
"Ehem... dek elte... bisa tolong ambilkan air minum, sepertinya aku masih haus dan masih ingin minum" kata songkolo kepada elte.
"Eh baik kak songkolo.." kata elte lalu membalikkan badannya sambik membawa cerek kosong menuju tempat dispenser dan galon air.
"Buukkkk...." seperti itulah kira-kira bunyi pukulan sebuah batu ke belakang kepala elte. Sang prontagonis lalu jatih pingsan akibat serang tiba-tiba dari songkolo.
Lompo, tompo dan nompo hanya bisa terkejut melihat aksi songkolo secara tiba-tiba menyerang penyelamat hidup mereka.
"Songkolo... apa yang sudah kau lakukan" kata lompo yang secara refleks melompat ke antara songkolo dan elte.
"Apakah kau ingat dengan alasan para pimpinan yang akanmengirim kita semua ke indonesia ? Itu karena adanya isu tentang kekuatan sang pewaris yang dapat berteleportasi kemanapun ia suka." Kata songkolo menjelaskan alasannya menyerang sang prontagonis.
"Hhmmm... songkolo benar, jika kita bisa membawa elte kembali ke markas, tentunya kita semua bisa mendapatkan promosi oleh pimpinan" tompo menanggapi penjelasan songkolo sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Apakah kalian semua sudah gila ? Kita semuanya kini sudah lepas dari organisasi bren*sek itu dan sudah tiba di kampung halaman." Kata lompo sedikir marah.
"Pulang !!!... kampung halaman !!!.... apakah kau tadi tidak mendengar penjelasan elte ?... panti asuhan kita kini sudah tidak ada, disini kita tidak punya kartu identitas, mau bagaimana cara kita bertahan hidup?" Kata songkolo dengan nada sinis.
"Apakah kau ingin kembali menderita ke orgabisasi bren*sek itu" kata lompo yang berusaha mengingatkan kondisi hidup mereka yang dipaksa survive atau bertahan hidup saat latihan.
"Hahahahah.... emang selama kecil hidup kita di panti asuhan pernah bahagia ? Sejak kecil, kita semuanya sering di bully dan dipandang enteng oleh teman dan tetangga sekitar. Kebahagiaan kita hanya kebahagiaan semu saat kita bisa makan enak ketika ada undangan mengikuti pesta syukuran oleh orang-orang kaya yang munafik itu ?".
"Kita selaku anak yatim piatu diundang lalu difoto dan didokumentasikan dengan alasan pertanggungjawaban mereka menggunakan anggaran perusahaaan sebagai biaya bantuan sosial"
"Tompo, nompo,... kau masih ingat perintah pimpinan sebelum kita dibawa kemari ? Bunuh lompo"
Songkolo menatap sinis ke arah lompo... walaupun dirinya sudah mendapatkan kembali ingatannya, namun yang teringat kebanyakan adalah ingatan saat dirinya menderita kelaparan karena kondisi panti yang kekurangan dan ingatan tentang dirinya yang kesakitan akibat sering dibully oleh teman sekelasnya.
"Kak songkolo.... tapi yang dikatakan lompo ada benarnya? Aku juga sudah tidak betah kembali ke organisasi di rusia." Nompo memberikan pandangannya kepada songkolo.
Songkolo hanya dapat menatap ke arah nompo dengan tatapan kecewa. Ia lalu mengarahkan tatapannya ke tompo dan bertanya, " kau iku aku, atau ikut mereka"
"Aku ikut dengan kak songkolo" kata tompo lalu mulai menyerang lompo. Songkolo juga melompat ke arah nompo dan pertarungan antar petarung kembali terjadi.
Diantara ke delapan belas anak panti yang telah diculik, songkolo merupakan pasukan khusus yang paling brutal. Bahkan diantara seluruh pasukan khusus diangkatannya, ia adalah pasukan serta petarung yang paling kuat dengan daya tahan paling besar, paling gesit dengan daya serang paling cepat dan paling akurat, serta paling cerdik, licik dan picik saat meramu informasi menjadi sebuah keputusan.
