT terkejut karena elte dan pak jaya bisa menebak siapa dalang dari kejadian yang menimpa penghuni panti asuhan tersebut.


"Pak jaya... nak elte.... jadi apa rencana kalian selanjutnya" kata bu RT mencoba memancing mereka untuk menceritakan rencana mereka.


"Aku akan kembali pulang ke rumah membawa elte yang telah berjanji bekerja sebagai bentuk balas budinya kepada keluarga kami yang telah membantu biaya perawatannya"  kata pak jaya mencoba menyadarkan elte akan kondisinya.


"Aku juga akan meminta para wartawan untuk mencoba menyelidiki kasus ini tanpa membongkar identitas nama panti, sesuai deangan keinginan warga yang tidak ingin kejadian ini menjadi aib" lanjut pak jaya sang pemilik bisnis entertainment.


Pak jaya dan pak RT berdiskusi hingga setelah beberapa saat berlalu, pak jaya ijin pamit untuk pulang bersama elte yang masih sedih dan kebingungan.


Elte bingung bagaimana caranya dia bisa menjenguk ibu panti dan mengorek informasi tentang kasus yang menimpa penghuni panti. Dia merasa perlu mendengar langsung dari sudut pandang ibu panti.


"Pantas saja ibu panti sudah tidak pernah menjengukku lagi" ucap elte dalam hati.


Pak RT dan bu RT menemani pak jaya sampai pintu rumah dan melihat mereka menaiki mobil mewah untuk pulang ke rumah.


Senyum licik terpasang di wajah pak RT, lalu menelpon seseorang untuk menceritakan tentang rencana pak jaya.


Pak RT bisa memiliki pengaruh dan mendapatkan mufakat dari warga karena dukungan materi dari salah satu anggota dewan yang saat ini telah menduduki posiai walikota. Pak RT juga menjadi salah satu tim sukses saat pemilihan walikota.


Mobil mewah yang membawa elte dan pak jaya berjalan dengan cukup kencang, tanpa di sadari oleh mereka, dua buah mobil mengikuti dibelakang mereka.


Sewaktu melewati jalan yang cukup sepi, dua buah mobil dengan pintu samping yang bisa digeser menghadang di depan jalan mereka. Saat supir pak jaya hendak mundur, dua buah mobil yang telah mengikuti mereka dari belakang segera menutup jalan mereka.


Dua puluh orang turun dari keempat mobil itu mengenakan topeng monyet menuju mobil pak jaya.


Jaya wijaya tersentak kaget dengan penyerangan yang tidak pernah dia dua duga sebelumn. Pak jaya dan elte yakin kalo sang walikota adalah dalang dari penyergapan ini.


Beberapa pria besar dengan topeng monyet memecahkan kaca mobil dengan sebilah parang sejenis badik. Kemudian mereka menyeret ketiga orang yang ada di mobil itu.


Tanpa ingin melakukan diskusi... seorang pria lain yang mengenakan jaket kulit dan celana jeans hitam mengeluarkan sebuah senjata api berupa pistol dengan peluru yang masih penuh.


Setelah menyetel pengaman pistol agar non aktif, pria itu langsung menembak perut dan dada ketiga korbannya.


Melihat ketiga korbanya dalam kondisi sekarat, mereka semuanya kembali ke mobil dan kabur ke markas mereka.


Elte yang kesakitan merasakan cairan hangat mengalir dari sebuah lubang di perut dan dadanya, segera mengaktifkan kekuatan persepsinya untuk mengendalikan kondisi tubuh hingga tahap sel.


Ia mengeluarkan kedua peluru dari tubuhnya dan meregenerasi lukanya hingga sembuh tanpa bekas.


Elte kemudian memanipulasi pikiran pak jaya wijaya beserta supirnya agar segera pingsan. Setelah yakin kedua orang itu pingsan, dia kemudian mengeluarkan peluru dan menyembuhkan kedua orang itu.


Setelah kedua orang itu sembuh, elte segera menggunakan persepsinya untuk mendeteksi lingkungan sekitarnya mencari para penjahat yang tadi telah menembak mereka.


Namun karena keempat mobil itu sudah berada di luar jangkauan persepsi elte yang baru bisa menjangkau dalam radius 10 km. Elte kehilangan jejak pelaku penyerangan.


Elte kembali melihat kondisi pak jaya dan supirnya yang sudah sehat dan masih dalam kondisi pingsan. Dia melihat bahwa baju kedua orang itu basah dengan darah, bahkan di sela paha sang supir itu terlihat basah oleh air kencing. Sepertinya supir itu mengompol karena ketakutan.


Elte lalu mendapatkan ide. Ia lalu beranjak ke pak jaya dan mengencingi arah ******** pak jaya agar terlihat seperti mengompol.


Dia lalu mencoba memanipulasi darah yang membasahi baju pak jaya menggunakan kekuatan persepsi dan telekinesis.