
Setelah yuda kembali ke kamarnya, elte menghembuskan napasnya mengingat beberapa kesalahan yang ia lakukan. Pertama ketidakmampuannya menentukan prioritas saat menghadapi kondisi yang membuatnya khawatir, Kedua ketidakmampuannya mengaktifkan persepsinya secara terus menerus sehingga tidak bisa memdeteksi jarum yang ditiupkan oleh gurunya sendiri. Jika saja saat itu gurunya menyerang dengan jarum beracun, mungkin saja elte sudah meninggal saat ini. Dan yang ketiga adalah identitasnya sebagai kultivator telah dicurigai oleh gurunya sendiri.
Elte lalu teringat dengan diskusinya dengan para mahasiswa tentang teknologi nano. Ia lalu berpikir dalam hatinya : "Apakah aku sebaiknya membuat sebuah teknologi senjata abal-abal sebagai kamuflase dalam penggunaan kemampuan pengendali elemenku. Agar para penjahat mengira bahwa kemampuanku adalah berkat teknologi senjata modern dan tidak menduga bahwa aku adalah seorang kultivator."
Elte kembali terdiam sejenak untuk berpikir tentang rencananya. Ia lalu teringat dengan cerita yuda soal penculikan anak dan pertarungan ilegal. Ia juga mengingat kembali dengan saudara-saudara angkatnya sesama anak panti yang telah dijual ke organisasi JFO rusia beberapa tahun yang lalu. Ia lalu mengaktifkan kemampuan persepsinya dan menyusup ke dunia maya lewat wifi internet di rumah pak jaya.
Elte lalu mencoba mencari video pertarungan dengan kata kunci pertarungan ilegal. Ada jutaan video muncul di hasil pencarian tersebut. Elte mencoba menonton salah satu video tersebut namun ternyata hanya sebuah potongan video tidak jelas.
"Mungkin aku harus punya nomor telepon atau kata kunci yang tepat agar dapat menemukan video yang dimaksud." Kata elte dalam hati.
Elte lalu memutuskan pergi beristirahat dan memasuki alam bawah sadarnya untuk berdiskusi dengan sang phoenix.
Esok paginya setelah sarapan bersama, elte dan yuni bersama-sama ke sekolah naik mobil di antar oleh pak jarwo. Elte duduk di depan, di samping pak supir yang sedang bekerja, mengendarai mobil supaya baik jalannya. Sedangkan yuni di belakang duduk sendiri sambil mengangkat kaki melihat dengan asyik ke kanan dan ke kiri.
Diah yang sedang menunggu elte lalu melihat elte dan yuni turun dari mobil dan berjalan bersama menuju ke kelas mereka. Entah kenapa, ada sedikit rasa kurang suka melihat kedekatan mereka. Saat elte melewati kelas diah, ada rasa kecewa di hati diah karena sang prontagonis tidak melirik ke kelasnya sedikit pun.
"Eh kok gue jadi baperan ya..." kata diah sinta risanti dalam hatinya. Ia sendiri merasa bingung dengan perasaannya yang biasanya selalu cuek dan tidak peduli dengan orang sekitarnya.
"Hhmmmm... atau gue tunggu aja ya di perpustakaan.... biasanya kan anak itu di jam istirahat selalu nongkrong di perpustakaan" kata diah dalam hatinya.
Dengan memudarnya citra elte sebagai siswa mesun dalam sehari, yuni mulai menunjukkan sikap protektifnya kembali. Ia merasa semua wanita di sekolah itu mulai memgincar tunangannya termasuk teman duduknya sendiri. Saat masuk ke kelas, yuni lalu merangkul lengan elte agar dilihat oleh teman-teman kelasnya.
Elte yang sudah mulai terbiasa dicuekin oleh tunangannya hanya terdiam tidak memberikan respon membalas rangkulan dari tunangannya.
"Aduuh..." kata elte meringis ketika tulang keringnya di tendang oleh yuni, ia mengkerutkan keningnya tidak mengerti dengan kembalinya sikap posesif yuni.
"Ada apa sayang... kok tendang kaki sih" kata elte bertanya ke tunangannya.