Di daerah kelahirannya, songkolo memiliki dua arti, Songkolo adalah sejenis makanan berupa beras ketan hitam yang di bungkus dengan daun pisang kemudian dipanggang diatas bara api. Makanan ini kemudian dimakan dengan sambel yang terbuat dari cabe keriting dan bisa juga dengan telur asin. Di sisi lain Songkolo termasuk dalam 'bahasa kotor' yang digunakan untuk menghina atau mencaci. Jika kamu mendengar 'songkolo kau' bisa diartikan kamu kurang ajar atau kamu bangsat.
Ayahnya songkolo adalah preman desa. Ia menikahi ibunya songkolo setelah membuatnya hamil tiga bulan. Ibunya songkolo adalah anak dari sosok publik figur di desa tersebut. Karena merasa malu ia lalu mengusir anak perempuannya.
Orang tuanya songkolo lalu pergi merantau ke ibu kota tempat elte dilahirkan dan dibesarkan. Karena ayahnya songkolo malas mencari nafkah, maka ibunya songkolo terpaksa bekerja di dunia malam sebagai pelayan cafe. Tidak sedikit pengalaman ibunya yang sering dilecehkan oleh para tamu. Saat ibunya songkolo mengadu ke suaminya, ayah songkolo marah dan pergi mengamuk ke cafe tempat istrinya bekerja. Hal tersebut juga menjadi alasan ayahnya songkolo meninggal karena dikeroyok preman sekitar yang menjaga cafe tersebut.
Ibunya songkolo lalu terpaksa menjadi wanita penghibur karena hanya lulusan SMA, itupun semua ijasahnya masih di desa sehingga dirinya tidak bisa mencari kerja di tempat lain. Apalagi pemilik cafe terlanjur kesal akibat ulah suaminya yang datang mengacau di cafe.
Saat kehamilannya menginjak enam bulan dan perutnya mulai membengkak, ia memutuskan untuk kabur, keputusannya semakin bulat saat ia mendengar sang pemilik cafe berencana memanggil salah satu dokter untuk mengaborsi anaknya secara ilegal.
Pertemuannya dengan ibu ani mirani sang pengasuh di panti asuhan membuat ibunya songkolo mendapatkan tempat perlindungan. Namun setelah ia melahirkan, ibunya songkolo mengalami Baby blues syndrome, yakni gangguan suasana hati yang dialami oleh ibu setelah melahirkan. Kondisi ini menyebabkan ibu mudah sedih, lelah, lekas marah, menangis tanpa alasan yang jelas, mudah gelisah, dan sulit untuk berkonsentrasi. terjadi perubahan kadar hormon yang cukup drastis. Hormon estrogen dan progesteron dalam tubuh akan menurun. Hal ini dapat menyebabkan perubahan kimia di otak dan memicu terjadinya perubahan suasana hati (mood swing).
Sulit beradaptasi dengan perubahan yang ada dan tanggung jawab baru sebagai ibu dapat menjadi penyebab baby blues. Banyak ibu baru termasuk ibunya songkolo yang merasa kewalahan untuk mengurus segalanya sendiri, termasuk mengurus kebutuhan Si Kecil. Siklus tidur bayi baru lahir yang belum teratur menyebabkan ibu harus terjaga di malam hari dan menyita banyak waktu tidur mereka. Kurangnya waktu tidur terus menerus akan membuat ibu kelelahan dan tidak nyaman. Hal inilah yang bisa memicu terjadinya baby blues.
Nama songkolo disematkan di atas akta kelahiran dari bayi kecil tak berdosa itu karena saat hamil, sang ibu kerap kali merasakan ngidam ingin makan songkolo. Saat itu memang songkolo belum populer menjadi kata umpatan di kalangan anak muda makassar.
Anassambala (anak sambal) , Anassongkolo (anak songkolo) dan anassikopang (anak sekop) merupakan kata kotor pengganti dari anasundala (anak sundala, sundal artinya atau anak haram atau anak pelacur atau anak jalang). Seperti halnya kata jangkrik yang menggantikan dan memperhalus kata ****** atau jancok atau dancok yang merupakan sebuah kata makian atau umpatan pada saat emosi meledak, marah, atau untuk membenci dan memiliki arti 'sialan', 'keparat' atau 'brengsek'. Kata Jancok juga menjadi simbol keakraban dan persahabatan khas di kalangan sebagian arek-arek Suroboyo.
Namun, akibat nama songkolo yang memiliki makna lain sebagai kata umpatan, anak kecil malang itupu sering menjadi korban bully oleh teman-temannya sejak kecil. Apalagi sejak ibunya ditemukan meninggal di wisma esek-esek, anak kecil itu semakin diintimidasi oleh warga setempat. Beberapa hari sebelum meninggal, ibunya menghilang diculik oleh pemilik cafe dan menjualnya kembali ke dunia malam.
"Kkrrraaakkkkk....." seperti itulah kira-kira bunyi leher nompo yang dipatahkan oleh songkolo dan mengakibatkan nompo meregang nyawa. Lompo terkejut mendengar suara tersebut. Perhatiannya yang sempat teralihkan menjadi celah yang dimanfaatkan oleh tompo.
"Bbuukkk..." sebuah pukulan tepat diatas tulang hidung dan diantara kedua matanya, membuat lompo terhuyung-huyung ke belakang. Belum sempat ia kembali ke alam sadarnya, songkolo ikut menyerang lompo dari belakang.
Sebuah tendangan sabit tepat mengenai telinga kanan lompo dan membuatnya tidak sadarkan diri.
"Kkrrakkkk..... kkrraakkkk..." songkolo menginjak kedua lutut lompo hingga patah untuk memastikan lawannya tidak dapat bangun kembali.
"Tompo.... coba kau cari tali dan ikat elte. Aku akan mencoba menelpon pimpinan untuk menjemput kita.
"Aahhh sial.... " songkolo memaki handphonenya yang tidak dapat digunakan untuk melakukan panggilan karena nomornya tidak terdaftar di provider operator selular di indonesia.
"Tompo.... coba kau geledah tubuh elte, cari handphonenya. Aku tidak bisa menelpon karena masih menggunakan nomor provider operator selular milik rusia." Songkolo memberikan instruksi kepada tompo untuk mencari handphone milik elte.
"Ahh sial...terkunci" tompo ikut-ikutan mengeluh karena handphone milik elte dipasangi password pin sebagai pengaman.
"Kalau begitu bangunkan elte, tanyakan pola pin passwordnya agar kita dapat menghubungi pimpinan. Bangunkan juga lompo sebagai sandera jika elte memilih diam" songkolo kembali memberi instruksi kepada tompo.
"Ssslashhhhh.... aaahhhh" songkolo menusuk tompo dengan sebilah pisau kecil ke belakang kepala tompo.
"Maaf tompo.... aku tidak yakin kalau kau akan tetap setia di sisiku. Tidak ada musuh abadi dan tidak ada kawan sejati. Yang kemarin musuh, sekarang kawan, yang kemarin kawan menjadi lawan. Yang ada hanyalah kepentingan." Songkolo bergumam sendiri sambil menatap tompo yang ikut meregang nyawa menyusul nompo yang sebelumnya sudah mendahuluinya.
Songkolo lalu menepuk pipi elte agar kembali sadar.
[FLASHBACK BEBERAPA MENIT YANG LALU... ]
Sementara itu saat elte memasuki alam bawah sadarnya, elte terkejut dan bertanya kepada sang phoenix.