Yuni yang merasa kesal dengan sikap cuek elte lalu melepaskan rangkulan tangannya dan bergegas ke kursinya di samping ruri masruri yang masih terkejut melihat kedekatan mereka.
Elte lalu duduk ke kursinya dan si dudung datang menghampirinya.
"Bro.... jangan berani dekat-dekat dengan gadis incaran gue ya.... atau lo gue kasih pelajaran" kata dudung yang kurang suka kedekatan mereka. Beberapa teman yang mendengar suara dudung melirik ke belakang.
Elte yang sedang pusing dengan sikap tunangannya. Merasa kurang suka dengan ancaman si dudung. Ia lalu berdiri dan menampar pipi siswa mesum tersebut hingga ke dua gigi depannya terlepas.
"PLAAKKK..." seperti itulah kira-kira suara pipi dudung yang beradu dengan telapak tangan sang prontagonis. Elte sengaja bersikap tegas karena ia juga masih kesal dengan sikap dudung yang pernah menjebaknya dengan melemparinya novel porno.
"Huhuhuhuhu....kenapa lo berani tampar pipi gue... gue akan lapor lo ke guru BK" kata dudung sambil menangis tersedu-sedu. Ia lalu berlari ke luar kelas.
Teman-teman kelas yang melihat kejadian tersebut ikut terkejut tidak menyangka siswa pendiam itu membalas ancaman si dudung dengan sebuah tamparan.
Tidak lama kemudian datang seorang guru BK menjemput elte dan memintanya untuk ke ruangan BK. Saat tiba di ruangan BK, terlihat dudung dengan wajah pucat karena di ruangan BK tersebut juga sedang duduk beberapa polisi dan wartawan.
Guru BK lalu menjelaskan ke elte bahwa polisi tersebut datang ke sekolah dalam rangka meminta informasi tentang kasus pengeroyokannya kemarin.
Dudung yang kemarin tidak nonton TV seharian dan tidak mengetahui kasus pengeroyokan tersebut hanya meneguk ludahnya beberapa kali saat mendengar alasan elte melawan dua puluh orang siswa senior yang mengeroyoknya kemarin. Polisi bertanya ke elte tentang kelanjutan kasus tersebut apakah akan dilanjutkan ke persidangan atau lewat jalur damai.
Elte dengan tegas menyatakan bahwa dirinya siap maju ke tahap persidangan karena ingin memberikan efek jera ke seniornya yang sudah mengeroyoknya untuk yang kedua kali.
Setelah beberapa polisi dan wartawan itu ijin pamit dan keluar ruangan, guru BK lalu bertanya ke dudung tentang alasannya menangis dan pergi ke ruangan BK.
Dudung hanya meneguk ludahnya beberapa kali dan tidak bisa berbicara. Elte lalu berkata ke guru BK bahwa dirinya baru saja menampar wajah dudung di kelas.
"Eehhhh... benarkah itu dudung... apakah kau memang ditampar oleh elte ? Apakah kau mau bapak memanggil orang tua kalian untuk mengusut masalah ini?" Tanya guru BK menakuti dudung, ia sudah dapat menebak sikap dudung yang takut jika orang tuanya datang ke sekolah.
"Oh tidak usah pak.... aku memilih jalur damai saja" kata dudung memotong kalimat gurunya.
"Tidak apa-apa dudung..... aku juga siap jika kasus penamparan tadi di laporkan ke kantor polisi... kau sendiri tahu kan alasanku menampar mulut busukmu" kata elte kepada dudung dengan tajam.
"Oohhh.... tidak usah bro.... Banyak yang cinta damai tapi perang semakin ramai" kata dudung mulai melantur karena panik. Ia lalu berlari keluar ruangan BK dan menuju ke kelasnya.
Guru BK hanya menggelengkan kepalanya melihat kelakuan dudung. Ia lalu mengajak elte berdiskusi tentang nasib delapan seniornya.