"Loh guru phoenix, apa yang terjadi, kenapa tiba-tiba aku masuk ke alam bawah sadarku ?" Tanya elte.
"Sepertinya kamu pingsan" kata phoenix menjawa pertanyaa elte
"Eh... iya ya... aku juga tahu kalau aku pingsan, tapi kok aku bisa tiba-tiba pingsan ya ?" Elte menanggapi jawaban gurunya. Ia belum menyadari serang tiba-tiba dari songkolo dari belakang.
"Sebaiknya kau memeriksa kondisi tubuhmu dulu, bukankah kau sudah berlatih agar dapat mengendalikan tubuhmu walaupun berada di alam bawah sadarmu" phoenix kembaleberikan saran dan segera diiyakan oleh elte.
Pewaris seakligus murid dari sang phoenix itu pun lalu mengaktifkan kemampuan persepsinya dan mulai mendeteksi kondiai tubuh fisiknya. Ia menemukan luka pendarahaan pada kepalanya yang dapat berisiko menjadi geger otak. Elte lalu mulai menggunakan kemampuan telepati dan telekinesis internal untuk memperbaiki kondisi sel-sel tubuhnya yang terluka. Ia juga mengalirkan elemen cahayanya ke seluruh tubuhnya agar kembali prima dan agar segera dapat kembali ke alam sadarnya.
[FLASHBACK OFF...]
"wooiii.... wooiiiii.... bangun.....bangun... berikan pola pin passwordmu segera.... aaayyooo.... bangun" songkolo terus memukul pipi elte hingga elte mulai kembali tersadar.
Saat sudah berada dalam kondisi sadarnya, elte hanya dapat mengkerutkan keningnya karena mendapatkan dirinya yang sedang terikat dan ketiga saudaranya yang lain sudah tergeletak di lantai.
"Apa yang terjadi..." elte bertanya kepada songkolo atas kejadian yang ia belum sadari.
Songkolo hanya memperlihatkan smartphone milik elte dimana gambar wallpapernya memperlihatkan foto elte dan yuni yang sedang mengenakan gaun pesta saat diacara ulang tahunbya diah sinta risanti.
Melihat elte yang hanya diam, songkolo menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia lalu berkata, "adikku bungsulu elte.... sekali lagi aku tanya baik-baik, beritahukan pola pin passwordmu" kata songkolo dengan nada mengancam.
"Apa yang terjadi... " elte kembali mengulangi pertanyaannya kepada songkolo atas kejadian yang ia belum sadari.
"Tompo dan nompo sudah meregang nyawa... jika kau tetap diam, maka aku juga akan mengambil nyawa lompo" kata songkolo sambil menjambak rambut elte
"Apa yang terjadi songkolo,... mengapa kau tega membunuh saudara-saudara kita" kata elte sambil menatap ke arah songkolo.
"Kita memang saudara di panti asuhan, tapi aku ingatkan bahwa kita bukanlah saudara sedarah.... kita bukanlah saudara kandung .... kita tidak memiliki hubungan kuat untuk saling peduli satu sama lain"
"Apa kau tidak ingat, saat kecil di panti asuhan, kau selalu mencuci piring dan membersihkan pekarangan membantu ibu panti. Tapi kami semua tidak turun membantumu karena kami semuanya yang sering di bully di sekolah akhirnya sempat merasakan memiliki pelayan di rumah."
Songkolo mulai mengingat kembali perasaannya saat di panti. Walaupun ia kurang suka dengan kehidupannya selama menjadi pasukan khusus di rusia, namun ia lebih membaca pengalaman masa kecilnya di panti asuhan. Ibu panti memang selalu menyiraminya dengan cinta dan kasih sayang, namun itu semuanya tidak dapat menghilangkan rasa lapar dan haus, tidak dapat menghilangkan rasa takut dan minder saat di bully teman sekelas. Tidak dapat menghilangkan rasa dendam kepada semua tetangga dan teman sekelasnya yang selalu menatap rendah kepadanya.
Berbeda dengan anak-anak panti lainnya yang kehilangan orang tuanya akibat kecelakaan dan peristiwa tragis yang dapat menguras rasa simpati warga. Songkolo dipandang sebagai anak dari wanita murahan yang sengaja dibuang ke panti karena sudah tidak diharapkan kembali. Songkolo mengetahui itu semua dari ibu-ibu tetangga yang senang bergosip saat membeli sayur dan ikan di depan rumah mereka.
"Apa yang kau ingin kau lakukan dengan smartphoneku ? Siapa yang ingin kau hubungi ?" Tanya elte dengan menatap mata songkolo, ia mulai mengaktifkan kemampuan telepatinya untuk membaca pikiran songkolo.
"Kau tidak perlu tahu... jika kau tidak ingin memberitahukanku maka aku akan membunuh lompo. Dan.... mungkin saja aku akan mengunjunhi gadis cantik ini" songkolo memperlihatkan foto yuni yang menjadi wallpaper di smartphone elte.
Elte sangat geram saat membaca pikiran songkolo, ia membaca rasa cemburu atas kehidupan elte yang normal dengan diangkat menjadi anak orang kaya bahkan dapat memanggil ibu panti menjadi pembantu di rumahnya.
Elte sangat geram saat membaca pikiran songkolo yang tertarik untuk mencicipi tunangan elte agar rasa iri hati dan dengkinya dapat terobati.
Elte juga sangat geram saat membaca pikiran songkolo yang mengingat seluruh korban yang telah ia bunuh termasuk sangkala dan tompo.
Melihat tatapan elte yang sangat tajam, songkolo lalu menghujamkan sebuah pukulan keras ke wajah elte sambil berteriak keras, "katakan segera pola pin passwordnya brengsek".
"Bbuuukkkk....." seperti itulah kira-kira suara pukulan tangan yang beradu dengan wajah elte. Darah segar segera mengalir dari lubang hidung elte.
"Hentikan songkolo....mengapa kau tega memukuli adik elte yang telah menyelematkan kita" terdengar suara lompo yang baru sadar dari pingsannya.
Elte sedikit merasa hangat membaca pikiran lompo yang menkhawatirkan dirinya.
"Kenapa.... aku ingin mengabari pimpinan kalau kita sudah menemukan sang pewaris.... aku yakin jika aku bisa mendapatkan promosi" perkataan songkolo mengejutkan elte. Ia tidak menyangka jika songkolo dapat menebak identitas dirinya yang harus ia rahasiakan.
"Songkolo.... Apa kau gila, tidak ada jaminan jika pimpinan tidak akan membunuhmu walaupun kau telah menyelesaikan misi. Apalagi jika pimpinan tahu jika kau sudah mengingat kembali semuanya... apa kau tidak sadar alasan pimpinan menyuruhmu untuk membunuhku? Itu karena ia menyadari bahwa aku dan sangkala tidak pernah mengonsumsi obat pencuci otak." Kata lompo berteriak untuk berusaha menyadarkan songkolo.
Songkolo terdiam mendengar penjelasan lompo, ia lalu tertawa sinis sambil berkata, "pimpinan sudah lama tahu kalau kau dan sangkala tidak pernah memakai obat pencuci, mereka juga sudah sering mengamati kalian yang selalu bertemu di atap."
Lompo terkejut mendengar penjelasan songkolo, ia lalu berkata, "dari mana kau tahu kalau pimpinan sudah mengetahuinya ?"
"Pimpinan sendiri yang memanggilku ke ruang CCTV, ia memperlihatkan rekaman video kalian yang sedang berdiskusi dan bahkan tertawa bersama" songkolo menjawab dengan senyum sinis.