"Nak elte.... apakah tidak bisa kau selesaikan kasus kemarin dengan jalur damai." Bujuk guru BK nya
"Kalo aku sih mau saja pak.... tapi kasus pengeroyokan ini adalah kasus yang kedua. Mereka bahkan berani merusak motor yang seharusnya aman di dalam lingkungan sekolah." Kata elte sedikit menyindir tentang keamanan sekolah yang kurang becus menjaga fasilitas milik siswa.
"Kalo aku memilih jalur damai, apakah ada jaminan mereka tidak akan membalas dendam? Apakah ada jaminan mereka tidak akan melakukan pembalasan dengan memanggil teman-temannya lebih banyak lagi? Aku hanya ingin memberikan mereka efek jera dari kelakuan mereka." Kata elte sambil menatap guru BK nya.
"Jika mereka memang ingin jalur damai, kenapa orang tuanya tidak datang meminta maaf kepadaku selaku korban, mereka lebih memilih mengatur damai dengan pihak kepolisian. Jika saja pak jaya tidak meminta para wartawan untuk mengawasi kasus ini mungkin saja anak-anak orang kaya itu akan lepas dari jerat hukum dan kembali berbuat ulah." Kata elte membungkam guru BK nya.
Sang guru BK hanya terdiam dan menghembuskan nafasnya sambil menggelengkan kepalanya beberapa kali. Ia lalu berkata : "yaaahhhh.... siapa yang menanam maka dialah yang akan menuai.... kita acuhkan saja kasus yang tadi... aku juga ingin meminta tolong kepadamu"
"Minggu depan ada pertandingan karate antar sekolah, aku ingin kau mewakili sekolah untuk bertanding" kata sang guru BK mengejutkan elte
"Eehhh... maaf pak, tapi aku tidak ikut kegiatan ekskul karate, kenapa bapak tidak cari senior yang lain" jawab elte sambil menolak dengan halus.
"Karena delapan senior yang akan pergi bertanding saat ini masih ada di kantor polisi akibat keputusanmu yang tidak ingin berdamai." Kata sang guru menjelaskan alasannya memilih elte.
"Aku juga mendengar dari para polisi dan melihat video pengeroyokanmu, kamu berhasil membuat pingsan dua puluh siswa senior yang juga atlet karate. Bahkan beberapa diantaranya adalah pemegang sabuk hitam" lanjut guru BK.
"Bukannya aku tidak ingin berdamai pak.... tapi seseorang yang punya mental pembully tidak akan pernah mau terima jika dirinya dikalahkan dan mereka akan selalu berpikir untuk membalas dendam" kata elte sambil mengingat pengalaman traumatis masa kecilnya.
"Tapi kalau memang bapak memberikan kepercayaan bapak kepadaku, aku akan menerima kepercayaan tersebut" lanjut elte membuat sang guru tersenyum senang. Ia menyadari bahwa ketidaksiapan sekolahnya dalam menghadapi pertandingan karate juga tidak lepas dari keputusannya.
Elte lalu kembali ke kelasnya dengan diiringan tatapan mata teman-teman kelasnya.
Si dudung hanya dapat menatapnya dengan tatapan benci campur takut. Dudung telah menggunakan kembali gigi palsunya yang sempat terlepas saat ditampar oleh sang prontagonis.
Saat jam istirahat, yuni mengajak elte untuk makan bersama ke kantin dengan ketua kelasnya. Sementara itu diah menunggu elte di perpustakaan tanpa tahu bahwa hari ini elte tidak akan ke perpustakaan.
......... .......... ..........
Waktu pulang sekolah pun telah tiba. Elte dan yuni keluar kelas menuju gerbang sekolah untuk menunggu jemputan supir. Beberapa menit kemudian, sang supir pun datang menjemput yuni sedangkan elte masih di gerbang depan sekolah menunggu jemputan yuda untuk melatih teman-temannya.
Saat diah keluar dari kelas, ia melihat dari kejauhan di depan gerbang sekolah, elte sedang berdiri sendirian. Senyum manisnya pun terpasang di wajah manisnya dan melangkahkan kakinya menuju gerbang sekolah.