"Kenapa kau diam saja dan tidak memberi tahu kami?" Tanya lompo
"Kenapa aku harus memberitahukanmu ? Sangkala dan kau sendiri tidak membantu kami agar lepas dari obat pencuci otak. Dan diantara delapan belas anak panti, cuman aku yang diizinkan untuk tidak lagi menggunakan obat pencuci otak. Walaupun saat itu aku sudah tidak lagi mengingat kenangan saat di panti, tapi aku sudah mendapatkan kepercayaan lebih dari pimpinan."
"Kau tahu..... sebelum misi mencari sang pewaris, kenapa organisasi melakukan seleksi diantara kita dengan pertarungan hidup dan mati ? Itu semua adalah usulan dari diriku, aku ingin membongkar kedokmu sebelum misi"
Lompo sangat emosi mendengar kebenaran dari penjelasan songkolo.
"Anasongkolo.... sifat mu memang seperti namamu" makian dari lompo menyentuh titik sensitif dari amarah songkolo. Ia sangat tidak suka dengan nama aslinya dan sudah berencana mengubah namanya menjadi 'kleykiy ris' atau 'sticky rice'.
"Kkraakkkk..... kkrraakkkk..." songkolo menggampiri lompo dan kembali mematahkan kedua tangan lompo.
"Aaaaaahhhhhh...." lompo teriak kesakitan. Elte hanya terdiam sambil mengaktifkan kemampuan telepatinya menganalisa pembicaraan mereka. Ia lalu mengambil kesimpulan jika diantara delapan belas saudaranya yang pernah diculik sejak kecil, hanya lompo dan songkolo yang masih hidup. Walaupun begitu, songkolo sudah dibutakan oleh rasa dendam masa kecil dan cuci otak dari para mafia rusia.
Elte sudah tidak dapat berharap banyak dengan sikap songkolo. Ia merasa dilema antara harus membunuh songkolo ataukah tetap membiarkannya hidup. Sungguh disayangkan karena elte belum bisa menghapus ingatan songkolo tanpa bantuan gurunya sang phoenix. Dan pastinya, elte tidak ingin lagi gurunya tertidur selama lima tahun hanya untuk menghapus ingatan songkolo.
Elte menatap mata songkolo berharap ada penyesalan yang terbaca di matanya. Namun ia harus menelan rasa pahit saat menyadari bahwa saudaranya itu sudah tidak dapat diharapkan lagi. Kebenciannya bukan karena pengaruh obat pencuci otak namun karena dendam dan iri dengki.
Setelah terdiam cukup lama... elte mengambil sebuah paku melalui portal kecil dari ruang dimensinya dengan menggunakan kemampuan telekinesisnya. Ia lalu mengaliri paku tersebut dengan elemen ledakan. Setelah itu ia arahkan menuju ke kepala songkolo.
"Bbooommmmm....." seperti itulah kira-kira bunyi ledakan dari paku yang menusuk kedalam kepala songkolo. Tubuh tanpa kepala itupun jatuh tepat dihadapan lompo yang masih berteriak kesakitan.
"Selamat jalan saudaraku.... maafkan aku... semoga rasa dendam dan iri dengkimu lenyap dan kau dapat beristirahat dengan tenang" gumam elte sambil meneteskan air matanya. Walaupun novel ini bukanlah cerita dengan genre drama, namun elte tetap merasa sedih mengingat masa kecil mereka bersama di panti asuhan.
Setelah terdiam meratapi kepergian saudaranya, elte lalu melepaskan ikatannya dengan bantuan telekinesis, ia lalu mendatangi lompo yang jatuh pingsan karena kesakitan dan terkejut atas kematian songkolo. elte lalu menyembuhkan kedua tangan dan kedua kaki lompo yang sedang terluka dan patah tulang.
"Saudaraku Lompo,.... semoga kau amanah dan dapat dipercaya. hhmmmm sepertinya selain yuni, akan bertambah orang yang akan mengetahui kemampuan teleportasiku." gumam elte.