Beberapa meter sebelum mencapai gerbang sekolah, ia melihat sebuah mobil polisi berhenti di dekat elte, dan dua orang polisi turun menghampiri pemuda yang ingin ia temui secara pribadi. Ia melihat kedua polisi itu memberikan hormat ke elte dan mengajaknya berbicara, setelah itu mereka bertiga naik ke mobil tersebut dan pergi meninggalkan sekolah. Diah yang baru tiba di gerbang sekolah, hanya dapat mendengus kesal dan menghentakkan kaki kirinya.
Kedua polisi tersebut adalah teman yuda yang diminta menjemput elte karena yuda sedang mempersiapkan persiapan pelatihan. Sesuai permintaan teman-teman yuda, hari ini mereka ingin mulai pelatihan rutin mereka.
......... ......... .........
Setelah tiga puluh menit perjalanan, elte lalu tiba di sebuah markas polisi. Ia lalu digiring menuju sebuah gedung mirip aula tempat para polisi sering berlatih. Di dalam gedung tersebut terdapat beberapa ruangan latihan seperti latihan menembak, ring tinju, tempat gym atau fitnes, gudang senjata, dan ruangan besar tempat latiham bersama. Elte diajak masuk ke ruangan besar itu dan di ruangan tersebut sudah menunggu puluhan polisi muda yang penasaran ingin melihat seperti apa itu kungfu ninja gabungan.
"Loh kamu kan si murid mesum di sekolah" kata seorang wanita muda diantara para polisi muda tersebut.
"Eh... kak hera.... kok bisa disini kak" kata elte terkejut melihat salah satu seniornya yang sudah beberapa hari ijin tidak masuk sekolah. Perasaannya kurang nyaman mendengar kalimat seniornya.
"Loh dek hera kenal dengan elte ya" kata yuda mengkerutkan keningnya mendengar tuduhan mesum ke elte. Ia sudah mendengar dari pak jaya di meja maka tentang citra elte yang rusak saat MOS.
"Iya kak.... anak ini dikenal sebagai murid mesum karena pernah digrebek membawa novel porno." Kata hera yang kurang senang dengan elte karena teman dekatnya diah pernah bercerita bahwa dirinya pernah diintip di kamar mandi oleh murid mesum tersebut.
Heri yang melihat ekspresi wajah yuda jadi merasa kurang enak dengan sikap adik kandungnya sendiri ia lalu berkata : "dek elte apakah kau pernah mendengar atau menonton film yang diperankan oleh Ai haneda, Ai kurosawa, Ai sayama, Ai shinozaki, Ai takeuchi, Ai Uehara, Ai wakana, Aiko hirose, Akiko yoshizawa, Ann mashiro, Aino kishi, Airi ai, Airu ooshima, Akane terashima, Akari asagiri, Akari hoshino, Aki hoshino, Aki sasaki, Ameri ichinose, Anna natsuki, Anna ohura, Anri suzuki, Arisa kanno, arisa nakano, Arisa suzuki, Asami ogawa, Aya fujii, Ayaka tomoda, Ayame kitayama, Azuki tsuji, Azumi harusaki, Azusa nagasawa, Erika kirihara, Erika katagiri, Hana haruna, Haruka sanada, Haruki sato, Hibiki Otsuki, Hitomi tanaka, Hinata sato, Homami takasaka, Honomi uehara, Hotaru akane, Ichika kanhata, Jin yuki, Kaera uehara, Kagami syuna, Kaho kasumi, Kan yamate atau Kana tsuruta"
Elte menggelengkan kepalanya dan berkata : "Sepertinya nama-nama itu adalah nama dari jepang, apakah mereka nama pengisi suara dari tokoh anime ?"
Jawaban polos elte mengundang tawa para polisi laki-laki yang ada di situ.
Rian yang masih ingat dengan elte pun ikut berkata : "Mungkin artis-artis itu memang kurang populer saat ini, coba elte dengar baik-baik nama berikut mungkin ada nama yang pernah elte dengar"
"Kaori morishima, Keiko kogichida, Kirara asuka, Kokomi sakura, Kotone amamiya, Maho icikawa, Mai ebihara, Mako konno, Manami komukai, Mao hamasaki, Maria ono, Maria ozawa, Marica hase, Marika, Mayuka akimoto, Megu fujiura, Megumi haruka, Megumi ishikawa, Meguru kosaka, Mei haruka, Mihiro, Miki sato, Miku hayama, Miku ohashi, Minori magokoro, Mio fujisawa, Mio oshima, Misa kudo, Miyuki yokoyama, Moa hoshizora, Momoka nishina, Nagomi, Nana ogura, Natsumi horiguchi, Reiko kobayakawa, Reina matsushima, Ren mukai, Rena sasaki, Ria sakurai, Rie tachikawa, Riko tachibana, Rin sakuragi, Rina rukawa, Rio hamasaki, Risa arisawa, Risa kasumi, Risa murakami, Risa Tsukino, Rui shinohara, Ruka kanae, Ai matsuyama, Aika yumeno, Arisu hayase, Ayumu kase, Emiri okazaki, Imai natsumi, Haru hara, Haruna ayane, Hitomi honjou, Kiki koizumi, Madoka hitomi, Mai kitamura, Mami orihara, Mana sakura, Masaki misato, Megumi shino, Miki sunohara, Miko hanyu, Minaki saotome, Nao masaki, Natsumi mitsu, Nene kinoshita, Reina fujikawa, Ren ayase, Rio fujisaki, Ruri saijou, Saki izumi, Saki kozai, Saki okuda, Sakura kagawa, Sakura sakurada, Shuri atomi, Sora shiina, Saori hara, Sarasa hara, Satomi sugihara, Satomi suzuki, Saya niiyama, Sayo nakamoto, Serina hayakawa, Shion utsunomiya, Sora Aoi atau Aoi sora, Suzu narumi, Suzuka Ishikawa, Tina yuzuki, Tsubasa amami, Tsukada shiori, Tsukasa kamijo, Tsukushi Osawa, Yuu asakura"
"Stop-stop hentikan itu rian..." kata dian memotong ucapan rian karena akhirnya ia mengerti setelah mendengar beberapa nama yang cukup familiar seperti maria ozawa dan aoi sora yang pernah viral diundang main film ke korea, thailand bahkan di indonesia.
Hera pun cukup tercengang mengetahui kakak kandungnya, heri iskandar, cukup familiar dengan nama-nama artis JAV tersebut.
"Kenapa kak dian..... masih ada tiga ratus lima puluh lebih nama artis yang belum kusebutkan." Kata rian yang mengerti maksud heri dan ikut tersinggung dengan solidaritas para lelaki.
Elte yang masih menampakkan wajah bingung lalu mengambil smartphone atau handphonenya dan mencoba mencari bio data salah satu nama artis tersebut. Setelah mendapatkan informasi tersebut, ia pun membacakannya dengan suara yang cukup nyaring : "Yuu asakura adalah artis JAV yang lahir pada tanggal bla bla bla bla. Wajahnya manis dan lembut serta mengesankan sosok keibuan. Tampaknya, ciri itu menjadikan yuu asakura mudah diingat para penggemar JAV."
Saat elte akan melanjutkan membacakan bio data artis JAV tersebut, hera memotong dan bertanya : "elte apakah kau tahu apa itu JAV"
Elte yang mendengar pertanyaan hera hanya terdiam lalu berkata : "apakah itu salah satu genre anime seperti Action, Romance, Comedy, Adventure, Drama, Slice of Life, Fantasy, Supernatural, Horor, Mystery, Sci-Fi, Isekai, Martial Art, Shounen, Shoujo, Seinen..."
"JAV itu kepanjangan Japanese Adult Video, seperti versi life untuk anime dengan genre hentai, ecchi dan harem" kata rian memotong perkataan elte.
Elte terkejut mendengar penjelasan rian dan wajahnya memerah karena menahan malu.
Melihat ekspresi kaget elte, para polisi laki-laki kembali tertawa, sedangkan yang para polisi perempuan hanya menggelengkan kepalanya. Hera yang melihat ekspresi elte jadi merasa gemes dan sedikit merasa bersalah.
"sudah...sudah.... ayo kita mulai saja pelatihan hari ini...." yuda mulai berbicara dan meminta teman-temannya untuk mulai bersiap-siap untuk mengikuti pelatihan.